Love in Patience

Love in Patience
Episode 16 (Perayaan Ardi)


__ADS_3

Setelah berjuang di Akademik Kepolisian, Ardi akhirnya lulus dengan hasil yang memuaskan karena masuk dalam kategori berprestasi. Ardi pulang kerumahnya setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, dia sudah tidak sabar ingin segera menemui Ranti untuk sekedar menanyakan kabar kenapa setahun terakhir ini Ranti tidak ada kabar sama sekali. Terakhir dia bertemu dengan Ranti saat Ranti lulus sekolah di sebuah taman dan ketika dia menunggu kabar Ranti selanjutnya atau ketika dia mencoba menghubungi segala cara tidak pernah bisa lagi. Ingin sekali Ardi izin pulang tapi karena kesibukannya untuk kelulusan dia selalu tunda.


Sekarang Ardi sudah berada di rumahnya, duduk bersama keluarga besarnya di meja makan rumahnya. Ibunya sengaja mengundang keluarga besarnya untuk makan malam bersama merayakan kelulusan Ardi sekalian merayakan awal mula karir Ardi, karena prestasi Ardi di Akademik Kepolisian nya, dia mendapatkan tugas dengan jabatan sebagai Kasubnit golongan tipe A di Ibu Kota.


Sahabat Ardi, Arif yang juga lulus bareng Ardi mendapatkan pekerjaan yang sama dengan Ardi ikut kerumah Ardi. Karena orangtua Arif adalah Diplomat jadi setelah lulus dia ikut Ardi kerumah Ardi untuk tinggal sementara dirumah Ardi sampai dia menemukan tempat tinggal dekat dengan kantornya.


Sekarang setelah acara jamuan makan yang sudah dipersiapkan oleh keluarganya, Ardi makan dengan tidak begitu lahap tidak seperti keluarga besarnya yang begitu sangat antusias menyambut kepulangan Ardi dan merayakan awal karir Ardi di kepolisian. Setelah acara makan malam, mereka memilih untuk bersantai di ruang keluarga yang dekat dengan halaman samping rumah. Ardi mengambil soft drink dari meja makan dan meneguknya sesekali sambil memandang halaman rumahnya ditemani oleh Arif yang sedari tadi menempel dengan Ardi karena merasa canggung berada di tengah-tengah keluarga orang yang baru saja dikenalnya.


"Jadi, gimana rencananya besok? Jadi lo mau kerumah cewek lo itu? Sekalian kan lo mau bantu cariin gue tempat tinggal, gw searching ada Apartemen di sekitaran kantor." Ucap Arif.


"Iya jadi, tenang aj sih gue bantu lo sampe lo dapet tempat tinggal, Rif." Jawab Ardi senyum.


"Belum dapat kabar juga dari cewek lo?" Tanya Arif sambil meneguk soft drink nya. Ardi menggeleng. "Aneh cewek lo tiba-tiba nggak ada kabar gitu, jangan-jangan di kawinin."


"Itu lagi yang lo sebut, Rif. Bukan cuma bosen dengernya, tapi enek! Gak ada simpatinya banget sama temen lo!" Kesal Ardi. Arif nyengir.


Tidak lama Erin datang bersama Eriska menghampiri Ardi dan Arif.


"Kak Ardiii.. Ada Eriska nih dateng." Sahut Erin semangat karena dia berharap Kakaknya itu bisa bersama dengan sahabatnya, Eriska.


"Selamat ya, Kak. Ini aku ada hadiah buat Kak Ardi." Ucap Eriska sembari memberikan kotak hadiah kepada Ardi dengan senyum semringahnya.


Dengan santai dan terkesan malas Ardi menerima kotak hadiah itu.


"Dibuka, Kak." Ucap Eriska lagi.


Ardi membuka kotak hadiah itu, jam tangan bermerek yang lumayan mahal itu bertengger dengan gagah di atas bantalannya membuat Ardi dan juga Arif terkejut karena Eriska tidak tanggung-tanggung untuk memberikan sebuah jam Rolex itu kepada Ardi karena tau harga jam itu tidaklah murah.


"Sorry Eriska gue gak bisa terima hadiah ini, ini jam mahal banget." Ucap Ardi sambil menutup lagi kotak hadiahnya dan mencoba mengembalikannya ke Erin.


"Yaaahhh.. Jangan gituuu dong, Kak. Aku emang sengaja kasih ini ke Kak Ardi, Please terima, Kak." Ucap Eriska dengan nada memelas.


Ragu-ragu akhirnya Ardi menerimanya juga toh jam tangan itu juga bagus modelnya, diapun suka. Dia hanya merasa dengan menerima suatu hadiah dari perempuan lain akan menghianatin perasaannya terhadap Ranti.


"Makasih yah." Ucap Ardi tersenyum.


"Iya sama-sama, Kak. Tiap hari dipake kerja ya, Kak. Semoga Kakak suka." Ucap Eriska senang mengeluarkan senyuman terindahnya untuk Ardi.


"Ardi.." Panggil Neneknya dari dalam rumah.

__ADS_1


"Iya, Nek." Jawab Ardi. "Gue masuk dulu ya, Ris. Thanks nih hadiahnya." Lanjut Ardi ke Eriska sambil menghampiri Neneknya diikuti dengan Arif di belakangnya.


"Iya Kak." Ucap Eriska.


"Jadi kamu bener-bener sudah dapat kerjaan, Di?" Tanya Nenek Ardi yang berada di dalam ruang keluarga.


Ardi menghampiri Neneknya yang sedang duduk-duduk santai bersama anggota keluarganya yang lain. Fikir Ardi itu bagus karena dapat menghindari Eriska.


"Alhamdulillah udah, Nek. Ardi sama Arif dapat tugas bareng." Jawab Ardi lembut.


"Syukurlah, jangan sia-siakan pendidikan kamu ya. Semoga kamu cepat mapan, nanti Nenek kenalin sama anaknya relasi Nenek." Ucap Nenek tersenyum.


"Iya, Nek." Jawab Ardi, dia hanya jawab seadanya agar obrolan cepat selesai dan supaya Eriska mendengarnya agar berhenti mengejarnya.


Benar saja ketika dia melihat Eriska, raut wajahnya sudah berubah datar padahal sebelumnya Eriska baru senang karena hadiah yang di terima Ardi.


"Lalu Arif bagaimana bisa dapat pekerjaan bareng bersama Ardi?" Tanya Ayahnya Ardi.


"Senang, Om. Jadi kerja ada temennya. Oiyaaa maaf yah, Om, saya ganggu acara keluarga Ardi dan Om dengan kehadiran saya." Jawab Arif dengan rasa tidak enaknya.


"Arif. nggak apa-apa. Kamu sahabat Ardi di asrama kami senang ada temannya Ardi datang dan menginap disini." Sahut Mamanya Ardi dengan perasaannya yang baik hati.


"Emang Kak Arif gak dicariin yah sama Papa atau Mamanya?" Tanya Erin.


"Gak apa-apa kok Tante. Sekalian saya mw bilang aja karena Papa saya itu seorang Diplomat, jadi Mama saya ikut tinggal sama Papa di Inggris. Saya sudah bilang juga kok sama mereka saya ada disini, mereka titip salam sama semua keluarga disini. Jadi dari acara kelulusanpun, saya memang sendirian." Ucap Arif senyum.


"Ohh gituuu.. Yasudah karena kamu jauh dari orangtua anggap aja kami ini orangtua kamu ya." Sahut Papanya Ardi.


"Terimakasih, Om." Ucap Arif dan Papanya Arif mengangguk sambil senyum.


Lalu obrolan dilanjutkan dengan obrolan-obrolan seputar keluarga. Pekerjaan Papanya Ardi yang sebagai pengusaha restaurant dan segala bisnis lainnya yang di jalani oleh Mamanya.


Ardi dan Arif ikut asyik mengobrol dengan keluarga Ardi. Padahal Ardi berharap acara ini segera selesai dia bisa istirahat di kamarnya sambil memikirkan Ranti, namun karena ada Eriska datang dia lebih baik ikut mengobrol dengan keluarganya agar Eriska tidak berusaha mendekatinya. Biarlah dia bersama Erin terus yang penting tidak dekat dengannya.


Erin mengajak Eriska untuk mencicipi salah satu jamuan makan malam atau sekedar mencicipi kue-kue yang di beli Mamanya.


"Duh Erin, sahabatnya Kak Ardi kenapa cakep amat juga yah?" Kata Eriska sambil menyuap potongan brownis kecil ke mulutnya. Erin yang langsung sewot memukul lengan sahabatnya sebagai tanda protes.


"Enak aja lo! Arif udah gw tag in ya! Lo jangan mendua dari Kakak gue!" Ancam Erin.

__ADS_1


"Sial, sakit tau!" Sahut Eriska dengan mulut penuh brownis sambil mengelus lengannya.


"Ya abis lo kurang ajar, gatau diri banget. Udah mau sama Kakak gue, sekarang mau sama Arif juga!" Ucap Erin bete.


"Lo tau sendiri kan, Rin, gue tuh udah gak ada harapan. Kakak lo itu cinta mati sama Ranti."


"Iya, tapi Ranti tuh udah hilang lenyap entah kemana gak pernah ada kabarnya lagi. Percaya deh sama gue, deketin Kakak gue supaya lama-lama dia bisa lupa sama si udik itu."


"Terus lo budek tadi Nenek lo bilang apa? Nenek lo mau jodohin Kak Ardi juga terus Kak Ardi bilang iya pula, udah makin abis harapan gue, Rin!"


"Yaelah Ris, itu mah bisa-bisanya Kak Ardi aja, karena ada lo jadi dia bilang iya-iya aja."


"Yakin lo?"


"Iya yakin gue. Tenang aja gue bantuin lo terus buat bisa sama Kak Ardi." Ucap Erin menyemangati Eriska untuk tetap berusaha mendekati Ardi, karena dalam hati Erin sebenarnya adalah karena keluarga Eriska adalah orang kaya.


Eriska sering berpergian keluar kota ataupun keluar negeri bersama dengan keluarganya dan setiap kembali selalu membelikan oleh-oleh untuk Erin dan yang lebih utama untuk Ardi. Dia menyogok Erin untuk bisa dekat dengan Ardi, mereka 2 sahabat yang merasa saling menguntungkan walaupun sebenarnya Eriskalah yang lebih sering di rugikan.


"Emang kemana sih si Udik itu?" Tanya Eriska.


"Gak tau gue, pokoknya udah setahun ini lost contact sama Kak Ardi. Kak Ardi udah gak bisa ngubungin dia dan si udik itu juga udah gak pernah hubungin Kak Ardi. Malah waktu itu Kak Ardi nanyain ke gue apa ada kabar tentang dia, kalo pun ada gue ogah banget ngasih taunya. Hiuhhh.."


"Masa sih, Rin sampe setahun lost contact gitu? Tanpa kabar apapun sekalipun?"


"Sumpah gue, Ris!" Erin mengangguk mengangkat tangannya untuk bersumpah. "Dia nanyain mulu ke gue karna kita seangkatan kan?!"


"Gila juga si Udik." Menggelengkan kepala tak percaya dengan sifat Ranti.


"Bagus juga kan, Ris, jadi lo punya kesempatan. Jangan sia-siainlah gue dukung lo banget nih. By the way lo gak ngasih gue hadiah juga? Masa cuma buat Ardi. Rolex lagi, gue dong harusnya dapet juga barang fosil gituuu. Hihihiii.." Ngarep Erin cekikikan.


"Udah ntar gue traktir aja ya."


"Hufttt kenyang!"


"Kenyangnya kan sekarang besok pasti udah laper lagi kan? hwkwk.."


"Iyaaa atur aja deh ajak yang lainnya juga ya."


"Pasti dongsss." Lalu mereka mengobrol tentang hal lain sambil cekikikan.

__ADS_1


Erin menoleh Arif tanpa sengaja dan tatapan mereka bertemu tiba-tiba membuat Erin menjadi salah tingkah. Dia buru-buru tersenyum, Arif balas tersenyum lalu hati Erin benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi.


Yampun Kak Arif emang bener ganteng, semoga bisa jadi pacar gue yaaa Tuhan. Harapnya dalam hati.


__ADS_2