
Sierra membulatkan matanya, dia lupa dengan Maldi. Secepat kilat, Sierra berlari ke arah tangga menuju kamarnya. Pintu pun terbuka, namun tak ada Maldi di sana.
"Ke mana Maldi? Bukannya, tadi dia di kamarku kan?" monolog Sierra. Perempuan itu, mencari ke semua ruangan untuk mencari lelaki itu. Maldi tidak mungkin keluar rumah, jika keluar dia pasti melewati ruang tamu.
Kaki Sierra terhenti di sebuah kamar yang jarang dibuka apalagi dimasuki oleh orang rumah, namun saat ini pintu itu sedikit terbuka menyisakan celah. Siapa yang masuk ke sana? Apakah itu Maldi? Sierra hanya menatap pintu kamar itu, mungkinkah sang pemilik kamar yang telah membukanya dan masuk ke dalam? Sierra tersenyum getir, dirinya memang gila bisa berpikiran seperti itu. Perempuan itu tidak berani untuk melangkahkan kakinya, rasanya tubuhnya lemas tak berdaya. Ingatan masa kelam pun terlintas di pikirannya.
"Aku ingin bahagia Sierra!"
"Pergi! Jangan mendekat, sialan!"
"Biarkan aku bahagia!"
Sierra menutup kedua telinganya. Suara-suara itu kembali memenuhi pikirannya, siapapun tak tahu betapa kerasnya ia melupakan kejadian itu, tidak ada yang tahu betapa menakutkannya melihat seseorang bunuh diri di hadapannya dengan mengenaskan, apalagi Sierra hanya menonton saat Kakaknya sendiri sedang sekarat. Dirinya memang brengsek, tetapi Sierra juga tak tahu apapun karena itu adalah masa lalu. Namun sekarang dirinya harus berubah, Sierra tidak boleh membiarkan kejadian itu membuatnya trauma, Sierra harus melawan!
Sierra menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mulai mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara, matanya mengintip celah yang masih bisa ia lihat. Di dalam, ada seseorang yang ternyata Maldi yang sedang mencari sesuatu? Sierra tak yakin itu, tetapi apa yang ia lakukan di kamar mendiang kakaknya?
Sierra belum beranjak sedikit pun, dia harus mencari sesuatu apa yang membuat Maldi masuk ke sana. Maldi yang berada di dalam kamar, masih belum menyadari jika sedang diperhatikan, lelaki itu sibuk sendiri dengan wajah gelisah. Sierra tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat Maldi yang tiba-tiba membuka pintu lemari? Apa-apaan pria itu? Apa dia akan mencuri?
"Aku menemukannya!" Maldi berseru saat menemukan sesuatu yang tak pernah Sierra buka. Buku harian! Sierra tak berani untuk membukanya, bahkan untuk masuk ke kamar ini, dia perlu memberanikan diri agar tubuhnya tidak bereaksi aneh. Dia perlu memantapkan hati bahwa kejadian itu tak sepenuhnya salah dirinya.
Sierra semakin kaget saat dengan santainya Maldi membuka buku bukuĀ harian itu.
Brak!
"APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Buku itu terjatuh dari tangan Maldi. Maldi terkejut melihat kedatangan Sierra yang tiba-tiba, apalagi perempuan itu memergokinya dengan wajah menahan amarah, sejak kapan Sierra di sana?
"JAWAB BRENGSEK! APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI!" Sierra menatap nyalang pada Maldi yang terlihat gugup, bahkan tak hentinya pria itu berusaha terlihat biasa saja.
__ADS_1
"Aku bisa jelaskan, Ra! Aku..."
"Jelaskan sedetail mungkin, atau aku akan memberitahu yang lain tentang apa yang kau lakukan!"
"Oke, oke! Aku akan memberitahumu! Tetapi sebelum itu tutup pintunya ya? Aku takut jika ada orang lain yang akan mendengar!"
Walaupun kesal, Sierra tetap menurut. Perempuan itu menutup pintu dengan pelan, lalu menguncinya. "Sekarang jelaskan!"
Maldi menghembuskan nafas gusar sebelum akhirnya bercerita.
Waktu itu, saat pernyataan Kevino yang mengatakan bahwa dia telah melakukan sesuatu pada Sierra membuat Maldi marah dan kesal, ia pun pergi namun datang kembali saat tidak melihat satu orang pun yang berjaga di depan ruangan Sierra. Maldi pun mendekat dan tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka dari awal sampai akhir. Bahkan Maldi pun mengikuti Kevino dan Septian dari belakang.
Maldi juga tidak bisa membendung rasa kagetnya saat datang ke tempat yang dipenuhi orang-orang seram. Tetapi Maldi tak menyerah dia masuk dan langsung bersembunyi untuk melihat apa yang terjadi.
"Jadi, dia yang sudah menyiksa Sierra?" ujar Maldi yang mulai paham dengan apa yang mereka bicarakan. Lalu tiba-tiba keadaan menjadi saling menyerang, bahkan Kevino pun menembakkan peluru yang membuat tubuhnya sedikit gemetar. Namun tiba-tiba tubuhnya seperti ditarik untuk pergi dari sana.
Maldi yang belum sadar pun kebingungan, siapa perempuan ini? Mengapa dia menariknya keluar?
"Kau harus membuat mereka dipenjara! Aku akan memberimu semua bukti kejahatan mereka, dengan satu syarat, kau harus membantuku!"
"Kenapa mereka harus dipenjara?"
"Kevino dan Om Septian tidak bisa melindungi Sierra. Hanya hukum yang bisa. Jika ayahku tidak dipenjara, dia akan membunuh Sierra!"
"Tetapi kenapa? Apa yang membuatnya ingin membunuh Sierra?"
"Jawabannya, ada di buku harian Kak Saga!"
Setelah perbincangan yang cukup rumit, Maldi melakukan perintah yanh tak lain adalah dari Riva. Maldi bahkan menerima bukti kejahatan yang telah dilakukan geng mafia itu.
__ADS_1
"Jawabannya ada di buku harian bang Saga?" ucap Sierra, perempuan itu tak habis pikir, bagaimana mungkin, alasan pria tua itu ingin membunuhnya ada di sini? Terlalu aneh.
"Kata dia, jawabannya di sini Ra. Kita bisa tahu, alasan dia membenci kamu!"
"Tetapi kenapa harus menyelinap? Kenapa nggak kasih tahu aku aja?" pekik Sierra. Walaupun niat Maldi baik, tetapi tetap saja salah.
Maldi menatap ke arah lain, dirinya terlalu malu. Maldi pun berbicara, sambil menunduk. "Aku cuman nggak mau bikin kamu khawatir Ra, aku juga terluka saat tahu, bahwa kamu cari pekerjaan cuman buat aku. Tetapi karena aku juga, kamu harus bertemu orang-orang yang jahat. Kalau saja waktu itu, aku nggak pernah minta uang sama kamu, mungkin hidup kamu nggak akan seberat ini, Ra."
Sierra mengatupkan bibirnya. Itu semua bukan sepenuhnya salah Maldi. "Itu keputusan aku, Maldi. Bahkan dulu Kevino selalu kasih tahu aku buat berhenti, tetapi karena aku terlalu egois dan serakah, aku tetap bekerja karena aku sadar, nggak ada satu hal pun yang menarik dari diri aku, supaya kamu bisa tetap deket sama aku."
"Tapi, Ra aku sa--"
"Udah dong jangan dibahas lagi! Entar aku nangis lagi!" protes Sierra. Pembicaraan ini mengingatkannya pada saat dirinya masih belum sadar betapa pentingnya sebuah keluarga.
"Yaudah, aku nggak akan bahas lagi!"
"Sini, aku buka!" seru Sierra yang mulai greget. Sierra mengambil alih buku itu dan langsung membukanya tanpa pikir panjang. Sierra mulai membacanya dari bait ke bait, tak ada yang aneh! Di halaman pertama hanya menjelaskan tentang hari Saga yang buruk?
"Setiap luka yang kujalani ini, adalah yang terbaik kan?"
Kenapa Saga menuliskan kalimat itu? Dari yang Sierra tahu, kakaknya ini memiliki sifat ceria dan menyenangkan, walaupun terkadang diam tanpa alasan, dia selalu cerita jika terjadi sesuatu.
Sierra membuka halaman kedua yang ternyata diisi dengan beberapa kalimat.
"Di kehidupanku yang selanjutnya, aku ingin tetap menjadi anak dari ayah dan Bunda. Di kehidupan itu, aku akan berusaha membahagiakan mereka. Maaf karena aku telah mengecewakan kalian, aku tak sanggup jika harus melanjutkan kehidupanku yang sekarang kujalani, aku terlalu malu."
Sierra tak sanggup membacanya lagi. Terlalu sakit saat tahu bahwa kakaknya ini tidak pernah baik-baik saja. Sierra dengan cepat membuka halaman ke halaman lainnya tanpa membacanya. Maldi ingin mencegahnya, tetapi melihat Sierra yang menahan tangis Membuatnya urung.
Tiba-tiba Sierra berhenti membuka halamannya lagi, dia menemukan sebuah foto. Foto yang terdapat tiga orang yang sedang berbahagia di tempat panti asuhan.
__ADS_1