
Pagi itu Ranti terbangun lebih dulu karena dia mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Itu pasti Bi Tuti membawakan sarapan, bathinnya dalam hati, dia pun memang sudah merasa lapar. Lalu dia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Sarapannya sudah siap, non." Ucap Bi Tuti sambil mengatur sarapan di meja.
"Iya, Bi. Saya mau mandi dulu." Ranti berucap sambil memegang erat lilitan selimut tipis di tubuhnya agar tidak jatuh melorot.
Selesai mandi, Rantipun segera memakai pakaiannya. Ia bimbang ingin memakai baju apa hari ini. Dia memilih-milih pakaian yang menurutnya bagus, pakaian ini semuanya memang bagus, namun karena perasaannya yang sedang berbunga pada Calvin, dia menjadi agak sedikit repot untuk memilih pakaian karena ingin dilihat bagus di hadapan Calvin.
Akhirnya dia memilih celana pendek berbahan jeans dan kaos oblong yang sangat pas di tubuhnya. Lalu dia menyisir rambutnya rapih dan memakai sedikit riasan di wajahnya. Ranti juga tidak lupa memakai kalung dan anting berlian yang Calvin berikan. Dia memandangi dirinya dalam cermin, betapa dia sudah berubah. Dari penampilan hingga pancaran wajahnya yang sekarang lebih merona.
"Aku bener-bener udah berubah, ya?" Gumamnya sendiri. Pertanyaan kosong yang tiodak akan ada yang menjawabnya. Ranti mendengus pelan, menunduk lalu tiba-tiba teringat dengan mantan pacarnya, Ardi.
"Kira-kira dia gimana kabarnya, ya? Mikirin aku nggak ya?" Rasa menyesal menyelimuti hatinya karena telah menghianati Ardi. Dia harus sadar karena dia sekarang sudah menjadi istri orang. Memikirkan laki-laki lain juga merupakan penghianatan terhadap suaminya. Tapi diapun tidak bisa menutupi perasaan bersalahnya kepada Ardi.
"Sudah lupakan, Ranti. Hidup harus terus berjalan. Mungkin Ardi juga sudah move on." Gumamnya lagi menutup ratapan pagi. Lalu Ranti berjalan keluar ruang pakaian menuju ranjang. Calvin masih terlelap tidur dengan selimut tebal menutupi tubuhnya seadanya. Ranti memandangi wajah tampan Calvin yang dagunya hingga pipi sudah ditumbuhi bulu-bulu tipis, terlihat lebih tampan. Ranti tersenyum melihat wajah ganteng suaminya dan mengambil pakaian mereka yang berserakan di lantai.
Ranti merapihkan baju-baju mereka dan melihat sedikit noda merah di dekat kerah baju Calvin. Noda merah itu tipis dan seperti bintik-bintik. Ranti pikir nitu seperti lipstik. Pikirannya sudah berkelana kemana-mana, kesal. Dia menggeser tirai dengan kasar agar sinar matahari menyilaukan Calvin. Mendengar suara tirai bergeser kasar dan sinar matahari menyilaukannya, Calvinpun bangun. Membuka sebelah matanya, menutupi silaunya matahari dengan sebelah tangannya lalu melirik Ranti yang berdiri kesal di sisi tempat tidurnya.
"Beibbb..." Belum sempat Calvin menyelesaikan panggilannya, Ranti langsung melemparkan pakaian Calvin ke wajah Calvin. Calvin kaget dengan sambutan pagi istrinya itu. Dia bangkit dan duduk di tempat tidurnya.
"Kamu ngapain lempar-lempar bajuku ke mukaku, sih?"
__ADS_1
"Jawab aja sendiri! Coba jelasin! Kemarin kamu kemana aja, ngapain aja dan sama perempuan siapa?!" Tanya Ranti kesal. Calvin semakin bingung dengan pertanyaan Ranti yang bertubi-tubi itu.
"Maksud kamu apa, sih? Aku kerja kemarin."
"Kerja? Hah! Coba kamu liat di baju kamu itu! Ada noda merah-merah. Itu apa?!" Serang Ranti.
Calvin langsung memeriksa baju putihnya. Dia sudah mulai khawatir bila Ranti mungkin melihat ada noda darah yang terciprat di bajunya. Dia tidak mau memperlihatkan pekerjaan kotornya di hadapan istrinya yang lembut walaupun pagi ini Ranti bersikap sedikit kasar namun dia cukup mengerti mungkin karena ada darah di bajunya.
Ketemu, ini dia cipratan darah si Anet. Dia memandanginya, bingung untuk menjelaskan apa. Dia tidak mau memperlihatkan kekejamannya dihadapan Ranti. Gadis itu begitu kecil dan lembut. Apalagi darah itu berasal dari perempuan yang dia bunuh.
"Gak bisa jawab, eh?" Sahut Ranti kesal. "Kamu ngapain aja sama perempuan itu sampe lipstiknya nempel di baju kamu begitu?!"
"Kamu hianatin aku, ya?" Ranti cemberut. Matanya mulai berembun.
Calvin merasa gemas sekali melihat raut wajah istrinya. Apa dia lagi curiga gue sama perempuan lain? Dia pikir gue ngapaian? Calvin merasa geli. Ingin sekali dia tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah istrinya itu. Tanpa sadar, Calvin tergelak kecil, menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu keterlaluan, Vin. AKu semakin benci sama kamu!" Ranti mulai menangis, air matanya sudah mengalir. Dia ingin pergi dari hadapan Calvin yang malah seperti meledeknya. Namun Calvin meraih tangan Ranti dan menariknya duduk dalam pangkuannya.
"Kamu.. Jadi kamu pikir ini noda lipstick?" Tanya Calvin lucu.
"Terus apa?" Tanya Ranti pelan menundukan kepalanya.
__ADS_1
Calvin bingung menjelaskannya. Apa tidak apa-apa jika dia memberitahu semua yang terjadi semalam. Namun dia takut terlihat kejam di mata Ranti. Gadis ini begitu lugu, seperti gadis kecil baginya. Melihat istrinya seperti itu dia sudah ingin menimang-nimang Ranti layaknya bayi.
"Ini darah, sayang. Bukan lipstick. Semalam aku menghabisi orang, mungkin darahnya terciprat tanpa aku tau." Ucapnya. Diam menunggu tanggapan Ranti.
Ranti mengangkat kepalanya, menatap wajah Calvin. Jawaban ini bukan jawaban yang dia ingin dengar, begitu kejam jika suaminya habis membunuh orang, namun lebih kejam bila suaminya benar selingkuh. Ranti beranjak langsung memeluk Calvin erat.
"Aku pikir kamu selingkuh." Ucap Ranti membenamkan wajahnya dileher Calvin. Calvin membalas pelukannya, mengusap-usap punggung Ranti.
"Aku sudah tergila-gila sama kamu, Ranti. Jadi mana mungkin aku selingkuh." Ucap Calvin senang. Ternyata selingkuh bisa lebih kejam masalahnya dari pada pembunuhan yang sudah dia lakukan semalam. Syukurlah jika Ranti bisa mengerti.
Ranti melepaskan pelukannya, menatap nanar wajah Calvin. Jantungnya berdegup, menatap wajah ganteng suaminya. "Bener? Kamu nggak bohong, kan?"
Calvin menggeleng sambil tersenyum lalu ******* bibir Ranti. Ranti membalas ciuman Calvin. Lalu mereka sudah mau melakukannya lagi pagi ini, saa Calvin mengangkat kaus Ranti dan mulai mengecup bagian favoritnya, menghisap gundukan Ranti dengan rakus. Ranti memang suka dengan gaya Calvin ini, dia selalu menikmatinya, sangat menikmatinya. Calvin memang pintar membuatnya terhanyut. Kecupan Calvin turun kebawah, namun saat sampai diperut Ranti, perut itu mengeluarkan bunyi. Lalu Ranti tertawa.
"Maaf ya, aku udah lapar banget, sayang."
"Hmmm... Aku mandi deh, kamu sarapan duluan aja ya." Ucap Calvin segera beranjak namun cepat-cepat dicegah Ranti. Dirinya masih ingin dicumbu Calvin.
Calvin menindih Ranti, mengusap lembut wajah Ranti. "Makan dulu, nanti kita lanjut. kasian perut kamu udah protes." Ucapnya tergelak lalu mengecup bibir Ranti..
Bersambung...
__ADS_1