
Alvaro tidak membiarkan Anna turun. Ia begitu hawatir pada istri kecilnya itu.
"Sayang tunggu disini abang ke bawah dulu untuk mengambil makanan kita!" ucap Alvaro lembut.
"Tapi bang Anna.." ucapan Anna tersangkut di ranting bambu
"Tidak ada bantahan sayang !!" tegas Alvaro membuat Anna ciut seketika.
Astaga ini namanya bukan mati karena pukulan tapi mati karena stress dikurung dalam sangkar batin Anna menjerit.
"Ayo Anna berfikir bagaimana caranya agar terbebas dari kamar" gumam Anna sembari mengetuk-ngetuk jarinya di pipinya.
"Loh istrimu mana Al ?" tanya dad Ferdi saat melihat hanya Alvaro yang turun menuju meja makan.
"Sakit dad ! ini Al mau makan dikamar saja dengan Anna !" ucap Alvaro masih dengan tangan yang sibuk mengambil makanan.
"Cih makanya kalo buka puasa liat-liat yang dibuat santapan itu masih perawan ting-ting atau sudah sinder bolong!" omel dad Ferdi.
Sunder bolong tuan kalo sinder itu jatuhnya sinden jerit Dua dalam hati sedangkan Satu sudah tersedak makanannya.
"Kalo ceweknya sunder bolong gak jadi kawin lah dad! yang ada kejar-kejaran!" mom Luna menanggapi. Mulutnya berbicara serius tapi perutnya sudah menahan sakit karena tawa yang dipendam dalam usus.
"Bukan sakit karena kawin dad tapi karena digetok Nino !!" kesal Alvaro.
Dad Ferdi melotot tidak percaya dengan ucapan Alvaro jika si bungsu yang menjadi penyebab mantunya begitu.
"Ninoooooo..." teriak dad Ferdi membuat seisi rumah bergetar.
astaga gempa susulan berikut badainya telah tiba gumam mom Luna.
Jika tadi Satu hanya tersedak maka saat ini makanan yang dia kunyah kini sudah keluar menghantam wajah tampan Dua.
"Aishhh.. mulutmu tidak sopan sekali !!" geram Dua sembari mengelap wajahnya dengan tisu.
Mom Luna sudah terpingkal-pingkal melihat wajah Dua menjelma seperti tong sampah.
"Bersihkan wajahmu Dua !!" tegas Alvaro jijik melihat wajah amburadul Dua.
"Sorry!! aku tak sengaja ! mulutku reflek mendengar suara berisik dad Ferdi yang seperti ayam pak Somat" ucap Satu keceplosan dan segera menutup mulutnya rapat-rapat.
Dad Ferdi yang mendengar ucapan Satu sudah mengeluarkan taringnya bersiap merobek mulut nyinyir Satu.
__ADS_1
"Coba ulangi ucapanmu !" tekan dad Ferdi di setiap katanya. Jangan lupakan mata elangnya yang sudah siap menghunus hingga relung hati jiwa.
Malaikat israil cabut nyawaku sekarang juga aku ikhlas jerit Satu dalam hati.
Kakinya sudah gemetar pandangannya tiba-tiba kabur dan detik selanjutnya hanya gelap yang ia lihat.
Brukkk...
Suara benda jatuh membuat atensi Alvaro yang sejak tadi fokus dengan makanan yang akan ia bawa kini beralih.
"OMG ! lihat dad Satu sampai pingsan gara-gara daddy !" heboh mom Luna.
Dua yang baru kembali dari kamar mandi syok melihat Satu yang biasanya sekuat baja tiba-tiba tak sadarkan diri.
"Heh Satu kau belum mengucapkan salam perpisahan kenapa secepat ini kau meninggalkanku !" tangis Dua pecah sembari mengguncang tubuh Satu.
Astaga begini kalo lahir sebelum waktunya jadi belum tau kebenarannya sudah menyimpulkan yang tidak-tidak ! jerit mom Luna dalam hati.
"Dia hanya pingsan bukan mati ! cepat angkat dan letakkan di sofa!" jerit mom Luna kesal.
"Benarkah nyonya ? lantas mengapa Satu sampai tak sadarkan diri nyonya ?" beo Dua setelah mendengar ucapan mom Luna.
Dengan sekejab Dua memposisikan diri untuk mengangkat Satu namun tenaganya tidak memungkinkan akhirnya Dua menggeret Satu layaknya karung hingga sofa.
"Dad aku ke atas dulu ! pasti Anna sedang kelaparan menungguku!" ucap Alvaro berpamitan pada dad Ferdi.
Sepeninggalnya Alvaro kini mom Luna sedang berusaha menyadarkan Satu.
"Ini kenapa tidak bangun-bangun walaupun sudah diberi minyak angin !" hawatir mom Luna.
Dad Ferdi hanya diam tidak ada rasa bersalah. Dengan santainya dad Ferdi membuka koran sembari menunggu Satu bangun.
"Coba pakai ini pasti bangun nyonya !" ucap Dua mendekat membuat mom Luna menggeser duduknya.
"Kau yakin tidak apa menggunakan itu ?" mom Luna merasa ide Dua keterlaluan sekali.
"Yakin nyonya!" mantap Dua menjawab dengan tangan yang masih sibuk meletakkan sesuatu itu di dekat hidung Satu.
1 menit tak ada reaksi 2 menit masih belum menunjukkan tanda-tanda dan 3 menit baru bereaksi dengan perlahan hidung Satu mengendus-endus bau yang semerbak hingga dimenit ke 4 Satu membuka matanya.
"Apakah aku sudah di surga ?" beo Satu membuat Dua segera menongolkan wajahnya tepat di depan mata Satu membuat Satu terkejut seketika dan mendorong wajah Dua dengan sekuat tenaga hingga terjungkal ke belakang.
__ADS_1
"Bagaimana apakah kau sudah sadar dari halusinasimu itu hmmm ?!" suara bariton dad Ferdi membuat Satu pingsan kembali.
"Dad kau memang seperti malaikat maut ! mom tidak mau tau buat Satu sadar atau tidak ada jatah selama satu bulan !" tegas mom Luna meninggalkan tempat.
Sial seminggu saja sudah karatan apalagi sebulan bisa-bisa tidak berfungsi ! batin dad Ferdi menjerit ketakutan.
"Kenapa lama sekali ? kenapa dad sampai teriak-teriak memanggil Nino ? apa Nino berbuat salah ?" berondong Anna bertanya pada Alvaro yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Simpan dulu semua pertanyaannya sekarang waktunya kita makan okey !" ucap Alvaro masih meletakkan nampan di meja.
Anna mengikuti langkah sang suami dari belakang persis anak kucing yang membuntuti induknya. Di wajahnya terlihat jelas raut penasaran dan hawatir yang bercampur aduk.
"Ayo duduk dan makan!" bimbing Alvaro mendudukkan sang istri di salah satu sofa sedangkan Alvaro duduk tepat di depan meja yang menghadap Anna.
"Abang.."
"Diam dan makan atau abang tidak akan menceritakannya !" ancam Alvaro membuat Anna segera memakan makanan yang sudah disiapkan Alvaro.
Rasa lapar dan penasaran membuat Anna dengan cepat melahap makanannya hingga 10 menit kemudian kegiatan makannya sudah berakhir.
"Anna sudah makannya bang buruan cerita !" desak Anna pada Alvaro.
Buset kalo ada maunya betina memang begitu ya seloroh Alvaro dalam hati.
"Bentar abang belum minum sayang!" ucap Alvaro menaruh piringnya di nampan.
Anna dengan sigap menyodorkan air minum tepat di depan mulut sang suami bahkan sedikit memaksa agar mulut suaminya terbuka.
"Udah minum kan ?! jangan bilang belum balikin nampan ke belakang ! jika iya sekalian saja abang berubah jadi pembantu!!" omel Anna tidak ingin suaminya berbelit-belit mengulur waktu seperti doi yang tarik ulur akhirnya kesalip sama yang sampingnya.
Alvaro hanya menarik nafas dalam melihat kelakuan sang istri yang sebelas dua belas dengan Nino jika soal kekepoan.
"Jadi begini ceritanya ! pada dahulu kala..." ucap Alvaro.
"Bang yang serius ! Anna bukan Ara yang diceritakan pada zaman dahulu !" berengut Anna kesal.
"Iya bukan bocah tapi bocah beranak!" senyum menggoda Alvaro pada sang istri.
Muka Anna sudah memerah bak kepiting rebus karena malu-malu tapi memalukan.
Bersambung
__ADS_1