Love in Patience

Love in Patience
Episode 12 (Telephone)


__ADS_3

Ketika Ranti mendengar suara Ardi di sebrang, ia segera menyahut. "Kak, Kak.. Tolong aku." Tapi sambungan telfon langsung terputus.


Ranti mencoba menghubungi Ardi lagi, lagi dan lagi tapi tidak tersambung. Ia menyerah dan meletakan gagang telfon nya, dengan rasa kecewa dia kembali ke tempat tidurnya. Rasa kantuk datang kembali dan Ranti memejamkan matanya, terlelap tidur. Dalam hati ia berucap mungkin besok sudah bisa tersambung lagi, semoga saja.


Ditempat lain, Calvin berada di mobilnya menuju pulang bersama Rico dan Tori. Ponselnya berdering, dilihat nama Ayahnya di panggilan masuknya lalu dia segera mengangkatnya.


"Halo, Pah."


"Calvin!" Bentak Papanya dari sebrang telfon mengagetkan Calvin hingga ia menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Apa, Pah? Kenapa harus teriak? Aku gak tuli!"


"Apa yang kamu udah lakuin disana, Vin? Kamu main nikah-nikahan sama anaknya Budiman?" Tanya Papanya tidak percaya dengan kabar yang baru dia dapat dari salah satu pekerja nya di rumah Calvin entah siapapun itu Calvin tidak peduli.


"Iya bener, kenapa?"


"Apa kamu sudah gila? Anak pengemis seperti itu kamu nikahin?"


"Pah, ingatlah kita juga dulu pengemis." Sahut Calvin mengingat bagaimana kehidupannya dengan Papanya dulu saat Ibunya tiba-tiba pergi meninggalkannya. Masa-masa kelam yang tidak pernah ingin ia ingat kembali.


"Iya tapi kita berusaha sendiri untuk bisa jadi seperti sekarang, bukan memanfaatkan orang lain. Sampah seperti Budiman itu harusnya kamu buang ke laut! Berani-beraninya dia nyogok kamu dengan anak gadisnya!" Geram Papanya.


"Sudahlah, Pah, jangan di bahas. Umurku sudah 30 tahun sudah saatnya aku menikah." Sahut Calvin santai.


"Sejak kapan kamu mikirin pernikahan, Vin? Bukannya kamu selalu bilang kamu gak pernah butuh pendamping?"


"Sejak kemarin mungkin, Pah. Aku lupa sejak kapan tepatnya."


"Bisa-bisanya kamu, Vin. Papa disini jauh-jauh ke Italy untuk bekerja sama dengan Bos besar disini, dia punya ponakan cantik dan juga jago menembak. Kamu pasti cocok sama dia."


"Papa jauh-jauh telfon cuma mau jodohin aku sama perempuan itu? Jodohin ajalah ke Rico atau Harry jangan ke aku!"

__ADS_1


"Kurang ajar! Awas kalau Papa pulang, Papa akan usir gadis sampah itu!" Ucap Papanya dan langsung mematikan telfon nya.


Tanpa ekspresi apapun dia memasukan ponselnya kedalam saku jasnya.


"Gue juga gak mau dijodoh-jodohin, Vin!" Sahut Rico di sebelahnya.


"Yaudah fix kasih aja ke si Harry." Mereka terkekeh.


Mobil memasuki halaman rumah, dilihatnya Rolex yang bertengger di pergelangan tangan kirinya, sudah jam 1 pagi. Ranti pasti sudah tidur, dia harus banyak tidur supaya lekas pulih dan dia bisa menikmati tubuhnya.


2 orang pengawalnya menghampiri Calvin saat ia masuk kedalam rumah. Salah 1 dari mereka menceritakan saat Ranti mencoba untuk menghubungi Ardi.


"Apa?!" Calvin langsung menghentikan langkahnya.


"Iya, Bos. Tidak sempat orang itu menjawab, sambungan telfon langsung kami putus."


"Kurang ajar, berani-beraninya dia!" Geram Calvin melangkah cepat menuju kamarnya.


Egil membukakan pintu kamar dan menutupnya, Calvin mengunci kamarnya dan langsung menghampiri Ranti yang sudah terlelap tidur di balik selimut.


"Hei, gadis kurang ajar! Apa yang sudah kamu lakuin, hah?!" Bentak Calvin meraih rambut Ranti agar Ranti bangkit dari tidurnya.


Ranti meringis perih. "Maksudnya apa, Bos? Aku gak ngelakuin apa-apa." Jawab Ranti memegang tangan Calvin mencoba untuk melepaskan tangan Calvin dari rambutnya.


"Jangan bohong!" Calvin menghempaskan kepala Ranti ke ranjang. "Lo mencoba telfon siapa tadi? Jawab!" Teriak Calvin di telinga Ranti, Ranti menangis ketakutan.


"Baru hari pertama lo pulang berani-beraninya lo telfon mantan pacar lo itu! Jangan sampai gue bunuh ya pacar lo itu. Mau gue matiin itu orang?"


"Jangan, Bos." Isak Ranti.


"Bukannya Inez sudah bilang kalau malam apa yang harus lo pakai?" Bentak Calvin lagi.

__ADS_1


Ranti mengangguk. Dia lupa untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang sudah Inez siapkan, bahkan sudah dia pegang-pegang.


"Kurang ajar!"


Calvin melepaskan pakaiannya dan juga pakaian Ranti dengan paksa. Dia membalikan tubuh Ranti agar membelakanginya dan Calvin memulai permainannya dengan kasar. Mencumbu pundak Ranti hingga Ranti kesakitan.


"Hentikan, Bos. Tolong.. Ini sakit." Isaknya. Ia menangis lagi.


Setelah selesai Calvin menutupi tubuh Ranti dengan selimutnya, dikecupnya pipi Ranti yang basah dengan air mata.


"Tidurlah, aku sudah memaafkan." Ucap Calvin. Dia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.


Ranti terpaku di posisi nya, menangis dan menangis. Dia tidak mampu untuk menggerakkan sedikit saja tubuhnya, rasanya sekujur tubuhnya sakit.


Dalam tangisnya dia berucap, kenapa aku harus merasakan hal seperti ini lagi, ya Tuhan, tolong aku.


Calvin selesai mandi, melemparkan handuk dan pakaian tidur yang harus Ranti pakai.


"Cepat bersihkan tubuhmu, pakai baju itu! Ingat, aku gak mau lagi liat kamu tidur gak pakai baju tidur, ngerti?!"


"Ngerti, Bos." Jawab Ranti berusaha bangkit dari ranjang memakai handuknya untuk mandi.


Dia merendam tubuhnya di air hangat yang sudah Calvin siapkan untuknya. Setidaknya Calvin masih berbaik hati untuk menyiapkan air hangat untuk Ranti, karena Ranti tidak mengerti untuk mengisi air hangat di bathup nya itu. Sambil mengusapkan tubuhnya dia terus menangis, seberapa banyak sabun yang ia pakai ke tubuhnya tidak akan bisa membersihkan tubuhnya yang sudah hina dan najis ini. Bila ada kesempatan untuk mati lebih baik dia mati, dia memejamkan matanya dan bersiap untuk merendem seluruh tubuhnya hingga kepala ke dalam air. Tapi mungkin Calvin sudah punya feeling, dia masuk ke dalam kamar mandi dan memegangi handuk piyama Ranti.


"Sudah pagi, jangan terlalu lama berendam. Ayo bangun keringkan tubuhmu setelah itu kita tidur!" Perintah Calvin.


Sudah seperti tidak ada malunya, Ranti bangkit menghampiri Calvin. Memakai handuk dan mengeringkan tubuhnya. Calvin kembali kedalam kamar lalu Ranti memakai baju tidurnya. Ia mengaca, baju tidur ini benar-benar sangat minim. Pendek dan sangat terbuka, apa harus setiap malam ia mengenakan ini?


Ranti cepat kembali kedalam kamar, Calvin sudah tertidur di ranjangnya. Ranti terpaku, apa ini hanya mimpi? Apa benar dia sudah menikah? Dia harus hidup dan tidur setiap malamnya bersama laki-laki itu. Kenapa hidupku sungguh sesial ini? Aku punya salah dan dosa apa, Tuhan? Aku selalu berbuat baik pada siapapun tapi kenapa kehidupanku bisa sesial ini?


Air matanya menetes lagi. Tapi dia sudah harus tidur jika Calvin tau dirinya belum naik ke ranjang dia takut Calvin akan mengamuk lagi. Lalu dia segera merebahkan tubuhnya ke sebelah Calvin, ranjang itu cukup luas jadi Ranti meletakan guling di tengah-tengah antara dirinya dan Calvin. Lalu Ranti menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut dan mencoba untuk memejamkan matanya.

__ADS_1


Calvin yang sedari tadi hanya pura-pura tidur tergelak memperhatikan kelakuan Ranti. Dia tau bahwa Ranti merasa tersiksa bersamanya, dia tau bahwa Ranti merasa sedih, melihat Ranti menangis sebenarnya membuatnya kasihan. Dia ingin memeluk Ranti, mengucapkan sayang dan memberi apapun yang Ranti minta. Tapi dia takut jika dia bersikap seperti itu dia akan kehilangan Ranti. Dia hanya bisa bersikap seperti dia apa adanya, berharap Ranti bisa menerima sifatnya dan menerima cintanya.


Jika di fikirkan dengan akal sehat logika orang-orang normal memang itu mustahil, tapi itulah Calvin. Dia akan mencintai Ranti dengan caranya yang dingin, angkuh dan arogan. Dia takut bila dia bersikap lemah Ranti akan semakin pergi menjauh sama seperti Ibunya. Disaat dia membutuhkan kasih sayang dari seorang Ibu, karena sifat manja dan lemahnya membuatnya merasakan sakit hati kehilangan seseorang yang dia sayangi. Dia bersumpah dalam hati pada saat itu, dia tidak akan pernah mau mempunyai hati yang lemah lagi, karena sakit hati itu sangat tidak enak dan itu selalu membuatnya ingin muntah.


__ADS_2