
Setelah mendatangi rumah Ranti, Ardi berniat untuk mencoba mendatangi Ibu Ranti. Dia tau Ibunya lebih baik dan dekat dengan Ranti. Ardi dengan cepat menyelesaikan waktu apel paginya dan segera bergegas pergi. Kepala Unit sudah menyelesaikan pidato dan perintah-perintah penugasan, dengan begitu barisan pun bubar. Ardi berjalan cepat menuju ruang ganti, mandi dan berganti pakaian yang lebih santai.
"Lo jadi mau kerumah cewek lo lagi?" Tanya Arif yang baru selesai mandi.
"Iya jadi."
"Sorry gue gak bisa nemenin ya."
"Iya gak papa, santai aja. Kerjaan lo lebih banyak dari gue kan." Canda Ardi. Arif terkekeh. Hari ini Arif mendapatkan piket pagi dan Ardi malamnya.
"Goodluck bro."
"Thanks. Duluan ya." Ucap Ardi yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Arif.
Ardi segera berjalan menuju parkiran dan memasuki mobilnya. Dia memanasi dulu mesin mobilnya yang sudah terparkir cukup lama karena dia berada di kantor polisi ini sudah dari 2 hari yang lalu. Setelah mesin mobil sudah cukup panas, dia melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi karena di jam-jam sekitaran 10 pagi ini jalanan ibu kota cukup kosong sudah lewat dari jam sibuk.
Ardi memasuki kawasan pinggiran ibu kota tempat rumah Ranti berada, jalan raya nya agak lebih kecil membuat Ardi harus melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah. Dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan di sebuah mini market dan berjalan kaki menuju rumah Ranti. Kali ini dia tidak akan langsung datang kerumah Ranti, dia hanya mengamati kondisi rumah Ranti sampai dia bisa bertemu dengan Ibu Ranti.
Terlihat Anto sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang tempo hari juga ada disana saat dia datang. Mereka terlihat akrab dan merokok bersama, tidak lama Ayahnya Ranti keluar rumah dan ikut mengobrol bersama.
"Siapa sih laki-laki itu? Preman apa siapa ya?" Tanya Ardi pada dirinya sendiri. Dia cukup lama mengamati gerak gerik mereka, mereka mengobrol sambil merokok dan menyeruput segelas kopi.
Sebuah tangan memukul pundaknya membuat Ardi terkejut. Namun setelah melihat orang yang menepuk pundaknya Ardi sangat senang, dia Ibunya Ranti berdiri di hadapan Ardi smbil menggandeng tangan Hito.
"Tante!" Ucap Ardi.
"Kak Ardi." Panggil Hito memeluk Ardi.
"Hei Hito. Kamu apa kabar? Sekarang sudah besar ya kamu." Ucap Ardi senang sambil mengacak-acak rambut Hito.
"Nak Ardi ngapain disini?" Tanya Lasmi walaupun dia tau keberadaan Ardi disini pasti untuk mencari Ranti. "Ayo ikut Tante sebentar." Lasmi mengajak Ardi untuk mengikutinya, menjauhi rumahnya agar tidak ketahuan Anto, Budiman ataupun Bram orang suruhan Calvin yang setiap hari selalu ada di rumahnya.
Mereka duduk di sebuah warung bakso yang ada di pinggiran jalan dekat dengan mini market tempat Ardi memarkirkan mobilnya. Hito memesan semangkuk bakso dan lahap memakannya sendiri, sementara Ardi dan Lasmi hanya memesan minuman teh dalam bentuk botolan saja dan duduk di meja terpisah dari Hito agar Hito tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Kamu gak makan juga, Di?" Tanya Lasmi lembut.
"Gak Tante, makasih, Ardi udah makan tadi di kantor." Jawab Ardi berbohong padahal sarapan pun belum karena setelah apel pagi dia buru-buru ingin kesini. Melihat suasana ini membuat Ardi kehilangan selera makannya, mana mungkin dia bisa makan saat ini.
__ADS_1
"Oh kamu udah kerja? Dimana? Bukannya kamu lagi pendidikan polisi?" Tanya Lasmi lagi.
"Sudah lulus, Tan, sekarang tugas di kantor polisi ibu kota." Jawab Ardi ramah.
"Ardi, Tante tau kamu kesini pasti mau mencari Ranti ya?" Tanya Lasmi tanpa basa-basi lagi, datar dan aga sedikit tidak nyaman.
"Iya Tante, udah 1 tahun lebih ya Tan, aku gak denger kabar Ranti. Dia kemana, Tan?"
Lasmi menarik nafas dalam sebelum menjawab, agak ragu tapi dia harus menceritakan kepada Ardi bahwa Ranti sudah menikah. Namun karena dia tau pekerjaan Ardi, tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya. Jangankan pada Ardi, semua orang tidak ada yang tau kecuali keluarga intinya.
"Ardi, sebelumnya Tante minta maaf harus minta ini ke kamu."
"Minta apa Tante?" Perasaan Ardi sudah tidak enak, sepertinya akan ada kabar tidak bagus namun dia tetap penasaran.
"Tolong kamu mulai sekarang jangan pernah mencari Ranti lagi apa lagi datang kesini lagi." Jawab Lasmi dengan raut wajah yang khawatir.
"Lho kenapa, Tante? Aku gak ngerti maksud Tante. Bukannya Tante merestui hubungan kita? Aku sudah 2 tahun lebih lho, Tan pacaran dengan Ranti bahkan sampai hari ini belum ada kata putus dari kita." Ucapnya terkaget-kaget hatinya mulai gemetar.
"Maaf, Ardi. Karena Ranti sudah menikah." Kalimat yang keluar dari mulut Lasmi seketika membuat Ardi seperti di samber petir di siang bolong. Dia kaget terkaget-kaget, tidak percaya dengan apa yang di katakan Ibu dari pacarnya itu.
"A apa? Menikah? Apa maksudnya Tante?" Ardi kaget, menggelengkan kepalanya tidak percaya, dia menggaruk pelan keningnya yang tidak gatal itu.
"Tapi dengan siapa, Tan? Kapan? Kenapa mendadak sekali? Kenapa gak ada yang kasih kabar ke aku?" Tanya Ardi masih tidak percaya, siapapun yang ada dalam posisi Ardipun tidak akan ada yang percaya, jangankan percaya mencoba mencernapun bingung. Dia sebenarnya sudah hilang fokus namun dia tetap memaksakan menatap wajah Lasmi yang sudah sangat mengkhawatirkan.
"Dia di jodohin sama anak kerabat Ayahnya, mau tidak mau Ranti menerimanya. Maafin Tante." Ucap Lasmi, suaranya mulai terdengar gemetar.
"Terus Ranti sekarang ada dimana, Tan?"
"London."
"Apa? London?" Lagi-lagi Ardi seperti mendengar suara petir untuk yang kedua kalinya.
"Bagaimana bisa, Tante dia sampai ke London? Tante tau kan dia gak bisa bahasa Inggris? Dan dia gak mungkin pergi begitu aja sama orang asing."
"Ranti pergi dengan suaminya bukan sama orang asing."
"Tapi suami yang baru dia kenal, Tan, bukan bersama orang yang seperti aku yang sudah lama berhubungan sama dia." Ujar Ardi, suaranya mulai meninggi. Hito menoleh, kelihatannya dia sudah selesai makan. "Aku masih gak bisa percaya, Tan. Aku kenal Ranti, Ranti gak mungkin hianatin aku, pasti ada yang salah disini. Terakhir kita ketemu kita saling janji untuk gak berpisah, aku bahkan melamar dia, Tan dan berjanji untuk selalu kasih kabar. Tapi setelah hari itu Ranti gak ada kabar lagi, bahkan sampai sekarang. Aku gak percaya, Tan. Aku akan cari tau sendiri."
__ADS_1
Lasmi semakin cemas dengan sikap Ardi yang ingin mencari tahu tentang keberadaan Ranti. Lasmi bukan hanya cemas dengan posisinya namun juga dengan posisi Ardi, takut bila Ardi ikut campur lebih jauh dia akan terluka. Calvin bukan orang biasa, dia mafia berbahaya, bukan cuma dirinya, Hito atau Ardi yang akan terluka tapi dia sangat cemas akan keselamatan Ranti juga.
"Ardi, tolong kamu jangan ikut campur masalah keluarga kami. Kamu gak ada hak untuk cari tau, dari pada nanti kamu.." Lasmi ragu-ragu.
"Dari pada aku kenapa, Tan?"
"Dari pada kamu nanti terluka."
"Sekarang aja aku udah sangat terluka, Tan. Mendengar cerita Tante ini aku sangat terluka. Aku harus bertemu Ranti dan mendengar penjelasan semua ini langsung dari mulutnya." Tegas Ardi sambil berdiri seraya ingin bergegas pergi dari sini.
"Ranti sudah jauh, Di. Tolong kamu jangan ikut campur." Ucap Lasmi.
"Saya permisi, Tante." Pamit Ardi langsung pergi meninggalkan Lasmi bahkan ia tidak sempat untuk menoleh kepada Hito lagi.
"Kak Ardi kok pergi, Bu? Pulang ya?" Tanya Hito dengan kepolosannya. Lasmi menghampiri Hito dan duduk disebelahnya.
"Iya dia pulang, sayang. Kamu udah selesai makannya?" Lasmi berusaha menutupi kekhawatirannya di depan Hito.
"Sudah, Bu. Kak Ardi marah ya, Bu? Kak Ardi kenapa?" Tanya Hito penasaran.
"Nggak, sayang. Kak Ardi gak marah dan gak kenapa-kenapa kok. Kalau sudah selesai makan kita pulang yuk." Ajak Lasmi. Hito mengangguk dan berdiri dari duduknya.
Setelah Lasmi membayar mereka berjalan kaki pulang kerumah. "Oiya, Hito. Jangan bilang-bilang ke Ayah, Mas Anto dan Om Bram ya kalau kita disini sama Kak Ardi. Kalau di tanya kenapa kita pulangnya telat, bilang aja Hito laper lagi pengen makan baso dulu, oke?!"
"Emang kenapa si Bu kok gak boleh bilang kalo kita makannya sama Kak Ardi?"
"Nanti mereka marah, mereka kan jahat."
"Mas Anto sama Ayah udah baik kok, udah gak jahat lagi kayak dulu."
"Sudah nurut aja sama Ibu ya, Hito kan anak baik." Ucap Lasmi cemas.
"Iya deh, Bu." Jawab Hito.
Ardi menutup pintu mobilnya dengan keras, dia memukul-mukul stir mobilnya berkali-kali karena kesal denga cerita Ibu Ranti. Dia berfikir keras.
"Apa benar yang di bilang Ibunya Ranti itu? Ah gila kamu, Ranti." Ucapnya lirih merebahkan tubuhnya ke senderan joknya. Menarik nafas dalam mencoba untuk mengatur nafasnya yang tidak beraturan karena kesal.
__ADS_1
Apa Erin tau kalau Ranti sudah menikah? Mereka seangkatan kan, walaupun mereka bermusuhan tapi mungkin Erin tau karena Erin sangat tidak menyukai Ranti. Biasanya orang yang tidak menyukai seseorang menjadi lebih ingin tau tentang orang yang tidak di sukainya itu.
Bersambung...