
Ranti terbangun pagi harinya dengan masih menggunakan pakaian yang menurutnya adalah pakaian compang-camping. Dia melihat ke sebelah nya, Calvin sudah tidak ada. Dia menghela nafas lega lalu melirik jam yang bertengger di dinding kamarnya. Sudah jam 9 pagi, dia agak kaget karena tidak terbiasa bangun sesiang ini. Tapi di pikir-pikir juga bangun pagi juga buat apa? Khawatir bila melihat Calvin dia akan di serang lagi.
Akhirnya dia bangkit dan menuju ruang pakaian lalu memasuki kamar mandi untuk mandi, setelah selesai mandi dia memilih-milih baju.
"Aku pake baju apa ya hari ini? Hmmm." Tanyanya pada dirinya sendiri memilah-milah pakaian yang di gantung.
Semua pakaian ini memang bagus dan terlihat mahal tapi sayang Ranti tidak merasa cocok karena menurutnya terlalu terbuka. Dia mengambil 1 dress dengan motif bergaris dan untungnya berlengan walaupun hanya lengan pendek dan ketika dia pakai huft! Ketiaknya langsung terlihat.
"Kenapa sih semua baju ini selalu memperlihatkan ketek?!" Tanyanya lirih. Tapi mau tidak mau dia pakai juga dan dia melihat dirinya dalam cermin.
"Ini benar aku? Ternyata cantik juga." Ucapnya sambil tersenyum. Lalu Ranti menyisir rambutnya dengan rapih. Tiba-tiba dia teringat Ardi, dia sedih karena kecantikannya ini tidak bisa dilihat Ardi. Ranti ingin sekali Ardi tau bahwa dirinya bisa secantik ini namun jika Ardi tau kondisinya yang sudah tidak mempunyai hal untuk di banggakan lagi apakah Ardi masih mau dengannya. Ranti terlihat murung lagi, memikirkan Ardi sungguh membuat dadanya sesak.
Ranti keluar dari ruang pakaian menuju sofa ceper dan melihat sudah ada sarapan di atas meja di depan televisi besarnya yang pastinya dibawakan oleh Bi Tuti. Ranti membuka tutup nampan nya, ada sepiring spaghetti carbonara dengan irisan daging slice dan segelas susu putih.
"Ini apa ya? Mie goreng? Tapi kok mie goreng warnanya putih yah?" Ranti mengaduk-aduk spaghetti nya dan menyuapkan ke mulutnya. "Yampun.. enak banget." Lalu dia menyuapkan lagi dan lagi makanannya sampai habis dan bersih. Dia meneguk susunya, lagi-lagi susu itu terasa enak sekali dan dengan cepat ia teguk sampai habis tak tersisa.
"Sudah bangun, non?" Tanya Bu Tuti datang memasuki kamar.
"Sudah, Bi. Sarapannya juga udah aku makan, enak banget, Bi. Ini apa namanya?"
"Spaghetti carbonara, non. Syukurlah kalo masih enak, tadinya saya mau ganti dengan yang lain, karena takut sudah dingin jadi gak enak." Jawab Bi Tuti sambil mengambil piring dan gelas kosong Ranti.
"Enak, aku suka banget." Ucap Ranti lagi.
"Nanti saya buatkan lagi ya, non."
"Iya, Bi." Sahut Ranti bersemangat.
__ADS_1
"Saya permisi dulu, non. Ini ada pelayan yang mau membereskan kamar ya, non." Ucap Bi Tuti mempersilahkan 2 pelayan wanita untuk masuk dan mulai membereskan dan membersihkan kamar, lalu wanita itu mulai membereskan dan membersihkan seluruh kamar.
Ranti sudah berjalan mengekori Bi Tuti untuk ikut dengan Bi Tuti, fikirnya dalam hati dari pada di di dalam kamar terus lebih baik menemani Bi Tuti. Tapi setelah Bi Tuti keluar ada 1 penjaga kamar yang tiba-tiba menghalangi Ranti keluar dari kamarnya.
"Anda tidak boleh keluar!" Ucap penjaga itu garang.
"Kenapa?" Tanya Ranti bingung.
"Perintah dari Bos!" Ucapnya lagi.
Ranti masuk dan pintu kamar di tutup oleh preman itu. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ceper sambil memandangi 2 pelayan yang sedang sibuk merapihkan kamarnya.
"Kalian namanya siapa?" Tanya Ranti iseng mencoba memecahkan keheningan di kamar ini.
"Maaf non saya dilarang bicara sama non oleh Bos Calvin, maaf." Jawab salah 1 pelayan itu.
Setelah pelayan itu selesai dengan pekerjaannya mereka segera keluar dengan membawa baju kotor dan alat-alat kebersihan. Lalu tinggalan Ranti seorang diri di kamar besar ini, ini belum seberapa ini baru beberapa hari dia tinggal di dalam sangkar burung ini.
Dia menyalakan televisi yang di dominasi dengan acara-acara stasiun tv luar negri.
"Kenapa tidak ada channel dalam negri sih ini?" Tanyanya kesal dan mengganti channel berurutan tapi tidak menemukan 1 channelpun yang bisa ia nikmati, lalu dia melempar remote tv itu dan memeluk lutut kakinya.
"Aku kesal!" Seketika dia teringat saat Anto melemparinya dengan remote tv dirumahnya waktu itu. Andai dia lihat Anto lagi, dia akan membalasnya dengan melemparkan remote tv itu ke hadapannya, kalau perlu dia akan lemparkan benda yang lebih tajam lagi ke Anto!
Siang hari nya Bi Tuti membawakan makan siang untuknya, setelah itu Bi Tuti merapihkannya lagi, lalu Ranti memilih untuk tidur siang. Sore harinya setelah terbangun dia mandi sore dan merapihkan diri lg.
"Ini masih jam 5 sore, belum wajib kali ya aku pake baju compang-camping itu lagi?" Ranti mendengus kesal saat memilih baju apa yang akan dia pakai sore itu. Dia bingung dan memilih baju yang tadi dia pakai untuk di pakai kembali toh juga seharian dia hanya di kamar jadi baju ini tidak kotor sama sekali.
__ADS_1
Ketika waktu sudah menunjukan pukul 6, tiba-tiba dada Ranti terasa sesak, jantungnya sudah berdebar. Mungkin sebentar lagi Calvin akan pulang entah jam berapa tapi dia sudah merasakan resah.
Pintu terbuka, Ranti yang sedang duduk di sisi ranjang langsung terbangun berdiri kaku. Bi Tuti datang dengan membawakan makan, Ranti langsung menghela nafas lega.
"Makan malam, non, Jangan lupa obatnya diminum, ya." Ucap Bi Tuti tersenyum.
Ranti sudah tidak nafsu makan dan juga perutnya terasa penuh, ia hanya memakan sedikit saja dan menyisakan banyak sekali makanannya. Setelah memastikan Ranti meminum obatnya, Bi Tuti segera merapihkan kembali dan keluar dari kamar.
Ranti melihat jam lagi, saat ini sudah jam 8 malam. Mungkin sudah saatnya dia mengganti bajunya dengan baju compang camping nya sebelum Calvin pulang dia sudah harus memakai baju compang camping ini supaya tidak memulai kemarahan Calvin. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya di ranjang, menarik selimut hingga menutupinya hingga ke kepala.
Dia menunggu Calvin pulang, berharap lebih baik Calvin tidak usah pulang saja. Dia takut malam itu terjadi lagi, berkali-kali ia mengintip dinding di kamarnya yang sudah menunjukan jam 10 malam namun Calvin jg belum datang.
Semoga saja dia tidak pulang, Tuhan.. Harapnya dalam hati, lalu Ranti tertidur.
Calvin masuk setelah Ranti sudar tertidur pulas, dilihatnya gadis itu terlebih dahulu sebelum ia merapihkan dirinya. Entah mengapa dia merasa damai saat melihat Ranti yang sedang terlelap tidur setelah dia melewati hari ini dengan ketegangan.
Pekerjaan Calvin yang sebagai pimpinan mafia di negri ini membuat nyawanya selalu dalam bahaya, walaupun tidak banyak orang tau bagaiman sosok dari Calvin Harrisson. Hari ini dia bertemu dengan salah 1 pejabat negara yang meminta tolong jasanya untuk mengesekusi saingan nya dalam berpolitik. Calvin cukup bertemu dengan pejabat itu dan mengutus anak buah terbaik nya mengesekusi target tanpa jejak sedikitpun.
Calvin mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidurnya dan menghampiri Ranti ke ranjang. Sambil tertawa kecil dia memindahkan guling-guling yang sudah tersusun rapih di tengah ranjang untuk memblokade dirinya, lalu dia menurunkan selimut Ranti.
Ranti tertidur sambil memeluk guling membelakanginya, dilihatnya Ranti dari belakang, pundaknya dan lehernya, sesekali ia seka rambut Ranti yang menghalangi pandangannya di leher Ranti. Calvin mendekati Ranti, mengelus pundak Ranti dengan jari telunjuknya menyusuri tangannya lalu memeluk Ranti dari belakang. Dia menenggelamkan wajahnya di rambut Ranti, menciumnya dan mulai menyibakan pakaian tidur Ranti.
Ranti yang sudah tertidur pulas terbangun setelah merasakan hal yang tidak dia inginkan itu. Ketika ia ingin membalikan badannya, Calvin menahannya dan berbisik di telinganya dengan suara serak.
"Sssshhh.. Tidurlah, tetap seperti ini saja. Aku akan pelan-pelan, tidak akan menyakiti kamu untuk kali ini."
Lalu Ranti diam dan terpaku tanpa protes hanya pasrah menerima perlakuan Calvin yang seenaknya saja. Tangan Calvin sudah menjalar nakal, Ranti memejamkan mata sambil menangis lagi saat Calvin memulai aksinya. Mendorongnya terus dan terus. Ranti harus merasakan malam yang tidak dia inginkan lagi.
__ADS_1
Entah sampai kapan hidupku akan seperti ini? Sampai kapan aku terus menjadi budak penyalur nafsu penjahat ini? Aku ingin pulang, Ya Tuhan bantu aku pergi dari sini. Ucapnya dalam hati sambil menangis.