Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 28. Akhir


__ADS_3

Brak!


Brak!


Dor!


Semua anggota geng Qizz menyerang mansion Kevino. Bahkan para bawahan Kevino tidak sebanyak dengan pasukan geng mafia itu. Kevino yang tangannya diikat seperti tawanan pun diam membisu, walaupun di dalam hatinya ia takut jika Rico menemukan Sierra.


"CARI PEREMPUAN ITU SAMPAI KETEMU! JANGAN SAMPAI TERLEWATI SATU PUN!" teriak Rico yang membabi buta. Lelaki yang seumur dengan ayah Sierra itu berteriak layaknya orang kesetanan, hanya satu pertanyaan yang terlintas di pikiran Kevino, mengapa Rico ingin mengambil Sierra?


Kevino juga baru sadar jika selama ini, Rico yang menjalankan semuanya, dia yang menyuruhnya untuk mempermainkan hidup Sierra, Kevino pun dengan bodohnya hanya menurut saja. Tetapi sekarang berbeda, ada sesuatu dari diri Sierra yang membuatnya tidak mau menyakitinya lagi.


Tiba-tiba para bawahan Rico membawa seorang perempuan, Rico langsung naik darah dan menghampirinya.


Bug!


Bug!


"KALIAN KUSURUH UNTUK MENCARI SIERRA BUKAN MALAH ANAKKU!" serunya dengan marah, Rico menyerang dua anggotanya karena sudah berani menyentuh putrinya, walaupun hanya tangannya saja yang dipegang, tetapi Rico tidak bisa memaafkannya.


"M-maafkan kami..."


"Ayah... Hentikan!" serunya yang mencoba menahan Ayahnya untuk tidak memukuli siapapun. Rico tidak mendengarkan, dia tetap menyerang dua anggotanya.


Kevino terdiam. Di mana Sierra? Dan mengapa Riva di sini?


"Sedang apa kau di mansion Kevino? Dan di mana perempuan brengsek itu?!"


Riva tak mampu menahan tangisannya, dia sesenggukkan mendengar bentakkan Ayahnya.


"Ayah... "


"DI MANA PEREMPUAN ITU, RIVA?!"


Riva menunduk ketakutan. Dia tidak mau Ayahnya menjadi seperti ini. Dia takut jika Ayahnya marah. Tetapi dirinya tak mau melihat nyawa seseorang menghilang karena pelampiasan Ayahnya. Rico yang melihat putrinya menangis pun mulai luluh, dia mendekatinya dan memeluknya.


"Maafkan Ayah, Nak..."


Kevino mulai muak dengan drama anak dan ayah itu. Sebenarnya di mana Sierra? Apa yang Riva lakukan pada Sierra, Kevino menendang dua pria yang berdiri di sampingnya, dengan sekali hentakan tali yang diikatkan ke tangannya terlepas. Dari tadi dirinya memang pura-pura lemah, karena Rico bisa menembaknya kapanpun. Tetapi sekarang Sierra tidak ada, jadi Rico tidak bisa mengancamnya lagi.


Kevino langsung menyerang para pria berbadan besar itu. Kevino memukul mereka dengan lihai hingga membuat mereka kelelehan.


Bug!


Kevino berhasil memukul lawan terakhirnya, kemudian pria itu berjalan ke arah Riva yang masih menangis di pelukan Ayahnya.


"Riva! Di mana Sierra!"

__ADS_1


"Jangan membentak putriku!" seru Rico yang merasa marah saat Kevino berbicara dengan nada yang tinggi pada putrinya.


Kevino tidak peduli. Dia harus mencari Sierra. "CEPAT KATAKAN!"


Saat tangan Rico merogoh saku, Riva langsung mengentinkannya dengan mengambilnya dengan cepat.


"Riva!" seru Rico yang terkejut karena  Riva mengambil pistolnya. Riva menjauh sedikit dari Ayahnya. Kemudian menoleh pada Kevino yang sedang mengepalkan kedua tangannya.


"Kalau dia ingin mencintaimu kembali. Dia akan datang," ungkap Riva dengan senyuman miringnya.


***


Sierra terus berlari, tanpa menyerah sedikitpun. Perempuan itu tidak berani untuk menoleh ke belakang. Tadi dia menyetujui untuk membantunya kabur dari mansion Kevino. Karena bagaimana pun dia adalah Kevino, pria yang sudah mempermainkan hidupnya. Sierra berhenti berjalan saat sebuah mobil berhenti. Sierra tentu saja panik, bagaimana jika mobil itu adalah milik anak buah Kevino? Sierra tidak bisa membayangkan jika Kevino memberinya hukuman.


Sierra langsung berlari sekuat mungkin. Dia tidak boleh membiarkan siapapun mempermainkan hidupnya. Termasuk Kevino. Terdengar suara kaki yang ikut berlari di belakangnya membuat Sierra semakin mempercepat larinya.


"SIERRA!"


Suara itu, suara yang ia kenal. Sierra langsung menoleh ke belakang. Di mana seseorang berlari ke arahnya. Sierra ingin kabur, tetapi tidak bisa. Dia tidak bisa membiarkan orang itu sendirian.


Tap!


Orang itu memeluk Sierra dengan erat. "Dari mana saja kau! Sudah lama, aku mencarimu!"


Sierra yang mendapatkan pelukan dari Vernon hanya tersenyum. Saat ini Sierra tidak bisa mempercayai siapapun lagi. Bahkan Vernon yang sedang dipelukannya pun, Sierra tidak bisa mempercayainya, tetapi perempuan itu tidak bisa membiarkan Vernon sendirian.


"Bisakah kau membawaku pergi? Kumohon, bawa aku pergi dari Kevino!"


Vernon menarik lengan Sierra untuk pergi bersamanya, membawanya masuk ke dalam mobil. Sierra tersenyum, merasa lega. Akhirnya ada seseorang yang mendukungnya, disaat keluarganya tidak bisa mengenalinya, setidaknya ada masih ada Vernon.


"Rumah ini memang tidak terlalu besar. Tetapi semoga, kau nyaman."


Mobil yang dikendarai Vernon berhenti di sebuah rumah yang sederhana. Sierra menganggukkan kepalanya. "Apa, aku boleh mengunjungi keluargaku?"


"Tentu saja. Tetapi kau harus menyamar. Aku takut, Kevino akan mengenalimu."


Sierra pun menurut. Dia memakai pakaian serba hitam, tak lupa masker yang menutupi wajahnya. Vernon mengantarnya untuk ke rumah Ibunya. Setelah sampai, mobil Vernon berhenti di dekat lingkungan rumahnya.


Sierra tersenyum melihat Serla yang memakai baju seragam, sudah lama sekali ia tidak melihat adiknya berangkat sekolah. Diam-diam tanpa ia minta, air mata bercucuran dari kelopak matanya. Jujur, Sierra rindu dengan keluarganya, dia ingin memberitahu kebenaran bahwa dirinya masih hidup, tetapi Sierra takut, dia takut tidak diterima.


Sierra pun menyuruh Vernon untuk melajukan mobilnya. Sierra tidak kuat menahan rasa rindunya jika terus berada di sini. Mobil yang dikendarai mereka berhenti di dekat lampu merah. Sierra memperhatikan jalan, menatapnya dengan tatapan kosong. Lalu tiba-tiba sebuah motor maju. Sierra mengenalnya! Walaupun orang itu memakai helm, Sierra masih mengenalnya, dia Maldi.


Tetapi kenapa pria itu menggunakan motor bukannya mobil? Maldi hanya menggunakan motor pada saat darurat saja, dia tidak akan menggunakan motor tanpa alasan yang jelas, apakah terjadi sesuatu? Apa Maldi baik-baik saja?


Lampu jalan berganti warna. Kendaran pun mulai melaju. Begitupun Maldi, pria itu mempercepat laju motornya seolah-olah takut terlambat. Oh bagaimana rencana pertunangan Maldi dan Serla, apa berjalan lancar?


Mobil Vernon berhenti di depan rumahnya lagi. Sierra pun disuruh istirahat lalu makan. Sierra tak berhentinya bersyukur saat Vernon memperlakukannya dengan baik. Saat Sierra selesai mandi dan mengenakan pakaian tidur, perempuan itu berjalan ke dapur yang ternyata ada Vernon yang sudah menyiapkan makanan.

__ADS_1


"Kau pasti lapar. Ayo makan!"


Sierra tentu saja mengangguk. Perutmya sudah keroncongan sejak tadi. Sierra pun duduk di meja makan, menyantap makanan yang sudah disiapkan pria itu.


Enak! Makanannya khas rumahan yang pastinya membuat Sierra rindu dengan masakan Ibunya.


"Wah kau pintar masak!" ungkap Sierra disela makannya.


"Bagusalah, jika kau suka!"


"Aku ingin bertanya, piyama ini milik siapa? Apa milik pacarmu?"


"Bukan, itu milik ibuku."


"Oh, sekarang di mana ibumu? Apa aku bisa bertemu dengannya?"


Vernon tersenyum. "Sekarang dia berada di tempat lain, nanti akan kuperkenalkan."


"Baiklah!"


Vernon hanya tersenyum tipis. Kemudian dia menanyakan sesuatu. "Sierra, maaf karena lancang bertanya. Sebenarnya kenapa, kau lari dari mansion? Bukankah mansion itu milik ayahmu?"


Sierra berhenti makan. Matanya sedikit bergetar. "A-apa kau yakin jika mansion itu milik ayahku?"


"Kenapa bertanya balik? Apa kau tidak bertemu dengan ayahmu?"


Sierra menelan salivanya. "A-aku..."


"Kau baik-baik saja?"


Sierra menutup matanya sebentar. Dirinya harus mengendalikan diri. Dia tidak boleh seperti ini. "A-aku, tidak melihat ayah. Hanya saja aku melihat cincin yang sama persis seperti yang ayahku kenakan, tapi..."


"Kenapa?"


Tubuh Sierra semakin gemetar. "S-setelah itu, lampu ruangan menjadi gelap. Aku tidak melihat apapun. Namun tiba-tiba seseorang datang dan mulai menyiksaku..."


"Menyiksamu?" tanya Vernon yang terkejut.


"D-dia berkata aneh. 'kau pembunuh, aku harus membunumu' aku takut!  Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, selain menangis ketakutan.. Sakit... Tubuhku sakit saat dia mencambukku.. Aku..?" Sierra tak mampu melanjutkan ucapannya. Vernon langsung berdiri dan mendekati Sierra, memberinya minuman.


"Minumlah, agar kau tenang."


Sierra mengangguk dan mulai meneguk air itu hingga tuntas. Setelah itu, Sierra menoleh pada Vernon, namun tiba-tiba penglihatannya muali buram.


"V-vernon, kenapa kepalaku pusing?"


Sierra memegang kepalanya yang terasa berat. Rasanya saki sekali, rasanya kepalanya berat sekali. Terakhir kali, Sierra melihat Vernon yang tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Selamat, penderitaanmu berakhir!"


Sebelum akhirnya Sierra menutup mata untuk terakhir kalinya. Apakah memang untuk yang terakhir?


__ADS_2