
Setelah berfikir keras di parkiran mini market, Ardi baru teringat dengan sahabat Ranti, Via. Tapi dimana dia harus mencari Via? Karena dia tidak tau alamat rumahnya. Seingatnya rumah Via masih di daerah sini, dia juga ingat kalau Via sudah bekerja di sebuah Universitas Negri ternama karena Ranti menceritakannya disaat terakhir mereka mengobrol. Dia melajukan mobilnya pelan mencoba untuk mengingat-ingat Via bekerja di kampus mana, lalu dia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan dan mengeluarkan ponselnya, mencari nama Via di salah satu sosmed dan ketemu.
Semoga dia posting foto dan mengtag dimana dia bekerja. Harapnya.
Ardi melihat-lihat isi postingan sosmed Via dari pertama kali Via memposting sebuah fotonya dan menemukan beberapa foto bersama Ranti. Saat mereka baru lulus-lulusan sekolah sampai saat terakhir mereka sempat berfoto bersama saat sedang pergi berjalan-jalan berdua.
The last day we met. I miss u, where are you now? Caption Via.
Pasti bukan hanya dirinya yang mencari Ranti, tapi Via juga. Tapi Ardi fikir mungkin Via tau keberadaan atau sekedar kabar Ranti, tapi dari caption yang Via tulis disana sepertinya Via pun tidak mengetahui kabar dan keberadaan Ranti. Namun Ardi tidak patah semangat dia berusaha mencari tag dimana Via bekerja dan akhirnya dia berhasil. Saat sebuah foto bersama-sama rekan kerjanya Via menuliskan caption Keseruan kami hari ini di sebuah Universitas Negri XX. Dan tidak tunggu lama Ardi langsung menggas mobilnya menuju kampus itu.
**********
Lasmi sampai dirumahnya bersama Hito dalam gandengannya, dia sudah di pandang sinis oleh Budiman dan juga Anto.
"Kenapa lama banget pulangnya? Dari mana aja kalian?" Tanya Budiman ketus.
"Hito laper minta makan bakso dulu tadi di depan." Jawab Lasmi yang langsung melengos memasuki rumahnya tanpa menoleh ke Budiman, Anto apalagi Bram.
"Hei, Lasmi!" Budiman mengikuti Lasmi ke dalam rumah.
"Apa sih, Yah? Makan bakso aja mau kamu ributin juga? Hidup kamu kenapa selalu ribut terus sih?!" Ketus Lasmi.
Hito yang sudah akrab dengan pertengkaran Ayah dan Ibunya hanya diam berjalan menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya yang ada di atas. Rumah kontrakan ini yang dulunya sangat memprihatinkan sekarang sudah berubah. Menjadi jauh lebih bagus, Calvin menyuruh orang-orangnya untuk membangun dan mendekor ulang rumah itu dan terlebih lagi dia membeli rumah itu dengan harga 3 kali lipat dari harga pasaran di kawasan itu, sontak saja pemilik rumah langsung setuju saat menerima tawaran harganya.
"Kenapa kamu gak bungkusin buat aku?" Tanya Budiman.
"Beli aja sendiri, bukannya uang kamu sudah banyak?!" Sahut Lasmi.
Budiman mendengar sahutan Lasmi sangat jengah dia ingin sekali menyahutinya lagi tapi Bram tiba-tiba masuk dan menyela ucapan yang akan Budiman Ucap.
"Budiman, jangan kau ganggu Lasmi! Beli sendiri sajalah baksonya, belikan juga untuk ku. Cepatlah!" Sahut Bram dengan logat batak.
__ADS_1
Sontak Budiman segera keluar dan pergi membeli bakso. Terkadang Lasmi merasa lega saat Bram ada disini, Budiman ataupun Anto sudah tidak bisa kasar dan semena-mena padanya juga Hito. Dia harus berganti pakaian dan siap-siap untuk pergi bekerja. Walaupun Calvin menanggung hidupnya tapi dia tidak mau menikmati semuanya karena dia merasa bersalah kenikmatan ini tidak bisa dia nikmati bersama Ranti. Lagi pula dia juga tidak mau terlihat mencolok kepada tetangga rumahnya. Ranti sudah menikah dengan orang kaya raya begitulah yang sering Budiman dan Anto ucapkan pada orang-orang sekitar rumahnya, bangga dan tidak tau dirinya. Lasmi juga tau bila tetangga-tetangga pasti membicarakannya diam-diam namun dia berusaha untuk tidak memperdulikannya. Setelah selesai mengganti pakaiannya Lasmi pun pergi bekerja, dia bekerja di sebuah puskesmas sebagai perawat honorer.
"Tolong, Bram. Jaga Hito dari 2 orang serakah di rumah ini. Kamu tau kan kalau Hito Adik kesayangannya Ranti? Yang Bos mu ambil itu!" Ucap Lasmi di depan Anto. Anto terlihat sangat kesal, namun Bram biasa-biasa saja dan mengangguk seperti biasanya. Lalu Lasmi pergi berjalan kaki ke depan.
"Sudahlah tak usah kau kesal, To. Nikmati saja hidup enakmu ini sekarang! Tak usah kau acuhkan Ibumu itu." Ucap Bram.
"Dia bukan Ibu gue, dia cuma Ibu tiri." Kata Anto dengan ketus.
"Tetap saja Ibu kau, To!"
*********
Ardi sampai di sebuah Universitas Negri tempat Via bekerja, dia ingat jika Ranti pernah bilang Via bekerja di perpustakaan. Setelah memarkirkan mobilnya dia langsung berjalan masuk ke sebuah gedung administrasi. Dia menanyakan di bagian mana Via bekerja lalu seorang bapak-bapak memberitahu jika Via bekerja di perpustakaan fakultas hukum. Ardi pun segera berjalan dengan cepat bahkan setengah berlari untuk segera sampai di tempat Via bekerja.
Dia memasuki perpustakaan di fakultas hukum itu dan bertanya ke petugas yang sedang berjaga di dekat pintu. Orang itu menunjuk dimana Via berada, Via sedang merapihkan beberapa buku di meja kerjanya. Tanpa Ardi memanggilnya, tidak sengaja Via melihat ke arah Ardi berdiri saat dia akan menaruh buku-buku itu di rak.
Via tampak terkejut melihat Ardi, dia tau pasti Ardi datang untuk menanyakan keberadaan Ranti. Diapun sama ingin tau nya. Ardi tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Tunggu ya." Ucap Via tanpa suara dengan mengisyaratkan sebelah tangannya, Ardi mengangguk dan menunggu di luar.
"Untung gue masih kerja disini, Kak. Lo tau? Sebenernya ini hari terakhir gue kerja disini." Ucap Via.
"Oya? Hampir telat ya gue nyari lo." Ucap Ardi.
"Kita ngobrol di cafe kampus aja ya, Kak. Biar enak." Ajak Via.
"Ayo."
"Tapi cafe nya lumayan jauh kalo jalan kaki."
"Yaudah naik mobil aja, gue bawa mobil kok."
__ADS_1
"Oke. Gue sekalian ambil barang-barang gue dulu ya, Kak. Sekalian pamit dulu sebentar sama orang-orang di dalem."
"Oke, gue tunggu sini."
Via masuk kedalam perpustakaannya mengambil sebuah kardus kecil berisi barang-barang selama dia bekerja disini, setelah pamit dengan teman-teman kerjanya dan para karyawan disana, Viapun keluar menghampiri Ardi. Mereka berjalan menuju parkiran memasuki mobil dan berhenti disebuah cafe di kawasan kampus itu.
Via dan Ardi duduk di sofa berhadapan di pinggir ruangan berdinding kaca. Pelayan mengantarkan 2 minuman pesanan mereka dan cake red velvet untuk Via. Via menatap red velvet nya itu.
"Lo tau gak, Kak? Kalo Ranti suka banget sama cake ini? Gue selalu pesen cake ini klo lagi kangen sama dia." Ucap Via, dia meraih gelas kopinya, meneguknya dengan sedotan. "Dan lo tau? Ranti juga suka banget sama whipecream."
"Gue gak tau dia suka makanan kayak gini, Vi. Setiap pergi sama gue paling dia mintanya cuma makan bakso."
"Dia gak mungkin minta beliin ini Kak sama lo, ini mahal. Dia juga gak bakal bisa beli sendiri, gue yang suka beliin dia kalo nyokap gue lagi ngasih duit jajan lebih. 1 potong cake ini kita makan berdua, es kopinya juga berdua, tapi dia selalu ngabisin whipecreamnya sendiri." Cerita Via sedih matanya sudah berkaca-kaca dan dia menolehkan pandangannya keluar.
"Via, ternyata lo juga gak tau Ranti dimana dan bagaimana kabarnya dia?"
"Iya, Kak. Gue sama gak tau nya kayak lo." Via sebenarnya sempat pernah datang kerumah Ranti beberapa kali dan dia bertemu dengan Ibu Ranti, Ibu Rantipun juga bercerita jika Ranti sudah menikah dan tinggal di London bersama suaminya. Tapi dia belum mau menceritakannya kepada Ardi takut Ardi merasa sakit hati.
"Gue tadi abis ketemu Ibunya Ranti."
"Oya? Dimana? Terus katanya apa?" Kaget Via karena dia tau dengan adanya Ayahnya Ranti, Anto dan laki-laki seperti preman dirumahnya Ranti itu tidak mungkin dengan mudahnya Ardi bisa datang kesana.
"Gue lagi ngintip-ngintip rumahnya, untung ketemu Ibunya sama Hito. Terus gue ngobrol di warung bakso pinggir jalan."
"Ibunya Ranti cerita apa, Kak?" Tanya Via penasaran.
"Ibunya bilang dia udah nikah dan tinggal di London sama suaminya. Gue kayak di samber petir di siang bolong tadi, Vi. Hati gue juga masih nyut-nyutan sekarang." Ardi terlihat pusing meng gosok-gosokkan keningnya dengan tangannya.
"Gue juga di ceritain begitu sama Ibunya. Gue percaya gak percaya sih, Kak. Gue sahabatnya gak ada apapun yang Ranti sembunyi in dari gue. Kalo dia punya pacar lain selain lo atau bokap gilanya itu jodohin, dia pasti akan cerita ke gue, Kak."
"Mungkin emang dia sebenarnya punya pacar selain gue, Vi?" Tanya Ardi pucat jantungnya sudah tidak berirama lagi dia sedikit frustasi.
__ADS_1
"Gak mungkin, Kak. Dia bahagia sama lo, dia cinta banget sama lo. Gue yakin dan suerrr, terakhir sehabis ketemu sama lo dia cerita sambil kegirangan kalo lo ngelamar dia ngasih dia cincin kan?" Via berkata meyakini Ardi yang terlihat sudah pucat. Bagaimana tidak, pacarnya menghilang tiba-tiba sudah hampir 2 tahun ini dan saat bertemu Ibu dari pacarnya dia mendapatkan kabar mengejutkan seperti ini. Via pun yang hanya sahabatnya merasa kaget bercampur kecewa serta ketidak percayaan nya terhadap Ranti. Ranti yang dia kenal dengan sangat baik tidak akan mungkin mengkhianati perasaan Ardi yang Via tau Ranti benar-benar mencintai Ardi.
Bersambung...