Love in Patience

Love in Patience
Episode 20 (Pencarian Part 1)


__ADS_3

Ardi menginjak pedal gas untuk memacu laju mobilnya lebih kencang bersama dengan Arif.


"Pelan-pelan, Bro. Kita lagi gak di kejar-kejar orang kan?" Ucap Arif.


"Gue lagi ngebut waktu biar keburu kerumah orangtuanya Ranti. Marketingnya udah lo contact lagi belum? Udah dimana dia?" Tanya Ardi gusar.


"Udah sampe disana dia, ni gue lagi chat. Dia nanya gue udah sampe mana."


Mobil Ardi memasuki basement sebuah gedung apartement mewah. Hari ini Ardi mengantar sahabatnya itu untuk melihat apartement yang akan di tempati Arif. Mereka berjalan menaiki lift untuk sampai ke lobi dan setelah bertanya ke resepsionis, mereka menunggu sebentar sampai marketing apartement itu datang.


"Halo, saya Sigit. Dengan Mas Arif?" Sapa marketing itu berjabat tangan dengan Arif dan juga Ardi. "Mari ikut saya, Mas."


Lalu mereka bertiga memasuki lift menuju lantai 15. Pintu lift terbuka, mereka keluar memasuki koridor, melewati beberapa pintu unit apartement itu. Sampailah mereka di sebuah pintu yang di buka Sigit dengan sebuah kartu yang ditempelkan ke gagang pintu itu.


Sigit memperlihatkan unit yang akan di tinggali oleh Arif, mempromosikan sebaik mungkin agar Arif tertarik. Unit itu cukup luas dengan ruang tamu, dapur, kamar mandi dan 2 kamar tidur. Ada balkon yang cukup luas juga untuk sekedar bersantai atau menjemur pakaian basah.


Sigit sudah sampai ke tahap dimana dia menginformasikan harganya, lalu terjadilah tawar menawar dengan Arif. Setelah harga sudah sepakat, Arif mentransfer sejumlah uang muka dan sisanya akan di lunasi Arif setelah Arif pindah.


"Ini ada berapa lantai, Mas Sigit?" Tanya Ardi.


"Ada 30 lantai, Mas Ardi." Jawab Sigit.


"Oh.. setiap lantai ada berapa unit?" Tanya Ardi lagi.


"Ada 5-10 unit tergantung tipe unit dan towernya, Mas. Kalau tower ini karena tower mewah setiap lantai cuma ada 5 unit, tapi di lantai paling atas cuma ada 1 unit aja."


"Lho kenapa? Pasti harganya mahal banget ya?" Tanya Ardi lagi.


"Iyaaa gitu deh, Mas. Yang punya juga jarang nempatin." Ujar Sigit.


"Siapa yang punya, Mas? Konglomerat? Artis? Atau pejabat kali ya?" Sahut Arif kepo.


"Mungkin, Mas. Saya juga kurang tau ya, karena privasi banget orangnya." Jawab Sigit yang dia tau pemilik sebenarnya adalah pengacara namun dia takut salah kata karena seluruh karyawan disini sangat hati-hati dengan pemilik lantai 30 itu.


"Oke, besok saya mulai pindah kesini ya, Mas." Ujar Arif.


"Silahkan, Mas Arif. Semua barang-barang sudah komplit tinggal bawa baju aja, Mas nya." Seru Sigit bahagia karena dengan pembelian Arif dia akan mendapatkan bonus. "Mas Arif dan Mas Ardi duluan aja ke bawah, saya menunggu cleaning service untuk membersihkan unit ini, jadi besok Mas Arif pindah semua sudah bersih." Lanjut Sigit.


"Oke, trims.."


"Sama-sama, Mas. Hati-hati di jalan." Ramah Sigit.


Setelah urusan apartement Arif selesai, Ardi segera melaju mobilnya ke rumah Ranti. Mobil berhenti di jalanan depan halaman rumah orangtua Ranti. Rumah itu banyak berubah, yang Ardi ingat dulu rumah Ranti sangat prihatin. Tapi sekarang rumah itu sudah jauh lebih bagus, bahkan sekarang sudah bertingkat.


"Rumahnya udah jauh lebih bagus, apa Ranti masih tinggal disini ya?" Heran Ardi.

__ADS_1


"Emang dulu kaya gimana?"


"Dulu jelek banget, Rif. Apa udah di beli orang lain? Yang gue tau dulu Ranti sekeluarga ngontrak disini." Ardi langsung menunduk saat Anto keluar dari dalam rumah dan menyalakan rokok duduk di teras rumahnya.


"Lo ngapain nunduk gitu?" Tanya Arif heran.


"Itu Mas Anto, Kakaknya Ranti. Berarti rumah ini masih di tempati Ranti, tapi kok udah bagus banget gini ya? Coba lo samperin deh Rif, lo coba tanya arah atau tanya Ranti. Bilang aja dari temennya atau siapa nya gitu!" Suruh Ardi.


"Lho kok gue? Kenapa gak lo aja sih? Lo kan yang punya keperluan!"


"Itu Masnya bengis banget, sama gue gak pernah baik, gue bahkan di larang berhubungan sama Ranti."


"Lo apaan sih, Di? Lo kan polisi dengan peringkat terbaik, masa lo takut sama Kakaknya cewek lo?!" Arif heran menggelengkan kepalanya.


"Oke gue keluar, kalo ada apa-apa sama gue lo langsung samperin gue ya."


"Apaan sih lo!" Gusar Arif.


Ardi keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Anto. Anto menatap tajam Ardi siap untuk menyerang Ardi, Anto tau suatu saat Ardi pasti akan datang mencari Ranti. Walaupun dia fikir hubungan anak ABG akan berlalu begitu saja saat salah satunya sudah tidak ada kabar lagi.


Anto bangkit berdiri dari duduknya, menatap tidak suka Ardi.


"Ngapai lo kesini?" Tanya sinis Anto sambil menghisap rokoknya, namun Ardi bisa mencium aroma asap itu bukanlah dari asap rokok melainkan dari asap ganja.


"Ada Ranti?" Tanya Ardi sopan namun tegas.


"Gua masih tanya baik-baik ya, Mas, Ranti mana? Gua mau ketemu dia." Suara Ardi mulai meninggi.


Anto mendekatkan diri ke Ardi sambil masih menghisap dan mengepulkan asapnya ke wajah Ardi.


"Sok berani ya lo sekarang. Pergi atau gua bikin lo babak belur?" Ancam Anto menarik kerah baju Ardi dengan sebelah tangannya.


Arif keluar dari mobil langsung menghampiri Ardi, mencoba melerai pertengkaran keduanya.


"Hei, Mas, Santai dikit! Gak perlu uratan gitu!" Sahut Arif.


Anto mendekatkan dirinya lagi ke Arif sekarang. "Siapa lo?" Tanya Anto melirik Ardi. "Jadi lo bawa pengawal?" Ledek Anto.


"Temen gue dateng kesini nanya baik-baik, Mas! Salah?!" Arif mulai geram dengan sikap urakan Anto.


"Jelas salah lah. Mending lo berdua pergi dan jangan pernah dateng lagi kesini, Ranti gak ada!" Ucap Anto. "Bram!" Panggil Anto.


Bram keluar dari dalam rumah berdiri di sebelah Anto memamerkan tubuh kekarnya siap untuk berkelahi.


"Di, kita pergi, Di. Buang-buang waktu berurusan sama orang gila ini!" Ajak Arif. Ardi mengikuti Arif menuju mobilnya.

__ADS_1


Anto menatap sinis mereka sampai mobil Ardi benar-benar pergi.


Ardi diam melamun, duduk di kursi penumpang, mobil dikemudikan Arif dengan cepat.


"Itu orang ngeselin banget, itu orang Kakaknya cewek lo?" Tanya Arif.


"Iya." Jawab Ardi singkat.


"Gak abis pikir gue ada orang kaya gitu, di tanya malah ngajak ribut. Stress kali tu orang!"


"Bodolah, Rif. Gue gak mau mikirin Anto. Yang gue pikirin tuh Ranti. Dia dimana sekarang?!" Gusar Ardi.


"Terus laki-laki preman yang tadi di panggil Anto siapa? Lo kenal?"


"Nggak, Rif. Gue juga gak tau itu siapa?! Gue cuma tau dari cerita Ranti sedikit, Kakak dan Ayahnya itu galak. Dia, Ibunya dan Hito adik bontotnya tersiksa tinggal disana. Tapi gue gak liat Ibunya dan Hito juga sih tadi, mereka juga kemana ya?" Ardi sangat gusar.


"Coba besok selesai gue pindahan, kita kesana lagi. Siapa tau ketemu Ibunya, tapi kita jangan parkir di depan rumahnya lagi, kita intip dari jauh." Ucap Arif. Ardi hanya diam mengangguk.


"Lo gak tau temen-temennya Ranti? Coba tanyain semuanya."


"Ranti gak punya banyak temen, Rif. Satu-satunya temennya cuma Via. Itupun gue gak tau dia tinggal dimana dan kabarnya juga gue gak tau."


"Lo tanya adik lo lah, Erin. Lo bilang mereka seangkatan, kan."


"Erin juga gak deket, yang ada musuh bebuyutan. Gue gak tau kenapa Erin benci banget sama Ranti."


Mobil sudah memasuki gerbang rumah Ardi, Arif memarkir mobil Ardi dengan cepat dan rapih. Arif mematikan mesin mobil Ardi dan mereka keluar dari mobil.


"Gak ada salahnya untuk coba tanya Erin."


"Gak bakal ada jawaban, Rif. Gue udah sering tanya ke dia. Jawabnya tetep sama, gak tau dan gak mau tau."


"Oke, coba gue aja yang tanya sama dia." Ujar Arif yang sudah tau bagaimana caranya untuk mencoba bertanya ke Erin tentang Ranti.


"Coba deh, gue gak mau berharap banyak." Seru Ardi lemas memasuki rumahnya dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan Arif di bawah.


Ardi menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidurnya, memandang langit-langit kamarnya.


"Ranti, kamu dimana? Apa kamu baik-baik aja? Aku khawatir, Ti." Gumam Ardi.


Dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeansnya. Membuka layar kunci dan menatap layar ponselnya. Wallpaper ponselnya adalah foto terakhir dia berdua dengan Ranti saat bertemu dulu setelah, bisa dikatakan dia melamar Ranti dan menyuruhnya agar menunggunya selesai pendidikan.


"Ranti, aku bener-bener kangen sama kamu." Gumamnya lagi mengelus layar ponselnya.


Hujan turun. Di lain tempat yang jauh, gadis yang dia pandang itu sedang memandangi hujan yang turun sangat deras membasahi ujung teras kamarnya. Namun tanpa dia tau gadis yang dia sangat rindu itu sudah menjadi milik orang lain..

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2