
Mataku ini sudah bermasalah jika membaca seperti diguncang tornado bisa-bisa bukan hanya minus ini mata tapi juling sekaligus batin dad Ferdi menjerit.
Dengan kesal dad Ferdi menutup koran yang ia buka dan berganti menyesap tehnya.
Mom Luna seakan tuli dengan protes suaminya ia lebih menghawatirkan buah hatinya serta menantu gesreknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yang ditunggu dengan tidak tau dirinya sibuk menyantap makanan yang menggairahkan sedangkan yang menunggu hampir terjadi kiamat kubro.
"Mom jika tidak duduk papi akan tempel mom di post satpam !!" kesal dad Ferdi melihat sang istri yang sejak tadi tidak enak diam.
Mom Luna yang mendengar perintah tegas sang suami disertai sorot mata tajamnya langsung diam ditempat. Otaknya langsung traveling membayangkan dirinya menjadi patung selamat datang. Mom Luna langsung bergidik ngeri membayangkan.
Aku ragu dia mencintaiku atau tidak selalu saja mengintimidasi batin mom Luna menjerit.
Pasokan udara di sekitarnya seakan-akan ikut berhenti, dadanya serasa sesak, kaki yang sedari tadi sibuk melangkah bahkan untuk kembali menghampiri sang suami tak ingin.
"Mom duduk dengan cara mom sendiri atau cara daddy ?!" seru daddy Ferdi masih mengintimidasi.
Mom Luna tanpa menjawab buru-buru duduk cantik di samping dad Ferdi. Jangan lupakan bibirnya yang masih monyong 5 cm.
Untung tampan dan kaya jika tidak bisa-bisa aku tua sebelum waktunya !! gemuruh mom Luna tentu saja dalam hati.
Sementara disana Anna sedang makan dengan begitu lahapnya bahkan ia masih menambah lagi.
"Anda makan seperti tidak makan 40 hari saja !!" protes Nino.
Bagaimana tidak protes disaat Alvaro, Nino, Satu, dan Dua sudah selesai makan Anna masih belum selesai juga.
"Kau tak tau saja orang tersakiti butuh tenaga lebih!!" Anna mencibir masih dengan kegiatan makannya.
"Cih dramamu kakak ipar seperti drama istri di ikan terbang terus nyungsep !!" Nino masih menimpali.
Sayang-sayang !! begitu saja kau kalang kabut batin Alvaro tertawa keras.
Ini semua karena kakak iparmu mendiamkanku !! batin Anna menjerit histeris. Ia bahkan hampir depresot karena Alvaro diam seperti orang tunarungu.
"Nyonya sebaiknya cepat selesaikan makannya ! takut nyonya besar hawatir !!" Satu berucap.
"Iya nyonya seharusnya 2 jam yang lalu kita sudah di mansion!" Dua melanjutkan masih dengan melirik jam tangannya.
Gubrak ...
__ADS_1
Suara pukulan Anna dimeja membuat tsunami lokal di meja tersebut bahkan hampir menjatuhkan piring yang ada dimeja namun dengan sigap Alvaro menangkap piring tersebut sebelum terjun bebas ke lantai.
Semua orang yang tadinya santai kini menoleh dengan kaget ke arah meja mereka.
Satu dan Dua sudah memegang dadanya karena kaget. Alvaro santai saja karena tau istrinya sebar-bar apa.
"Kakak ipar bisa tidak tanpa mengagetkan orang untung mereka tidak serangan perut !!" Nino masih dengan rasa kagetnya.
Serangan jantung Nino !! cukup istriku yang kurang sekilo kenapa kau juga tertular !! batin Alvaro menjerit.
"Heh kenapa kalian tidak bilang ?! bagaimana ini huh" Anna masih dengan paniknya mondar-mandir ditempat tersebut seperti orang goblok.
"Kakak ipar berhenti seperti suster ngesot !! kau jika panik kenapa sangat bodoh!" kesal Nino melihat kakak iparnya.
Alvaro memelototkan mata pada Nino karena tidak terima istrinya dicaci
Sial berani sekali dia mengatai istriku suster ngesot sekaligus bodoh batin Alvaro tidak terima namun mengatakannya di depan sang istri masih gengsi karena dia sedang mode ngambek.
"His kau ini jahat sekali adik ipar ! ya sudah ayo kita pulang !" perintah Anna segera berlalu dari sana tanpa meminta maaf terlebih dahulu karena sudah membuat kegaduhan. Maklum orang gupuhan cenderung otaknya langsung pada taraf 0% dalam segala hal.
"Sungguh ajaib istrimu kak !" Nino menggelengkan kepala saat mereka ditinggal begitu saja.
"Membuat keributan dan lupa bagaimana jika nanti punya anak lupa bapaknya ya ?!" Dua berucap.
"Haduh... bos bisa tidak jangan suka mukul kepala nanti ini bisa jadi kepala muda !" berengut Dua kesal pada sang bos.
"Kelapa muda Dua !! kau ini suka sekali merubah nama ! tau rasa jika nanti istrimu berubah laki!" sadis Satu pada Dua.
"Sudah sudah !! cepat bergegas ke mobil atau kau ingin mendengar suara ultrasonik lagi ?" ucap Alvaro yang dibalas gelengan oleh ketiganya.
Mereka sudah kapok ketika di pesawat Anna berteriak membuat telinga mereka hampir keluar beserta tainya.
Langkah Nino, Satu, dan Dua begitu terburu-buru menuju mobil seperti anak kecil yang kabur ketika melihat dokter sunat.
Alvaro hanya mampu cekikikan melihat tingkah konyol adik dan pengawalnya itu.
"Heh kalian lelet sekali kalah dengan ulat bulu !" Anna mencaci Nino, Satu, dan Dua yang baru masuk kedalam mobil.
"Lantas bagaimana dengan dia yang itu nyonya ?" saut Dua masih menunjuk kearah Alvaro.
"Khususan suamiku tidak apa-apa!" ucap Anna masih memandang penuh cinta pada suaminya.
"Cih jika cinta bersabda pantat babi tetap terlihat lope-lope!" Nino sarkas.
__ADS_1
Satu dan Dua sudah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Nino. Anna mencebik kesal terhadap mereka semua.
Alvaro masuk membuat mereka bertiga segera bungkam. Tanpa bertanya Satu segera melajukan mobilnya menuju mansion.
Tidak ada yang berbicara pada awalnya hingga Anna bernyanyi.
Damar opo lilin buyar opo kawin
Nyawang tekad riko kurang yakin
Damar opo lilin buyar opo kawin
Diterusno opo semene bain
Kadhung duwe niat ati ojo mangmang
Mumpung durung minggat welas iki ilang
Dengan penuh penghayatan Anna menyanyikan lagu Damar Opo Lilin sebagai salah satu mengeluarkan resah hatinya saat ini karena terbaikan.
"Ehmm.. memghayati sekali kakak ipar!" Nino mengompori.
Cih sungguh benar kata dad jika waktu pembagian karakter kau tak kebagian alhasil karakter emak-emak yang malaikat berikan !! batin Alvaro kesal.
"Kau benar sekali akulah wanita yang kau sakiti !" Anna berdrama sekali.
"Besok-besok nyonya harus melamar casting di okan terbang" Dua menyauti.
"Cih untuk apa aku tak perlu apa-apa!! suamiku sudah memiliki segalanya" sombong Anna berkata dengan membusungkan dadanya.
"Matre!!" saut Nino, Satu, dan Dua sedangkan Alvaro hanya mendengarkan saja tanpa ikut menimbrung seperti kebiasaannya.
"Heh itu realistis untuk apa bersuami jika kau tetap susah lebih baik melajang saja !!" skakmat Anna mewakili curahan hati sebagian besar wanita.
"Dua ingat prinsip mutlak yang tak bisa diganggu gugat !!" Nino bersabda.
"Wanita selalu benar !! jika wanita salah maka laki-laki minta di tebas!" Nino, Satu, dan Dua berucap bersamaan seperti paduan suara.
Alvaro menyunggingkan bibir sedikit namun tak terlihat oleh mereka berempat.
Teruslah bahagia sayang. Semoga terus terpatri senyum bahagia diwajahmu batin Alvaro melirik sang istri yang sedang tertawa bersama Nino, Satu, dan Dua setelah berseteru.
Bersambung
__ADS_1