Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 14. Luka


__ADS_3

"Mengapa, kau mengantarku ke tempat seperti ini?!"


Kevino tersenyum. "Dengan wajahmu itu, kau akan laku terjual. Seharusnya, kau tahu cara memanfaatkannya!"


Sierra berusaha melepaskan diri, tetapi gagal, sudah ada dua orang pria berbadan kekar yang berdiri di belakangnya.


"Sedari awal, kau sudah berniat melakukan ini kan?!" seru Sierra yang berusaha melepaskan diri dari cengkraman Kevino.


"Berhenti! Kau tidak perlu membrontak seperti ini! Lagi pula, aku tidak menyuruhmu menjual diri!"


"Apa?" Sierra berhenti, perempuan itu diam, dengan wajah meminta penjelasan.


"Kenapa? Kau mengira aku akan menjualmu? Tentu, tetapi nanti, sekarang permulaan dulu, menjadi wanita malam juga harus dilatih terlebih dahulu!"


Sierra menghempaskan lengan Kevino. "Lalu, mengapa kau mengantarku kemari?!"


"Tetap tenang, okay?"


Sierra menatap sinis pada Kevino, lelaki itu memang menyebalkan tetapi kalau boleh jujur, Kevino selalu membantunya walaupun ada niat terselubung.


Sierra dan Kevino masuk ke dalam salah satu kamar, kamar itu terlihat gelap bahkan perempuan itu tak tahan di sana hanya dalam beberapa detik saja.


"Aku yakin pemilik kamar ini tidak memiliki rasa kebersihan yang tinggi!" celoteh Sierra yang merasa jengkel melihat kamar ini yang jauh dari kata rapi.


Walaupun merasa kesal, perempuan itu tetap berjalan untuk sekedar melihat-lihat.


Saat ingin masuk ke sebuah ruangan, suara teriakan Kevino menggema.


"Aku pergi dulu, besok akan kujemput!" Lelaki itu berlari keluar, Sierra segera mengejarnya.


"Tunggu, aku brengsek!" Saat ingin membuka pintu, seseorang muncul.


"Oh, apakau perempuan yang dikirim pria brengsek itu?"


Sierra menoleh, matanya membulat sempurna melihat sosok yang sepertinya baru bangun tidur. "M-maldi?"


"Mengapa, kau tahu namaku? Apa, pria itu membocorkan informasi pribadiku?!"


Sierra tidak menjawab, perempuan itu diam membisu, merasa tidak percaya, bahkan untuk menelan saliva saja rasanya susah.


Melihat Sierra yang tidak bergeming, Maldi melangkah mendekatinya, tubuh Sierra lemas, bahkan perempuan itu tidak membrontak saat Maldi menarik lengannya.


Maldi menuntun Sierra ke sebuah kamar, menyuruh perempuan itu untuk duduk di ranjang.


Sierra masih terdiam, bahkan saat Maldi pergi ke kamar mandi pun, perempuan itu tidak bereaksi.


"Apa, ini adalah sifat aslinya? Apa ini adalah jawaban saat aku pernah melihatnya masuk ke sebuah kamar hotel?" duga Sierra.


Sierra tidak mau percaya, dia tidak ingin bahwa pikirannya adalah fakta.


"Tidak! Tidak mungkin! Aku sedang tidak enak badan sampai berfikiran jauh seperti ini. Maldi adalah Maldi yang kukenal, dia pria manis yang pernah menjalin hubungan denganku!"

__ADS_1


"Tetapi..."


Maldi keluar dari kamar mandi, pria dengan santainya keluar hanya memakai handuk saja.


Sierra langsung mengalihkan pandangan, 2 tahun ia pacaran dengan Maldi, baru kali ini dirinya melihat roti sobek Maldi.


Apa, lelaki itu selalu se-terbuka ini pada perempuan lain? Apa, hanya dirinya yang tidak pernah diperlihatkan, Sierra memang tidak berharap, tetapi hanya merasa tidak terima saja.


Maldi datang sambil mengelap rambutnya dengan handuk, pria itu berjalan ke ranjang. Sierra otomatis menggeser tubuhnya, walaupun sudah putus, peransaanya tidak bisa berbohong jika masih ada rasa pada Maldi.


"Kau, tahu rasa sakit yang paling membekas?"


Pertanyaan yang keluar dari mulut Maldi, membuat Sierra heran.


"KAU TAHU TIDAK?!"


Sierra terkejut mendapatkan bentakkan yang tiba-tiba, dengan gugup perempuan itu menggelengkan kepalanya.


Maldi terlihat mengehela nafas, dia terlihat lelah.


"Rasa sakit yang paling membekas dalam diriku adalah wanita sialan itu!"


Sierra mengerjapkan matanya beberapa kali, apa katanya? Wanita sialan? Apa wanita yang Maldi maksud, adalah dirinya?


"S-siapa maksud anda?" tanya Sierra ragu-ragu.


"SIERRA! SIAPA LAGI KALAU BUKAN DIA!"


"Aku sangat membencinya, sampai rasanya muak sekali menyebutkan namanya!"


Sierra menutup matanya beberapa kali, dirinya harus sabar menghadapi Maldi yang sepertinya sedang mencurahkan amarahnya.


Tiba-tiba Maldi mendekatkan wajahnya pada Sierra lekat-lekat. Sierra yang diperlakukan seperti mundur, dia merasa terkejut dengan perlakuan Maldi.


"Nama kalian sama, itu sebabnya aku menyewamu untuk menggantikkan dia!"


Sierra menelan salivanya kuat-kuat, perempuan merasa gugup, bahkan hembusan nafas Maldi terasa sangat dekat.


"Kau, tahu? Rasanya aku sangat ingin membunuhmu sekarang juga!"


Sierra ingin menghindar, namun tangan Maldi bergerak menahan punggungnya. "Tetapi, kau bukan dia! Kau bukan seseorang yang selalu membuatku sakit!"


Sierra menundukkan kepalanya, entahlah rasanya hatinya menciut mendengar sindiran tak langsung dari Maldi.


"Kau, tahu? Dia wanita jahat! Dia sangat berbeda dengan adiknya! Kalau boleh jujur, aku menyesal karena pernah bertemu dengannya!"


Sierra langsung mendongak, dia menatap Maldi dengan tatapan berkaca-kaca, sebenci itukah Maldi terhadapnya? Jika alasannya karena putus, mengapa lelaki itu berbicara seolah-olah sudah membencinya sebelum memutuskan hubungan?


"Mendengar ia mati, membuatku bingung, aku harus menangis atau bahagia?"


PLAK!

__ADS_1


Satu tamparan lolos pada pipi Maldi, pria itu langsung membulatkan matanya. "BERANINYA KAU MENAMPARKU?!"


Sierra tidak takut, perempuan itu malah berdiri memandang Maldi dengan keberanian. "Aku tidak menyangka, jika pria sepertimu memang ada di dunia ini? Kau, bahkan tidak malu memperhatikan tubuhmu pada wanita yang baru pertama kali bertemu dengannmu!"


Maldi malah terkekeh. "Lantas, bagaimana denganmu? Apa, kau memang masih suci? Aku curiga, sebelum kau datang ke sini, Kevino sudah lebih dulu menjamahmu!"


"KAU!"


"Mengapa? Kau tidak terima?!"


Kedua tangan Sierra terkepal kuat, ada rasa ingin menghajar Maldi saat ini juga, tetapi entah mengapa tangannya terasa sulit untuk digerakkan.


Tap


Tap


Suara langkah kaki terdengar, Sierra langsung mengalihkan ke arah suara.


"Maldi, kau sedang beradu mulut dengan siapa?"


Suara itu...


"Aku hanya berbicara dengan ****** tidak tahu malu ini!"


Perempuan yang baru saja datang itu tersenyum sinis. "Kau membuang waktu! Lebih baik pakai pakaian dulu, setelah itu ikut bersamaku!"


Rasanya Sierra ingin pingsan saat ini juga, dia Bela! Dari suaranya, caranya dia berbicara, Sierra yakin perempuan itu adalah Bela.


"Baiklah, tunggu dulu!" Maldi segera masuk kembali ke kamar mandi, dengan membawa beberapa pakaian.


Sierra duduk kembali pada ranjang, untuk berdiri saja rasanya tak mampu, bahkan tubuhnya terasa lemas.


"Kau, mau tahu satu cerita yang menarik?"


Sierra menoleh ke samping, ternyata Rena sudah duduk di sampingnya.


"Dulu, aku sangat menyayangi seseorang. Namun, karena takdir yang menyedihkan ini, aku terpaksa mengambil sesuatu yang paling berharga baginya! Dan yah, aku mendapatkannya, hingga takdir mengambil si pemilik sebelumnya!"


What, tunggu? Maksudnya, Rena mengambil Maldi darinya? Jadi selama ini mereka berpacaran di belakangnya, atau bagaimana? Batin Sierra yang terheran-heran.


"Aku tidak mencintai Maldi, begitupun dia. Kami dekat hanya untuk mencurahkan sikap Sierra yang terlalu egois, mungkin sampai mati pun, dia tidak tahu apa kesalahannya!"


Sierra menelan salivanya kuat-kuat. Mengapa rasanya sangat sesak?


Rena terkekeh kecil, merasa ada yang lucu. "Perempuan itu bahkan tidak tahu apa-apa, dia tidak tahu penderitaan adiknya, rasa sakit ibunya, atau bahkan perbuatan dari orang tersayangnya pun dia tidak tahu apa-apa! Yang perempuan itu tahu, hanya tentang dirinya sendiri yang selalu merasa dicurangi!"


Sierra terdiam mendengarnya, tidak ada rasa kesal, marah ataupun dendam. Yang ada hanya, sebuah pertanyaan.


Seburuk itukah dirinya?


"Jika, dia masih hidup. Aku ingin sekali memberitahunya, bahwa tidak selamanya luka berakibat sakit, luka juga mengajarkan hal-hal yang tidak pernah kita duga. Walaupun tidak mungkin, setidaknya aku ingin sekali memberitahunya," terang Rena dengan tatapan kosong.

__ADS_1


__ADS_2