
"Hubungan itu tentang dua sisi buka satu sisi jadi berjuanglah bersama-sama. Kepercayaan nomor satu jadi jangan pernah kalian sembunyikan sesuatu dari pasangan kalian sekecil apapun dan sepahit apapun kenyataannya. Ingat perceraian banyak datangnya dari kepercayaan yang terbuang" sahut mama Marta bijak.
Sepasang manten baru tersebut mendengarkan baik-baik nasehat orang tua mereka apalagi Alvaro yang sudah pernah gagal membina rumah tangga sebelumnya sehingga untuk berjaga-jaga agar tidak menyandang status duda untuk yang kedua kalinya dia bertekat akan lebih baik dalam membina rumah tangga saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari setelah selesai sarapan, manten baru tersebut sudah siap-siap untuk meninggalkan rumah ayah Darma.
"Kalian hati-hati dijalan !! kalo ada yang lebih bening dan waras bisa diganti Al" ucap mama Marta tanpa memperdulikan perasaan anak kurang 2 onsnya.
"Mama kira Anna panci yang bisa ditukar tambah!" berengut Anna.
"Mama gak ngomong gitu kamu sendiri yang menyamakan dirimu dengan panci !"
"Hohooo baru kali ini ada emak kandung serasa emak tiri. Kurasa ayah menikahi mama pas lagi kejedot" sengit Anna menimpali ucapan mamanya.
"Udah sayang diem mulutnya kaya bebek nyerocos aja kerjaannya!!" timpal Alvaro dan memilih pamit sebelum terjadi perang ketiga.
"Sayang pulang sekarang tanpa bantahan atau nanti malam tidak ada ranjang bergoyang!" bisik Alvaro mengancam istrinya.
Baru juga open uda mau close aja. Yang ada gak jadi-jadi nanti bibitnya ! batin Anna bergidik ngeri.
Anna yang berjalan setengah diseret oleh suaminya hanya bisa pasrah.
Hening tanpa pembicaraan hingga mobil memasuki pekarangan rumah yang tampak simple but elegant.
"Abangg.. ini bukan rumah bekas yang kemarin kan ?"
"Tidak sayang ini masih baru selesai dan belum ditempati" jawab Alvaro menyakinkan.
"Baguslah, Anna gak mau kalo menempati rumah bekas istri abang !!" ketus Anna
"Sebegitunya neng gak maunya ? kenapa ?"
"Gak mau ketularan bernasib sama. Ditinggal pas sayang-sayange pas jeru-jerune. Rasanya ingin mati tapi takdir masih mengatakan hidup!" drama Anna kemudian.
__ADS_1
"Tidak sayang kamu insyaallah yang terakhir meskipun bukan yang pertama kuharap kau pelabuhan terakhirku"
"Sayang mari kita saling berjuang dalam hubungan kita. Mari berdamai. Kamu dengan masa laluku dan aku dengan masa lalumu" ucap Alvaro lagi dengan mengenggam tangan Anna mengecupnya dengan lembut.
"Abang... Anna mau berjuang untuk hubungan kita. Terimakasih hikss.. sudah memilih Anna slurppp.." suara Anna disela tangisannya yang diakhiri dengan menghirup dengan sepenuh tenaga ingus yang sudah keluar dari hidungnya.
"Sayang jorok sekali si !" ucap Alvaro namun lain dimulut maka lain lagi dihati.
Astaga selalu saja merusak moment romantis gerutunya dalam hati.
Acara romantis yang berakhir tragis akhirnya berakhir.
Dengan langkah pasti mereka memasuk rumah yang akan menjadi tempat mereka menulis cerita dan menyimpannya di hati.
Fokus utama mereka adalah kamar. Kamar dengan nuansa peach dan hitam menambah kesan elegant.
"Mari menyapa kamar kita dengan cara estetik bang !!" sumringah Anna menatap dalam kedua mata hazel suami dudanya.
Sekian detik empat mata terlihat mengagumi hingga dengan berani Anna mengecup dalam bibir sexy suaminya. Ciuman yang bersambut, awalnya lembut lama-lama semakin memanas.
Pagi yang panas menyapa kamar yang baru berpenghuni tersebut. Suara des*han dan erangan menambah suasana panas di pagi hari yang cerah. Suara decitan ranjang dan lantai menjadi saksi bisu menyatunya dua insan yang sedang ranum-ranumnya.
Entah sudah berapa lama permainan dan cetak gol yang diciptakan hingga matahari tepat diatas kepala mereka baru menyelesaikan kegiatan panas mereka dengan er*ngan panjang yang saling bersahutan menyebutkan nama masing-masing.
Sudah menjadi kebiasaan kegiatan panas akan ditutup dengan tidur nyenyak. Senja sudah mulai menampakkan diri namun dua manten baru masih setia dalam tidur nyenyaknya. Masih dengan saling berpelukan mencari rasa nyaman masing-masing.
Suara dering handphone mengusik tidur nyenyak Anna. Masih dengan setengah terpejam tangannya sibuk meraba mencari keberadaan benda pipih tersebut.
Dengan mata menyipit Anna segera mengangkat panggilan dan sedikit menjauh dari sang suami yang masih tertidur. Niat hati menjauh agar tak terusik tidurnya namun kenyataannya suaminya sangat peka ketika guling empuknya sudah tidak terasa menghangatkannya.
Perlahan Alvaro membuka dan mengedarkan penglihatannya untuk mencari keberadaan istri tercintanya. matanya menangkap sosok yang dicari sedang asik dengan benda pipih yang menempel ditelinganya.
Obrolan yang begitu mengasikkan hingga lupa seseorang tengah menatapnya dengan serius masih dengan mata melongo dan kesal diwaktu yang bersamaan.
Benda pipih yang sejak tadi nangkring cantik di telinga kini sudah berpindah tempat. Tubuh yang awalnya membelakangi kamar kini sudah berbalik masih dengan sisa senyum menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Apa sudah selesai ?" sorot mata Alvaro menatap tajam.
Waduhh mati aku ! matanya astaga seperti aku ketahuan selingkuh jerit Anna dalam hati melihat gelagat suaminya yang menyeramkan.
Otak mari berfikir untuk menidurkan kembali singa yang terusik tidurnya gerutu Anna lagi dalam hati dengan otak yang masih loading memikirkan rencana yang tidak kunjung datang.
"A-abang ! dengerin Anna dulu please" gelagap Anna sembari berusaha meraih tangan suaminya.
"Itu sungguh tidak pantas untuk dibicarakan dengan orang lain. Ku rasa diusiamu sekarang sudah paham mana yang pantas dan tidak pantas untuk dibicarakan!" emosi Alvaro meski masih dengan nada bicara seperti biasa tapi penekanan di setiap katanya sudah menegaskan betapa manusia tersebut sangat marah.
"Maaf bang, hiks.. Anna janji lain kali tidak akan seperti ini lagi hiks.. hiks.." ucapnya masih dengan tubuh terguncang.
Sial !! aku sangat tidak bisa melihatnya menangis !! umpat Alvaro dalam hati.
Sekuat jiwa dan raga Alvaro menekan agar bisa berlaku tegas pada istrinya. Alvaro menyadari usia istrinya yang masih terbilang labil sehingga perlu kesabaran ekstra untuk membimbingnya.
bughh.. suara pintu kamar mandi ditutup dengan sedikit keras. Alvaro memilih untuk meninggalkan istri tercintanya.
Anna merasa kaget dengan suara pintu yang ditutup dengan keras.
Sebegitu fatalnya kesalahan Anna hingga abang tidak mengubris permintaan maaf Anna miris Anna memandang pintu kamar mandi.
lima belas menit kemudian Alvaro keluar dari kamar mandi. Dilihatnya baju yang sudah disiapkan oleh istri tercintanya. Tanpa bicara, Alvaro segera memasang pakaiannya sedangkan Anna dengan langkah lesu memasuki kamar mandi untuk berganti membersihkan diri.
"Hemmm... mandiri sekali biasanya masuk kamar mandi tinggal mandi. hiks..sangat sakit rasanya ketika diabaikan. Begitu marahnya abang kepadaku. Maafkan aku bang" isak tangis Anna dikamar mandi masih dengan tangan yang terus memukul dadanya yang sesak.
tiga puluh menit sudah. Akhirnya Anna keluar dari kamar mandi. Pandangannya mengedar keseluruh ruangan namun tak menemukan sosok yang dicarinya.
Air mata yang sudah surut kembali pasang dengan pikiran yang entah kemana.
"Abanggg ! jangan tinggalin Anna bang hiks hiks maafin Anna bang. Anna janji tidak akan mengulanginya lagi hiks.. hiks.." raung Anna seperti orang gila.
Masih dengan handuk yang melilit ditubuhnya rasa kecemasan yang tinggi ia segera lari dipojok dengan tangan yang memeluk erat tubuhnya. Mulutnya masih bergetar melafalkan hal yang sama disela tangisannya yang semakin menyesakkan dada.
Cklekk.. bunyi handle pintu terbuka
__ADS_1
...Bersambung...