
"Lo yakin kalo Ranti gak selingkuh dari gue?" Tanya Ardi sedikit ragu dengan kesetiaan Ranti.
"Gue yakin banget, Kak. Gak mungkin dia selingkuh. Seperti yang tadi gue bilang dia itu cinta banget sama lo, Kak. Gue gak bohong!" Via berusaha meyakini Ardi. Mendengar perkataan Via, Ardi sedikit lega sambil menyenderkan tubuhnya pasrah.
"Terus sekarang gimana dong, Vi?" Tanya Ardi frustasi.
"Gue sama gak tau nya, Kak. By the way lo bukannya lagi pendidikan polisi, Kak? Kok sekarang bisa kesini agak lama?"
"Udah lulus, Vi. Gue kerja di kantor polisi sekarang jadi Kepala sub unit." Jawabnya.
"Jadi lo sekarang polisi?"
"Iyalah, Vi. Masa gue pendidikan polisi jadinya pemain bola sih?!"
"Gue kira jadi artis malah, Kak. Kayak polisi yang waktu itu tuh. Caiya.. caiya.." Canda Via menirukan joget india nya. Ardi tampak tidak tertawa, tersenyum pun tidak. Dia bersandar dan memalingkan tubuhnya memandang keluar. Via terkekeh sendirian, merasa bodoh di suasana seperti ini bagaimana mungkin dia bersikap begitu apalagi di hadapan orang yang sedang patah hati itu.
"Sorry Kak, gue cuma bercanda. Berusaha menghibur lo aja." Ucapnya.
"Slow, Vi." Sahut Ardi memejamkan matanya sebentar. Dia mengantuk sekali karena dari piket malamnya dia belum tidur dan malam ini dia harus piket lagi.
"Lo kan polisi, kenapa gak cari tau pake cara kepolisian aja sih? Kayak polisi lagi nyari penjahat gimana kek gitu." Tanya Via gusar.
"Belum kepikiran kesitu, gue pikir dengan ketemu Ibunya bisa nemu sesuatu tentang Ranti. Nemuin sih, cuma gue gak nyangka kalo kabarnya bakal kayak gini. Gue sakit hati, Vi." Ucap Ardi masih sambil memejamkan mata.
"Kak, gimana kalo kita temuin lagi Ibunya Ranti bareng-bareng? Mau gak? Kali aja bisa dapet informasi lebih lagi dari Ibunya kalau kita berdua yang nyamperin dia. Kita samperin tempat kerjanya aja, gue tau Ibunya kerja dimana." Usulan Via ada benarnya juga pikir Ardi.
Ardi membuka matanya, menegakan tubuhnya. Terlihat jelas kantuk di wajah Ardi tapi dia sangat setuju.
"Boleh, Vi."
"Besok aja yu, Kak. Gue besok gak ada jadwal apa-apa nih."
__ADS_1
"Kalo lusa gimana? Gue besok mau tidur dulu, gue belum tidur dari semalem." Ardi bicara sambil menguap.
"Oalahhh lo ngantuk banget ya, Kak keliatannya. Kalo lusa sih sebenernya gue ada jadwal interview."
"Selesai lo interview aja, gue jemput deh. Lo interview dimana?"
Via memberitahu tempat dimana dia interview. Dia interview disebuah toko baju designer ternama di mall mewah kawasan ibu kota. Gajinya cukup tinggi, dia melamar dari sebuah situs di internet.
"Oke, kebetulan gak terlalu jauh dari kantor gue. Kita contact-contact an aja ya, Vi." Mereka bertukar nomer telfon. Lalu setelah Ardi membayar tagihannya merekapun keluar dari cafe. Via mengambil dus berisi barang-barang nya dari dalam mobil Ardi.
"Vi, sorry gue gak visa anter lo pulang ya. Gue harus ke kantor."
Iya, Kak. Gak papa, sampai ketemu lusa ya, Kak. Tiati di jalan. Salam buat Erin." Ledek Via. Dari dalam mobil Ardi sedikit terkekeh.
"Emang akrab sama dia?"
"Hahahaaa.. Mana mungkin, terakhir ketemu aja gue hampir mau jambak rambut ade lo itu." Ucap Via tertawa mengingat kejadian terakhirnya bersama Erin.
"Hahahaaa.. Goodluck interview nya ya, Vi." Ardi tertawa.
*********
Piket malam yang melelahkan. Ardi mendapat jadwal piket di malam hari. Menerima laporan kejahatan-kejahatan pada malam hari, mengatur dan mengarahkan anak buahnya untuk dapat meringkus penjahat ataupun menyelesaikan sebuah kasus. Kasus-kasus baru yang di tanganin Ardi cenderung masih kasus ringan. Pencurian, perampokan, terorisme dalam kalangan kecil belum ke sebuah kasus yang berat. Apalagi saat ini ia terjadwal dalam piket malam yang keseringannya kasus anak muda yang lagi mabuk-mabukan saja.
Setelah piketnya selesai dan matahari sudah mau terbit, Ardi segera melaju mobilnya dengan cepat ke Apartement Arif. Beruntungnya Apartement Arif sangat dekat hanya berjarak 3 kilometer dari tempatnya bekerja.
Apartemen Arif terdapat 2 kamar tidur yang memang Arif sediakan untuk sahabat seperjuangan nya itu. Arif bahkan memaksa Ardi untuk memindahkan barang-barang nya dari rumah ke Apartementnya. Sebelumnya Ardi menolak ajakan Arif itu tapi lama-lama dia lelah juga karena harus pulang pergi kerja kerumahnya. Tidak setiap hari Ardi menginap di Apartemen Arif, terkadang kalau lagi senggang dia pasti pulang kerumah.
Ardi sudah sampai di Apartement Arif, di perjalanan tadi dia membeli 2 bungkus nasi uduk untuk Arif dan untuk dirinya sendiri. Tapi karena Arif belum bangun tidur Ardi sarapan sendirian di meja makan yang masih dalam 1 ruangan dengan dapur. Setelah sarapannya habis, Arif bangun dan menghampiri Ardi. Dia mengambil air minum dari kulkas nya dan menuangkan botol minumnya ke gelas.
"Gimana udah ada kemajuan?" Tanya Arif dan meneguk air minumnya.
__ADS_1
"Bangun tidur minumnya air dingin, padahal ada air anget di dispenser. Gue juga udah seduhin lo kopi anget tuh." Kata Ardi sambil meneguk habis air putihnya.
"Udah kebiasaan begini, Di. Kayak baru tau aja sih lo, masih aja protes!"
Ardi mendengus dan menunjuk bungkusan nasi uduk untuk sarapan Arif.
"Tuh sarapan, gue beli tadi di deket kantor." Ardi menguap. "Enaknya klo piket pagi tuh lebih seger ya. Sampe kapan sih kita ada piket-piketan begini?! Huft!"
Arif terkekeh duduk di bangku berhadapan dengan Ardi. Dia membuka bungkusan nasi uduk nya dan mulai menyuapkan ke mulutnya. "Sabar, denger-denger mau ada polisi baru lagi khusus untuk piket malam"
"Ah gosip! Gue tidur dulu ya ngantuk banget." Ardi bangkit merapihkan sisa makanannya dan memasukan ke tempat sampah.
"Eh gimana udah ad perkembangan belum?"
"Belum ada, cuma ketemu sama sahabatnya doang."
"Eh lo cari aja nama suaminya siapa, kita cari entar ke bagian pencarian orang. Kayaknya kepinteran lo luntur deh!" Ucap Arif gusar sambil mengunyah makanannya. Namun Ardi malas untuk meladeni obrolannya dengan Arif. Dia sudah terlalu ngantuk untuk tetap membuka matanya. Setelah berganti baju, sikat gigi dan mandi air hangat dia pun segera menjatuhkan dirinya ke tempat tidur.
**********
Ranti terbangun dari tidurnya tanpa sehelai benang pun di tubuhnya hanya terlilit selimut tebalnya saja. Matahari sudah menembus masuk secara remang-remang dari balik tirai jendelanya yang berwarna Cream. Akhir-akhir ini dia begitu lelap tertidur sampai selalu bangun di siang hari, walaupun masih jam 8 pagi tapi menurutnya itu sudah sangat siang mengingat kebiasaannya dari dulu sejak subuh Ranti sudah harus bangun. Saat sudah tinggal di rumah ini pun Ranti masih tetap bangun subuh karena terbiasa. Tapi sudah beberapa hari ini dia selalu bangun siang, pada awalnya dia bangun jam 6 pagi, lalu besoknya dia bangun jam 7 pagi lalu hari ini dia bangun jam 8 pagi. Bahkan sarapan yang selalu di bawakan Bi Tuti sekarang sudah terasa dingin karena suhu AC kamar.
"Yampun, lama-lama makin siang aja aku bangun tidurnya. ckckck.." Dia bergumam sendiri menoleh Calvin yang juga masih tidur di sampingnya memunggungi Ranti di balik selimut tebal juga tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.
Ranti bangun, Calvin membalikan badannya ke hadapan Ranti, melingkarkan tangannya di pinggang Ranti.
"Nggak ada yang marahin kamu bangun siang, keapa harus gusar? Tidur lagi sini." Ucap Calvin dengan suara serak menarik tubuh Ranti ke pelukannya.
"Calvin, udah siang ini. Sarapannya pasti udah dingin." Kata Ranti dalam pelukan Calvin.
"Nanti aku suruh Bi Tuti bikinin yang baru. Sekarang aku masih ngantuk masih pengen tidur sama kamu."
__ADS_1
Ranti tidak menolak ajakan Calvin, dia lebih memilih untuk menurut saja apa maunya Calvin karena takut Calvin akan melakukannya lagi. Pagi ini dia sudah cukup lemas dan badannya pegal-pegal karena tiap malam Calvin selalu meminta dan perlahan-lahan Ranti menikmatinya. Rasanya memang tidak buruk jika di nikmati. Ranti punya rencana setelah dia mulai terbiasa dengan ini dia akan mulai mempraktekan pelajaran yang Inez kasih, walaupun sebenarnya dalam hati dia masih mengganjal apa benar mereka pernah melakukannya juga? Pertanyaan itu masih selalu membuat hatinya sedikit ngilu.
Bersambung...