
Mobil berhenti di halaman depan pintu utama rumah mewah itu. Pintu mobil bergeser terbuka dan Ranti segera turun dari mobil sebelum Calvin membantunya. Ada sekiranya 6 pelayan yang sudah bersiap menyambut kedatangan mereka, pelayan itu semuanya wanita dan pastinya ada Bi Tuti juga berdiri paling depan di antara pelayan-pelayan itu.
Calvin sudah siap untuk menggendong Ranti tapi cepat-cepat Ranti menolaknya karena malu pada semua orang yang ada di rumah ini walaupun mereka hanya pekerja.
"Gak usah, Bos. Aku masih bisa jalan sendiri, trima kasih." Ucap Ranti. Calvin diam dan mereka berjalan memasuki rumah.
Ini saatnya Ranti melihat sekeliling rumah, secepatnya ia harus bisa kabur dari sini sebelum dia akan hmmm hamil. Setelah menaiki anak tangga di teras rumah mereka masuk kedalam rumah, rumah itu megah sekali ruang tamu yang luas dengan dekorasi keemasan yang begitu sempurna. melewati ruang tamu terdapat tangga menjuntai dari pinggir ruangan melingkar hampir ketengah, di sebelah kanan tangga ada ruangan lagi dengan sofa yang terlihat nyaman dan karena mereka berjalan begitu cepat Ranti tidak terlalu bisa memperhatikan perabotan yang ada. Dia hanya fokus dengan kemungkinan adanya cela untuknya bisa kabur dari rumah itu, mereka berbelok ke kiri kamar yang menurutnya adalah kamar berdarah untuknya ia bersumpah ingin sekali melupakan malam kelam itu tapi mulai hari ini ia akan merasakan malam-malam seperti itu lagi di kamar ini.
Bi Tuti membukakan pintu kamar, Calvin dan Ranti masuk diikuti oleh Bi Tuti dan Inez.
"Air hangat sudah siap, non di bathup kalo aja non Ranti mau mandi." Ucap Bi Tuti. Ranti hanya menggeleng dan memaksakan senyuman.
"Ayo masuk sini, Ran." Ajak Inez memasuki ruang pakaian yang berada di ujung kamar.
Ruang pakaian itu sekarang isinya lebih banyak dengan pakaian-pakaian wanita tergantung dan terlipat rapih di rak-rakan.
"Ini baju-baju lo, Ran. Lihat! Semuanya bagus-bagus gue semua yang pilih."
"Oh.. Makasih, ya." Mengeluarkan kata makasih dengan terpaksa.
"Ini dress-dress yang bisa lo pake sehari-hari." Inez menunjuk pakaian yang tergantung rapih. Dilihat Ranti pakaian sehari-harinya rata-rata tanpa lengan dan dia bisa mengira-ngira dress itu di atas lututnya, itu terlalu terbuka. Ucap Ranti dalam hati.
"Yang ini kaus-kaus santai, hotpans santai, ada legging juga. Ini lemari yang isinya pakaian dalam dan baju tidur lo." Inez menunjukan sebuah lemari kecil di sudut rak pakaian Ranti.
Ranti agak bingung karena yang dibilang Inez lemari kecil itu menurutnya besar karena seukuran dengan lemari baju Hito dirumahnya. Tiba-tiba memikirkan Hito ia jadi kangen pada adik kesayangannya itu.
"Liat, deh! Ini semua baju tidur yang wajib lo harus pake tiap malam ya. Ini perintah si Bos!" Inez meminta Ranti untuk menghampirinya dan melihat pakaian tidurnya.
Betapa Ranti kaget saat melihat pakaian-pakaian tidurnya itu amat sangat mini. Ranti mengambil 1 pakaian tidurnya dengan kerah renda dan hanya seuntas tali tipis di bagian pundaknya, Ranti mendekatkan pakaian itu ke tubuhnya dan berkaca.
Astaga ini terbuka dan mini banget. Kalo aku pake ini gak sampe sepaha tapi cuma sampai di bawah perutku aja, ini pendek banget aku udah kaya gak pake celana. Keluh Ranti dalam hatinya terkejut.
__ADS_1
Melihat Ranti melongo seperti itu membuat Inez tergelak di belakangnya, ia tau apa yang dipikirkan Ranti dengan pakaian tidurnya itu. Ranti pasti kaget dan risih karena orang kampung seperti Ranti mana mungkin pernah tidur dengan pakaian seperti itu. Inez menggenggam pundak Ranti, sedikit menunduk karena tubuhnya yang lebih tinggi dari Ranti. Dia berusaha menenangkan Ranti.
"Nanti juga lo akan terbiasa, Ran. Percaya deh, sekarang yang harus lo lakuin adalah bikin Calvin senang. Tau kan apa yang bikin laki-laki senang?" Ines mengedipkan sebelah matanya menatap Ranti lewat cermin besar.
Ranti merinding dengan apa yang Inez ucapkan. Ia tau jelas apa yang bikin Calvin senang, tapi masalahnya dia tidak bisa, dia tidak bisa melakukannya lagi, dia tidak sanggup. Bagaimana mungkin melakukan hal seperti itu dengan terpaksa, terlebih pada laki-laki yang ia tidak suka bahkan laki-laki yang dia sangat benci.
Inez keluar, tinggal ah Ranti seorang diri di dalam ruang pakaian itu. Ia mematung di depan cermin dengan pakaian tidurnya yang masih ia pegang. Dia bingung, dia takut dan dia tidak tau harus berbuat apa. Calvin pasti di ranjang sedang menunggunya, tapi dia belum bisa, dia belum siap.
Ya Tuhan, tolonglah aku. Isak Ranti air mata mulai mengalir ke pipinya.
"Ranti." Panggil Calvin.
Cepat-cepat ia mengelap air matanya. "Iya." Jawab Ranti.
"Kamu lagi apa? Ayo cepat kesini."
Ranti masih diam mematung, takut dengan apa yang akan menimpanya sekarang. Dia menghela nafas dalam dan keluar menghampiri Calvin.
Dipandangi wajah cantik Ranti yang sendu, sesekali ia mengelus wajah Ranti dan menyelipkan rambut Ranti kebelakang telinga Ranti tanpa senyum sedikitpun. Calvin melepaskan cardigan Ranti, mengelus kulit lengan Ranti, sekejap Ranti merinding dan khawatir jika Calvin akan melakukannya lagi.
"Kamu kenapa lama sekali di dalam sana?" Tanya Calvin datar, tatapannya dingin membuat Ranti merinding.
"G--gak papa, Bos." Gugup Ranti.
Tiba-tiba Calvin meraih rambut Ranti dan mendaratkan bibirnya di bibir mungil Ranti. Ia melumat habis bibir Ranti, Ranti pasrah tidak membalas ciuman Calvin hanya diam menerima apa yang bibir Calvin mau. Calvin terus mencium bibir Ranti dengan kasar seolah ingin memakannya, dia mendekap tubuh Ranti dengan erat.
Demi apapun gua bener-bener jatuh cinta sama gadis ini. Ucap Calvin dalam hati. Rasanya ia ingin melumat dan menelan habis bibir mungil Ranti, dekapannya semakin kencan membuat Ranti sulit untuk bernafas.
Akhirnya Calvin melepaskan bibirnya, sambil terengah menempelkan keningnya ke kening Ranti.
"Aku pergi dulu, kamu istirahat ya. Jangan lupa makan, nanti Bi Tuti yang anter makan malammu. Kalo perlu apa-apa kamu cukup ketuk pintu kamar, nanti Egil datang." Ucap Calvin dengan nada dingin. Ranti hanya mengangguk. "Atau kamu bisa pakai telfon untuk telfon Bi Tuti kalo kamu perlu apapun." Calvin menunjuk telfon rumah yang berada di atas meja sudut kamar.
__ADS_1
Lalu Calvin bangkit dan pergi dari kamar, Ranti menarik nafas lega saat Calvin pergi. Hal yang dia takuti ternyata tidak terjadi, mungkin saja belum karena masih banyak waktu. Ranti melihat jam dinding, waktu baru menunjukan pukul 3 sore. Dia merasa kenapa waktu berjalan amat sangat lambat, dengan hati bersebar ia merebahkan tubuhnya di ranjang dan tidur.
Suara pintu terbuka membuat Ranti terbangun dari tidurnya. Bi Tuti dengan nampan berisi makanan datang menghampiri Ranti.
"Ini makan malamnya, non." Bi Tuti menyerahkan makan malam Ranti sambil membantu Ranti untuk bangun bersender di ranjang.
"Ini udah jam berapa, Bi?"
"Jam 8, non. Maaf makan malamnya telat, tadi Bibi udah kesini jam 6 dan jam 7 tapi non Ranti kayaknya pules tidur, Bibi gak tega banguninnya."
"Jam 8, Bi? Lama banget aku tidur dari jam 3 sore tadi."
"Gak apa-apa, non supaya cepet pulih jadi harus banyak istirahat."
"Makasih, Bi. Tapi sekarang aku gak lapar."
"Dimakan, non. Sedikit aja, supaya bisa minum obatnya."
Ranti menatap makanan di hadapannya, melihat makanan selezat itu tidak membuat nafsu makan Ranti membaik. Dia mencoba untuk menyuap makanan ke mulutnya, rasanya memang enak. Nasi, tumisan brokoli dengan jagung dan daging ayam tanpa tulang yang entah bagaimana Bi Tuti masaknya bisa seenak itu.
"Udah, Bi." Ranti menyisakan banyak makanannya, walaupun makanan itu rasanya sangat lezat tapi ia tidak bisa menelannya.
Bi Tuti memberikan air putih dan beberapa obat untuk Ranti minum. Setelah memastikan Ranti meminum semua obatnya Bi Tuti akhirnya pamit keluar kamar.
Ranti menatap lama telfon kamar di sudut ruangan, menimang-nimang apakah bisa dia pakai untuk menelfon Ardi. Semoga Ardi bisa menolongnya, cuma Ardi yang bisa di harapkan saat ini. Lalu Ranti bangkit dari kasur nya mengangangkat gagang telfon dan menekan tombol nomer Ardi.
Tuuuuuuttt.....
Tersambung. Pekiknya dalam hati tidak sabar untuk segera mendengar suara Ardi dan segera meminta tolong Ardi untuk menyelamatkannya. Hatinya berdebar tidak sabar dan Ardi mengangkat telfonnya.
"Halooo..." Sahut Ardi.
__ADS_1
Bersambung....