
Mobil memasuki halaman rumah sakit dengan kencang, melewati area IGD menuju basement rumah sakit. Karena Calvin merupakan member pasien 'khusus' jadi mereka tidak di bawa ke ruang IGD seperti pasien pada umumnya. Ada jalan lain untuk menuju fasilitas VVIP 'khusus' di lantai 11. Lantai 11 adalah lantai VVIP khusus yang tidak sembarang orang lain bisa memasuki lantai ini, hanya beberapa Dokter juga yang boleh berjaga di lantai ini.
Perawat dan Dokter Harry sudah bersiap di baseman untuk menyambut Calvin yang dengan cepat membopong tubuh Ranti dan menidurkannya di kasur derek pasien. Dengan sigap mereka menuju lift dan menekan tombol 11.
"Calvin, ada apa sama gadis kecil ini? Gak biasanya lo bawa cewek malem-malem begini kesini, biasanya kalo lo abis nyiksa cewek langsung lo buang aja di pinggir jalan." Ucap Dokter Harry aneh. "Astaga lo juga masih pake piyama begini."
"Sudah jangan banyak omong lo, Har! Selametin ini cewek gimanapun caranya jangan sampai cewek ini mati!" Perintah Calvin menatap wajah Ranti khawatir. Dokter Harry menggeleng tidak percaya dengan perlakuan Calvin sahabatnya sejak kecil.
"Jadi nama pria itu Calvin? Tapi, kenapa aku masih bisa mendengar? Please, Tuhan aku ingin mati ini rasanya sakit!" Gumam Ranti dalam hati.
Pintu lift terbuka dan mereka bergegas ke suatu ruangan oprasi, setelah sampai di pintu oprasi Calvin tidak dibiarkan masuk oleh Dokter Harry.
"Hei, lo tunggu disini aja. Tolong ganti baju jangan kayak gitu gue risih liatnya!"
"Awas kalo cewek itu gak bangun lagi, Har!" Seru Calvin kesal.
"Calm down. Everything is gonna be okay, man!" Lalu Dokter Harry masuk dan menutup pintu ruang oprasi. Calvin duduk di bangku tunggu menunggu Rico membawakan pakaian untuknya. Tidak lama Rico dan Tori datang.
"Ini Bos pakaiannya." Ucap Rico, Calvin meraihnya dan berjalan menuju toilet.
"Kenapa Bos repot-repot ngurusin anaknya si Budiman itu?" Tanya Tori kepada Rico. Rico tau pasti ada alasan kenapa Calvin sampai mau repot malam-malam membawa gadis yang belum dikenalnya itu kerumah sakit. Karena biasanya Calvin hanya membiarkan orang itu mati atau di buang saja ke suatu tempat tanpa jejak walaupun itu wanita sekalipun.
Calvin kembali dengan pakaian rapih yang dibawakan Rico tadi, ia melemparkan handuk yang tadi ia pakai ke Rico lalu ia duduk, menunggu dalam diam.
"Ric, menurut lo gimana kalo gue nikahin aja cewek itu?" Ucap Calvin yang membuat Rico dan Tori terbelalak kaget tidak percaya dengan apa yang sudah didengarnya barusan.
"Bos?" Sahut Rico dan Tori dalam pertanyaan yang bersamaan.
"Gua tau apa yang kalian pikirin, gua hanya asal ngomong kok!"
"Kalo lo nikahin cewek itu, yang senang pasti Anto dan Budiman, Vin. Coba dipikirin lagi baik-baik." Kata Rico yang jika dalam pembicaraan seperti ini ia menggunakan kata-kata santai karena sebenarnya mereka bersahabat.
Setelah berjam-jam lamanya Dokter Harry keluar bersama dengan beberapa perawat dan Ranti yang masih terbaring tak sadarkan diri, mereka menuju kamar inap.
"Gimana, Har? Dia masih hidup kan?!" Tanya Calvin tak sabaran.
"Yes, bro. Dia selamat luka sayatannya gak terlalu dalam nadinya masih berfungsi dengan baik." Jawab Dokter Harry sambil menepuk pundak Calvin untuk menenangkannya. Calvin menarik nafas lega.
__ADS_1
"Siapa dia, Vin?"
"Ceritanya panjang, biar Rico aja yang jelasin!" Lalu Dokter Harry keluar bersama Rico dan juga Tori.
Calvin masih diam di pinggir tiang infus yang berdiri tegak sambil menatap wajah Ranti dengan rasa iba. Dalam hati ia menyesal dan tidak menyangka gadis kecil ini akan melakukan hal nekat seperti ini. Dan ia pun bingung pada dirinya sendiri kenapa juga ia mau repot-repot mengurusnya, biasanya ia tidak pernah sekalipun peduli pada hidup orang lain.
..................
Hari berganti hari namun Ranti belum juga sadar, ia berusaha untuk mematikan rasa sadarnya. Sesekali matanya terbuka melihat langit-langit kamar, ia memaki dirinya dan kembali menutup matanya.
Perlahan Ranti membuka matanya lagi. Kenapa ini? Kok aku masih bisa sadar? Apa ini alam baka? Gumamnya dalam hati. Kepalanya terasa pusing. Ia berusaha untuk menggerakkan kepalanya agar bisa melihat sekelilingnya. Ketika ia menoleh kesamping ia melihat Calvin duduk di sofa kecil samping tempat tidurnya. Tiang infus berdiri tegak disebelahnya.
"Kamu sudah sadar?" Tanya Calvin mendekati Ranti.
Oh tidak! Tuhan, kenapa yang ku lihat orang ini? Kenapa aku masih disini? Seharusnya aku mati. Ucap Ranti dalam hati lalu ia memejamkan matanya lagi.
"Bos, bisa bicara sebentar?" Ajak Rico dari pintu kamar lalu Calvin keluar menghampiri Rico. Tori duduk di bangku tunggu.
"Kenapa?"
"Egil lapor, adiknya Ranti sesak nafas dan gak sadarkan diri sekarang ada di IGD bawah dan Ibunya memohon ke Dokter IGD untuk menyelamatkan anaknya tapi gak punya biaya."
"Hito, Bos. Dia punya riwayat penyakit asma akut, semenjak kejadian malam itu adiknya sakit dan sekarang tambah parah."
"Suruh Harry urus, rawat aja disini terus lo urus pernikahan gua dan Ranti disini. Urus secepatnya!"
"Oke, siap, Bos!" Jawab Rico di ikuti tatapan aneh Tori kepada Bos nya itu.
"Ini seriusan, Bos?" Tanya Tori tidak percaya.
"Apa keliatannya gua lagi bercanda, Tor?" Tanya balik Calvin menaiki sebelah alisnya dan ia kembali kedalam.
Setelah Rico menghampiri Ibu Ranti di IGD dan mengajukan syarat yang lagi-lagi tidak bisa Lasmi tolak. Ia sudah kehilangan anak perempuannya dan tidak mau kehilangan anak laki-lakinya juga, dengan sangat terpaksa ia menandatangi perjanjian yang telah dibuat Rico untuk pengobatan Hito dan pernikahan Ranti.
Lasmi menangis tiada henti meratapi kehidupannya, meratapi masa depan anak-anaknya. Ia benar-benar teramat benci pada suami dan anak tirinya itu, masalah ini ada karena mereka berdua. Ingin sekali ia bunuh mereka tapi jangankan membunuh orang, membunuh semut pun Lasmi tidak akan tega.
Hito sudah di rawat di lantai yang sama dengan Ranti, berkat Calvin hidup Hito selamat dan sekarang tinggal balas budinya untuk mengikhlaskan buah hati tercintanya, Ranti untuk dinikahkan oleh Bos Mafia itu. Tidak henti-hentinya ia menangis menatap Ranti yang juga tergeletak di ranjang rumah sakit ini.
__ADS_1
...............
Budiman dan Anto berjalan cepat mengikuti anak buah Calvin yang tadinya adalah teman sepekerjaannya untuk menuju ke ruang inap Ranti. Mereka terlalu girang saat Bos Calvin melalui Rico mengabarinya untuk menikahi Ranti dan berharap mulai saat ini mereka bisa hidup senang tanpa harus bekerja banting tulang.
Dengan berpakaian rapih Budiman dan Anto memasuki ruang rawat inap Ranti, Ranti sudah sedikit sadar terduduk di senderan ranjang. Ia pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, wajahnya pucat. Lasmi berdiri di sebelah ranjang Ranti, memegangi pergelangan Ranti yang tertusuk selang infus sekedar untuk menenangkan anaknya.
Calvin duduk di pinggir ranjang Ranti, sudah ada penghulu disebelahnya, Budiman duduk di sebrang Calvin lalu mereka berjabat tangan dan Calvin mengucap janji pernikahan, setelah sah penghulu itu membacakan doa-doa yang diikuti dengan kata amin dari beberapa anak buah Calvin disana, salah satunya Dokter Harry yang juga menghadiri acara pernikahan sahabatnya itu. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Calvin, menikah dengan cara seperti ini sungguh tidak pernah terlintas dalam pikirannya, karena yang dia tau Calvin selalu merasa tidak pernah memerlukan pendamping dalam hidupnya karena masalah masa kecilnya.
Calvin memakaian cincin berlian yang sudah Rico pesan di salah satu toko berlian, hanya dalam sepintas penglihatan saja sudah terlihat bahwa cincin itu sungguh mahal harganya. Entah mengapa Calvin mau membelikan sebuah cincin mahal seperti itu untuk Ranti.
Ranti menangis saat Calvin memakaian cincin berlian itu di jari manis tangan kanannya, cincin yang dari Ardi dulu sudah tidak ada entah kemana. Ia sedih teramat sangat sedih mengingat cincin dari Ardi yang sudah tidak bertengger di jari manisnya, belum sehari ia merasa bahagia karena Ardi memberinya cincin namun sekarang cincin itu sudah berganti. Mungkin penghulu itu mengira Ranti dan Ibunya menangis karena terharu tapi pada kenyataannya dia menangis meratapi masa depannya yang suram ini. Setelah menandatangi beberapa dokumen sekarang Ranti sudah resmi menjadi istri Calvin, istri dari salah satu Bos mafia dan gengster yang paling di takuti oleh semua gengster di negeri ini.
"Selamat ya, Dek." Ucap Anto mengelus kepala Ranti dengan lembut.
Dalam hati Ranti meludah, Dek? Sejak kapan dia memanggilnya Dek dengan sok lembut pula! Ingin sekali ia meludahi wajah Masnya itu dan ayahnya itu karena terlihat sangat bahagia.
Semua orang keluar dari ruangan, tinggallah Lasmi dan Ranti. Ranti langsung menangis memeluk Ibunya, menangis sejadi-jadinya. Ibu nya pun menangis memeluk anak perempuannya mengelus lembut wajah putri kesayangannya itu.
"Ranti udah ancur, Bu. Udah gak ada lagi yang bisa Ranti banggain dalam hidup Ranti, Ranti lebih baik mati aja, Bu!" Isaknya.
"Ranti, dengar Ibu, nak. Ibu minta maaf, Ibu bersalah sama kamu, nak. Gara-gara Ibu kamu jadi terjebak dalam pernikahan ini, Ibu tau maaf Ibu gak akan ada nilainya, Ti." Lasmi terisak juga mereka bertatapan satu sama lain menangis bersama.
"Tolong jangan pernah kamu mencoba untuk bunuh diri lagi, Ti. Ingat Ibu dan Hito, masih ada kami disini."
"Tapi Ranti tetap merasa sendiri, Bu, dirumah besar laki-laki itu Ranti sendirian tanpa Ibu dan Hito."
"Yang sabar ya, nak. Kita berdoa untuk jalan keluarnya, sekarang mau kaburpun kita gak akan bisa, Ti. Lebih baik kita nurut aja sama mereka, kamu ubah sifat suami kamu, siapa tau suami kamu bisa berubah dah kembali di jalan yang benar." Lasmi terisak mencoba untuk menyemangati anaknya.
"Gak mungkin, Bu. Laki-laki itu terlalu kejam."
"Gak ada yang gak mungkin di dunia ini, Ti. Dia sepertinya benar sayang dan cinta sama kamu, coba perlahan kamu sambut cintanya, ya. Kita sama-sama berusaha untuk bertahan hidup seperti ini ya, sayang, demi Hito, nak."
Ranti mengangguk pasrah. "Tapi bagaimana sama Kak Ardi, Bu? Dia pasti nyariin Ranti."
"Jangan kamu pikirin Ardi, biar Ibu nanti yang beri dia alasan. Kamu tenang aja ya. Sekarang yang terpenting kamu dan Hito harus sembuh dulu, Ibu mohon, Ti, jangan menyiksa diri kamu sendiri." Lasmi semakin terisak. Mereka berpelukan, lalu Rico masuk dan menyuruh Lasmi agar keluar dari ruangan.
"Ibuuuu.." Panggil Ranti dalam tangisnya menatap Ibunya perlahan berjalan menjauh darinya.
__ADS_1
"Jaga diri kamu baik-baik, Ti. Ibu dan Hito berjanji akan jaga diri kita baik-baik juga." Ucap Ibu Ranti dan keluar dari ruang rawat inap Ranti. Ranti menangis, diluar Lasmipun menangis menoleh kembali ke pintu kamar Ranti yang sudah di tutup rapat oleh Rico.
Dan pertemuan mereka hanya sampai disini saja, seterusnya mereka akan melakukan hari-hari mereka sendiri-sendiri. Lasmi mengurus Hito dan Ranti hidup bersama Calvin.