
Mobil yang ditumpangi Alvaro, Anna, Nino, Satu, dan Dua kini sudah berada di depan mansion.
Langkah mereka meyakinkan keluar dari mansion tanpa merasa bersalah.
"Bagus ya pulang telat tanpa mengabari momy!" kesal mom Luna menjewer telinga anak bungsunya.
"Aduh aduh.. copot mi ini kuping Nino bisa-bisa cacat sebelum nikah ini!" Nino memegangi tangan momy Luna yang masih nangkring cantik di telinganya.
"Kau juga kenapa tidak mengabari mom !" lanjut mom Luna menjewer telinga Alvaro.
Alvaro meringis menahan sakit.
"Mom jangan nanti abang cacat sebelum jadi baba !" melas Anna.
Mom luna akhirnya melepas jeweran pada putranya.
"Momy kalo mau marah sama kakak ipar karena dia yang meminta makan dulu sampe berjam-jam!" adu Nino kesal masih dengan memegang telinganya yang panas.
"Ya allah sayang kamu kok sampe kelaparan si! Alvaro kamu ini bisa tidak becus sedikit menjaga istrimu! awas kalo mantu mom sampai punya lambung!" ucap mom Luna sembari menunjukkan jari ke lehernya pertanda ia akan dibuat mati.
"Mom kalo tidak punya lambung kakak ipar sudah pasti bukan sebangsa kita lagi !" Nino menimpali ucapan sang momy.
"Maksud mom penyakit lambung ! itu lidah mom keseleo saja tadi !" alasan mom Luna tentu saja sudah sangat dihafal oleh anak-anaknya.
"Aman mom ! mantu momy sehat wal afiat!" ucap Alvaro meyakinkan.
Meskipun sarapan jadi makan malam. Mantu momy masih kuat lanjut Alvaro tentu saja dalam hati. Jika terucap dari mulutnya sudah pasti dia akan digiling hidup-hidup.
Giliran kakak ipar sultan sekali ! Anak sendiri berasa anak pungut batin Nino kesal.
Anna tidak terlalu menggubris percakapan mom Luna dan Alvaro. Ia lebih memilih melihat telinga Alvaro yang dijewer oleh momynya. Terlihat jelas dimata Anna telinga sang suami yang memerah.
"Abang apakah tidak terasa sakit ?" cemas Anna pada sang suami. Tangannya menjangkau telinga Alvaro dan mengelusnya membuat tubuh Alvaro meremang seketika.
Hanya sentuhan di telinga berhasil membuat libidoku naik! jerit Alvaro dalam hati.
Alvaro melemparkan senyum senatural mungkin pada istrinya untuk meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.
"Ya sudah kalian istirahat saja pasti lelah seharian ! kau juga istirahatlah dulu!" tunjuk mom Luna pada Satu dan Dua agar beristirahat juga.
__ADS_1
"Mom mu benar ! lanjutkan pembicaraannya nanti saja setelah makan siang!" titah dad Ferdi pada semuanya.
Mereka berlima kompak mengangguk dan berangsur-angsur meninggalkan mom Luna setelah melihat sekilas pada dad Ferdi.
Dikamar Alvaro masih setia mendiami sang istri.
"Abang udah ya jangan diamin Anna seperti ini!" rengek Anna masih menarik-narik tangan Alvaro dan mengguncangkan kekanan dan kekiri persis bocah yang merengek minta dibelikan es krim.
Astaga puppy eyesnya membuatku tidak tega menghukum lama-lama kesal Alvaro dalam hati. Ia paling tidak bisa melihat tingkah imut sang istri.
"Ehmm..." Alvaro mencoba menetralisir agar tak terbujuk begitu saja oleh sang istri.
Mari kita lihat sejauh mana rubah kecilku ini mengambil hatiku smirk Alvaro dalam hati.
"Abang ayolah maafkan Anna !! Anna janji akan menurut semua permintaan abang!" usaha Anna lagi kini dengan tangan menyilang memegang kedua telinganya kaki ditekuk satu keatas dan mimik wajah penuh salah persis bocah SD yang sedang dihukum oleh gurunya.
"Baiklah abang maafkan !!" ucap Alvaro kemudian.
"Benarkah ? terimakasih abang !!" ucap Anna senang kemudian berniat memeluk suaminya.
"eits.. tapi ada syaratnya !" Alvaro memegang kepala Anna yang akan menubruk tubuhnya membuat senyum sumringah Anna pudar seketika seperti noda yang hilang tanpa bekas setelah diberi pemutih.
"Malam ini tidak ada acara peluk-peluk apalagi celup-celup!" Alvaro berucap dengan tegas.
"Abang apakah tidak bisa yang lain ? dinego atau apa gitu ?" ucap Anna berusaha berkompromi demi kesejahteraan lahan sawah.
"No ! tidak ada sesi negoisasi apalagi sesi mediasi!" tegas Alvaro sembari menggerakkan jari telunjuknya kekanan dan kekiri sebagai tanda tidak ada harapan untuk Anna.
Anna memberangus mendengar putusan suaminya yang tak dapat diganggu gugat.
Langkah kakinya gontai menuju kamar mandi mendengarkan putusan sang suami.
Hari ini kau harus tidur nyenyak sayang. Maafkan abang hanya dengan begini bisa membuat kamu tidak kecapekan batin Alvaro.
Alvaro menunggu Anna keluar dari kamar mandi masih dengan fokus pada ipadnya.
Hanya ditinggal seminggu sudah sebanyak ini batin Alvaro melihat berkas-berkas yang masuk di emailnya.
Dengan fokus Alvaro menatap layar ipadnya hingga bunyi handle pintu dibuka pun Alvaro tak mendengarnya.
__ADS_1
Hemmm pasti banyak sekali kerjaan yang terbengkalai karena honeymoon kita batin Anna merasa bersalah. Ia dapat melihat dari raut wajah suaminya jika banyak sekali kerjaan yang menumpuk menanti sang suami.
"Abang mandi dulu gih nanti dilanjut lagi setelah tidur siang!" ucap Anna pada sang suami.
Alvaro dengan patuh mengangguk dan menuju kamar mandi.
"Airnya sudah Anna siapkan bang!" teriak Anna kembali setelah sang suami hilang dibalik pintu kamar mandi.
Masih dengan telaten Anna menyiapkan pakaian ganti suaminya sembari menunggu Alvaro keluar dari kamar mandi.
Dengan tanpa malu Alvaro mengganti pakaiannya didepan sang istri.
Mupeng mupeng dah ! sabar lahan sawah anda tidak menerima siraman untuk malam ini sampai waktu yang tidak ditentukan batin Anna menjerit melihat sang suami.
"Abang ayo tidur dulu ! Anna tidak mengijinkan untuk bekerja ! abang juga butuh istirahat biar tidak sakit!" nasehat Anna panjang kali lebar kali ciliwung seperti biasa.
Alvaro ikut berbaring disamping sang istri untuk mengistirahatkan diri setelah nasehat alias omelan sang istri.
"Ehmmm... abang boleh ya Anna peluk abang ? Anna gak bisa tidur tanpa peluk abang" melas Anna setelah sekian menit hanya bolak balik seperti ikan asing.
"Kemari lah dan ingat just hug okey!" ucap Alvaro setelah melihat wajah memelas sang istri.
Anna dengan senang hati langsung menubruk dada bidang suaminya. Entah mengapa sejak menikah Anna sangat nyaman tidur di pelukan sang suami. Bahkan ia kerap kali terbangun jika pelukan sang suami tiba-tiba lepas.
"Apakah secandu itu pelukan abang hmm ?" tanya Alvaro sembari mengelus rambut sang istri dan sesekali mencium lembut.
"Rasanya tanpa mendusel-dusel di ketiak abang itu kurang pas bang ! Anna gak bisa tidur sebelum melakukan itu!" jujur Anna. Wajahnya yang sejak tadi sibuk mengendus-endus ketiak sang suami perlahan mendongak menatap wajah suaminya dengan senyum yang tampak tulis dibibirnya.
"Kau ini aneh sekali sukanya ketiak! apa tidak ada yang lain ?" Alvaro bertanya masih dengan tawanya yang renyah.
Selalu saja aku terhipnotis dengan abang. Rasanya aku terlalu mencintai semua di diri abang jerit Anna dalam hati.
"Ada yang lebih membuat Anna lebih suka selain ketiak !" senyum Anna menampilkan gigi-giginya.
"Apa ?" penasaran Alvaro.
"Sini Anna bisikin !" ucap Anna sembari mendekatkan bibirnya di telinga Alvaro. Alvaro dengan tidak sabar menunggu jawaban Anna.
"Tentu saja si Joni lebih membuat Anna candu!" bisik Anna di telinga Alvaro membuat Alvaro seketika memerah wajahnya.
__ADS_1
Bersambung