
Akhirnya, syuting yang melelahkan ini selesai. Sierra sedang duduk di kursinya, mengkipasi diri sambil memperhatikan Serla yang syuting.
"Apakah, dia memang sebagus itu? Ekspresinya sangat dapat dan menghayati!"
Sierra menoleh ke samping ternyata lelaki bernama Vernon itu yang berbicara.
"Mengapa kau jadi bekerja denganku? Apa Kevino yang menyuruhmu?"
"Tidak, aku yang meminta. Dan akhirnya Kevino mau menerimaku, sebelumnya dia tidak mau!"
"Kenapa?"
Vernon melihat sekelilingnya sebentar lalu mendekati Sierra dan berbisik sesuatu. "Mungkin dia takut jika aku menceritakan apa yang terjadi dan sesuatu yang tidak kau ketahui!"
Sierra mengerucutkan alisnya. Dia tidak mengerti.
"Kevino bukan orang yang bisa kau tangani. Dan berada di dekatnya bukanlah hal baik!"
Sierra menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Bisakah, kau langsung saja? Otakku lemah jika harus menerka-nerka!"
"Kau terjebak di lingkaran hitam yang selamanya, akan menjeratmu, Sierra."
Lama-lama ingin sekali merobek mulut Vernon, tidak bisakah lelaki itu to the point?
Melihat wajah Sierra yang kesal, Vernon langsung berbicara. "Kau terjebak di dunia mafia, Sierra. Geng Qizz!"
"Hufhh!" Sierra langsung menutup mulutnya yang hendak mengeluarkan tawa.
"Aku tidak bercanda! Aku serius!" tegas Vernon.
Sierra berusaha mengendalikan diri untuk tidak tertawa. "Baiklah, aku percaya! Lanjutkan!"
"Kevino adalah kaki kanan, dia orang kedua yang berkuasa! Dia bisa saja membuatmu mati dengan mudah!"
"Bukankah, aku memang sudah mati?" ucap Sierra yang masih saja bercanda.
"Sierra! Aku serius! Aku tidak bercanda! Kau tahu? Aku baru saja membuat masalah terbesar dalam hidupku. Jika Kevino tahu, apa yang kubicarakan ini, hidupku akan tamat!"
"Lalu mengapa kau memberitahukan ini disaat nyawamu akan terancam?!"
Vernon diam. "A-aku juga tidak tahu."
Sierra langsung terkekeh kecil. "Bagaimana aku bisa percaya orang yang tidak mau mengatakan alasannya? Bisa saja, sebenarnya kaulah yang paling jahat?!"
Vernon menutup matanya sebentar, berusaha mengendalikan diri. "Benar yang dikatakan semua orang. Kau memang menyebalkan dan keras kepala, kau malah berdekatan dengan orang yang mempermainkan hidupmu!"
"Semua orang?"
"Yap, semua anggota Qizz tahu tentang dirimu!"
Sierra semakin pusing, dibuatnya. Ada apa ini. "Tunggu, apa geng Qizz yang kau maksud adalah para pria jelek yang ada di mansion bos besar?"
"Ya, tepat sekali!"
"Lalu, apa ketua mereka adalah bos besar? Bos besar yang sudah memberiku pekerjaan?"
__ADS_1
"Yah, kau benar! Dia yang memimpin semuanya! Dan dia yang paling kejam di antara kami!"
Ada sesuatu yang mengganjal di benak Sierra. "Apa, dia memakai topeng, dan menyamarkan suaranya untuk melindungi identitasnya?"
Vernon menganggukkan kepalanya.
"Dan aku juga penasaran, apa kau salah satu dari mereka yang menganggap bahwa hidupku adalah lelucon?"
"Tidak! Aku percaya bahwa kehidupan itu penting! Hidupmu juga sama berharganya dengan yang lain, namun kau tidak pernah menyadarinya!"
"Berharga, seperti apa yang kau maksud? Kau tidak lebih dari segelintir orang yang tahu sepotong kisah hidupku!" seru Sierra yang terbawa emosi.
"Aku--"
"Apa, yang kalian bicarkan?"
Seseorang datang mengejutkan keduanya. Sierra dan Vernon saling tatap, bingung menjelaskannya bagaimana, dari kedua mata Vernon, pria itu berharap jika Sierra akan membantunya.
"Dia hanya mengoceh tidak jelas soal akting Serla yang tidak seberapa itu!"
Vernon bernafas lega, akhirnya Sierra mau membantunya, apa dia juga mempercayai apa yang ia katakan?
Sierra melanjutkan. "Kau tahu Kevino? Dia sangat mirip denganmu yang selalu meremehkan bakatku, tunggu saja sampai aku mengeluarkan bakat yang terpendam ini!" serunya dengan wajah yang sedikit berbeda.
"Pendam saja! Karena tidak akan ada yang peduli!" Kevino pun langsung pergi. Sierra menatap tajam pada pria itu, tidak bisakah dia membuatnya senang untuk sebentar saja?
Baru beberapa langkah, Kevino menoleh ke belakang. "Jika kalian ingin menginap di sini, tak apa!"
Vernon langsung menarik lengan Sierra untuk menyusul Kevino. Sierra pasrah saat tangannya ditarik seperti itu.
"Kenapa?" tanya Vernon pada Kevino yang tidak beranjak sedikit pun.
Vernon diam sebentar, merasa tak paham. Dua detik kemudian, dia langsung melepaskan tangan Sierra. Kevino berdehem sebentar, lalu pergi.
"Mengapa dia berbicara seperti itu?" imbuh Sierra yang tidak mengerti.
***
Sierra sejak tadi diam memperhatikan Kevino yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Apa kau akan tinggal di sini?" Pertanyaan aneh itu keluar dari mulut Sierra.
"Ini rumahku! Aku bebas berbuat apapun!" seru Kevino.
Sierra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung cara mengutarakannya. "Apa aku bisa mendapatkan satu kamar pribadi?"
Kevino menganggukkan kepalanya.
Singkat sekali, batin Sierra. Ada yang aneh dari Kevino, lelaki itu diam saja dari tadi, biasanya dia suka sekali mengeluarkan kata-kata kasar.
"Apa kau bisa memberitahuku di mana Vernon tinggal?"
Kevino yang fokus pada ponselnya pun menoleh. "Kenapa? Kau ingin tinggal bersamanya?"
"Kau akan menyetujuinya?" seru Sierra dengan semangat.
__ADS_1
"Tentu tidak. Aku tak akan membiarkanmu lolos!"
Sierra memutar matanya malas. Namun dia teringat sesuatu. "Kevino, bisakah kau mendekatkanku dengan Maldi?"
"Kau masih mencintainya?" hardik Kevino yang sedikit kaget.
"Tidak, hanya saja aku tak suka saat dia berdekatan dengan Serla! Aku takut, jika Serla masih mencintainya."
"Minggu depan mereka akan bertunangan."
"APA!"
Telinga Kevino rasanya akan pecah mendengar suara Sierra yang melengking ini. "Seharusnya, kau ikut paduan suara saja!"
"Kau bercanda kan? Tidak mungkin Serla masih mencintainya! Lelaki berengsek seperti dia tidak pantas untuk menjadi pasangan adikku!"
"Hahahaha..."
"Mengapa, kau tertawa?" Bulu di tangan Sierra langsung berdiri mendengar tawa yang mengerikan ini! Lebih baik Kevino tidak pernah tertawa.
"Kau lucu! Baru kali ini aku melihatmu seperti seorang Kakak!"
Sindiran yang bagus, pikir Sierra. "Kau harus membantuku, bagaimana pun Serla tidak boleh berhubungan dengan lelaki itu!"
"Apa yang kudapat jika aku membantumu?" tanya Kevino.
"Em... Itu." Serla bingung ingin mengatakan apa. Uang tidak punya, otakknya pun tidak terlalu pintar, sebenarnya apa kelebihan dirinya?
"Menjadi istriku?"
"APA KAU GILA?!"
"Kecilkan suaramu! Bisa-bisa telingaku pecah jika terus mendengar suara cemprengmu itu!"
Sierra menelan salivanya, dia memincingkan matanya menatap Kevino dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kau tak terlalu buruk."
Kevino menggeram kesal. "Berani sekali, kau menilaiku dengan standar burukmu itu! Aku menawarkan kau untuk pura-pura jadi calon istriku. Lebih baik aku tak pernah menikah dari pada harus menjadikanmu seorang istri! Ini hanya sandiwara! Jangan pernah melibatkan perasaan apapun!"
"Oke, oke baiklah! Kau ini banyak bicara sekali."
"Nino! Nino!"
Sebuah teriakan membuat Serla maupun Kevino menoleh ke arah sumber suara.
"Sial!" decak Kevino yang menyadari kedatangan seseorang yang telah melahirkannya.
"Apakah, dia menantuku?"
Pertanyaan tiba-tiba itu, membuat Sierra kebingungan, dia melotot pada Kevino, meminta pertolongan.
Kevino malah menghampirinya, memeluk Sierra dari samping. "Iya, Bun. Ini menantumu."
"Woah! Kamu cantik sekali!" seru wanita paruh baya itu. Dia memperhatikan penampilan Sierra dari atas sampai bawah. "Kamu juga mungil sekali!"
Cup!
__ADS_1
Tiba-tiba Sierra mengecup pipi Kevino yang membuat pria itu terkejut bukan main, begitupun ibunya, beliau juga sangat kaget.
"Walaupun aku pendek, tapi aku masih bisa menggapai pipi Kevino, Bun," terang Sierra dengan santai, dia tersenyum lebar seolah tidak terjadi apa-apa.