Love in Patience

Love in Patience
Episode 14 (Kamar Part 2)


__ADS_3

Pagi ini Ranti sudah harus melayani nafsu penjahat gila nan bejad itu lagi. Mau tidak mau dia harus selalu patuh pada penjahat itu, terpaksa dan dengan segala rasa sakit di hati hari-harinya di jalani hanya dengan di dalam kamar.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan Ranti hanya menghabiskan sepanjang waktunya di dalam kamar itu. Kamar itu memang besar dengan segala perabotan yang komplit, seperti home theater lengkap dengan televisi yang tipis dan besar bertengger dengan gagah di dinding kamarnya. Sesekali dia menonton tv dan menghibur dirinya dengan menonton film-film yang ada di salah 1 stasiun tv luar negeri tersebut.


Calvin akhir-akhir ini sering berpergian keluar kota bahkan terkadang keluar negeri, hanya beberapa hari saja paling lama sekitar 3 harian dan itu bisa membuat hidup Ranti beristirahat sejenak dan juga tenang karena tidak akan ada yang bisa menyentuhnya. Namun petaka itu akan selalu datang lagi di saat Calvin akan pergi beberapa hari dan setelah dia pulang dari berpergiannya. Ketika Calvin pulang setelah pergi 3 hari, Ranti sudah harus bersiap melayani Calvin dengan tenaga extra karena bak merapel, Calvin bisa sehari 3 kali macam orang lagi sakit minum obat.


Tapi pagi ini Ranti merasa sangat bersyukur karena Calvin terlambat bangun membuat dia menjadi terburu-buru untuk pergi dan Ranti terbebas dari pelayanan morning sex before he leaves, tapi sayang dia pasti akan melakukan pelayanan sex all day setelah Calvin kembali.


"Kamu mau aku bawain oleh-oleh apa nanti?" Tanya Calvin sambil merapihkan kerah kemejanya.


"Terserah, apa aja yang Bos bawakan aku selalu suka." Jawab Ranti dengan nada yang masih dia usahakan untuk bersahabat.


Ranti duduk di depan meja riasnya sambil menyisir rambutnya yang kini rasanya sudah terlalu panjang tapi dia tau Calvin tidak akan memperbolehkannya keluar walaupun dia beralasan.


"Oke." Jawab Calvin singkat dan pergi meninggalkan Ranti.


Ranti menatap dirinya dalam cermin. Penampilannya saat ini sudah berubah. Setiap hari dia memakai pakaian yang modelnya jauh dari yang biasa dia pakai. Dulu Ranti hanya bisa memakai kaus usang, rok katun atau dress murahan yang dia mampu beli di sebuah pasar malam. Sekarang pakaian yang dia gunakan dress dengan merk ternama yang pastinya mahal. Dulu dia hanya menggunakan pelembab murahan yang dia beli di minimarket dengan hasil uang simpanan nya setiap hari, sekarang dia menggunakan 1 set make up yang inez berikan padanya. Ranti sedikit demi sedikit belajar untuk berdandan dengan inez karena Calvin yang menyuruhnya, bahkan parfum yang dia semprotkan setiap harinya ini adalah parfume mahal yang menurut Ranti wanginya memang sangat segar dan tahan lama, beda sekali dengan parfum yang biasa dia beli di pinggir jalan dekat rumahnya.


Ranti ingat parfum kesukaannya ini Calvin yang belikan sebagai oleh-oleh saat dia pergi ke luar negeri entah kemana Ranti sangat tidak peduli, setiap Calvin pergi keluar kota atau keluar negeri dia memang tidak pernah lupa untuk membawakan Ranti oleh-oleh. Dari pakaian sampai perhiasan.


Terakhir sebulan lalu Bi Tuti bilang kalau Calvin sedang ke Italy untuk menengok Ayahnya dan ketika dia kembali dia membawakan sepaket berlian untuk Ranti. Dari kalung, anting, cincin dan gelang tangan. Kini Ranti menatapi dirinya yang sudah penuh dengan berlian. Anting mungil nya, kalung tipisnya dengan bandulan berlian berlambang huruf C serta pergelangan tangan kirinya yang terdapat bekas luka sayatan aksi bunuh dirinya sekarang terpasang sebuah gelang berlian tipis. Namun dia kembali menangis saat melihat jari manisnya yang sekarang terpajang cincin nikahnya dari Calvin, dia meratapi karena dulu cincin dari Ardi yang menempati jari manisnya itu. Dia mulai menangis lagi, meratapi hidupnya entah sampai kapan dia akan hidup seperti ini.


Ranti bangkit dan membuka tirai kamarnya, sinar matahari menembus masuk menyilaukan pandangannya. Yang dia lihat hanyalah setapak halaman dan tembok pembatas rumah ini di pinggir halaman yang lumayan jauh dari jarak jendela kamarnya, tembok itu juga menjulang tinggi. Dia menempelkan keningnya ke jendela besar itu sambil menghela nafas panjang lalu dia membalikan badannya dan merosoti tubuhnya kebawah, tapi tiba-tiba sesuatu mengganjal belakang tubuhnya. Dia gesek-gesekan tubuhnya dan akhirnya dia membalikan badannya lagi melihat apa yang sedari tadi mengganjalnya.


Seketika Ranti terbelalak mendapati sebuah gagang pintu dengan kunci yang menempel permanen di gagang pintu itu, dengan cepat Ranti mencoba untuk membuka kuncinya dan pintu jendela itu bergeser sedikit. Ranti bahagia tidak percaya, hatinya langsung menggebu-gebu ingin cepat-cepat menapak kan kakinya keluar dari ruangan ini atau lebih tepatnya dari rumah sialan ini.

__ADS_1


Tapi niat itu dia urungkan dahulu. Ranti kembali menutup dan mengunci jendela itu dan masuk kedalam ruang pakaiannya untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu dengan pakaian yang bisa membuatnya nyaman dalam pelarian ini. Dia melepas dress nya dan hendak memakai legging tiba-tiba Calvin kembali masuk ke dalam kamar.


"Ranti." Panggilnya. Ranti kaget dan cepat-cepat memakai lagi dress nya dan menghampiri Calvin.


"Iya, ada apa, Bos?" Tanya Ranti sedikit gugup jantungnya sudah ingin meloncat keluar karena hawa nafsunya untuk kabur dari rumah ini.


Calvin memeluk Ranti dan menghujani wajah Ranti dengan ciuman. Ranti kesal dalam hati apa-apaan ini seakan-akan dia tau kalau aku mau kabur kenapa dia malah datang kembali?


"Hmm.. Bos, bukannya mau pergi?" Tanya Ranti.


"Gak jadi. Aku mau di sini aja sama kamu." Jawab Calvin manja tangannya sudah tidak terkendali mulai mencoba untuk melepaskan pakaian Ranti.


Tidaaaakkk... kenapa jadi begini?! Ingin sekali dia menjerit. Celah untuk kabur sudah di depan mata tapi ternyata dia harus menjadi budak sex lagi untuk Calvin.


"Mulai sekarang kamu jangan panggil aku dengan panggilan Bos lagi. Panggil aku Calvin." Bisik Calvin di telinga Ranti dengan suara manja, serak dan juga lembut.


Dia abis kesambet apa ya? Tanya Ranti dalam hati yang masih kebingungan kenapa tiba-tiba dia mendapatkan perlakuan lembut Calvin.


"Kamu diam aja gak ada jawaban? Hah?!" Suara Calvin mulai meninggi.


"Eh Iya, Bos. Eh Calvin." Sahut Ranti salah tingkah. Melihat Ranti salah tingkah begitu membuat hati Calvin menggebu-gebu gemas, dia senang melihat wajah Ranti yang sedang nyengir itu.


Lalu Calvin mencium bibir Ranti, melumatnya, namun saat ini cara Calvin tidak terburu-buru dan juga tidak kasar. Ranti di buat bingung dengan sikap Calvin, bahkan ciumannya ini bisa dibilang ciuman terlembut Calvin. Tanpa Ranti sadari dia mulai menerima ciuman itu, mulai menyambut bibir Calvin, bahkan Ranti memejamkan matanya terhanyut.


Calvin melepaskan ciumannya tapi masih dengan memeluk tubuh Ranti, menunduk menempelkan keningnya di kening Ranti, menghela nafas.

__ADS_1


Aku pasti sudah gila kenapa tiba-tiba aku menyambut ciumannya? Tanyanya dalam hati. Habislah aku hari ini pasti aku harus menjadi budaknya lagi! Tidak apalah itung-itung pelayanan perpisahanku karena kamu gak akan melihatku lagi mulai besok!


"Kamu gak jadi pergi, Bos?"


"Ugh, Bos lagi!" Gusar Calvin.


"Eh iya, Calvin. Maaf aku belum terbiasa."


Ranti benar-benar dibuat bingung dengan perubahan sikap manis Calvin tiba-tiba ini. Padahal saat pamit tadi pagi Calvin masih bersikap dingin, cuek dan bertanya tentang oleh-oleh dengan ketus. Tapi tiba-tiba dia kembali dengan sikap seperti ini.


"Apa kamu gak jadi pergi, hmm.. Cal-Calvin?" Tanya lagi Ranti dengan gugup dalam hatinya menggebu-gebu ingin memastikan kapan Calvin akan pergi agar dia bisa secepatnya kabur.


"Gangguan cuaca sementara jadi penerbangan delay." Jawabnya dan Calvin malah merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. "Aku ngantuk, aku mau tidur dulu. Kemari lah!" Pintanya lagi-lagi terdengar manja.


Lalu Ranti menurutinya merebahkan tubuhnya di samping Calvin. Calvin menarik selimutnya menutupi mereka berdua dan tidur sambil memeluk tubuh Ranti dari belakang.


"Kita belum makan siang."


Namun ucapan Ranti di acuhkan Calvin dan Calvin terlelap dalam tidurnya.


Situasi macam apa ini? Baru saja aku mendapatkan cela untuk kabur tapi tiba-tiba Calvin datang memperlakukan ku bak malaikat seperti tau jika aku ingin kabur dan bersikap seperti ini agar aku tidak jadi kabur.


Dan dia hanya menciumku tadi, menyuruhku untuk memanggil namanya dengan kata-kata yang lembut. Sekarang bahkan dia tidur siang, hal gak pernah dia lakukan adalah tidur siang dan juga tidur sambil memelukku. Ini benar-benar keajaiban, ada apa ini? Ya Tuhan, tolong aku dalam situasi ini. Yang lebih ajaibnya lagi adalah penjahat ini tidak memaksaku untuk melayaninya seperti biasa.


Cuaca yang tadi cerah seketika mendung, gelap dan hujan dengan sedikit kilat. Dengan suara denting air hujan di luar membuat Ranti nyaman untuk memejamkan matanya dan akhirnya Rantipun terlelap tidur dalam pelukan Calvin.

__ADS_1


Dalam hati dia berucap semoga besok atau nanti dia masih sempat untuk menjalani aksi pelariannya, semoga ada kesempatan lagi. Rasa ingin pergi masih kuat dalam diri Ranti. Dan Ardi, masih juga kuat di dalam hati serta pikiran Ranti.


__ADS_2