
Dikamar Alvaro yang menyisakan Alvaro, Anna, dan mo Luna saat ini masih sibuk meredakan tangis Anna.
"Sayang sudah ya nangisnya ! chanel sedang ada keluaran sepatu terbaru apa kau tidak ingin membelinya hemm ?" ucap Alvaro masih dengan tangan yang mengelus-elus punggung sang istri.
"Beneran ? terbaru ? abang mau beliin Anna ?" Anna mendongak menatap wajah suaminya. Mencari kepastian dibalik bola mata suaminya. Tangannya sibuk mengelap sisa-sisa ingusnya.
"Iya beneran sayang ! tapi kamu berhenti nangis okey ?" ucap Alvaro menghapus buliran air mata yang masih menggenang di pipi sang istri. Bahkan tanpa rasa jijik Alvaro menghapus ingus yang masih keluar di hidung sang istri.
Anna yang mendengar Alvaro akan membelikan sepatu baru mendadak mereda tangisnya. Kini sudah terpampang senyum memperlihatkan deretan gigi putihnnya meskipun dahinya berubah menjadi pantat babi tapi tetap saja dimata Alvaro istrinya sangat menggemaskan.
"Dasar matre !" gerutu mom Luna yang masih belum percaya bahwa mantunya akan berhenti nangis kejer ketika disogok sesuatu yang bermerk chanel.
"Bisa-bisa miskin mendadak jika ngambek tiap jam ini!" pusing mom Luna membayangkannya.
"Sekarang diobati dulu ya dahinya !" ucap Alvaro sembari menuntun Anna duduk di sofa.
Dengan sigap mom Luna mengambil kotak P3K untuk mantunya.
Alvaro mengambil alih kotak tersebut dan mulai membasuh kening sang istri dengan Alkohol.
"Haduh abang sakit pelan-pelan !" ringis Anna saat Alvaro menekan keningnya yang mulai membengkak.
"Iya sayang sedikit lagi ya biar tidak infeksi sebelum di kompres !" Alvaro berucap masih meniup-niup kening sang istri minimal agar tidak terlalu sakit.
Satu masuk dengan membawa nampan berisi air dingin dan alat kompres.
"Bos siapa yang terkilir ?" ucap Satu setelah sampai di kamar Alvaro. Pandangan Satu masih fokus dengan mangkok takut airnya tumpah-tumpah.
Dasar Dua goblok ngisi air dan es batu sampai penuh !! untung tidak berceceran di lantai umpat Satu karena mangkok yang berisi air makin penuh terguncang sedikit merebes kemana-mana.
"Dahi mantuku benjol ! cepat kesinikan alat kompresnya !" ucap mom Luna menjawab pertanyaan Satu.
Alvaro memilih diam dan terus fokus dengan dahi istrinya yang sudah mulai terlihat bengkak. Entah mengapa Alvaro akan sangat terluka jika sesuatu menimpa sang istri.
Reflek Satu yang sedari tadi masih fokus dengan nampan di tangannya beralih menatap istri bosnya.
__ADS_1
"Astaga itu dahi kenapa sampai seperti mulut ikan lohan ?!" seru Satu kaget pasalnya kening istri bosnya sudah maju seperti hidung pinokio.
Anna yang mendengar ucapan Satu kembali mengerucutkan bibirnya tanda ia akan mulai menangis lagi.
Alvaro sudah was-was jika kembali menangis lagi.
Astaga apa aku salah bicara ? batin Satu meringis melihat tatapan membunuh ibu dan anak yang tertuju padanya.
"Kau itu mulutnya bisa tidak berbohong sedikit !" kesal mom Luna sembari mendekati Satu.
Mom Luna beranjak mengambil alih nampan yang dipegang oleh Satu dengan sedikit menggunakan tenaga karena kesal dengan ucapan satu yang sangat jujur itu.
Mangkok yang sudah terisi penuh oleh air kini sudah muncrat mengenai baju mom Luna.
Satu menutup mulutnya melihat setengah air dalam mangkok sudah berpindah di baju cantik mom Luna.
Aku ingin tertawa tapi masih sayang nafas tidak tertawa mubajir jerit Satu dalam hati.
"Ssatuuu !!" geram mom Luna masih dengan mata yang ingin keluar.
"Mom berhenti bertengkar ! serahkan mangkoknya sebelum kening istriku menjelma menjadi hidung pinokio !" tegas Alvaro geram.
Ia masih kesal dengan yang terjadi pada istrinya ditambah keributan yang momnya perbuat.
Awas saja kau No ! berani-beraninya kau membuat istriku seperti ini ! tunggu hukumanmu batin Alvaro kesal.
Bagaimana tidak kesal jidat istrinya saat ini sudah tidak berbentuk jidat melainkan pantat babi. Belum rasa sakitnya hingga membengkak. Sudah pantas jika Alvaro sangat geram pada adik semata wayangnya.
Dikamar Alvaro sedang sibuk mengobati Anna maka lain lagi dengan kejadian di ruang tamu.
"Nino kau cepat susul kakak dan kakak iparmu untuk makan siang ! dad akan mencari mommy mu yang entah dimana keberadaannya !" perintah dad Ferdi pada Nino.
Setelahnya dad Ferdi menuju kamarnya untuk mencari keberadaan mommynya.
"Sorry dad ! Nino masih belum siap mental dan psikis eh mental saja kayaknya untuk menerima hukuman kakak apalagi ditambah hukuman dari daddy!" gumam Nino setelah daddynya beranjak menuju kamarnya.
__ADS_1
Nino tidak bisa membayangkan apa hukuman yang akan ia dapat dari kakaknya karena sudah berani melukai istri tercintanya. Belum lagi jika daddynya tau sudah pasti hukumannya bertambah.
Nino bergidik ngeri membayangkan hukuman dari dua biang sadis yang suka mengintimidasi tersebut.
Dosa apa aku tuhan hidup di keluarga yang sangat senang mengintimidasi orang ! batin Nino menjerit
"Lebih baik aku makan dulu setelah itu kabur agar tidak terkena amukan kakak !" ucap Nino kemudian setelah sekian purnama meratapi nasib buruknya. Buru-buru ia beranjak menuju ruang makan.
Dengan semangat Nino mengambil nasi dan lauk pauk untuk mengisi perutnya.
"Tumben duluan bos ?" tanya Dua dari balik tubuh bosnya membuat Nino kaget dan hampir melempar piring yang ada ditangannya.
"Kau ini mengagetkan saja ! apa kau titisan jaelani yang datang tak dijemput pulang tak diantar ?!" ketus Nino sembari menatap tajam Dua.
"Jaelangsing bos bukan jaelani !" kesal Dua menanggapi bosnya.
"Sudah diam jangan menggangguku Dua ! aku harus makan duluan setelah itu kabur !" Nino berucap sembari mendudukkan diri dan bersiap untuk segera makan siang.
"Percuma bos meskipun menghindar jika takdir bos mati besok ya tetap mati bos !" ucap Dua masih menemani Nino.
"Tidak mengapa jika itu terjadi setidaknya hari ini aku bisa bernafas dulu !" ucap Nino sendu.
"Nawaitu shauma ghodin 'an adaa'i fardhi syahri.." ucapan Nino terhenti.
"Bos itu doa sahur bukan doa mau makan !" omel Dua karena Nino salah mengucapkan doa.
"Memang niatku membaca doa sahur biar kuat ketika buka puasa dengan hukuman dari kakak dan daddy !" cemberut Nino sembari menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
Dua hanya terkekeh melihat Nino yang sudah frustasi dengan hukuman yang akan dihadapinya.
"Bos belum juga dihukum sudah depresi ! santuy bos seperti di pantai !" ucap Dua menyemangati.
"Kau itu sok-sokan berkata begitu ! coba kau yang di posisiku sudah pasti kau tidak dialam ini lagi sebelum hukuman diberikan!" kesal Nino. Dua hanya memamerkan giginya mendengar ucapan Nino yang benar-benar 1000 persen tepat.
Bersambung
__ADS_1