Love in Patience

Love in Patience
Episode 8 (Malam Berdarah Part 2)


__ADS_3

Kedua tangan Calvin memegang lembut kedua pergelangan tangan Ranti, ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Ranti, menghirup aroma rambut Ranti yang masih lembab.


Tiba-tiba Ranti menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan bersimpuh di kedua kaki Calvin, menangis dan memohon sambil memegangi erat kerah handuk kimono nya lagi. Ia tau apa yang akan pria itu lakukan dan ia tidak bisa sangat tidak bisa untuk menyerahkan mahkota hidupnya.


"Tolong saya, Bos. Jangan lakukan itu, saya mohon." Pinta Ranti menangis sejadi-jadinya. Calvin hanya diam menatap gusar Ranti. "Saya akan lakukan apapun tapi jangan seperti ini, saya mohon, Bos." Pinta Ranti lagi.


Calvin menarik nafas dalam ada rasa iba dalam dirinya pada gadis belia itu, namun rasa nafsu untuk mencicipin keparawan Ranti telah mengalahkan rasa ibanya. Ia menarik lengan Ranti agar berdiri dan memegangi kedua lengan Ranti, Ranti menunduk sambil terus menangis.


"Yang perlu kamu lakukan hanya ini!" Jawabnya seraya membawa Ranti ke Ranjang dengan paksa dan menghempaskan Ranti ke ranjangnya.


"Jangan, Bos! Saya mohon!" Jeritnya. Ia sudah tergeletak di ranjang.


Calvin melepas paksa handuk kimono Ranti dan melempar asal ke lantai, Ranti menutupi bagian tubuhnya dengan kedua tangannya seadanya sambil terus menangis dan meringkuk. Lalu Calvin memaksa mengunci kedua tangan Ranti dengan kedua tangannya, menindihi badan Ranti serta menyibakan kedua kaki Ranti dengan kedua kakinya.


Ranti masih mencoba meronta menolak, menjerit dan menangis, meminta tolong dan berdoa dalam hati tapi semua sia-sia karna mahkota hidupnya telah hilang, Calvin telah merenggut nya. Melihat Ranti mengerang kesakitan membuat Calvin merasa sangat puas, gadis ini benar-benar masih virgin ia bisa merasakannya dengan benar.


Sekuat tenaga Ranti menolak, memukuli tubuh Calvin namun lagi-lagi kedua tangan Calvin mencengkram kedua tangan Ranti sangat kuat dan akhirnya tenaga Ranti habis, dirinya menyerah. Rasa panas dan sakit menjelar ke seluruh tubuhnya, darah segarpun mengalir.


Ranti menangis kesakitan namun Calvin sangat menikmatinya. Mencumbu seluruh tubuh Ranti, melumat habis bibir Ranti. Malam itu malam yang indah untuk Calvin karena benar Ranti masih perawan.


Setelah selesai Calvin melepaskan cengkeramannya dan menarik nafas dalam-dalam di telinga Ranti. Ranti masih menangis dan memukuli tubuh Calvin tak berdaya, ia menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


Calvin tersenyum dan mengecup kening, pipi dan bibir Ranti sambil mengelus lembut rambut Ranti.


"Thanks.." Bisiknya di telinga Ranti dan terlelap di tubuh Ranti.


Ranti terus menangis mencoba melepaskan tubuhnya dari tubuh Calvin. Dilihatnya bercak darah kewanitaannya di atas sprei putih itu. Ia menarik selimut yang ada untuk menutupi tubuhnya. Meringkuk memeluk tubuhnya sendiri dan terus menangis tersedu-sedu.


Malam ini ia telah kehilangan harga dirinya. Ia merasa hina dan murah karena kewanitaannya telah direnggut oleh pria kejam yang sama sekali tidak ia kenal untuk mengganti kesalahan Ayah dan Masnya. Ia teringat Ardi, bagaimana sikap Ardi padanya setelah tau bahwa ia sudah kehilangan kewanitaannya. Ia benar-benar telah hina dan tidak lagi pantas untuk Ardi. Sepanjang malam Ranti hanya menangis. Dan ia memikirkan nasib Ibu dan adiknya Hito, bagaimana keadaan mereka? Apakah mereka baik-baik saja? Atau mereka sudah mati? Memikirkan mati membuat Ranti tiba-tiba merasa lebih baik mati saja saat ini, mengingat sudah tidak ada yang bisa ia banggakan lagi dalam hidupnya. Kini pria mana yang akan mau dengan dirinya? Dirinya hanyalah korban pemerkosaan.


Ranti berusaha untuk bangun melilitkan selimut ke tubuhnya dan melihat sekeliling kamar itu. Kamar itu cukup luas dengan barang-barang bagus yang pastinya mahal. Ada meja kecil dan 2 sofa kecil di pojok kamar, dilihatnya ada setumpuk buah apel diatas piring. Ranti menghampiri meja itu, mengambil pisau buah yang tergeletak di pinggiran tumpukan apel.


Lalu ia masuk ke dalam ruang pakaian, menatap dirinya dalam cermin besar. Rambutnya berantakan, tubuhnya sudah penuh dengan tanda bibir pria itu. Ia telah hina merasa lebih hina dari binatang dan jijik dengan tubuhnya sendiri.


Dalam hati ia berucap untuk apalagi ia hidup di dunia ini. Sudah tidak ada lagi yang bisa ia harapkan. Seluruh tubuhnya sudah habis, kewanitaannya sudah musnah, dirinya telah hina. Ibu dan Hito pasti juga sudah di ambang kematian, mengingat rumah mereka masih dipenuhi preman-preman tadi. Tidak pikir panjang lagi Ranti menggoreskan pergelangan tangan kirinya dengan pisau itu, ia meringis dan menggoreskan lagi, lagi dan lagi di pergelangan tangan kirinya. Darah mengalir deras dari goresan itu dan Rantipun ambruk.


Calvin bangun dari tidur pulasnya ketika mendengar suara di dalam ruangan pakaian, pikirnya mungkin ada sesuatu yang jatuh dan mencoba untuk memejamkan mata kembali. Ia menggeser tangannya ke sisi ranjang berharap menyentuh Ranti dan segera memeluknya namun sisi ranjang itu kosong. Ia membuka matanya sambil menyusuri sekeliling kamarnya.


Dimana gadis itu?


Dengan malas menahan kantuk ia berusaha bangkit memakai handuk kimononya dan berjalan menuju suara yang tidak sengaja dia dengar. Mungkin hanya mimpi tapi dimana gadis itu karena dia masih ingin melanjutkan tidurnya sambil memeluk Ranti.


Calvin terbelalak melihat tubuh Ranti sudah tergeletak di lantai dengan berbalutkan selimut, ada darah mengalir dari pergelangan tangan kirinya dan pisau yang tergeletak di sisi tangan kanannya. Calvin langsung menghampiri Ranti, memangkunya dan berusaha untuk menyadarkan Ranti.

__ADS_1


Dengan cepat ia menggendong tubuh Ranti keluar kamarnya. Preman yang bernama Tori terkejut saat pintu kamar Calvin terbuka dengan tiba-tiba hingga menjeblak ke dinding, semakin kaget saat Calvin buru-buru berjalan sambil menggendong tubuh Ranti. Dilihatnya darah sedikit menetes kelantai saat tangan Ranti lunglai di pelukan Calvin.


"Gadis itu kenapa Bos?" Tanya Tori mengikuti Calvin dari belakang dengan tergesa-gesa.


"Siapin Mobil, cepat!" Perintah Calvin. Lalu Tori segera berjalan cepat mendahului Calvin untuk menyiapkan mobil.


Lalu preman lainnya yang sedang berjaga di sekitar ruang tamu rumah segera memanggil Rico. Rico segera menghampiri Calvin dari ruang kerjanya.


"Gadis itu kenapa, Bos?" Tanya Rico.


"Telfon Dokter Harry, kita kerumah sakit sekarang! Cepat Rico gak ada waktu lagi Ranti mencoba bunuh diri." Calvin benar-benar khawatir dengan keadaan Ranti.


Setelah mobil sampai di depan pintu utama rumah, Rico cepat-cepat membuka pintu mobil untuk Calvin dan Ranti setelah Rico menutup pintu mobil, mobil langsung berjalan cepat menuju rumah sakit.


Rico segera menghubungi Dokter Harry melalui sambungan ponselnya, Dokter Harry dengan cepat menjawab panggilan masuk dari Rico.


"Ya, Ric." Jawab Dokter Harry.


"Dok, Bos Calvin sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tolong persiapkan kamar lantai 11 seperti biasa." Ucap Rico dalam sambungan telfon nya, lalu ia bergegas menuju kamar Calvin untuk membawakan baju ganti untuk Calvin.


Sementara di dalam mobil, Calvin khawatir dengan Ranti. Sedikitnya ia menyesal karena telah merenggut hal yang paling berharga dalam tubuh gadis kecil itu.

__ADS_1


Ranti masih sedikit sadar dan samar-samar melihat wajah pria yang sudah mencuri mahkota hidupnya itu, terlihat tampan dalam cahaya lampu malam jalanan. Pria itu juga terlihat khawatir dan memegangi pergelangan tangan Ranti yang tersayat-sayat untuk menutupi luka agar darah berhenti mengalir keluar.


Apa-apaan ini? Kenapa ia masih saja sadar? Padahal ia berharap langsung mati. Dan sungguh sial yang ia lihat adalah wajah pria itu dengan masih mengenakan kimono handuknya. Kenapa rasa sakit ini tidak mau hilang? Sakitnya bukan kepalang, mungkin ini proses kematiannya. ia akan mati dan ia sangat berharap agar cepat mati. (Ranti)


__ADS_2