Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 11. Tamparan kesekian kalinya


__ADS_3

Geng Qizz adalah sebuah kelompok orang-orang yang hidup dalam dunia Mafia. Nama geng ini, tidak terkenal atau bahkan tidak ada yang mengetahui, selain dari kelompok itu sendiri. Geng Qizz, sebuah kelompok mafia yang tak diketauhi dunia, bahkan perbuatan kejam mereka tidak terdeteksi oleh pemerintah.


Pertanyaanya? Apakah, Sierra berhubungan dengan geng mafia ini?


***


Seorang perempuan membuka kedua matanya secara perlahan, erangan kecil keluar dari mulutnya menahan sesuatu yang sakit.


Dimana ini? Apa sekarang ia berada di Neraka?


Sierra bangun, dia menulusuri setiap sudut, tetapi sialnya dia tidak mendapatkan apapun. Ruangan ini berwarna putih polos, tidak ada barang apapun, selain ranjang yang ia duduki sekarang.


"Sialan! Dasar lelaki brengsek! Apa, yang dia lakukan padaku?!" seru Sierra penuh amarah.


"Seharusnya waktu itu, aku tidak mengikuti tawarannya!" teriak perempuan itu dengan raut merah padam. Pikirannya, tenggelam pada hari, dimana ia bertemu dengan pria yang bernama Kevino.


Saat itu, tepatnya seminggu setelah kelulusan SMA. Seorang perempuan yang tak lain adalah Sierra, sedang duduk di depan danau, dia memikirkan bagaimana caranya agar menarik perhatian gebetannya.


"Bagaimana ini? Aku harus, mencari pekerjaan agar dia mau melirikku! Tidak ada cara lain, kecuali uang. Dia pasti, mau menjadi pacarku jika aku memiliki banyak uang!" serunya yakin.


Di tengah-tengah lamunannya, suara erangan hewan membuat Sierra mengalihkan pandangannya. Perempuan itu berdiri, mencari asal suara itu. Kedua kakinya terhenti, melihat sesuatu yang hampir membuat tubuhnya lemas.


"Apa, yang kau lakukan!" teriak Sierra yang kaget, melihat anjing yang sudah tidak bernyawa itu, bagaimana bisa? Seseorang begitu kejam, sampai membuat anjing itu terluka? Terlebih, pria itu tidak kaget melihatnya, dia malah tersenyum melihat keberadaan Sierra.


Sierra mundur beberapa langkah, pria itu mendekatinya secara perlahan.


"Kau, ingin uang?"


Seketika Sierra langsung berhenti mundur, kedua kakinya otomatis terhenti mendengar sesuatu yang sangat ia butuhkan.


"Jika, kau ingin cepat dapat uang! Kau bisa bekerja sama denganku!"


Dengan bodohnya, Sierra menyetujuinya, perempuan itu berfikir kalau kesempatan ini tidak boleh disia-siakan, lagi pula mencari pekerjaan di kota besar ini sangatlah susah, ditambah dirinya yang hanya lulusan SMA.


Sierra langsung bekerja sebagai tukang paket, perempuan itu bekerja pada malam hari, agar keluarganya tidak mengetahui kalau dirinya sudah mendapatkan pekerjaan, namun apakah perempuan itu tahu? Pekerjaan seperti apa, yang sudah membuatnya terlibat masalah?


"Kau, sudah bangun?"


Pertanyaan itu membuat Sierra mengalihkan pandangannya, Kevino! Lelaki itu datang dengan stelan jas yang membuatnya jengkel.


"Hari ini, kau hidup sebagai Sierra Rosdiana. Tunanganku!"

__ADS_1


Sierra terkekeh kecil. Apa pria itu bercanda? Mengapa dia mengucapkan hal yang konyol?


"Kau mabuk berat? Mengapa, akhir-akhir ini kau selalu berbicara aneh? Apa kesehatanmu, rusak?"


Tangan Kevino terangkat, yang membuat Sierra terkejut, perempuan itu langsung menutup matanya. Namun bukan rasa sakit yang ia rasakan, melainkan elusan sayang pada pipinya.


"Mulai hari ini, kau tak perlu khawatir dengan kehidupanmu! Kau tidak akan dibanding-bandingkan dengan adikmu itu! Kau juga tidak akan melihat keluargamu yang telah membuat hidupmu sengsara. Kau harus berterimakasih karena aku telah menyingkirkan segala virus lukamu, Sierra."


Sierra segera menyingkirkan lengan Kevino, perempuan itu turun dari ranjang, bersiap berlari meninggalkan ruangan ini, namun tak sesuai dugaan, Kevino tidak mencegahnya, lelaki itu malah melambaikan tangan. "Hati-hati! Nanti, aku jemput jika pekerjaanku sudah selesai!" teriaknya sambil tersenyum manis.


Rasanya ingin muntah, melihat sikap Kevino. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, namun ada yang lebih penting. Dia harus menemui Rena, mereka harus membicarakan tentang Bela. Dirinya tidak bisa hidup tenang, sebelum masalah Bela selesai.


"Tunggu!"


Teriakan itu membuat Sierra terkejut, benar dugaanya! Sekarang Kevino berlari mengejarnya! Sierra tidak akan menyerah, dia berlari dengan sekuat tenaga. Tetapi ternyata Sierra terlalu lemah, entah apa yang dilakukan Kevino sampai membuatnya seperti ini.


Kevino berhasil meraih tangannya, yang membuat Sierra mau tak mau harus berhenti.


"Aku, hanya ingin memberimu uang! Akan malu, rasanya jika aku mendengar calon tunanganku berkeliaran dengan keadaan yang menyedihkan!"


Kevino menaruh beberapa uang merah di tangan Sierra. "Jika, kau mau aku bisa membelikanmu pakaian!"


Sierra langsung melihat pakaiannya, matanya langsung membulat melihat apa yang ia kenakan sekarang! Pakaian pasien RSJ!


Kevino malah tersenyum. "Sudah kubilang, hidupmu akan berubah jika menerima pekerjaan itu! Dan bodohnya, kau malah mencari sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia. Setelah ini, hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan nyawamu!"


***


Sierra turun dari ojeg, perempuan itu berlari ke arah gerbang, mendobrak-dobar agar dibuka.


"Pak! Pak! Buka!"


Seorang satpam keluar melihat siapa yang telah menganggu tidur siangnya.


Sierra langsung gembira melihat satpam itu, rasanya sudah lama sekali dia tidak pulang ke rumah.


"Nona, siapa? Ada yang bisa saya bantu?"


Kedua alis Sierra terangkat, apa-apa ini pikirnya. Bagaimana pak satpam ini tidak mengenalnya?


"Bapak bercanda ya? Saya Sierra Rosaline!"

__ADS_1


Sekarang, gilian Pak Satpam yang keheranan, dia meneliti Sierra dari atas sampai bawah, namun menurutnya perempuan itu tidak mirip dengan anak majikannya.


"Nona, yang jangan bercanda. Nona Sierra sudah meninggal dua tahun yang lalu."


"APA?!"


Pak Satpam langsung terkejut.


"Bagaimana bisa! Jelas-jelas, sekarang saya berdiri di depan Bapak!" seru Sierra yang tidak terima, walaupun dirinya membenci kehidupannya, dia tidak rela jika disebut sudah meninggal.


Pak Satpam menggaruk rambutnya, dia merasa khawatir ditambah pakaian perempuan di depannya ini berseragam RSJ, beliau bingung ingin menjelaskan apa, takut jika perempuan yang mengaku sebagai Nona Sierra, nanti malah marah-marah.


"Iya, iya. Nona adalah anak majikan saya. Tetapi, nona harus pulang dulu ya? Saya boleh tahu, alamat rumah sakit jiwa yang nona tempati?"


Sierra terkekeh. Apa sekarang, pak satpam ini juga memusuhinya sampai berkata seperti itu?


"Saya nggak akan jawab, kalau bapak tidak mengijinkan saya masuk!"


Pak Satpam semakin bingung, Nyonya besar akan marah jika melihat orang asing berkeliaran di rumah. Tetapi, jika tidak dikabulkan, takut tejadi masalah.


"Buka Pak! Buka! Saya bilang buka gerbangnya!"


Tit!


Tit!


Suara itu, mengejutkan dua manusia yang sedang berdebat. Sierra tersenyum melihat mobil yang baru datang itu. Sierra menoleh sebentar ke Pak Satpam.


"Awas ya Pak! Saya bakalan nyuruh Bunda buat pecat Bapak!"


Pak Satpam hanya tersenyum paksa. Semoga saja majikannya tidak marah-marah.


"Bunda! Bunda buka! Ini, aku Sierra!"


Sierra mengetuk pintu mobil berkali-kali, memohon agar Bundanya membukanya. Sesuai dugaan, Savia membuka pintu kaca, bahkan beliau turun dari mobil.


Sierra tersenyum saat Savia menghampirinya, Sierra mengangakat kedua tangannya ingin memeluk sang Bunda, namun...


Plak!


Sebuah tamparan keras terbit di pipinya, sakit, perih, ngilu, semua bersatu. Belum lagi rasa sakit di hatinya yang belum sembuh.

__ADS_1


"Kenapa, Bunda nampar aku? Apa salahku?" tanya Sierra dengan tatapan kecewa.


__ADS_2