
"Bela? Kau Bela kan?!" seru Sierra yang tak menyangka melihat sahabatnya berdiri di hadapannya.
Perempuan yang dipanggil Bela itu terdiam. Dia menatap Sierra dengan tatapan kosong.
Sierra mendekat, dia memegang kedua bahu Bela, mengguncangnya dengan keras. "Aku berharap aku salah melihat, namun hari ini aku tidak bisa berkata apapun!"
Tetesan air mata keluar dari kedua perempuan itu. Mereka berbicara lewat air mata yang semakin deras.
"Kenapa, ini bisa terjadi Bela? Kau baik-baik saja kan?"
Bela tidak menjawab, perempuan itu sesengukkan. Melihat itu, Sierra langsung memeluknya, mencoba memberi ketenangan. "Tidak apa-apa. Aku, ada di sini!"
Bela membalas pelukannya, perempuan itu mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini ia pendam.
Sierra mengelus pundak Bela yang menahan tangis, memberikan kata-kata penenang, namun mata Sierra berubah menjadi tajam saat bertatapan dengan Kevino. Bagaimana pria itu bisa merusak suasana dengan berdiri di sana?
Kevino yang paham dengan tatapan Sierra hanya menghela nafas, lalu keluar dari kamar.
Bela melepaskan pelukannya, Sierra langsung menuntunnya untuk duduk di sofa.
"Aku, takut Ra! Aku, sangat takut!" seru Bela diiringi tangis. Sierra mengelus bahu Bela, agar perempuan itu tenang.
"Mengapa, takdir begitu jahat Ra? Apa aku tidak berhak untuk bahagia? Mengapa, Tuhan mengambil semuanya, disaat aku membutuhkan mereka?!" teriak Bela. Sierra hanya mendengarkan, perempuan itu berusaha untuk tidak menyela.
"Tetap tenang, okey? Bicara pelan-pelan!" ungkap Sierra.
Bela berhenti menangis dalam beberapa saat, kemudian perempuan itu mulai menjelaskan. "Semua ini berawal karena kecelakaan kedua orangtuaku. Hidupku kacau! Aku tak tahu lagi harus minta bantuan siapa. Bahkan kerabatku pun tidak ada yang bisa membantu! Hanya ini, hanya ini jalan untuk membuat hidup adikku menjadi lebih baik, aku tak mau dia hidup menderita seperti yang aku alami!"
Sierra termenung. Takdir memang tidak bisa ditebak. Dulu yang ia kenal, Bela adalah sosok yang periang, dia tidak pernah melihat Bela menangis seperti saat ini. Bahkan, Bela berasal dari keluarga bangsawan, namun ia tak menyangka jika takdir akan terbalik seperti ini.
"Tetapi, mengapa kau tidak menemuiku? Apa, aku tak begitu penting bagimu, Bel?"
__ADS_1
"Kau sangat penting, Sierra! Kau dan Rena adalah sahabatku!" seru Bela yang tak terima dengan ucapan Sierra.
"Lalu mengapa! Kenapa kau tidak menemui kami? Kau pikir, kami tidak akan membantumu?!"
"Aku--" Bela berhenti berbicara. Perempuan itu sesenggukkan menahan sesuatu yang menghantam dadanya. "Aku, tak sanggup! Aku, tidak mau menjadi beban kalian! Hidup kalian juga tidak baik-baik saja!"
Sierra terkekeh kecil. "Kau, pikir yang kau lakukan ini, akan membuat kami bersyukur? Kau pikir kami tidak akan terluka, melihatmu yang berjuang sendirian?!"
"Maafkan aku!" seru Sierra. "Maaf karena tidak membertahu kalian. Aku hanya tidak ingin merepotkan kedua sahabatku!"
Sierra langsung memeluknya, perempuan itu ikut menangis. Dia tidak menyangka, jika Bela menahan beban yang begitu berat, bahkan saat masa SMA pun, Bela sedikit pendiam, dia akan memikirkan dua kali sebelum menceritakan masalahnya.
"Aku mohon, rahasiakan ini dari Rena, aku tidak mau dia ikut mengkhawatirkanku!"
Sierra langsung melepaskan pelukannya. "Tidak! Aku akan memberitahunya! Bagaimanapun, dia sudah mengkhwatirkanmu, Bela!"
Bela yang tak paham pun, bingung. Apa, Rena sudah mengetahuinya?
Sierra pun mulai menceritakan semuanya. Mulai dari foto wallpaper itu, hingga kesalahpahaman Rena yang mengira foto itu adalah Bila.
Sierra ikut berdiri, dia berusaha mengendalikan amarah Bela. "Lebih baik, kau berhenti saja. Kita bisa mencari jalan keluar, Bel."
Bela langsung menghempaskan kedua tangan Sierra dari pundaknya. "Tidak! Semuanya sudah terlanjur. Aku sudah kotor, mau diapakan pun akan tetap kotor!"
"Bel--"
"Beritahukan pada Rena, jika wanita murahan itu adalah aku, bukan Bila. Mulai, detik ini juga aku memutuskan hubunganku dengan kalian!" Setelah mengucapkan itu, Bela berlari keluar kamar.
Sierra ingin mengejarnya, namun teriakan Kevino menghentikannya.
"Dia, sudah dewasa!" Sierra menoleh ke belakang, dimana Kevino berdiri di dekat pintu.
__ADS_1
Dengan santai, Kevino berucap. "Urusi saja hidupmu sendiri. Kau yang kekurangan kasih sayang, tidak memiliki bakat, dan hanya bisa mencoreng nama keluarga! Masih bisa punya waktu untuk memikirkan masalah orang lain? Kau sungguh hebat!"
"Kau, ada masalah denganku?!" seru Sierra yang terpancing emosi, perempuan itu menghampiri Kevino yang malah terkekeh padanya.
"Kau, adalah manusia terburuk, Sierra. Peduli pada orang lain? Namun, membiarkan hidupmu sendiri hancur? Kau memang mengagumkan!" Kevino berjalan lebih dekat pada Sierra, sambil bertepuk tangan.
"Peduli, apa kau dengan hidupku!"
"Aku kasihan padamu Sierra. Kau sudah ditelantarkan oleh keluargamu, kini pacar yang kau puja-puja pun, membuatmu kecewa, lantas alasan apalagi untukmu agar tetap hidup?!"
Kevino benar. Keluarganya sudah membuatnya hancur, kini seseorang yang ia anggap rumah pun memutuskan hubungan dengannya. Apakah bunuh diri adalah hal yang bagus?
"Aku, akan beri kesempatan. Mati dengan tenang, atau hidup dengan sengsara!"
Sierra malah terkekeh. Apa ini sebuah drama? Mengapa, Kevino bertingkah layaknya psychopath yang memangsanya. "Kau bercanda? Mengapa, hidupku ada di tanganmu?!"
"Kau telah membuat kesalahan. Kau telah merusak kesepakatan kita! Mulai hari ini, nona Sierra Rosaline telah tiada!"
"Kau gila! Mengapa aku mati! Aku masih hidup!" seru Sierra.
Kevino malah tersenyum. "Sudah, kubilang bukan, jika kau mencari sesuatu, yang tak seharusnya kau ketauhi, maka tamatlah riwayatmu!"
"Aaaa!"
***
Beberapa saat kemudian..
"Aku, tidak mau melakukan ini lagi! Aku akan keluar dari geng sialan ini!"
Lelaki itu malah tersenyum. "Sudah, kubilang, melanggar sedikit saja nyawa orang tersayangmu akan terancam!"
__ADS_1
Pria paruh baya itu terduduk di lantai, menyesali semua perbuatannya.
"Sekali berurusan dengan geng Qizz, maka tidak akan pernah keluar dengan mudah, bahkan arwahmu pun tidak akan kubiarkan tenang!"