
"Kamu ke kamar duluan aja, aku mau urus Budiman dan Anto dulu." Kata Calvin setelah pekerjaan mereka selesai.
"Kamu jangan terlalu jahat sama mereka, ya. Biar gimanapun mereka.."
"Keluarga? Keluarga yang ngejual kamu ke aku!" Ucap Calvin memotong pembicaraan Ranti. Lalu bangkit berdiri merengkuh tubuh Ranti agar menempel ke tubuhnya.
Ranti tersenyum menyentuh pipi wajah Calvin. "Jalannya memang harus begini, kalo nggak aku gak mungkin ada disini, dihadapan kamu."
"Ya untungnya kamu di jual ke aku, bagaimana kalo kamu di jual ke orang lain? Ke orang yang lebih kejam dari pada aku?" Kesal Calvin.
"Apa ada lagi yang lebih kejam dari kamu? Aku gak bisa ngebayangin kalo aku hidup sama orang yang lebih kejam dari kamu." Ucap Ranti lembut.
Calvin mendengus dan mengalihkan pandangannya ke samping.
"Pokoknya, aku titip mereka untuk kamu rehab ya sayang. Bukan untuk kamu siksa. Gak ada untungnya juga kamu nyiksa mereka kan?!" Kata Ranti dengan lembut, menjinjitkan kaki dan mengecup lembut bibir Calvin.
Ya ampun aku udah gila banget sampe bersikap manja kayak gini. Bathin Ranti.
"Oke. Apapun buat kamu, aku setuju." Balas mengecup bibir Ranti berkali-kali.
"Den." Panggil Bi Tuti.
"Yah, Bi. Antar Ranti ke kamarnya ya." Suruh nya melepaskan pelukannya.
Ranti tersenyum dan melambai sebentar pada Calvin dan berjalan ke arah kamarnya diikuti oleh Beno dari belakang. Sepanjang jalan menuju kamarnya Ranti senyum-senyum sendiri membayangkan sikapnya barusan.
Kenapa aku bisa tiba-tiba punya sifat manja begini ya? Aku gak abis pikir, tapi kayaknya Calvin suka. Ah.. Biarlah siapa tau hidupku bisa jadi lebih baik. Ucapnya dalam hati tanpa sadar mereka sudah sampai di pintu kamarnya, bahkan Bi Tuti sudah membuka pintu namun Ranti masih melamun sambil senyum-senyum sendiri.
"Non." Panggil Bi Tuti membuyarkan lamunan Ranti.
"Eh iya." Sahut Ranti.
Beno bahkan sudah duduk santai di tempat duduk jaga nya.
"Non seneng ya bisa keluar dari kamar?" Tanya Bi Tuti, sebenarnya Bi Tuti pun tau apa yang Ranti sedang rasakan. Jatuh cinta pada Bos nya, itu sangat terlihat dan Bi Tuti cukup tanggap. Diapun tau betul jika Bos nya itu teramat jatuh cinta dan cinta nya sudah mengubah sifat dingin nan arogan Bosnya itu. Sedikit, tapi terlihat jelas.
"Iya, Bi." Ranti cengengesan sambil menepuk lembut lengan Bi Tuti.
__ADS_1
"Bibi juga seneng banget bisa lihat Enon bisa tersenyum bahkan tertawa seperti itu." Ujar Bi Tuti tulus. "Yang sabar ya, Non. Siapa tau Den Calvin lama-lama bisa berubah total."
"Berubah total gimana?"
"Nanti saja kita bicarakan lagi ya, Non. Sekarang belum tepat waktunya." Jawab Bi Tuti. "Silahkan Non masuk, Bibi permisi dulu." Pamit Bi Tuti membungkuk dan pergi.
Ranti pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Dia merebahkan tubuhnya ke sofa santai dan menyalakan tv. Sambil menekan-nekan tombol ia pun tiba-tiba tertarik dengan sebuah drama Korea yang sedang tayang. Namun pikirannya teralihkan dengan ucapan Bi Tuti tadi.
Berarti Bi Tuti juga mengharapkan perubahan sifat Calvin. Sifat yang mana ya kira-kira? Sifat kasarnya? Arogannya? Atau pekerjaan kotornya ini?
Mungkin masih banyak hal yang aku belum tau. Perlu gak ya aku tau? Aku gak terlalu penasaran sih, lebih penasaran tentang hubungannya dia sama Inez malah. Kapan ya waktu yang tepat aku tanya ke dia tentang Inez?
Suara orang berbicara dalam bahasa Korea memenuhi suara di dalam kamar dengan teks Indonesia rapih di bawah layar namun Ranti tidak menghiraukan dan sibuk memikirkan Calvin.
Tuh cewek kemana lagi gak nongol-nongol disini. Tadi di bawah juga gak kelihatan batang hidungnya, kerjanya apa sih tuh orang?! Dumel Ranti lalu mulai memperhatikan drama Korea di tv.
**********
Setelah memastikan Ranti berbelok menaiki tangga, Calvin berjalan keluar rumah melewati ruang santai, pintu kaca geser dan taman samping rumah menuju taman belakang bersama Rico. Mereka menuruni tangga masuk ke dalam ruangan bawah tanah, menyusuri sebuah lorong dan berbelok ke kanan menuju sel tahanan. Disana terdapat 5 sel tahanan, yang digunakan untuk menahan musuh ataupun penghianat. Terdapat sebuah ruangan dengan 2 bangku yang saling berhadapan, ruangan ini adalah ruangan introgasi dan juga eksekusi. 1 bangku dengan 2 pengikat besi di sisi pegangan tangan serta 2 pengikat besi di masing-masing kaki bangku. Bangku yang satunya lagi adalah bangku untuk orang yang menginterogasi, seringnya di duduki Tori atau Rico kalau perlu. Tapi selama ini Tori lah yang lebih sering duduk di bangku itu. Tori adalah orang yang dipercaya Calvin untuk mengurus musuh dan pengawal-pengawal lainnya.
Pintu sel dibuka oleh Tori, Budiman dan Anto segera berlutut di hadapan Calvin mengucap segala mohon maaf dan ampun.
Budiman dan Anto gemetar, wajahnya sudah pucat pasi. Bahkan Anto sudah terisak menangis. Dia sungguh tidak mau di siksa lagi dan nyawa nya lagi-lagi tertolong oleh Ranti. Dia merasa sudah keterlaluan terhadap Ranti sekarang dan sangat menyesal.
"Lagi-lagi Ranti nyelamatin nyawa kalian. Kalian harus berterima kasih sama dia. Sekarang jangan banyak protes gue udah suruh Dokter disini buat urus rehab kalian sampai sembuh!" Ujar Calvin lalu diapun keluar dari sel itu. Namun baru beberapa langkah dia kembalikan tubuhnya lagi menghadap Budiman dan Anto.
"Kecuali lo deh, To." Calvin menoleh ke Tori. "Tutup kepalanya, bawa dia." Perintahnya lalu pergi meninggalkan ruang bawah tanah.
Mendengar pengecualian itu Anto semakin gemetar dan terisak saat Tori menutupi kepalanya dengan kantung hitam lalu dibantu 2 pengawal lainnya menyeret Anto keluar.
"Ayah, Ayah, tolong, Yah." Teriak Anto meronta. Ayahnya pun tidak bisa berbuat apa-apa hanya menangis dan pasrah saat Anto di bawa keluar dengan cara seperti itu.
"Ini salahku, salahku menjadi orang yang terlalu serakah." Gumamnya sambil menampar-nampar wajahnya sendiri dengan kedua tangannya bergantian.
"Bawa mobil lo, Ric. Kita ke hotel." Ajak Calvin berjalan menuju garasi mobil. Ada beberapa mobil mewah terparkir disana salah satunya mobil sport hitam milik Rico.
Mereka memasuki mobil sport hitam milik Rico. Rico menyalakan mesin mobilnya, sambil menunggu mesin mobilnya panas Rico mengintruksikan Tori untuk membawa Anto ke Hotel. Tori sudah tau hotel mana yang akan mereka datangi dan ia pun segera pergi.
__ADS_1
"Hallo, Net." Calvin menelfon seorang wanita bernama Aneta, Rico sudah menjalankan mobil dan keluar dari rumah mewah.
"Beibiiiii.." Sapa seorang wanita dalam telfon itu dengan nada manja bercampur senang karena sudah lama sekali Calvin tidak datang ke Club malam milik Calvin. "Aku kangen bangettt sama kamu lho, Bos. Kok baru hubungin aku sih?"
"Gue tunggu di hotel sekarang juga ya!" Perintah Calvin dan langsung menutup telfon nya.
Rico tergelak. "Punya rencana apa lagi sih?"
"Udah fokus bawa mobil aja. Oiya, urusan mantannya Ranti udah beres?"
"Udah, gue langsung contact Bram. Dia udah urus semuanya, semua beres."
"Tuh orang punya duit tinggal di Apartement itu?"
"Yang punya temennya, dia numpang dan cuma sering nginap karna deket dari tempat mereka kerja. Gue kaget waktu ketemu dia di lift." Rico mulai terkekeh. "Dia pake seragam polisi, Vin."
Calvin tergelak mengejek. "Yang kayak gitu yang disukain Ranti? Jauhkan ya dari gue? Narsis Calvin tidak mau kalah.
"Jauhlah, Vin. Ranti pasti akan pilih lo."
"Serius?"
Rico mengangguk setuju.
"Lo cari tau tuh siapa temennya gue pengen tau. Kaya juga bisa beli unit disana."
"Emang anak orang kaya, Vin. Orangtuanya Diplomat di London, keluarganya juga punya perusahaan real estate disini."
"Oh!".
"Cuma gue gak nyangka bisa 1 tower sama gue, lo tau kan tower gue itu tower elite dan yang paling mahal. Gue sampe harus telfon si Sigit buat nyari tau tentang mereka."
"Baguslah, awasin aja mereka. Jangan sampai lengah gue gak mau kecolongan sedikitpun."
"I know what I have to do."
Akhirnya sampailah mereka di sebuah hotel mewah yang ada di tengah Ibu Kota. Tidak sembarang orang bisa masuk ke hotel ini. Hanya orang-orang berduitlah yang sanggup masuk ke dalam hotel ini. Karena kemewahan hotel ini, biasanya yang datang ke hotel ini hanyalah kalangan pengusaha, artis hingga pejabat.
__ADS_1
Bersambung...