
Setelah selesai mandi dan berpakaian cukup rapih, Calvin menghampiri Ranti untuk sarapan. "Kamu rapih, mau kemana?" Tanya Ranti sembari makan dengan tv menyala dihadapannya. Calvin duduk di sofa sebelah Ranti dan mulai memakan roti sandwitchnya.
"Vin, mau kemana?" Tanya Ranti lagi menatap Calvin yang asyik mengunyah makanannya.
"Ada urusan sayang sama Rico." Jawab Calvin dengan mulut penuh makanan. "Kamu sekarang jadi banyak tanya ya?"
Ranti tersenyum tipis. "Kamu lebih suka aku pendiam ya?"
"Nooo.. Jangan jadi pendiam kayak dulu lagi. Aku seperti menikah sama patung." Sahut Calvin sambil mengusap lembut lengan Ranti dengan tangannya yang bebas dari roti.
"Masakan Bi Tuti enak-enak ya. Aku suka setiap makanan yang Bi Tuti masak. Apa dia dulunya koki?" Ranti bertanya namun Calvin malas untuk menjawab karena menurutnya itu bukan pertanyaan penting. "Calvin." Sebal Ranti.
"Kamu kenapa nggak tanya sendiri aja ke Bi Tuti? Kalian bukannya sudah cukup dekat?"
Setahun lebih Ranti hidup bersama Calvin di ruangan minim ini membuat Ranti terbiasa dengan sikap Calvin yang seperti malas bila di berikan pertanyaan yang menurutnya tidak penting. Ranti cukup paham mungkin karena Bi Tuti hanya seorang pembantu disini, Calvin merasa segala informasi tentang Bi Tuti tidak penting baginya. Ranti pun tidak banyak bertanya lagi dan bergumam dalam hati. Kenapa dia tidak bertanya langsung saja pada Bi Tuti, lagipula mereka bisa mengobrol jadi hari-harinya tidak terlalu bosan hanya tinggal di kamar ini saja.
Calvin sudah menghabiskan sarapannya, dia meneguk habis susu putihnya lalu bangkit berdiri.
"Sudah mau pergi?"
"Belum, ke bawah dulu sama Rico. Habisin sarapannya ya, kamu makan dari tadi sebelum aku tapi lihat sandwitch kamu belum habis juga. Katanya enak? Tapi kamu makannya nggak kelihatan nafsu." UCap Calvin dengan tatapan selidik yang membuat Ranti masih sedikit merasa gugup.
"Karena rasanya enak aku jadi sayang mau ngabisinnya, Vin." Jawabnya buru-buru.
"Oh. Apapun yang ingin kamu makan kamu boleh minta ke Bi Tuti ya. Aku suka kalau kamu banyak makan gitu." Calvi mengecup pucuk kepala Ranti dengan lembut lalu bergegas keluar namun tidak lama dia balik lagi ke dalam menghampiri Ranti karena merasa ada yang tertinggal.
"Apa ada yang ketinggalan?"
Calvin duduk lagi di sebelah Ranti lalu mencium lembut bibir istrinya. "Ini yang ketinggalan. Aku belum cium bibir kamu." Jawabnya. Ranti meraih wajah Calvin dan mencium balik bibir Calvin. Mereka berciuman agak lama, Ranti menaikan tubuhnya keatas pangkuan Calvin masih sambil mencium bibir Calvin dengan ritme yang lebih dalam.
Dalam hati Ranti bergelora tidak mengerti mengapa dia menjadi liar seperti ini. Bahkan dia sudah ingin melepaskan semua pakaiannya. Akhirnya Rantipun melepaskan kausnya dan mencium bibir Calvin lagi sambil meraih perekat bra nya agar terlepas dari tubuhnya. Dan Rantipun sudah bertelanjang badan. Calvin melihat sikap Ranti takjub.
"Sayang, aku lagi ada urusan penting lho. Aku bilang kan nanti kita lanjut lagi." Ucap Calvin namun diapun sudah tidak tahan melihat pemandangan indah dihadapannya itu sambil berusaha membuka hotpants jeans Ranti.
Tok.. Tok..
Pintu diketuk. "Bos, Rico sudah nunggu dari tadi di ruang kerja, Bos." Kata Egil dari balik pintu kamar.
"Wait, Beib." Menurunkan Ranti dari pangkuannya dang membuka pintu sedikit, mengeluarkan kepalanya dari balik pintu.
__ADS_1
"Suruh tunggu dulu." Perintahnya. Egil mengerti dan setelah pintu tertutup berjalan santai sambilng menggeleng geli.
"Si Bos bener-bener lagi dimabuk cinta. ckckckck" Gumam Egil lucu.
"Calvin melucuti seluruh pakaiannya dan menghampiri Ranti di sofa. Dia duduk dan Ranti duduk dipangkuannya lagi. Dia ingin mencoba gaya yang Inez berikan padanya. Kalau Calvin memang suka gaya ini maka dia harus bisa lihai dalam gaya ini.
"Aku di ajari Inez cara ini. Terus aku harus gimana lagi?" Ranti bingung mencoba menggerakan pinggulnya namun kesulitan karena terlalu kaku dan belum terbiasa.
Calvin tergelak mencoba memandu pinggul Ranti untuk bergoyang maju mundur. Ranti menurut dan mengikuti panduan Calvin. Lalu Calvin memandu pinggulnya untuk turun naik dan Rantipun mengikuti panduannya lagi. Calvin memandunya lagi untuk bergoyang memutar, Ranti sedikit malu namun dia berusaha untuk mengikuti keinginan Calvin. Ingat pesan Inez, suaminya adalah penjahat, banyak uang dan banyak wanita yang antri untuk bersamanya. Dia tidak mau bernasib menjadi sampah yang akan dibuang oleh Calvin.
"Yes.. Thats right baby." Desah Calvin memeluk tubuh Ranti sambil menghisap ganas kedua gundukan Ranti bergantiang. Ranti mulai terbiasa dan lumayan lancar dengan panduan Calvin tadi, tangan Calvin sudah liar kemana-mana.
Akhirnya mereka sampai pada puncaknya, Ranti rubuh di tubuh Calvin. "Emang bener yah kalo ini gaya kesukaan kamu?"
"Kata siapa sih?"
"Inez yang bilang." Calvin diam dan malas menjawab menurutnya apapun perkataan Inez tidak ada pentingnya.
"Jawab dong, bener atau nggak?"
"Nggak juga. Semua gaya sama kamu aku suka." Calvin mulai bangkit mengangkat tubuh Ranti ke dalam kamar mandi. Calvin membersihkan tubuhnya namun Ranti hanya diam berdiri di sudut kamar mandi.
"Apa?"
"Apa kamu pernah tidur sama Inez?" Tanya Ranti penasaran. Dalam hatinya berkecamuk ingin tau, was-was dengan jawaban Calvin.
"Hah? Prtanyaan kamu aneh-aneh aja." Jawabnya santai mengelap tubuhnya dengan handuk.
"Calvin!"
"Ya Tuhan, kamu apa-apaan sih?"
"Berarti bener ya?" Tanya Ranti murung.
"Hei." Sahut Calvin. mendekati Ranti. "Aku nggak pernah tidur sama Inez." Katanya lembut.
Ranti mengangkat kepalanya menatap Calvin. "Bener?" Calvin mengangguk dan tersenyum.
"Sekarang kamu bersih-bersih. Aku langsung pergi ya." Calvin mengecup pipi Ranti dan segera berpakaian.
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Ranti berpakaian dan segera keluar dari ruang pakaiannya. Terasa angin berhembus dari samping ruangan. Dia segera menoleh ke sumber angin tersebut. Jendela kamar terbuka agak lebar.
"Lho ini jendela bisa ke buka ya? Perasaan tadi ketutup." Ucapnya sambil melihat-lihat keluar jendela. "Apa Calvin yang buka? Nggak mungkin deh, dia kan takut banget kalo aku kabur lagi." Ucapnya lagi.
Ranti ingin segera menutup jendela itu namun angin sepoi-sepoi menggodanya untuk keluar dari kamar. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dan melihat-lihat ke sudut rumah. Letak kamarnya di atas kamarnya dulu namun dia melihat kesekeliling rumah itu di sebelah kanan ada sebuah rumah kecil dan ada banyak orang pekerja disana.
Ranti menarik nafas dalam menikmati setiap udara yang dia hirup. "Enak banget sih anginnya."
Namun tiba-tiba seseorang menyekap Ranti dari belakang tubuhnya, menutup hidung dan mulutnya dengan sebuah kain dan menarik paksa Ranti ke dalam. Ranti meronta mencoba melepaskan sekapan orang itu.
"Ssssshhhh!!! Jangan teriak." Ucap orang itu yang merupakan suara seorang wanita dengan nada bicara yang kaku. "Saya tidak akan menyakiti kamu." Sambil melepaskan sekapannya. Ranti terengah.
"Kamu siapa?" Tanya Ranti getir. Dia bingung ingin teriak namun sepertinya orang itu tidak berbahaya.
"Saya adalah orang suruhan Ibunya Calvin. Saya kesini untuk kasih ini." Wanita bule itu menyerahkan sepucuk surat. Namun belum sempat Ranti terima, wanita itu sudah menaruh surat itu di bawah bantal tidurnya. "Jangan sampai ada yang tau, termasuk Calvin." Ranti hanya mengangguk memperhatikan wanita itu.
Wanita itu berparas bule, rambutnya pendek di atas bahu berwarna coklat dengan riasan natural namun dengan warna bibir yang merona. Penampilan sudah seperti penyusup di film-film dengan pakaian yang serba hitam. Ranti masih memikirkan bagaimana caranya wanita ini bisa masuk ke dalam rumah besar yang penuh dengan penjagaaan ketat ini? Pasti wanita ini bukan orang sembarangan dan sudah terlatih.
"Saya butuh bantuan kamu."
"Apa?" Tanya Ranti bingung. Jangankan membantu orang, membantu dirinya sendiripun dia tidak akan pernah bisa dirumah ini.
"Saya butuh kamu sebagai sandera." Wanita itu langsung menyekap leher Ranti dengan sebuah pisau lipat yang tidak tau bagaimana caranya dirinya sudah di dalam sekapan wanita itu. "Ikuti saja yang saya mau, saya janji saya tidak akan menyakiti kamu." Ucapnya lagi sambil menggiring Ranti keluar kamar.
"Buka." Perintahnya. Ranti ragu dia tidak yakin bisa membuka pintu ini karena dia tau pintu itu terkunci dari luar.
"Aku nggak bisa buka, ada penjaga diluar yang selalu mengunci pintu ini dari luar." Ucap Ranti was-was.
"Astaga, stupid girl! Scream!" Ucap wanita itu kesal.
"Kamu ngomong apa sih?"
"GOD! deservedly I was forced to learn Indonesian, huft!" Dengus wanita itu. "Teriak!"
"Oh. Iya." Jawab Ranti lalu tapi bukannya teriak dia hanya mengetuk pintu bertubi-tubi. "Egil. Tolong buka pintunya!"
Pintu terbuka, wanita itu langsung menendang tubuh Egil dengan kencang hinggan terjeblak ke dinding. Egil terlihat mengerang sakit dan kaget saat melihat Bu Bos nya di sekap seseorang.
"Mundur! Jangan macam-macam jika tidak mau dia terluka!" Ancam wanita itu. Egil terdiam hanya menurut, takut Bu Bos nya terluka. Lalu dengan sebelah tangannya dia menembak salah satu kaki Egil. Egil jatuh tersungkur menahan sakit dan berusaha meraih walkie-talking nya sambil memperhatikan wanita itu menggiring Ranti menjauh.
__ADS_1