
Bertahun-tahun yang lalu. Keluarga Sierra selalu terlihat harmonis di dalam maupun di luar. Bahkan saking sayangnya satu sama lain, mereka sampai memakai cincin yang sama. Banyak canda tawa saat malam tiba, bercerita tentang hari masing-masing.
"Bagaimana sekolahmu Saga?"
Seorang bocah laki-laki yang masih SMP itu tersenyum lebar. "Baik, Yah. Nilaiku selalu bagus!"
Septian lantas tersenyum, merasa bangga, beliau mengusap rambut putra sulungnya. "Lihat, ikuti jejak Kakak kalian. Sejak Tk sampai sekarang, Kakak kalian ini selalu membanggakan orang tua!"
Sierra yang masih kecil tersenyum lebar. "Aku juga mau kayak Bang Saga!"
"Aku juga, mau!" seru Serla yang mengikuti ucapan Kakaknya. Semua orang tertawa melihat dua bocah yang masih berumur 7 tahun. Menertawakan tingkah lucu mereka tanpa tahu jika di masa depan, dua anak perempuan itu akan saling membenci.
***
Saat itu, hari ulang tahun Ibu Savia. Semua orang berhamburan ke rumah sang Nenek, kecuali Saga yang katanya mau belajar karena besoknya ada ujian. Orang tuanya pun mengijinkannya tidak ikut. Mereka bermalam 2 hari di rumah Nenek, karena Sierra terlalu merindukan Kakaknya, dia pulang terlebih dahulu dengan sopir.
Namun ketika orang tuanya dan Serla menyusul, alangkah terkejutnya mereka melihat pisau yang dipegang Sierra.
"Sierra... Pisau apa itu?" Savia bertanya dengan nada gemetar. Matanya membulat melihat apa yang terjadi.
Sierra dengan santainya tersenyum lebar. "Aku tadi membantu Bang Saga. Katanya Bang Saga mau pulang, makanya aku bantu. Sierra, baikkan Bun?"
Melihat itu semua, Septian langsung membawa Serla keluar. Savia tak kuasa menahan air mata yang semakin terjun. Wanita itu menangis hebat melihat putra sulungnya yang berbaring dengan darah yang bercucuran, apalagi dengan Sierra yang berdiri di sampingnya membuatnya tak bisa berfikir panjang lagi.
"Apa, kamu membunuhnya?" Pikiran Savia sudah tak karuan. Dia tidak tahu tentang apa yang terjadi dengan putranya, hanya Sierra yang bisa ia tanyai. Sierra terlihat berfikir sebentar. "Emm... Aku hanya membantu Bunda."
Semuanya telah berubah sejak saat itu. Septian yang menjadi kepala keluarga terpaksa harus berjuang untuk keluarganya. Walaupun polisi menyatakan jika itu adalah bunuh diri, tetapi mereka tidak bisa melupakan Sierra, satu-satunya orang yang berada di tempat kejadian.
__ADS_1
Ketika rumah tangganya di ambang kehancuran, Septian bertemu dengan cinta pertamanya, yang membuatnya melakukan kesalahan. Savia mengetahuinya, dia pun mengajukan cerai ke pengadilan. Septian yang awalnya tak memiliki harta pun, terpaksa pergi dengan tangan kosong.
Septian bingung. Dia tak memiliki apapun karena anak yatim piatu. Ingin kembali pada cinta pertamanya pun, dirinya terlalu malu. Ketika sedang berjalan di tengah malam, Septian bertemu dengan seseorang, seseorang yang membuatnya menjadi anggota geng mafia, geng Qizz.
Walaupun masuk ke kobaran hitam, tetapi ia memiliki banyak harta, sampai akhirnya ia mengetahui jika anak buahnya memperkerjakan putrinya, Sierra. Septian awalnya takut karena Sierra bekerja sebagai tukang paket yang mengantarkan narkoba.
Hingga suatu hari, putrinya yang selalu ia pikirkan menelepon masuk. Awalnya ia tolak, namun akhirnya mengangkatnya juga.
"Kenapa menelepon?" ujar Septian dengan nada suara yang cuek. Padahal di dalam hatinya, ia sangat merindukan putrinya, memeluknya dengan hangat.
[ "Aku sangat merindukanmu!"]
'Ayah, juga sangat merindukanmu!' Itu yang ingin Septian ucapkan. Namun mulutnya berkata yang lain. "Jangan beromong kosong! Aku, tak ada waktu!"
Sejenak tidak ada balasan dari Sierra. Septian khawatir, dia takut jika putrinya terluka.
["Aku sangat merindukanmu, ayah. tak bisakah, ayah menanyakan kabarku? Bagaimana hariku, dan bagaimana Bunda memperlakukanku, dengan tidak adil."]
"Dan jika, kau tinggal bersamaku. Hidupmu akan jauh lebih menderita. Aku, tak akan segan menamparmu, atau bahkan membunuhmu!" Bohong! Hatinya tak mau berkata seperti itu! Sejujurnya Septian ingin berdiri di hadapan putrinya, mengucapkan semua rindu yang selama ini ia pendam. Tetapi hidupnya yang sekarang terlalu bahaya.
["Bunuhlah! Aku, tak akan keberatan."] Hatinya semakin sakit, saat putrinya sendiri berkata seperti itu. Seberat itukah bebannya?
"Kau, memang tak pernah berubah! Kau masih seorang anak kecil yang pernah membuat hidupku hancur!"
Dirinya memang Ayah yang tidak berguna, ia malah menjadi luka untuk putrinya sendiri.
["Yah, akulah pembunuh yang selalu kalian benci."]
__ADS_1
Septian langsung mematikan sambungan. Pria itu tidak kuat, dia merasa lemah jika menyangkut putrinya. Septian menangis, menyesali semua perbuatannya.
Septian pun menyuruh Kevino untuk tidak memperkerjakan Sierra, namun sesuai dugaanya, putrinya itu terlalu keras kepala, sampai akhirnya Bos besar menyuruhnya untuk menggantikannya terlebih dahulu dan menyuruhnya untuk mempekerjakan Sierra. Septian awalnya menolak, tetapi ia tidak bisa membantah.
Hari itu, hari di mana Septian menawarkan pekerjaan kedua pada Sierra. Sejujurnya ia tak mau melakukan ini, tetapi jika Bos besar sudah memutuskan, Septian tidak bisa menolak. Sierra pun bekerja di Cafe, yang di mana di ruang privasi dijadikan tempat bermain judi. Septian bahkan harus menyaksikan anaknya sendiri menjadi sopir, untuk mengantarkan para wanita malam.
Septian pun memohon agar bos besar memecat putrinya, Bos besar menyetujuinya dengan syarat mengubah wajah Sierra.
"Mengapa kau diam? Bukankah ini yang selama ini anakmu mau? Selama ini dia sangat membenci hidupnya sendiri! Kau tidak perlu khawatir, setelah dia mengubah wajahnya. Kevino akan menjaganya."
Septian malah percaya, dia malah percaya jika Kevino akan memperlakukannya dengan baik. Namun kabar Sierra menjadi aktris membuatnya marah. Septian tidak mau Sierra terluka hanya bisa memandang keluarganya dari jauh. Septian tidak mau putrinya mengalami yang selalu ia rasakan.
Hari itu, Septian datang ke lokasi syuting, memarahi Kevino yang berbuat semaunya. Namun akhirnya, Kevino menurutinya untuk tidak menjadikan Sierra aktris.
Tetapi hari yang paling mencengangkan adalah, hari di mana geng Qizz yang ia ikuti di serang oleh geng mafia lain. Salah satu anggotanya, tidak sengaja menembak seseorang yang berada di depan pintu masuk, karena mengira jika orang itu adalah musuh. Septian awalnya biasa saja, namun ketika menghampirinya, Septian terkejut bukan main saat putrinya sendiri yang terbaring di lantai.
"SIERRA!"
Septian langsung menyuruh sebagian anak buahnya untuk membawa Sierra ke mansionnya, serta tak lupa menyuruh memanggilkan dokter. Hari itu adalah hari kedua yang paling ia benci, hari di mana untuk kedua kalinya ia melihat anaknya yang berlumuran darah.
Namun ketika ia pergi ke mansionnya, dia tidak menemukan putrinya, Septian pun kalang kabut mencari putrinya hingga berakhir di rumah Savia.
"Jadi semuanya karenamu?!" Savia menarik kerah Septian, mengguncangnya dengan kencang.
"Mengapa, kau tega sekali pada Sierra! Kau bahkan membiarkan dia hidup dalam pekerjaan yang buruk!"
"Lalu aku haru apa?!" seru Septian yang ikut putus asa. "Aku melihatnya kesulitan mencari pekerjaan! Dan kau ingin aku diam saja, hah?! Lalu mengapa dia membutuhkan uang begitu banyak? Apa kau menuntutnya untuk menghasilkan uang?!"
__ADS_1
Savia ingin menampar Septian, namun urung karena Serla lebuh dulu memeluk Ibunya. "Bunda, ayo kita cari Kak Sierra, Bun!"
Savia luluh dengan pelukan Serla. Tak ada gunanya memarahi Septian. Yang penting sekarang dirinya harus menemukan Sierra.