
Sore itu ketika matahari sudah mulai tenggelam dengan malu-malu, Ranti sedang mengaduk sebuah adonan di dapur. Setelah adonan itu kalis, dia menyiapkan adonan lain sebagai kulit untuk membungkus adonan yang baru dia aduk tadi. Setelah kulit adonannya selesai dia menaruh adonan isi ke tiap-tiap kulit dan mulai membungkusnya dengan menekuk keempat ujung kulitnya hingga menempel berbentuk agak kotak.
"Pantes aku cari di kasur kamu gak ada, ternyata kamu disini." Ucap seorang lelaki yang keliatannya baru saja bangun tidur siang dan langsung memeluk Ranti dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di perut Ranti dan menempelkan dagunya di bahu Ranti. "Kamu lagi apa?"
"Bikinin kamu dimsum." Jawab Ranti lembut.
"Kamu rajin banget si sayang." Ardi mengeratkan pelukannya dan mulai menghujanin Ranti dengan banyak ciuman. Dari pipi turun ke leher.
Kriiiiiiiiiiiingggggg.....
Dan mimpi indah itu tiba-tiba buyar dalam sekejap bertepatan dengan bunyi alarm yang bertengger di meja kecil sisi tempat tidurnya. Ardi terbangun kesal dengan reflek melempar jam bekernya yang walaupun sudah terjatuh keras suara alarm nya belum juga berhenti. Ardi semakin kesal mau tidak mau dia mengangkat tubuh malas nya meraih jam beker dari lantai dan memencet tombol off di sisi jam itu lalu dia taruh lagi di meja kecilnya.
"Sial! Lagi mimpi indah juga!" Dia mengucek-ngucek matanya dengan perasaan yang masih kesal. Sudah jam 5 sore, dia harus bergegas berangkat kerja.
Ardi berjalan menuju kamar mandi, setelah selesai mandi dan berpakaian seragam polisinya, dia menuju dapur. Mengambil gelas dan mengisi air minum.
"Mimpi tadi kayaknya di dapur ini. Ranti lagi bikinin gue dimsum, terus gue peluk dan cium dia. Kayaknya kita udah nikah deh di mimpi tadi." Ucapnya lirih sambil meneguk air minumnya dan membayangkan adegan dalam mimpinya di dapur itu.
Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya, masih memandang area dapur yang kosong. Kalau saja mimpi itu jadi kenyataan dia pasti sangat senang. Dia memang sudah merencanakan masa depannya dengan matang. Berusaha dengan sekuat tenaga agar cepat lulus dari Akpol nya, punya prestasi bagus, pekerjaan bagus, melamar Ranti dan menikahinya. Berharap setelah menikahi Ranti hidupnya menjadi tidak sepi dan yang pasti akan ada yang mengurus dirinya. Memasak atau menyiapkan makanan untuknya setiap kali dia berangkat kerja dan setiap kali dia pulang kerja. Diapun tidak akan memaksa Ranti untuk selalu mengurus hidupnya jika Ranti tidak mau, yang terpenting adalah Ranti bisa jadi pendamping hidupnya. Menanti dia pulang kerja setiap hari, menemaninya mengobrol dan banyak hal lainnya. Tapi sekarang yang dia rasakan hanyalah sepi.
Ardi tersenyum jengkel sambil mendengus, menyadarkan dia dari lamunannya sendiri. "Nyatanya gue sendirian. Gak tau dia lagi ngapain sekarang. Apa dia mikirin gue? Apa mungkin dia emang lagi bikin dimsum itu tapi bukan buat gue? Huft!" Ujarnya pelan. Dia merasa sudah agak sinting karena berbicara sendirian di dapur orang. Lalu dia tertawa kecil dan bergegas berangkat ke kantor.
Dia berjalan menyusuri lorong Apartement dan berdiam diri menunggu di depan pintu lift.
Ting...
Pintu lift terbuka, dia segera masuk. Ada seorang laki-laki juga di dalam lift. Tubuhnya tinggi tegap berpenampilan casual. Tanpa disadari Ardi, laki-laki itu sebenarnya agak sedikit kaget bertemu dengan Ardi namun mereka tidak saling menyapa karena hanya laki-laki itu yang mengenalnya.
__ADS_1
Tombol lift sudah menyala di lantai basement jadi Ardi tidak perlu memencetnya lagi. Dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Via, takut-takut jika nanti malam dia terlalu sibuk dan berharap besok dia masih punya cukup waktu untuk tidur sebelum bertemu.
"Halo, Kak." Sapa Via.
"Hei, Vi. Hmm.. Besok gimana lo interview jam berapa?"
Pintu lift terbuka di lantai 10, beberapa orang masuk membuat Ardi sedikit mundur dan berdiri sejajar dengan laki-laki itu. Laki-laki itu juga mempunyai pendengaran yang sangat bagus hingga mendengar suara yang sedang di telfon Ardi.
"Besok gue interview pagi, kemungkinan siang juga selesai. Gue tunggu di lobi mall aja ntar lo gak usah parkir."
"Oke. Jam 1 gue usahain sampai sana ya. Tapi lo beneran tau kan nyokap nya Ranti kerja dimana?" Tanya Ardi. Mendengar suara Ranti di sebut laki-laki itu semakin meningkatkan daya konsentrasinya untuk menguping pembicaraan mereka.
"Iya tau kok, Kak. Gue dulu suka nganterin Ranti kesana kalo Ranti lagi butuh apa gitu." Jawab Via.
"Ya udah kalo begitu. Sampe ketemu besok ya." Ucap Ardi.
"Oke, Kak." Jawab Via.
Tidak jauh dari Apartement mereka, Ardi memasuki gerbang kantor polisi cukup besar di Ibu Kota. Laki-laki itu hanya mengikutinya sampai di pinggir jalan saja lalu dia melaju lagi mobilnya menuju rumah Calvin.
**********
Dan akhirnya malam panjang di lalui juga oleh Ardi, matahari sudah mulai terbit. Mumpung masih ada waktu dia segera bergegas tidur sebentar sambil menunggu siang hari. Setelah matahari sudah semakin tinggi dan cuaca sudah mulai panas, Ardi segera bersiap untuk bertemu dengan Via. Dia melaju mobilnya menuju salah satu mall elite di ibu kota, Via sudah menunggu di lobi mall sambil duduk santai mengemut segagang permen. Ardi membuka kaca mobilnya memanggil Via sambil melambaikan tangan. Via langsung menoleh dan segera menghampiri mobil Ardi.
Suara musik beserta penyiar radio menemani perjalan mereka. Sesekali mereka bernyanyi bersama saat ada salah 1 lagu yang mereka suka. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, jalanan juga tidak begitu ramai. Akhirnya merekapun sampai di sebuah Puskesmas tempat Ibu Ranti bekerja, Ardi memarkirkan mobilnya lalu mereka segera masuk ke dalam Puskesmas.
"Permisi, Bu. Saya mau bertemu dengan Ibu Lasmi, ada?" Tanya Via kepada Ibu-ibu salah 1 pekerja receptionis.
__ADS_1
"Oh kebetulan Ibu Lasmi nya sudah pulang. Memang hari ini dia masuk ship siang tapi katanya anaknya sakit jadi tiba-tiba aja izin pulang. Coba aja kerumahnya, Mbak. Ini Mbaknya siapa nya Ibu Lasmi?" Tanya receptionis itu.
"Saya keponakannya, Bu. Ohh gitu, ya udah saya kerumahnya aja kalau gitu, Bu."
"Iya, Mbak. Kayaknya belum lama sih pulangnya, di jemput tadi sama saudaranya."
"Dijemput sodaranya? Siapa ya, Bu?"
"Saya juga kurang tau, Mbak. Pokoknya tadi sama Bapak-bapak gitu katanya saudaranya."
"Ya udah makasih ya, Bu." Ucap Via.
"Sama-sama, Mbak." Jawab Ibu-ibu petugas receptionis itu.
Lalu mereka keluar dan langsung memasuki mobil. Mobil itu belum berjalan, mereka masih hanya diam berfikir.
"Gue kayaknya tau siapa yang dimaksud saudaranya itu. Orang yang kayak preman gitu yang suka gue liat ada dirumahnya Ranti." Kata Ardi.
"Iya kali ya. Gue juga agak bingung sih kalo ada sodaranya jemput, setau gue saudara-saudaranya Ranti tu gak pada deket." Ujar Via.
"Coba kita kerumahnya aja deh. Gue penasaran banget!" Via mengangguk setuju lalu Ardi melaju mobilnya menuju rumah Ranti.
"Parkir disitu aja, Kak. Biar gampang keluarnya." Ardi memarkirkan mobilnya ke minimarket yang pernah ia titipkan mobilnya dulu. "Kak, saran gue mending lo disini aja. Biar gue aja yang kerumahnya."
"Tapi, Vi--"
"Gue gak mau ada keributan, Kak. Mas Anto dan Ayahnya Ranti itu kan orangnya reseh banget, mungkin kalo sama gue mereka bisa maklum tapi sama lo bisa-bisa kita bakal langsung di usir." Ujar Via. Ardi diam sejenak lalu dia setuju. Alasan Via memang masuk akal dari pada pencarian ini menjadi sia-sia.
__ADS_1
"Oke deh, Vi." Ucap Ardi. Via keluar dari mobil dan berjalan kaki menuju rumah Ranti.
Bersambung...