Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 22. Dia kembali


__ADS_3

"Ahk!" Desisan itu berasal dari seseorang yang baru saja bangun. Kedua matanya berkedip pelan, mengumpulkan nyawa. Di mana ini? Hanya itu yang ingin ia tanyakan. Jika bangun di ruangan serba putih sih wajar.


Tetapi ruangan yang serba gelap, dan tak ada satupun barang selain ranjang yang sedang ia tiduri. Apa aku menang sedang disandera? Hanya itu yang terlintas di pikirannya.


***


"Apa kau merindukanku?"


Seorang pria itu langsung bergidik ngeri. Walaupun tak pernah tidur bersama wanita di depannya ini, tetapi dirinya menyesal karena pernah dekat saja.


"Mengapa, kau memasang ekspresi seperti itu Maldi, aku jadi sakit hati."


Maldi memutar matanya. Wanita tua ini tak tahu umur. Bisa-bisanya dia memasang wajah yang membuatnya mual. Walaupun tak ingin berbicara dengannya, tetapi Maldi ingin sesuatu yang harus terlaksana. "Aku ingin menyewa Sierra, bawahannya Kevino."


Mendengarnya membuat rasa semangat Madam Cora langsung lenyap. "Apa, kematiannya membuatmu tak bisa melupakan perempuan sialan itu?!"


"JAGA UCAPANMU!" seru Maldi yang sensitif jika ada yang menghina Sierra.


Madam Cora berusaha tenang, walaupun kedua kakinya sudah gemetaran. "Karena Sierra sudah tidak ada, jadi kau menginginkan seseorang yang namanya sama dengannya?"


Maldi tak menjawab. Ada rasa aneh saat ia mencurahkan semuanya pada wanita itu. Tatapannya, tindakannya,  mengingatkannya pada Sierra Rosaline, mantan kekasihnya.


"Kau ingat hari di mana kau memarahinya saat bertemu di sini?"


Maldi ingat betul hari itu. Hari di mana semuanya dimulai. Andai dirinya bisa memutar waktu, Maldi ingin terus bersama Sierra. Maldi akan melupakan kesalahannya dan menjadi pacar yang baik untuk Sierra, tapi sekarang sudah terlambat.


"Jika, kau tak bisa membantuku. Yasudah."


Maldi berdiri dari duduknya, berniat pergi.


"Aku ingin mengatakan sesuatu!"


Terpaksa, pria itu menolehkan kepalanya.


"Jika kau melihat sesuatu yang mampu membuatmu merasa berbeda. Jangan pernah lepaskan! Jangan pernah membuatnya merasa jauh darimu!"


Maldi mengangkat satu alisnya, apa-apaan wanita paruh baya itu? Sudah mabuk berapa botol?


Maldi mengacuhkannya, lalu pria itu benar-benar pergi. Sedangkan Madam Cora hanya tersenyum tipis. "Malam ini aku harus pindah. Aku tak tahu apa yang akan dia lalukan saat miliknya menghilang!"


***


Maldi menyetir mobil dengan keadaan gundah. Ada rasa tak puas saat keinginannya tidak terwujud. Bahkan hujan yang terus turun itu membuatnya semakin patah hati. Hujan pun tahu betapa sakitnya hatinya, perihnya luka yang tak berdarah ini.


Jika manusia yang mengambil Sierra darinya, Maldi akan mencarinya sampai ujung dunia, bahkan tak segan membunuh siapapun yang telah membuatnya jauh dari Sierra. Tetapi ia bisa apa? Saat semesta lah yang mengambil Sierra.


Brak!

__ADS_1


Maldi memukul stir dengan keras, tak peduli dengan tangannya yang mulai mengeluarkan darah. Namun mobilnya oleng ke pinggir saat menemukan sesuatu yang menyeramkan.


"Aaaaa!" Maldi menghentikan mobilnya, dan langsung bersembunyi. Pria itu ketakutan. "Apa, Sierra mendengar keinginanku? Itu sebabnya dia mendatangiku?!"


Brak!


Brak!


Perempuan dengan rambut terurai itu membuat Maldi takut bukan main. Hujan yang deras serta kilat yang ikut menyambar membuat suasana semakin horor. Ke mana Maldi yang bucin? Ke mana Maldi yang katanya akan selalu mencintai Sierra?


Brak!


Maldi mengangkat kepalanya. Dia bisa melihat baju perempuan itu dipenuhi dengan darah. "Ya Tuhan. Damaikan Sierra. Aku tidak mau dia bergentayangan seperti ini!"


Brak!


Brak!


"APASIH!" seru Maldi dengan ketakutan level premium. Demi apapun, ia paling takut dengan hantu! Apalagi kuntilanak yang satu ini sangat menyeramkan. Rambut panjang berantakan menutupi setengah wajahnya, lalu bajunya yang putih dipenuhi darah merah. Bagaimana dia bisa tenang setelah melihat semua ini?


Namun ketakutannya mulai menipis saat kuntilanak itu sesenggukan dengan wajah yang tertutupi rambut. Sepertinya putus asa.


Bagaimana ini? Apa membantu hantu juga mendapatkan pahala? Tetapi jika itu memang benar-benar Sierra, Maldi harus menolongnya! Maldi pun menekan tombol agar pintunya dapat dibuka. Secepat kilat perempuan itu masuk, membuat Maldi langsung menutup mata.


"MAAFKAN AKU SIERRA! AKU TIDAK MEMBENCIMU! AKU SANGAT MENCINTAIMU! TETAPI, KUMOHON JANGAN BERNGETAYANGAN SEPERTI INI!"


"T-tolong aku.."


"T-tolong..."


Sepertinya ada yang aneh. Tak ada suara tertawa kuntilanak atau semacamnya, Maldi pun mencoba mengintip.


"SIERRA?" maldi kaget melihat dengan jelas betapa sayunya wajah Sierra saat ini. Bukan Sierra dambaan hatinya.


"Apa yang terjadi denganmu?!"


Sierra terlihat menghirup nafas dalam-dalam. Wajahnya yang lemas membuat jiwa manusia Maldi keluar. "Aku akan mengantarmu ke rumah sakit!"


"J-jangan..."


Suara kecil itu tak bisa Maldi abaikan. Melihat penampilan perempuan itu membuat Maldi tak bisa berpikir jernih. Apa perempuan itu dikejar psychopath atau semacamnya?


***


"KEMANA DIA!" Teriakan itu mampu membuat semua orang diam membisu. Wajahnya yang marah serta mata hitamnya yang menyala mampu membuat nafas tak berjalan dengan baik.


"JAWAB PERTANYAANKU! JIKA TAK MAU MATI!"

__ADS_1


Kevino membabi buta, menendang apapun yang berada di hadapannya. Bahkan ia tak segan menendang kepala seseorang untuk melampiaskan amarahnya.


"M-maafkan kami..."


"Cari dia sebelum pagi tiba! Jika kalian tidak menemukannya, keluarga kalian akan celaka!"


Para bawahan Kevino pun langsung berhamburan keluar. Sedankan Kevino, pria itu berusaha untuk tidak menembak siapapun dengan pistol yang berada di tangannya.


"Sierra... Sierra... Berapa kali aku harus sabar menghadapimu?"


***


Tok!


Tok!


Tok!


Suara ketukan itu membuat seorang wanita paruh baya menghela nafas merasa kesal. Di rumahnya terdapat bell, mengapa orang itu tidak menekannya saja?


"Tunggu sebentar!" serunya sambil berjalan ke arah pintu.


Ceklek!


Pintu terbuka lebar. Menampakkan seseorang yang mampu membuat sang pemilik rumah terkejut.


"M-mengapa kau ada di sini?"


Tamu itu dengan santai, malah masuk melewati sang pemilik rumah.


"HEI MENGAPA KAU KEMARI!"


Pemilik rumah itu lantas marah dengan perlakuan tamunya yang tak tahu sopan santun. Beliau berjalan ke ruang tamu di mana seseorang masuk tanpa ia minta.


"Apa kepalamu terbentur sesuatu? Sampai salah masuk rumah?!" Wanita paruh baya itu tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya. Sudah lelah menjalani hari yang melelahkan ditambah malah bertemu dengan orang yang paling ia benci.


"Di mana Sierra?"


Savia yang tak laing sang pemilik rumah langsung melipat tangannya, memasang ekspresi jengah. "Mengapa kau bertanya tentang anakku?! Kau tidak punya urusan apapun dengannya!"


"Dia juga anakku!"


Savia langsung tersenyum sinis. "Di mana kau saat dia membutuhkanmu! Di mana kau, saat dia membutuhkan sosok ayah?! Dan mungkin kau juga tak tahu, bahwa Sierra sudah lama pergi!"


Pria paruh baya yang sedang duduk di sofa itu diam membisu.


"Sekarang, pergi dari rumahku! Aku tak mau melihatmu berada di sini!"

__ADS_1


Pria itu malah berdiri, hendak pergi masuk ke ruangan lain.


"KAU MAU KEMANA!" Savia berusaha mengejar mantan suaminya itu. Sepertinya dia akan menuju lantai dua, bagaimana jika dia bertemu dengan Serla?


__ADS_2