Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 20. Perlakuan Savia


__ADS_3

Hari ini adalah hari istimewa. Hari libur! Yang lebih mengejutkannya lagi. Kevino tak ada di rumah, pria itu pergi entah kemana, Sierra tak peduli.  Perempuan itu berniat untuk sekedar jalan-jalan ke taman kota, tak lupa Kevino memerintahkan Vernon untuk selalu di sampingnya.


"Ver, bisakah kau memberitahuku tentang geng Qizz yang pernah kau jelaskan?" tanya Sierra. Sebenarnya dari tadi suasana sepi, membuat Sierra merasa canggung.


"H-ha? Geng Qizz? Kurasa aku tak pernah berbicara apapun soal itu."


Bukannya marah, Sierra malah terkekeh. "Aktingmu, sangat buruk! Aku bisa membaca wajahmu yang berbohong dalam hitungan detik!"


Vernon terlihat gugup, bahkan bangku yang diduduki Sierra dan pria itu terasa bergetar.


"Lupakan, apa yang kukatakan! Hari itu, aku sangat kesal hingga berbicara yang tak masuk akal!" elak Vernon. Pria itu gugup setengah mati, Sierra langsung memegang tangannya, dingin!


"Baiklah! Baiklah! Aku tak akan bertanya apapun soal geng Qizz!"


Akhirnya bangku ini berhenti bergetar, Vernon menghela nafas seperti merasa lega, hal itu tak luput dari pandangan Sierra.


Sierra kembali melihat ke depan. Pemandangan taman kota ini lebih enak dipandang dari pada wajah Vernon yang penuh keringat. Sierra menghirup nafas dalam-dalam, lalu ia hembuskan. Ah, rasanya sejuk sekali, taman ini juga begitu ramai, membuat Sierra ingin lebih lama di sini.


Namun matanya menangkap sesuatu, Sierra menatapnya lekat-lekat, memastikan jika penglihatannya tak salah. Sierra bergegas menghampiri apa yang membuatnya begitu tertarik. Vernon yang melihatnya langsung mengikuti Sierra dari belakang.


Sierra langsung berhenti melangkah, dia memperhatikan objeknya. "Mengapa, dia menangis di tepi danau?"


"Mungkin, dia lelah dengan semuanya," celetuk Vernon yang melihat apa yang membuat Sierra mengikuti orang itu.


"Tetapi kenapa? Serla yang kukenal tidak pernah serapuh ini, apalagi jika menyangkut haters, dia tak akan menangis sedikit pun."


"Jika, kau begitu penasaran. Hampiri dia! Jadilah tempat bersandarnya!"


"Tapi..."


"Ayolah, apa kau tak kasihan melihatnya? Bagaimana jika dia berniat menenggelamkan dirinya sendiri ke danau?"


Benar! Serla juga orang yang cukup aneh. Jika mood nya sedang buruk, gadis itu pasti akan melakukan apapun tanpa berfikir panjang.


Sierra berusaha meyakinkan diri sendiri. Perempuan itu berjalan perlahan, kenapa rasanya gugup sekali? Seperti menghampiri guru bk saja.


Sierra duduk di samping Serla.Tak bicara apapun. Keadaan cukup hening, membuat Sierra berfikir, apakah seharusnya ia tak datang saja? Namun tiba-tiba Serla menangis membuat Sierra terkejut.


"Huwaaa!"


Sierra bingung, apa yang harus ia lakukan, apalagi ketika tangisan itu mulai mengeras membuat Sierra ingin menyumpal mulutnya. Karena tak mau membuatnya semakin rumit. Sierra langsung memeluk adiknya itu, mengusap punggungnya, memberinya kehangatan.

__ADS_1


"Semuanya akan baik-baik saja." Hanya itu yang bisa Sierra ucapkan. Perempuan itu terus mengelus punggung Serla, hingga tangisan adiknya mulai mereda, membuat Sierra bernafas lega.


"SERLA!"


Tiba-tiba, sebuah teriakan membuat Sierra terkejut, hampir saja dirinya terjatuh ke danau.


"Ayo, pulang!"


Tangan Serla ditarik paksa, membuat Sierra refleks menarik tangan Serla yang satunya.


"Kamu yang menculik Serla?!"


Sierra berhenti menarik lengan Serla. Perempuan itu perlahan mendongakkan kepalanya. Bunda? Mengapa Bundanya di sini?


Karena Sierra tak melindungi adiknya, kini Serla berada di samping Savia, tangannya digenggam erat sang Ibu.


"Kali ini saya akan memaafkan kamu,  jika kamu menculik Serla lagi, saya akan melaporkan kamu ke polisi!"


Sierra memalingkan wajahnya pada Serla, namun gadis itu terlihat ketakutan, dia menunduk dengan tangis yang belum mereda.


"Ayo, ikut Bunda!" Savia menarik kencang lengan Serla membuat putri bungsunya itu meringkis kesakitan.


Sierra ingin mencegahnya, namun urung. Dirinya siapa? Dia tidak berhak ikut campur urusan keluarganya lagi.


"Kau, tidak apa-apa?"


Vernon datang dengan terburu-buru.


"Maaf aku terlambat. Kau baik-baik saja kan? Tidak ada yang luka kan?"


"Vernon," ucap Sierra dengan suara lirih.


"Iya, kenapa? Apa ada yang sakit?" seru Vernon yang sepertinya khawatir dengan keadaan Sierra.


"Apa kau mencintaiku?"


"HAH? APA?"


Sierra menutup matanya sebentar berusaha menahan malu. "Kubilang, apa kau mencintaiku?" tanyanya ulang.


Vernon menggaruk rambutnya yang tak gatal. Dirinya merasa sedikit tertekan. "Aku bingung harus menjawab apa."

__ADS_1


Sierra dibuat gemas dengan tingkah Vernon yang sok bodoh ini. "Jika,  kau menyukaiku, ayo kita pacaran!"


"Tapi kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini!" seru Vernon meminta penjelasan.


"Aku..." Sierra berhenti bicara. Perempuan itu malah berbalik badan, duduk memandangi danau. "Jika kau mencintaiku, bawa aku pergi! Kita bisa pergi ke negara apa saja, asal tidak di sini. Aku ingin kau membawaku dan keluargaku jauh dari jangkauan Kevino."


Mendengarnya, membuat hati Vernon sedikit luluh. Pria itu ikut duduk di samping Sierra.


Tiba-tiba, Sierra terisak. "Aku ingin seperti dulu lagi. Aku ingin memperbaiki keluarga yang sudah lama kubenci. Kau lihat? Karena ulahku juga Serla dibenci Bunda. Bunda melampiaskan segala amarahnya pada Serla yang tidak melakukan kesalahan apapun."


"Kau tidak bersalah."


Sierra dengan wajah pilunya, menoleh.


"Ibumu sejak dulu memang selalu kasar pada adikmu."


Melihat wajah Sierra yang penuh tanda tanya membuat Vernon berbicara lagi. "Kau, tidak salah dengar. Tanpa se-pengetahuanmu Ibumu memang begini. Dia tak segan melakukan tindak kekerasan pada Serla."


Bagaikan tersambar petir, Sierra terkejut bukan main bahkan tenggorokannya pun terasa sakit.


"Apa maksudmu? Bunda tak mungkin seperti itu! Bundaku orang yang sangat baik, dia tidak akan melakukan hal yang seperti kau bilang!"


"Tetapi itulah kenyataannya. Di dunia ini banyak hal tak terduga seperti yang kau bayangkan!"


"Tidak! Tidak! Kau berbohong!" Sierra berteriak kencang pada Vernon, membantah keras apa yang pria itu ucapkan.


Vernon mencoba sesabar mungkin. Sesuai dugaannya Sierra memang tidak akan percaya, tetapi perempuan itu harus tahu jika terlalu banyak hal yang perlu ia perbaiki. "Mau percaya ataupun tidak, kau sudah terlambat. Sekarang hidupmu tak akan jauh dari jaungkauan Kevino. Semuanya tak bisa kembali seperti semula!"


"Karena itu aku meminta bantuannmu, jauhkan Kevino dari hidupku! Setelah itu aku bisa kembali pada keluargaku dan memastikan apa yang kau ucapkan!"


"Tapi semuanya sudah terlambat Sierra!" teriak Vernon yang tersulut emosi. Pria itu berdiri menatap Sierra dengan pandangan terluka.


"Bagaimana mungkin aku membantumu, sedangkan aku sendiri tak bisa membantu hidupku yang sengsara ini!"


Sierra langsung berdiri. Dia menatap lekat-lekat sepasang mata yang tajam bagaikan elang. "Ceritakan padaku tentang Kevino! Keluarganya, temannya atau bahkan geng Qizz yang pernah kau ceritakan!"


Wajah marah Vernon kini berganti dengan ekspresi ragu. "Aku..."


"Aku mohon Vernon, tolong!"


"Sierra?!"

__ADS_1


Sierra dan Vernon menoleh ke arah sumber suara. Di mana seseorang menatap mereka berdua dengan tajam.


__ADS_2