
Malam itu Ardi memutuskan untuk izin dari jadwal piketnya. Dia merasa kesal pada Via yang tiba-tiba berubah, mungkin dengan izin dari jadwal piketnya dia bisa meredam emosinya. Sekarang diapun tidak tau harus kemana. Dia memutar arah mobilnya menuju rumah Ranti lagi namun bukan untuk kerumah Ranti melainkan ke tempat terakhir pertemuan mereka. Taman di kawasan daerah rumah Rantilah tujuannya. Dia berhenti di halaman parkir taman, taman itu sepi walaupun lampu-lampunya menerangi namun hanya beberapa orang saja yang sedang duduk-duduk sambil mengobrol dengan pacar atau teman-temannya.
Di sekitar taman terdapat sebuah minimarket, Ardi memasuki minimarket itu. Dia membeli sebungkus keripik jagung dan beberapa kaleng beer dengan alkohol rendah namun mungkin bisa meredam emosi yang dia rasakan saat ini.
Setelah membayar semua belanjaannya diapun masuk ke dalam mobilnya lagi. Memilih untuk bersantai di dalam mobilnya, memakan cemilannya dan meneguk beer kalengnya sambil melamun dan sesekali memain-mainkan ponselnya. Beer ini rendah alkohol tapi mampu membuat kepala agak sedikit plong dan ringan, tidak terasa 3 kaleng beer nya sudah kosong. Dia melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukan jam 10 malam, sudah lumayan malam. Jika saja dia di kantor dia pasti lagi sibuk membereskan beberapa kasus kecil seperti pelajar atau anak kaula muda yang harus di seret menginap ke dalam sel karena mabuk atau sekedar pacaran di pinggir jalan yang gelap.
Mikir-mikir tentang kasus receh anak muda, matanya mendadak terfokuskan dengan sepasang anak muda yang lagi asik berciuman di bawah pohon rindang. Karena pohon it rindang dengan batang pohon serabutan serta daun-daun yang lebat, membuat cahaya lampu taman menjadi remang-remang menyinari posisi pasangan itu. Mereka duduk di atas dudukan pot besar pohon rindang itu, saling berpelukan dan curi-curi kesempatan untuk saling berciuman. Ardi jengkel melihatnya, ingin sekali dia menghampiri pasangan itu dan menggiringnya ke sel tapi tidak mungkin juga dengan keadaannya sekarang. Pakaian casual santai dan habis meminum beer kalengan, aroma beer itu juga pasti meninggalkan bekas di mulutnya.
Melihat sepasang orang pacaran itu membuat Ardi semakin jengkel sampai mual ingin muntah. Dia tidak bisa melakukan apapun untuk melerai pasangan itu, jadi dia menyalakan mesin mobil dan lampu sorot mobilnya terang-terangan ke arah sepasang orang itu. 2 orang itu kaget sambil menoleh ke arah lampu mobil Ardi, menutupi matanya dengan tangannya karena silau. Lalu Ardi menekan klakson mobilnya dan diapun segera pergi sambil tertawa terbahak-bahak sendiri.
Dia melaju mobilnya pelan karena kepalanya sudah mulai pusing, dia mengarah mobilnya menuju rumah karena jarak rumah Ranti dan rumah tidak terlalu jauh tapi juga tidak terlalu dekat. Fikirnya dari pada dia pulang ke Apartement Arif, dia pasti akan di hujani oleh pertanyaan dan pasti Arif juga akan sedikit memarahinya hanya karena Ranti dia sampai mengorbankan pekerjaannya.
Akhirnya Ardi sampai di rumahnya, dia segera membuka pintu gerbang rumahnya. Untungnya dia selalu membawa kunci rumah karena di gantung menyatu dengan gantungan kunci mobil. Sebelum turun dia meneguk habis sisa beer kalengnya yang ke 5 dan diapun berjalan masuk kedalam rumah. Rumah sudah gelap karena waktu sudah jam 12 malam, orang rumah pasti sudah pada tidur. Dia menuju dapur untuk mengambil minum dan terkejut saat bertemu dengan Eriska. Eriskapun kaget sampai-sampai tidak sengaja menumpahkan air minum dari gelas yang sedang dia pegang.
"Ya ampun Kak Ardi, ngagetin banget sih." Ujar Eriska dengan kaget. "Maaf Kak, aku gak sengaja." Melas Eriska. Ardi hanya diam dan cuek sambil mengambil gelas dan menuang air dingin dari kulkas lalu meneguknya sampai habis. "Haus banget ya Kak? Kok Kak Ardi tumben pulang malem-malem gini?"
"Iya. Kamu lagi nginep? Ngapain disini sendirian?" Tanya Ardi santai.
"Iya aku lagi nginep, aku di tinggal tidur sama Erin dan aku haus jadi aku ambil minum sendiri. Mama Papa Kak Ardi kan lagi ke Surabaya, jadi Erin minta aku nginep."
__ADS_1
"Oh ya? Gue malah gak tau kalo nyokap bokap gue lagi keluar kota." Ucap Ardi lalu dia berbalik untuk pergi ke kamar namun kepalanya terasa pusing.
Eriska yang melihat cowok kesukaannya mau jatuh, buru-buru dia pegangi.
"Kak Ardi kenapa? Sakit ya?" Tanya Eriska khawatir.
"Gak, gak papa kok gue, cuma sedikit pusing."
"Udah gak papa, Kak aku bantu ya. Aku juga mau elapin Kakak karna ketumpahan air minum ku." Eriska melingkarkan tangan Ardi ke pundaknya dan berjalan sambil memapah tubuh Ardi.
Ardi ingin menolaknya tapi dia biarkan saja, gak ada salahnya membiarkan Eriska seperti ini walaupun sebenarnya dia tidak apa-apa hanya sedikit pusing dan masih sangat kuat untuk berjalan sendiri. Eriska memapah Ardi sampai kedalam kamar, mendudukan Ardi di bibir tempat tidur lalu dia mengambil tisu yang ada di atas meja kerja Ardi dan mengelap-elap baju Ardi yang terkena airnya tadi.
Tangan Ardi tiba-tiba meraih tangan Eriska hingga Eriska berhenti, sejenak mereka saling pandang.
Eriska cantik juga kalo di liat-liat, mau tidur aja dia wangi. Rambutnya ikal dan pirang, bandana yang ada di atas kepala nya juga bikin dia jadi imut. Ucap Ardi dalam hati.
Reflek, Ardi pun menarik tangan Eriska hingga duduk di pangkuannya. Eriska sangat terkejut dan semakin terkejut saat Ardi mendaratkan ciuman di bibirnya. Awalnya hanya menepel lalu Eriska membuka bibirnya siap menyambut ciuman lembut Ardi. Eriska memejamkan matanya menikmati setiap gerakan bibir Ardi, melingkarkan kedua tangannya di leher Ardi dan Ardi melingkarkan kedua tangannya di pinggangnya Eriska. Mereka terhanyut dalam ciuman sampai-sampai Ardi mulai menjatuhkan tubuh Eriska ke atas tempat tidurnya, menindihinya bahkan kedua tangannya sudah tidak bisa dia kendalikan lagi, meraba setiap lekuk tubuh Eriska, menghirup aroma tubuh Eriska dari leher hingga ke dada.
Perasaan Eriska sungguh senang dengan apa yang Ardi lakukan padanya sekarang, dia tidak berfikir apa-apa lagi bahkan berani melepaskan baju Ardi. One step closer, one step closer, kalo ini bisa bikin gue jadian sama Ardi kenapa nggak? fikirnya.
__ADS_1
Ardi melepaskan pakaian tidur Eriska, masih bercumbu di atas tempat tidurnya. Dia hanya ingin melepas penat dan emosinya saja malam ini, melakukannya dengan Eriska mungkin bisa membantunya untuk melupakan Ranti sementara. Walaupun ini yang pertama kalinya, dia tidak keberatan, toh kelihatannya Eriska juga tidak keberatan dan sangat menikmatinya. Bibir mereka mengeluarkan bunyi desahan, Ardi semakin ganas mencium bibir Eriska. Tubuh merekapun sudah saling bergairah tinggal sedikit lagi Ardi melakukannya, tapi saat Ardi menatap wajah Eriska yang polos itu tiba-tiba saja tubuhnya reflek, berhenti dari aktivitas liarnya. Dia bangkit dan duduk di samping Eriska tidak tega untuk melanjutkan.
Eriska bingung lalu ikut bangkit dan duduk, dia memeluk tubuh Ardi dari belakang, menciumi punggung Ardi. "Kenapa, Kak? Kok berhenti?" Tanyanya sambil mengelus-elus kulit Ardi.
Ardi menarik nafas panjang, dia baru sadar apa yang dia lakukan ini salah, sangat salah. Melampiaskan emosinya pada perempuan lain yang adalah musuh dari pacarnya sendiri dan sahabat dari adiknya sendiri. Perempuan ini tidak ada salah, tidak tau apa-apa, tidak pantas hanya menjadi pelampiasan nya saja."Maaf, Eriska. Aku gak bermaksud maksa kamu kaya gini." Ucap Ardi.
"Nggak kok, Kak. Kakak gak maksa aku sama sekali, aku seneng banget malah. Aku gak papa kok, Kak. Yaa walaupun ini yang pertama kalinya buat aku jadi mungkin aku sedikit kaku." Eriska berkata dengan malu-malu.
Ardi terkekeh jengkel. "Justru karena ini pertama kalinya buat kamu, pertama kalinya kamu ini gak pantas kamu kasih ke aku, Er."
"Aku gak papa, Kak. Kak Ardi tau kan aku cinta banget sama Kak Ardi dari dulu, aku pengen pertama kalinya aku ini ya untuk Kak Ardi. Walaupun mungkin ini bukan yang pertama kali nya untuk Kakak." Eriska memelas membayangkan jika sebelumnya mungkin Ardi sudah pernah melakukannya dengan Ranti. Mengingat Ranti membuat Eriska kesal, apa hebatnya Ranti sampai Kak Ardi tergila-gila sama dia? Bahkan sudah sedikit lagi mereka melakukannya tiba-tiba saja Ardi bisa berhenti. Apa Ranti tidak sepolos yang dilihatnya? Bisa menggoda Ardi hingga Ardi cinta mati sama dia.
Ini juga pertama kali nya untuk aku, Er. Ujar Ardi dalam hati. Namun dia tidak mengucapkannya secara langsung, biarlah Eriska bermain dengan pikirannya sendiri. Dia pasti berfikir kalau dia sudah melakukannya dengan Ranti. Ardi tidak peduli.
"Maaf, Er, aku gak bisa, maaf. Sebelum ada yang tau sama kelakuan kita ini, kamu pake baju ya." Ujarnya.
Eriska menangis sambil memakai baju tidurnya lagi, dia merasa malu, dia merasa terhina dan dia merasa murah. Bisa-bisanya situasi seperti ini dia masih juga di tolak. Lalu Eriska keluar dari kamar Ardi dan masuk ke kamar Erin. Dia tidur di sebelah Erin yang sudah terlelap. Dalam gelap dia menyumpah-nyumpahi Ranti, semakin kesal dan bencinya dia dengan Ranti.
Ardi merebahkan tubuhnya di kasur, dia merasa sangat bersalah pada Eriska. Apa yang dia lakukan tadi itu sangat dia sesali. Sekarang dia tau pasti perasaan Eriska sangat terluka dengan penolakannya yang padahal Eriska sudah sangat siap memberikan mahkota hidupnya untuknya. Lalu tunggu apa lagi? Ardi hanya merasa belum siap melakukannya bersama wanita lain, hatinya masih berharap Ranti walaupun harapannya hanyalah setipis kapas.
__ADS_1
Dia memikirkan hari esok bagaiman jika mereka bertemu besok? Ardi benar-benar merasa tidak enak pada Eriska, bagaimanapun juga Eriska adalah sahabatnya Erin. Kalau Erin sampai tau bagaimana dia bisa menampakan wajahnya ini pada adiknya sendiri? Diapun masih punya malu. Fikiran itu membuat kepalanya semakin pusing, lalu tanpa berfikir apa-apa lagi Ardi pun memejamkan matanya dan tidur.
Bersambung...