
"Bagaimana bisa kau ditolak?!" teriak Kevino yang marah pada Sierra.
Perempuan itu tidak menjawabnya, dia hanya diam tanpa bersuara.
"Hei! Kau mendengarkanku?!"
Masih sama. Perempuan itu tidak menjawab sedikit pun.
Karena kesal terus diacuhkan, Kevino mendorong perempuan itu ke samping. Sierra terjatuh, dengan wajah yang kosong tanpa ekspresi apapun.
"Dasar ****** tidak tahu diri!" Kevino menendang punggung perempuan itu tanpa ragu-ragu. Satu kali, dua kali, hingga tiga pukulan pun tidak membuat Sierra berbicara.
"KAU INGIN MATI?!"
Kevino berjongkok, menarik kerah baju Sierra, berteriak kencang di depannya, agar perempuan itu mau berbicara.
"Kenapa tidak sejak dulu, kau membunuhku?"
"Apa?" Kevino perlahan melepaskan tangannya dari kerah Sierra, memandang perempuan itu dengan tanda tanya. "Apa, maksudmu?"
Sierra tersenyum sinis. "Apa, aku mempunyai kesalahan padamu? Mengapa kau membuat hidupku seperti ini? Dulu aku kira kau orang yang baik karena memberiku pekerjaan dengan gaji yang besar, ternyata kau menginginkan lebih, kau ingin aku lebih membenci takdir!"
Kevino mulai paham dengan arah pembicaraan ini
"Sebenarnya, aku tidak berniat menjadikanmu seperti ini, tetapi karena tingkahmu yang membuatkulah yang membuatku ingin kau menderita!"
"Apa, bos juga mengetahui ini?"
Kevino terlihat diam sebentar. "A-apa, maksudmu?"
"Kau adalah bawahannya! Apa dia tahu, kau memperlakukanku dengan buruk?"
Kevino melihat ke arah lain sambil menjawab. "Aku yang memperkenalkanmu pada bos, jadi mau kau hidup atau mati pun, dia tidak akan peduli!"
Sierra, diam. Mengapa juga dirinya bertanya seperti itu?
"Kau seharusnya bersyukur karena aku mengubah hidupmu. Kau tidak akan lagi, dikenal sebagai beban keluarga Alodie, maupun seorang pembunuh!"
"KAU!" Sierra langsung berdiri, menatap tajam pada Kevino.
"Mengapa kau marah? Sudah kubilang dari awal bukan? Kau seharusnya tidak menerima pekerjaan itu, dan sekarang lihatlah! Kau kehilangan segalanya!"
__ADS_1
Sierra menunduk, benar apa yang dikatakan Kevino. Ini semua karena dirinya sendiri yang terlalu gegabah.
"Kau kehilangan keluarga, pacar dan sahabat!" lanjut Kevino.
"Tidak, kau salah," sahut Sierra dengan wajah yang menantang. "Dari awal aku tidak memiliki keluarga, sekarang pun akan seperti itu. Lakukanlah apa yang aku inginkan, kali ini aku tidak akan menolak ataupun membrontak!"
Kevino tersenyum lebar. "Baiklah! Ini yang aku inginkan! Sierra yang tidak pernah peduli apapun kecuali uang! Sekarang, kau siap-siap untuk syuting!"
Kedua alis Sierra mengkerut. "Bukankah, aku ditolak?"
Kevino yang tadinya ingin keluar langsung menoleh dan tersenyum. "Jika aku menginginkan sesuatu, maka itulah yang akan terjadi!"
"Lalu mengapa, kau menyuruh untuk mengikuti casting jika kau bisa langsung memberiku peran?!"
"Aku, hanya iseng." Kevino pun pergi.
Sedangkan Sierra menutup matanya berusaha sabar, agar tidak berteriak kencang.
"Jika aku sudah terkenal dan mempunyai uang sendiri, aku akan lari ke ujung dunia, sampai kau tidak akan bisa menemukanku," ungkap Sierra dengan mata yang tajam.
***
"Perkenalkan dia Sierra Rosdiana yang akan berpartisipasi dalam film ini. Mohon kerja samanya," ungkap pak produser.
Para staf dan para aktris pun mulai kembali pada aktivitasnya masing-masing, membuat Sierra bingung berbuat apa. Perempuan itu duduk, sambil mencari keberadaan Kevino.
Pria itu menghilang setelah memperkenalkannya pada sang sutradara.
Tiba-tiba seseorang datang tanpa ia duga, orang itu duduk di sampingnya dengan wajah suram.
"Mengapa hidup seberat ini? Mengapa dunia, masihtidak adil di saat Kakakku tidak ada?"
Sierra menoleh sebentar saat ia merasa dipanggil. Oh, apakah perempuan itu akan mencacinya lagi, di saat dia mengetahui tentang kematiannya? Batin Sierra.
"Kak, mengapa kau meninggalkan luka yang begitu dalam? Kau tahu, bahkan di saat malam pun, suaramu sangat mengganggu hingga tidak bisa membuatku tidur," jelas Serla yang sepertinya tidak menyadari keberadaannya.
Merasa arah pembicaraan ini untuk mengutuk dirinya membuat Sierra membatin. 'Dia belum berubah, dia masih Sierla yang menyebalkan'
"SEHARUSNYA KAU PERGI SETELAH AKU!"
Sierra hampir saja terjungkal ke tanah, bahkan pergerakan yang terbilang berisik ini tidak membuat Serla sadar dari rasa resahnya.
__ADS_1
"Kau akan merasakan betapa menderitanya aku saat mendengar saudaranya telah tiada," ujar Serla dengan suara yang serak. "KAU SENANG BUKAN?!"
Brak!
Kali ini Sierra tidak bisa menjaga keseimbangan hingga jatuh dari kursi, beberapa staf langsung membantunya, sedangkan sang pelaku hanya diam dengan wajah tanpa dosa.
"Terimakasih," ucap Sierra. Beberapa staf itu pun pergi.
"Tidak sakit, kan ya?"
Sierra menoleh ke samping, pertanyaan macam apa itu?
"Kenapa, ya?" tanya balik Sierra.
Terlihat Serla menarik nafas dalam-dalam. Lalu berkata. "Apakah kau tadi mendengarku berbicara sesuatu? Jika iya, tolong lupakan!"
"Kenapa?"
"Y-ya, pokoknya lupakan. Menguning itu bukanlah hal yang sopan!"
Sierra mengangguk saja, berusaha mengerti.
Seketika keadaan menjadi canggung, membuat Sierra mau tak mau pergi dari sana.
***
"Mengapa kau menyuruhnya menjadi aktris?!"
"Bukankah, kau ingin putrimu dekat dengan keluargamu?!"
"Tetapi, tidak adakah cara yang lebih baik dari pada menjadikannya seorang aktris?!"
"Cara yang lebih baik seperti apa? Atau kau ingin dia mengikuti jejakmu?!"
"KEVINO!"
Pria yang tak lain adalah Kevino terkekeh pelan. "Mengapa, bukankah sejak kecil ia dikenal sebagai pembunuh?"
"JAGA UCAPANMU! PUTRIKU BUKAN PEMBUNUH!"
Kevino menyugarkan rambutnya ke belakang. "Lalu, apa maumu bos besar?" ucap Kevino dengan nada mengejek.
__ADS_1
Tanpa mereka tahu, ada seseorang yang mendengar percakapan ini. Orang itu langsung pergi.