
"Tidak! Tidak! Jangan mendekat! Pergi! Pergi dariku!"
Brak!
Pintu didobrak dengan paksa, seorang pria yang tak lain adalah Maldi menerobos masuk ke dalam kamar. Maldi menjadi khawatir melihat perempuan itu yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
"Tidak apa-apa, tidak akan ada yang bisa menyerangmu!" Maldi menyeka peliplis Sierra, perempuan itu sepertinya sedang mimpi buruk, terbukti dengan keringatnya yang dingin serta rintihan yang keluar dari mulutnya.
"T-tolong, lepaskan aku! Bunda! Sierra takut!" teriak Sierra yang masih menutup matanya, Sierra seperti dikejar sesuatu yang membuatnya takut.
"Hei, hei bangun!" Maldi menepuk pipi Sierra, dia tidak mau Sierra terjebak dalam mimpi yang buruk.
"Bunda, Serla, maafkan aku... "
Tunggu apa katanya, Serla? Maldi tidak salah dengar kan? Bagaimana perempuan ini mengenal Serla?
"Aaaaaa!" Sierra terbangun dengan nafas yang tak beraturan, perempuan itu ketakutan, bahkan dia sampai memeluk lututnya, melihat sekelilingnya jika orang itu tidak ada di sini.
"Kau, baik-baik saja?" tanya Maldi yang khawatir. Sejak kemarin bertemu dengan perempuan ini, Maldi tidak membawanya ke rumah sakit, melainkan ke Apartemennya yang sudah lama tak ia tinggali. Maldi semakin khawatir jika perempuan yang namanya mirip dengan Sierra, ternyata memiliki luka tembakan, Maldi terkejut saat dokter pribadinya memberitahunya.
"Apa, kau sedang dikejar oleh para preman?" Maldi tidak bisa menahan rasa penasarannya, dia ingin tahu apa yang dialami perempuan ini sampai memiliki banyak luka di kakinya serta tangannya, seperti bekas cambukkan. Terakhir kali, Maldi melihatnya Sierra dalam keadaan baik-baik saja.
Sierra menggelengkan kepalanya, dia masih ketakutan. "A-aku takut, dia pasti akan... Membunuhku."
"Siapa? Siapa yang akan membunuhmu?"
Sierra melihat sekelilingnya, rasanya hatinya tak tenang, dia takut! Sierra takut jika orang itu akan mendatanginya dan menyiksanya lagi.
Maldi berusaha sabar. Apaa sekarang dirinya harus menelepon polisi? Tetapi Maldi tak mau, dia masih ingin Bersama Sierrra. Satu hal yang terlintas di benaknya. "Apa, Kevino yang telah melakukan ini? Apa, dia yang menyiksamu?"
Sierra yang tadinya menggigil layaknya orang sakit, langsung berhenti ketika mendengar nama yang Maldi ucapkan. Namun semua itu tak berhenti lama, saat tiba-tiba Sierra berteriak layaknya orang yang kerasukan.
"Aaaaaa!"
"Kenapa? Ada apa?" Maldi memegang kedua bahu Sierra yang terasa dingin. Bahkan perempuan itu meracau tidak jelas.
"Kumohon, lepaskan aku! Lepaskan!" seru Sierra dengan histeris. Perempuan itu menutup kedua telinganya, berteriak keras pada Maldi.
Tak ada cara lain, Maldi langsung memeluk perempuan itu, tidak peduli dengan pukulan yang Sierra lakukan padanya, Maldi tetap memeluknya erat. "Tidak apa-apa, aku di sini."
__ADS_1
"M-maldi..." Rintihan itu membuat usapan yang Maldi berikan terhenti. Mengapa suaranya serasa tidak asing? Mengapa rasanya Maldi sedang memeluk orang yang paling ia sayangi?
"A-aku, merindukanmu." Kata Sierra sebelum akhirnya menutup mata. Maldi melepaskan pelukannya, dia bisa melihat air mata yang keluar dari matanya, Maldi terdiam dibuatnya, dia diam memperhatikan wajah yang tampak damai.
"Aku sudah gila. Aku bahkan merasakan, bahwa kau ada dalam diri perempuan ini."
***
"PERIKSA DENGAN BENAR!" seru Kevino yang marah. Bahkan lelaki itu sesekali memukul kursi yang sedang diduduki oleh bawahannya. Di belakangnya, ada Vernon yang ketakutan sekaligus khawatir. Beribu maaf yang ia lontarkan di dalam hati pada Sierra. Vernon menyesal karena menuruti perempuan itu untuk mengikuti Kevino.
Sekarang lihatlah hasil dari perbuatannya, Sierra kabur entah ke mana.
Kevino tidak bisa menahan amarahnya saat bawahannya ini sangat lamban, Kevino lantas berbalik dan langsung memukul Vernon.
Bug!
Vernon tersungkur ke lantai, sudut bibirnya langsung terluka akibat satu pukulan dari Kevino. Vernon tidak akan benci pada pria itu, karena memang inilah kesalahannya.
"Mengapa saat itu, kau tidak memberitahuku jika Sierra mengikutiku?! Kau bahkan tidak membawanya padaku saat dia tertembak!"
Bug! Bug!
"Saat itu, aku tidak bisa membawanya, karena katanya dia ayah Sierra!" seru Vernon dengan cepat. Pria itu menundukkan kepalanya, melindungi wajahnya agar tidak terkena pukulan.
"Lihat! Ayahnya sendiri tidak bisa menjaganya! Sierra malah kabur dan menjauh dariku!"
"Bos! Bos!" seru bawahannya yang menemukan sesuatu. Kevino langsung menghentikan penyiksaan itu dan berbalik badan.
"Mana Sierra? Apa kau menemukannya?!" Kevino mencoba mencari Sierra di dalam layar komputer yang ditujukkan bawahannya.
"Di jalan ini. Untungnya saat itu listrik sudah menyala, jadi cctv yang di sana berfungsi kembali."
"AKU TIDAK BUTUH PENJELASANMU, AKU HANYA INGIN KAU MENEMUKAN SIERRA!"
Pria yang tak lain adalah bawahan Kevino langsung merinding ketakutan, baru kali ini dia melihat atasannya mengamuk hanya karena seorang perempuan.
"Itu Sierra!" seru Vernon yang berdiri di samping Kevino. Kevino pun melihat apa yang Vernon tunjukkan. Dia bisa melihat Sierra yang mengetuk pintu kaca mobil itu, tak lama kemudian pintu mobil itu terbuka, Sierra pun masuk ke dalam mobil.
"Cari siapa pemilik mobil itu!" Bawahannya itu menganggukkan kepalanya dan segera melaksanakan tugas.
__ADS_1
Beberapa bawahan Kevino datang.
"Ada, apa?"
"Bos besar menyuruh anda untuk menemuinya. Sekarang bos besar sedang menunggu ada di dalam mobil."
Kevino diam-diam mengumpat di dalam hatinya, mengapa di saat seperti ini pria jelek itu malah memanggilnya?
"Jika, kau menemukan sesuatu. Langsung hubungi aku!" seru Kevino pada bawahannya, Kevino pun pergi.
Pintu mobil terbuka, Kevino langsung masuk dan berkata. "Ada apa? Bukankah aku sudah memberitahumu jika aku sedang tidak bisa digangu?"
Bos besar yang berbeda lima tahun dengan Kevino itu langsung terkekeh. Dia merasa lucu dengan tingkah Kevino yang berbeda. "Kau sibuk mengurusi perempuan itu? Sudah kubilang, lepaskan saja dia!"
Kevino tertawa kecil pada sepupunya itu. "Dulu, kau memintaku untuk memperkerjakannya tanpa alasan yang jelas, lalu sekarang kau memintaku untuk melepaskannya?"
"Sekarang aku sudah memberimu perintah untuk tidak mencari perempuan itu! Kau lihat kan, dia sendiri memilih kabur dari mansion ayahnya!"
Kevino tersenyum sinis. "Dia tidak akan kabur, jika tidak ada yang menggangunya!"
"Apa maksudmu?!"
Kevino memandang sepupunya dengan tajam. Walaupun sepupunya itu memiliki sikap yang kasar dan bisa membunuh siapapun, baginya dia tak lebih dari seorang pengecut. Tanpa banyak kata, Kevino membuka pintu.
"Jika kau pergi begitu saja, aku tidak bisa memperlakukanmu dengan istimewa!"
Kevino berhenti bergerak. "Terserah, cari saja beberapa pria untuk menghiburmu, agar kau tidak menggangu pekerjaan orang lain!"
Kevino pun pergi.
Setelah sampai, Kevino langsung masuk, dia mulai menanyai bawahannya. "Siapa? Apa kau menemukan pemilik mobil itu?!"
Bawahannya terlihat diam, hal itu membuat Kevino membabi buta. Dia menendang kursi. "BAJINGAN KAU, JAWAB PERTANYAANKU!"
"Maldi Maheswara!" seru Vernon dengan cepat. Kevino menoleh dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Pemilik mobil itu adalah Maldi Maheswara, anak dari pemilik direktur rumah sakit Maheswara Indah."
Kevino terdiam. Jadi Sierra kabur kepada mantannya yang bajingan itu? Kevino terkekeh kecil, dia merasa dipermalukan.
__ADS_1
"CARI MEREKA SAMPAI KETEMU!"