
"Engh." Sebuah lenguhan terdengar di ruangan serba gelap ini, perempuan itu membuka mata secara perlahan, gelap, hanya itu yang ia lihat pertama kali.
Setelah kesadarannya terkumpul, perempuan itu bangun dari tidurnya, tangannya terangkat meraih lampu untuk dinyalakan.
Lampu pun nyala, tidak ada yang berubah, dia masih terjebak di dalam kamar yang sama seperti semalam.
"Mengapa, aku masih di sini?" tanyanya pada diri sendiri. Sierra pun berusaha mengingat kejadian semalam.
Oh Ya, dia ingat. Semalam setelah Rena mengucapkan hal yang membuatnya sedih, sekaligus kecewa. Perempuan itu pergi bersama Maldi dan meninggalkannya sendirian di sini. Mengingatnya, membuat amarah yang terlelap kini keluar ke permukaan.
"Sejahat-jahatnya aku! Mereka tidak seharusnya membenciku! Aku tidak menghilangkan nyawa ataupun membuat seseorang menjadi miskin!" seru Sierra yang merasa jengkel atas penjelasan Rena semalam.
Suara langkah kaki mulai terdengar, Sierra langsung terjaga, dia waspada takut jika orang aneh yang masuk.
"Hai, kau masih lelah?"
Suara itu, tidak bisakah tidak mendengarnya sekali saja?
Kevino datang dengan senyuman yang merekah, dia berjalan mendekati Sierra.
"Setelah ini, kau harus casting! Akan kulihat apakah aktingmu akan sebagus adikmu? Atau malah terbanting?"
Sierra memutar matanya malas, sebenarnya lelaki yang sekarang duduk di sampingnya adalah seorang pria atau perempuan? Mengapa, mulutnya lemes sekali?
"Sudah kubilang, Kau bukan Sierra yang dulu lagi. Seharusnya kau bersyukur aku hanya menyuruhmu untuk menjadi saingan adikmu, jika aku mau, aku bisa saja menjual organ tubuhmu dalam sekejap mata."
Mendengarnya, Sierra langsung bergidig ngeri, setelah apa yang dilakukan Kevino, membuat wanita itu sedikit takut.
"Sebenarnya apa alasanmu berbuat seperti ini? Kenapa tak langsung membunuhku saja?!"
Kevino diam, pria itu memikirkan sesuatu. "Membunuhmu, memang ide yang bagus, tetapi seseorang ingin melihatmu tetap hidup, jika bukan karena dia, kau sudah mati sejak dulu!"
"Seseorang, siapa dia?"
Kevino berdiri. "Sudahlah, jangan membuang waktuku!"
Sierra menurut, saat ini tidak ada yang ia ia lakukan selain menuruti semua perkataan Kevino.
***
Mobil hitam yang ditumapangi Sierra berhenti di sebuah toko pakaian. Dengan gembira, Sierrra bersuara. "Apa, kau ingin membelikanku pakaian?"
"Ingat, di dunia ini, tidak ada yang gratis!"
Perempuan itu memutar matanya malas.
__ADS_1
Mereka berdua pun keluar dari mobil.
Satu hal yang masuk ke pikiran Sierra saat melihat toko pakaian ini, mewah. Menghirup aroma toko ini, membuatnya bernostalgia.
"Belilah beberapa pakaian."
Sierra menerima sesuatu yang diberikan Kevino, sebuah blackcard. Perempuan itu menganggukkan kepala, sekarang dirinya seperti simpanan Kevino.
Setelah usai dari sana, Kevino membawanya ke sebuah apartemen, Sierra tidak membrontak ataupun sekedar bertanya, dirinya sudah pasrah.
Sierra duduk di sofa, merebahkan tubuhnya yang lelah.
"Carilah, yang kau minati!"
Kevino pergi setelah memberikan beberapa kertas. Sierra langsung melihat kertas-kertas itu.
"Sebuah casting?" ucapnya. "Aku mahir dalam berakting, tinggal carikan saja aku sebuah naskah, tidak perlu mencari casting secara manual begini," ujarnya yang merasa kesal.
Sierra menaruh kertas-kertas itu di meja, perempuan itu berdiri, matanya menelusuri setiap sudut apartemen ini. Namun matanya terhenti..
"Mengapa, foto Kakakku ada di sini?" Sierra berjalan ke arah foto kecil yang di pajang di de dekat jam dinding. Sierra meraihnya.
"Kenapa foto Kakaku ada di sini? Bagaimana Kevino mengenalnya?" tutur Sierra. "Apa, jangan-jangan Kevino membuatku seperti ini karena dia berfikir bahwa aku membunhnya? Apa dia ingin membalas dendam?!"
"Tidak, tidak akan kubiarkan dia mengambil alih hidupku," lanjut Sierra. Tangannya meraba foto itu, mengelusnya dengan pelan, namun kakinya terasa lemas, rasanya tak kuat untuk berdiri.
Sierra terduduk di lantai, matanya pun mulai mengeluarjan hujan yang begitu deras. "Kak, maafkan aku. Aku tahu, aku salah, aku salah karena membiarkanmu pergi begitu saja. Beribu kali pun aku meminta maaf, tidak akan membuatmu kembali. Semua orang bilang, aku membunuhmu. Yah, aku juga setuju dengan itu."
"Karena aku sangat menyangimu, sampai tak ingin dunia menyakitimu."
***
Hari berikutnya, Sierra dan Kevino datang ke sebuah casting.
"Bagaimana kau siap?" tanya Kevino.
"Aku, tidak tahu! Aku tidak rela diterima dalam casting ini! Mereka mencari pemeran pendukung! Bukan pemeran utama!"
Kevino berkacak pinggang. "Kenapa, kau begitu percaya diri? Kau bahkan tidak memiliki bakat seorang aktris!"
Sierra mendeliknya, dia tidak mau dianggap remeh begini. "Baiklah, aku akan melakukannya!"
Sierra langsung keluar dari mobil.
Perempuan itu meneliti sekitar, ternyata banyak orang-orang yang daftar, bahkan tempat ini bisa dikatakan seperti pasar.
__ADS_1
"Ah, aku tidak sabar untuk berpastisipasi dalam film ini, apalagi jika lolos, aku bisa melihat Serla setiap hari!"
What? Apa katanya? Serla? Apa perempuan itu ada di film ini?
"Apa maksudmu? Serla? Apa dia ikut casting juga?" tanya Sierra pada perempuan yang duduk di sampingnya.
Perempuan itu seketika tertawa mendengar pertanyaan Sierra. "Kau, bercanda ya? Serla tidak ikut casting untuk menjadi pemeran pendukung! Dan rumornya, dia adalah pemeran utama dalam film ini!"
Mata Sierra langsung membulat, tidak! Tidak! Dia tidak mau satu film dengan Serla, tidak akan pernah!
"SIERRA ROSDIANA!"
Teriakan itu semakin membuatnya panik, ingin kabur tetapi sudah di tengah jalan, bagaimana ini?
Sierra berdiri, dan masuk ke dalam ruangan itu. Satu hal yang terlintas di otaknya, menyeramkan.
"Karena kita tidak punya banyak waktu, bacakan adegan 17!"
Seseorang memberikannya kertas. Sierra menelan ludahnya saat membacanya, adegan sedih? Ya ampun dia tidak mau!
"Mengapa, diam saja?!" sahut seorang juri.
Sierra tersenyum tipis. Perempuan itu menghembuskan nafas sebelum akhirnya membaca dialog. "Aku tidak tahu, kenapa dia tidak mencintaiku, tetapi aku sadar bahwa wajahku memang tidak bisa dikatakan cantik, hidupku pun melarat!"
"CUT! BAGUS!"
Sierra tersenyum tipis. Dirinya memang berbakat.
"Kau bisa keluar!"
"Hanya itu?" ceplos Sierra.
"Ya, kau bisa keluar, dan tunggu hasilnya!"
Sierra pun keluar, namun saat membuka pintu, ia hampir menabrak seseorang.
Ingin meminta maaf, tapi orang itu melewatinya begitu saja.
Sierra memandangnya beberapa detik, lalu pergi.
"Bagaimana? Kau berhasil?" tanya perempuan yang tadi duduk di sampingnya.
Mood Sierra memburuk, entahlah dia merasa kesal saat melihat orang itu. Sierra duduk kembali, mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
"Apa, kau juga melihat Serla? Dia barusan masuk ke sana! Sumpah demi apapun, dia terlihat lebih cantik dari pada di televisi, sayangnya akhir-akhir ini, ada rumor buruk tentangnya."
__ADS_1
"Rumor buruk?" Sierra yang tadinya tidak mau bicara karena moodnya, tetapi dia penasaran dengan keadaan adiknya itu.
"Katanya, Kakaknya bunuh diri karena Serla. Bahkan dari dulu, mereka tidak pernah dikatakan akur, dan tiba-tiba, ada berita yang menyebutkan jika Kakaknya kecelakaan, tetapi tidak ada yang percaya, media malah menyebarkan rumor jika Kakaknya meninggal karena Serla."