
Setelah sampai di ujung gang halaman rumah Ranti, Via menghela nafas panjang melihat Mas Anto, Ayah Ranti dan seorang laki-laki yang kelihatannya memang seperti preman. Dia sudah bisa merasakan tatapan tajam menujuk dari 4 pasang mata disana, sementara 2 pasang mata milik preman itu tidak dia dapati karena sedang melihat ke arah lain. Via memberanikan diri menghampiri rumah Ranti, dilihatnya rumah Ranti benar-benar sudah berubah. Jauh lebih bagus tidak seperti dulu yang sudah mau roboh.
"Ngapain kesini?" Tanya Anto garang.
"Ibu ada, Mas? Via mau ketemu Ibunya Ranti." Jawab Via kalem. Dia sudah terbiasa bertemu Anto yang tengil itu. Tatapannya menuju laki-laki preman itu. Ada sebuah tato di lengan tangannya, terlihat karena orang itu memakai kaus tanpa lengan. Wajahnya garang, rambutnya agak gondrong tapi hanya diam memperhatikan Via.
"Gak ada. Pergi sana!" Usir Anto.
"Jangan boong, Mas. Tadi Via ke Puskesmas katanya Ibu udah pulang kok." Jawab Via.
"Yeee ngeyel banget sih! Gue bilang gak ada ya gak ada!"
"Via.." Sahut Lasmi dengan lembut berdiri di ambang pintu rumah.
"Ibu." Ujarnya. "Tuh kan lo boong, misi gue mau ketemu Ibu." Sahut sinis Via ke Anto sambil melewati Anto menghampiri Lasmi.
"Ayo masuk, Vi. Kita ngobrol di dalam." Ajak Lasmi.
Via pun masuk ke dalam rumah, Lasmi mengangkat kedua tangannya memberi penjelasan kepada Budiman dan Anto agar tenang. Budiman sudah mau bangkit dari duduk santai nya, Anto sudah terlihat jengkel namun segera di cegah Bram. Bram menggeleng ke Budiman dan menyuruh untuk percaya kepada Lasmi.
Via duduk di sofa ruang tamu. Rumah ini benar-benar sudah berubah. Bangunannya sudah tidak seperti bangunan yang hampir roboh seperti dulu, bahkan rumah ini sudah tingkat. Perabotannya juga terlihat bagus, bahkan sofa yang saat ini dia sedang duduki terlihat mahal.
Lasmi duduk di samping Via, pelayan datang membawakan 2 cangkir teh hangat. Lagi-lagi terkejut dalam hati. Bahkan mereka punya pelayan sekarang? Via benar-benar kaget.
"Di minum, Vi." Ujar Lasmi lembut meraih cangkir teh nya dan menyeruput sedikit.
"Makasih, Bu." Kata Via juga menyeruput pelan teh hangatnya.
"Bi, ke kamar Hito ya. Temenin dulu, dia lagi main di kamarnya." Ujar Lasmi ke pelayannya itu.
"Baik, Bu." Kata pelayan itu lalu masuk kedalam rumah.
"Ibu sejak kapan punya pembantu?" Tanya Via heran. Lasmi tersenyum.
"Sejak Ranti menikah. Suaminya yang kasih pembantu itu, supaya ada yang bantu Ibu dirumah karna kan Ibu juga kerja. Biasa kan yang bantu-bantu Ibu si Ranti. Tapi Ranti sudah di bawa suaminya, syukur suaminya baik banget perhatian sama keluarga Ibu." Jawab Lasmi berusaha terlihat yakin di depan Via. Via remaja seumuran Ranti jadi tidak akan curiga, untungnya Via tidak datang dengan Ardi. Karena Ardi seorang polisi, Lasmi khawatir Ardi akan tau dengan semua keganjilan ini.
"Jadi bener ya Bu kalo Ranti udah nikah?"
"Via, kamu kan orang pertama yang Ibu kasih tau waktu kamu datang kesini mencari Ranti." Lasmi berkata masih dengan nada lembut.
__ADS_1
"Iya tapi kok tiba-tiba gitu ya, Bu? Ranti nikahnya sama siapa? Orang mana? Via kan sahabatnya Bu, kok Ranti gak pernah cerita ke Via. Terus waktu menikah kenapa gak ngundang-ngundang?" Tanya Via dengan nada pelan bahkan seperti berbisik takut jika 3 orang di depan menguping. Tapi sepertinya tidak karena terdengar mereka mengobrol dan sesekali tertawa kecil.
"Via, Ibu tau perasaan kamu. Kamu pasti kecewa ya gak turut hadir di pernikahan Ranti. Ibu cuma bisa bilang semua itu bener-bener dadakan. Jadi ada kenalan keluarga jauh datang, pas ketemu Ranti katanya langsung suka, Ranti juga sama akhirnya mereka sepakat menikah. Sekarang Ranti ikut suaminya ke London dan--"
"Ibu. Tolong deh jangan boongin Via juga. Via bisa tau lho kalo cerita Ibu ini cuma omong kosong." Pembicaraan Lasmi di potong begitu saja oleh Via. Tangan Lasmi agak bergetar namun cepat-cepat dia tutupin dengan saling menggenggam kedua tangannya.
"Via tau gimana cinta nya Ranti ke Ardi, jadi gak mungkin Ranti hianatin Ardi apalagi sampai tiba-tiba mau dinikahin sama orang yang gak pernah dia kenal sebelumnya. Ibu harusnya lebih tau dari Via gimana susahnya Ranti untuk bisa kenal sama orang." Sahut Via masih ngotot dan hampir berbisik.
"Karna Ibu lebih tau dari kamu makanya Ibu mau bilang kamu jangan sok tau dengan kehidupannya Ranti, Vi. Atau kamu akan..." Lasmi diam mendadak.
"Akan apa, Bu?"
"Terluka." Bisik Lasmi menyondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Via. "Via, Ibu cuma harus ingetin kamu. Kalo kamu sayang sama Ranti, tolong kamu jangan mencoba untuk cari tau tentang Ranti." Bisik Lasmi lagi.
"Maksud Ibu?"
"Ranti menikah bukan dengan sembarangan orang. Ibu sangat hati-hati sekali, Via. Ranti baik-baik saja disana Ibu sudah sangat bersyukur. Disini Ibu dan Hitopun saling menjaga agar tetap baik-baik saja."
"Via masih belum ngerti sama maksud Ibu." Bisik Via.
"Jangan lagi mencari Ranti, bahkan kalo Ardi menyuruh sekalipun."
"Via, tadi kan Ibu bilang suaminya Ranti bukan orang sembarangan. Kami punya hutang banyak, mereka itu orang berbahaya. Demi keselamatan Ranti, Ibu dan Hito. Atau demi keselamatan kamu sekeluarga juga, Vi. Ibu yakin mereka udah tau kedatangan kamu ini, makanya tadi tiba-tiba orang itu jemput Ibu pulang." Jelas Lasmi masih dengan berbisik dengan penuh kehati-hatian. Bahkan dia pun takut jika pelayanannya itu akan curi-curi dengar. Kesalahan sekecil apapun mereka bisa dalam bahaya. Lasmipun khawatir dengan Via dan keluarganya.
"Lo mau nginep disini, Vi?" Sahut Anto ketus yang tiba-tiba masuk kedalam ruang tamu. "Kalo udah gak ada yang di obrolin lagi mending lo pulanglah!"
"Sebentar lagi, Mas. Ini teh nya belum aku abisin kok."
"Emang lo gak punya teh dirumah? ngeteh dirumah sendiri aja!" Ujar Anto masih dengan nada bicara yang teramat ketus.
"Ya udah kalo gitu Via pamit ya, Bu. Salam untuk Hito." Via dan Lasmi bangkit dari duduknya.
Lasmi mengulur tangannya bersalaman dengan Via sambil memberikan secarik kertas. Via mengerti lalu mencium punggung tangan Lasmi dan segera keluar dari rumah Ranti. Via menoleh sebentar dari ujung gang, Lasmi dan Anto masih melihat dirinya dari ambang pintu rumah dan Lasmipun melambaikan sebelah tangannya.
Sebelum mendekati mobil Ardi, Via membuka lipatan kertas yang Lasmi berikan padanya. Itu tulisan Lasmi.
Tolong kami dengan tidak mencari tau kabar Ranti lebih lanjut. Bukan cuma Ranti, Ibu dan Hito yang dipertaruhkan disini, tapi Ibu juga khawatir dengan kamu dan keluarga kamu. Biarkan semua ini berjalan apa adanya, Ibu punya keyakinan tersendiri. Siapapun termasuk Ardi gak akan bisa menolong, mengertilah Via. Ibu mohon. Sampai saat ini yang terpenting Ranti baik-baik saja, tempo hari kami bervidio call. Sobek dan buang pesan ini setelah kamu baca ya, jangan sampai siapapun tau. Ibu percaya kamu.
Membaca surat pendek ini membuat Via bergidik. Penasaran sebahaya apa suaminya Ranti? Dia teramat sangat khawatir dengan kondisi Ranti, ingin sekali menolong. Tapi dengan peringatan yang Ibunya Ranti kasih ini dia cukup mengerti dengan kondisinya.
__ADS_1
Ya ampun Ranti. Kamu punya dosa apa sampe kamu hidup kayak gini. Ucap Via dalam hati teramat sedih mendengar kabar sahabatnya yang seperti ini.
Via memasuki mobil Ardi, mesin mobil masih menyala sedari tadi. Dia diam walaupun Ardi memberikan pertanyaan bertubi-tubi.
"Kak, gue rasa kita gak usah cari tau tentang Ranti lagi." Ucapnya datar tanpa menoleh ke arah Ardi.
"Lo kenapa, Vi? Kok tiba-tiba nyuruh gue jangan nyari Ranti lagi?" Tanya Ardi bingung.
"Iya, Kak. Ranti tu beneran udah nikah dan katanya dia hidup bahagia sama suaminya itu." Jawab Via nada suara sedikit tinggi.
"Kalo kabar dia udah nikah gue juga udah tau, Vi. Sekarang gue mau tau apa ada info lain tentang Ranti? Tadi lo ud ketemu sama Ibunya?"
Via mengangguk.
"Ya cerita dong, Vi jangan cuma ngangguk aja!" Bentak Ardi, kesabarannya sudah hilang apa lagi dia hanya bisa menunggu Via saja dari tadi di dalam mobil berharap dia bisa mendapatkan secerca harapan kabar tentang pacarnya.
"Kok lo jadi bentak-bentak gue sih?" Sewot Via.
Ardi menghela nafas panjang, berusaha mengontrol emosinya.
"Gue tadi udah ketemu sama Ibunya Ranti dan dia cuma bilang, gue dan lo jangan lagi cari tau tentang Ranti lagi. Ranti udah nikah dan punya privasi sendiri. Untuk lo Kak, kata Ibunya relain Ranti, kalian cuma cinta monyet masa sekolah." Ucap Via bohong berusaha meyakinkan Ardi untuk melupakan Ranti. Dia belum bisa percaya dengan Lasmi tapi diapun tidak mau mengacuhkan peringatan itu.
"Omong kosong! Gue bilang ini semua janggal, Vi. Masa lo gak percaya gue sih?!"
"Janggal dari mananya, Kak? Orang nikah masa janggal, yang janggal itu lo sendiri. Lo cuma butuh waktu untuk ngelewatin ini semua, Kak. Lo cuma lagi putus cinta."
"Putus cinta? Gak pernah ada kata putus diantara gue sama dia, Vi."
"Tapi dia udah nikah, Kak! Inget dia itu bini orang sekarang!" Sekarang Via yang membentak Ardi. Ardi senyum kesal bahkan hampir tertawa karena saking kesalnya. Via membuka pintu mobil namun di cegah Ardi.
"Lo mau kemana, Vi? Sorry gue agak emosi."
"Pulang, Kak. Rumah gue deket sini jadi gue bisa pulang sendiri. Lo pulang aja, Kak. Hati-hati dijalan. Sorry gue gak bisa kasi info yang bikin lo bahagia, cuma info ini yang bisa gue kasih." Lalu Via benar-benar keluar dari mobil Ardi dan segera berjalan pulang kerumahnya dengan cepat sambil menangis. Hari sudah sore hampir gelap, membuat jalanan sudah agak sepi jadi tidak ada yang memperhatikan dia yang berjalan sambil sedikit menangis karena masih dia tahan.
Setelah sampai dirumahnya, Via segera menutu rapat pintu rumahnya dan menangis. Memikirkan dan membayangkan hidup sahabatnya itu. Sementara di dalam mobil Ardi, setelah Via pergi, Ardi memukul-mukul kemudi nya. Dia masih tidak percaya dengan semua ini. Via yang dia andalkan ternyata tidak bisa memberikan secerca harapan untuknya. Dia tau Ranti sudah menikah, tapi setidaknya dia ingin tau kabar Ranti. Dia ingin tau dan dengar penjelasan tentang hubungannya. Kenapa Ranti bisa begitu tega menyakiti hatinya dan mengkhianati cintanya.
Kenapa kamu setega ini Ranti? Gumamnya. Lalu Ardi melaju mobilnya pergi dengan cepat.
Bersambung...
__ADS_1