
Ketika Ranti keluar dari kamarnya, dia menarik nafas panjang. Senang bisa keluar dari kamar ini. Beno yang sedang duduk melihat Ranti keluar langsung berdiri dan berjalan membututi mereka ke bawah. Mereka melewati koridor, setelah keluar dari koridor terdapat aula. Di sebrang koridor nya terdapat koridor juga tapi Ranti tidak tau ruangan apa yang ada di balik koridor itu. Ranti melihat ke sekeliling lantai atas ini, ruang tengah yang cukup luas dengan teras yang pintunya dibiarkan terbuka dan di tengah ruangan ini terhampar tangga megah yang bentuknya hampir melingkar.
Mereka sudah sampai di lantai bawah, mumpung dia punya kesempatan keluar dia melihat-lihat sekitar rumah tanpa niatan untuk mencoba kabur lagi tentunya. Dari tangga sebelah kirinya terdapat ruang santai lagi dengan sofa santai yang mewah dan di sampingnya terdapat jendela geser yang juga di biarkan terbuka. sekilas terlihat sebuah taman dan sepertinya ada kolam renang disana. Ranti takjub dengan mewahnya rumah ini, andaikan dia bisa bebas di rumah ini dia pasti akan betah.
Ruang tamu itu juga tidak kalah besarnya dan juga mewah. Ada lampu besar yang menggantung tinggi dari atap rumah yang juga tinggi. Di samping gantungan lampu, terdapat pagar kayu.
Sepertinya itu posisi kamarku deh, tapi kok ada pagar kayu ya? Aku masih gak paham sama tata letak rumah ini, teramat besar. Fikirnya dalam hati.
Ditengah ruangan tepat di bawah lampu besar itulah sepasang sofa untuk tamu yang juga besar-besar dengan meja kayu jati berdiri kokoh di tengah sofa. Lalu ada bufet berisikan pajangan- pajangan mewah dan di pojok ruangan berdirilah sebuah jam raksasa yang dilindungi dengan kayu berpintu kaca. Suara detik jam pun begitu keras terdengar, suara detiknya saja kencang bagaimana suara alaramnya ya? Tapi dia tidak pernah juga mendengar suara-suara seperti alarm. Ranti benar-benar takjub dengan perabot mewah ini.
"Silahkan, Non. Saya kebelakang dulu." Bi Tuti tersenyum ramah menatap Ranti dengan tatapan memberitahu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ranti menunduk dan menghampiri Calvin melewati Rico yang berdiri di belakang sofa Calvin. Ayahnya dan Anto duduk berjejer di sofa panjang tercengang melihat kedatangan Ranti.
Mereka seperti kaget. Mungkin karena penampilanku kali ya? Bathin Ranti. Seperti biasa Ranti mengenakan dress tanpa lengan dan dia merasa malu dengan penampilannya.
"Sayang." Panggil Calvin menjulurkan sebelah tangannya untuk merengkuh lembut tubuh Ranti agar duduk di pangkuannya.
Sayang? Sejak kapan dia manggil aku sayang? hahaha jadi pengen ketawa. Ranti.
Ranti pun geli melihat raut wajah Anto, Kakak tirinya yang tercengang melihat dirinya. Apa aku cantik ya? Atau aneh? Tapi Calvin suka dengan penampilanku mana mungkin Calvin membuat aku berpenampilan aneh.
"Ranti udah disini kalian gak saling menyapa?" Tanya Calvin sambil menempelkan mulutnya di lengan Ranti.
"Kamu makin cantik aja, Ti." Ucap Budiman basa basi yang terlalu kaku. "Ayah bener-bener bersyukur kamu bisa menikah sama orang yang tepat."
Cih, lihatnya gue mual banget. Bathin Ranti yang akhir-akhir ini dia mulai lancar berbicara menggunakan gue-lo.
"To the point ajalah, Budiman. Kalian kesini mau apa? Bukan mau bertemu Ranti kan?"
"Gini, Bos." Budiman berdehem grogi. "Ranti gadis saya sudah saya serahkan pada Bos. Hmm.. Kalo bisa saya mau minta tambahan kokain, Bos."
Calvin malas menanggapi pembicaraan Budiman dan malah asik mengusel-ngusel wajahnya di kulit lengan Ranti. Ranti geli namun dia menahannya.
"Bos." Panggil pelan Anto, tangannya agak bergetar. Dia sebenarnya tau jika dia sangat ke terlalu meminta tambahan kokain sampai harus datang kerumah angker ini. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan Ayahnya nekat datang kesini sendiri.
"Kalian gak ikhlas ya ngasih Ranti ke gue?" Tanya Calvin tanpa melihat ke arah mereka.
"Bukan begitu, Bos." Jawab Budiman. "Akhir-akhir ini jatah yang kami terima ini terlalu sedikit kalau harus di bagi 2 sama Anto."
"Jadi lo mau pake sendirian?"
"Kalau bisa, Bos."
__ADS_1
"Hmmm... Menurut kamu gimana?" Tanya Calvin menatap wajah Ranti di pangkuannya, Ranti menatap balik Calvin bingung. "Kamu setuju kalo mereka minta tambahan kokain?"
"Hah? Hmm.. Aku gak tau." Dengan nada bingung, Calvin meremas telapak tangan Ranti sebagai isyarat agar dia menjawabnya. Apapun keputusannya dia akan menurutinya agar Budiman dan Anto lebih bisa menghargai Ranti. Terlebih ketika Calvin melihat Ranti yang tidak memakai perhiasan yang dia beri, membuat Calvin malu seolah-olah dia tidak menyukupi Ranti.
"Gimana, Ti? Tolong kami bilang ke suamimu untuk menyetujui permintaan kami, Nak."
"Oh.. Aku.. Hmm.." Ranti berfikir keras jawaban apa yang akan dia jawab.
"Ibu dan Hito juga baik-baik aja dirumah, kok. Ayah sama Anto berusaha selalu bersikap baik." Ucap Budiman berusaha mengambil hati Ranti.
"Iya, Ti. Mas selalu jaga mereka." Sahut Anto.
Mendengar penjilat ini membuat Ranti yakin untuk mengambil keputusan apa. Apalagi Ayahnya menjual nama Ibunya dan Hito dalam mengambil kesempatan ini, padahal sebelumnya dialah yang di jual lalu besok dia akan menjual nama siapa lagi? Sejenak Ranti muak melihat 2 orang yang dia anggap sudah hina itu.
"Sayang." Panggil Ranti lembut yang terdengar sangat kaku. Entah keberanian dari mana dia mau melakukan drama ini. Calvin menatapnya lagi dengan pandangan yang tulus menurut Ranti.
Untuk pertama kalinya dia merasa hatinya berdesir, melihat wajah tampan di hadapannya sedekat dan semesra ini. Waktu pun serasa berhenti. Tapi cepat-cepat ia alihkan pandangannya menatap di sekeliling ruangan dan tiba-tiba tersenyum ceria bahkan hampir tertawa kecil.
Sontak Calvin dan Rico sedikit bingung dengan kelakuan Ranti.
Kenapa ni anak? Tiba-tiba kaya pasangan romantis sedunia aja. Padahal tiap hari dia kan selalu merasa tersiksa.
Gemes banget ini cewek, gue makin jatuh cinta aja. Ini pertama kalinya gue liat dia senyum seneng begini.
"Ayah, maaf. Sebelumnya Ranti mau minta maaf sama Ayah dan Mas Anto. Menurut Ranti kalian sebaiknya rehabilitas aja deh. Pakai-pakai narkoba itu gak baik. Ranti gak tau itu namanya apa tadi? Ranti menoleh Rico.
"Kokain." Jawab Rico.
"Ya itu namanya. Sayang, bisa gak kamu rehabilitasi Ayahku dan Mas Anto?" Tanya Ranti dengan suara lembut.
"Bisa dong, apa sih yang nggak buat kamu." Jawab Calvin santai.
"Ranti!" Sahut Anto kesal. Budimanpun sudah heran namun sekuat tenaga dia menahannya.
"Apa, Mas? Ini demi kebaikan dan kesehatan kalian lho. Supaya bisa lebih fokus jaga Ibu dan Hito." Ucap Ranti menatap santai Ayahnya.
"Tori." Panggil Calvin.
Mendengar namanya di panggil Tori segera datang dengan 6 orang dibelakangnya. Ranti tidak mengenal orang-orang itu sebelumnya, ia hanya mengenal yang ikut mengurusnya. Seperti Beno dan juga Egil.
Melihat banyaknya orang yang ikut datang, Budiman dan Anto gelisah bahkan sudah mengarah ke perasaan takut. Sejenak menyesali karena sudah lancang datang kerumah ini. Kalau hanya mendapatkan penolakan saja mereka juga akan terima namun jika sampai seperti ini mereka bener-bener menyesal. Tidak menyangka bila Calvin akan memanggil Ranti dan seenteng itu menuruti permintaan Ranti.
__ADS_1
"Bos." Panggil Anto getir membayangkan apa yang akan dia hadapi. Dia tidak mau di kurung lagi di sel bawah tanah. Terakhir dia disana hidupnya hanya bertahan di tangan Ranti, tapi sekarang bahkan Ranti sendiri yang menjebloskannya ke sel itu lagi.
"Bawa mereka ke sel."
"Siap Bos!" Sahut semua pengawal itu dengan tegas.
Lalu mereka mulai menarik tubuh Budiman tanpa ampun tanpa peduli dengan penolakan Ayah dan Kakak tirinya itu.
"Bos, tolong ampuni kami." Teriak Anto. "Ranti! Suruh suami lo jangan siksa kami, Ti." Pinta Anto.
Ranti sudah mau bangkit dan meminta pengawal untuk tidak sekasar itu naman Calvin segera mencegahnya dan menariknya lagi ke pangkuannya. Mengarahkan kepala Ranti agar menatapnya saja.
"Mengobati, Anto. Bukan menyiksa." Seru Calvin pada Anto. "Cepet bawa gue gak mau Ranti liat pemandangan jelek ini." Lanjutnya pada para pengawalnya.
Pengawal itu segera menyeret paksa Budiman dan Anto keluar dari ruang tamu. Ranti sedikit khawatir menatap Ayah dan Kakaknya itu di seret keluar dari rumah entah mau di bawa kemana mereka. Ranti tidak tau yang di maksud sel itu apa dan dimana.
"Tenang aja sayang, kamu minta mereka di rehab. Aku turutin biarkan saja mereka di rehab, aku sudah rugi banyak gara-gara mereka." Ucap Calvin dengan nada selembut sutra. Lagi-lagi dia mengusel-usel wajahnya di lengan tangan kanan Ranti.
"Kamu.. Hmm.. Kenapa tiba-tiba manggil aku sayang?" Tanya Ranti dengan nada hati-hati. Dia takut Calvin akan tersinggung dan menjadi marah padanya. Karena dia sudah tidak mau di marahi Calvin apalagi sampai di kasari lagi. Dia sudah cukup merasa lebih baik dengan sifat Calvin saat ini, dia hanya akan melakukan sesuai yang Calvin suka.
Calvin tersenyum menatap wajah Ranti sambil menggeser tubuh Ranti agar menghadap ke tubuhnya. Dengan kaki terbuka, Ranti duduk di pangkuan Calvin menghadap Calvin. Dress nya yang minipun terangkat ke atas, memperlihatkan kulit kaki jenjang Ranti. Walau tidak tinggi namun Ranti memiliki body yang indah.
"Mulai sekarang panggil aku sayang ya." Katanya mengelus paha Ranti. Melihat wajah suaminya yang teramat ganteng itu pun membuat Ranti luluh hingga hanya mampu menganggukan kepala tanda setuju.
Yah apapun itu tugasku hanya harus setuju aja. Kenapa aku baru sadar kalau laki-laki ini ganteng banget sih?!
Melihat adegan seperti itu Rico pun hanya mendengus dan segera pergi dari ruang tamu. Dia tau yang dia lakukan sekarang. Menjaga ruangan ini agar tetap steril agar tidak ada orang yang mengintip mereka.
Calvin menyelipkan rambut Ranti ke balik telinga Ranti. Lalu dengan lembut dia merengkuh dagu Ranti untuk mencium bibirnya. Ranti mendunduk sedikit dan menyambut ciuman Calvin. Perlahan namun pasti, dia membalas ciuman Calvin. Tangan Calvin mulai tidak terkendali. Mengelus kulit tubuh Ranti dari paha dan merangkak masuk ke bagian sensitive Ranti.
Tangan Ranti hanya mampu melingkar di leher Calvin namun sesekali dia mengelus kepala dan wajah Calvin. Ketika keadaan sudah semakin panas, Ranti menyadari lokasi nya saat ini.
Ruang tamu. Ya ampun gak mungkin gimana kalo ada yang liat? Bathinnya khawatir. Dia segera melepaskan ciumannya namun Calvin lagi-lagi mencegahnya memeluk tubuh Ranti erat dan semakin ganas mencium bibir Ranti. Lalu Calvin menciumi leher Ranti, Ranti mulai mendesah nikmat.
"Sayang.. Hmmm.. Gimana. Hmmm.. Gimana kalo.. ada yang liat. Ah.." Ucapnya terbata-bata karena desahan.
"Tenang aja sayang, ada Rico kok." Jawab Calvin. Dia segera menyikap dress Ranti agar terangkat keatas dan melepaskan tali dalamannya.
Posisi ini? Oiya.. Apa ini posisi yang Inez maksud? Tapi gak mungkin juga gue ngelakuin posisi ini disini. Bingung Ranti.
Calvin membuka kancing dan retsleting Jeansnya, menurunkan sedikit celananya lalu dengan cepat memasukannya ke dalam. Ranti mendesah saat sesuatu masuk kedalam kepunyaannya. Calvin menurunkan tali dress-nya, menyesap 2 bukit kembar milik Ranti dan membuat banyak stempel disana. Ranti semakin menggeliat dan menikmatinya sampai Calvin selesai.
__ADS_1
Bersambung...