
"Sesuai yang ditunjukan kamera, Nona Sierra naik ke mobil itu!"
Para bawahan Kevino langsung bergegas mencari Sierra. Rico dan anaknya pun sudah pergi dengan damai, tetapi Kevino tahu jika pria bajingan seperti Rico akan terus berusaha untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Kevino meneliti mobil itu, bukankah itu adalah mobilnya? Siapa yang membawanya pergi?
Lalu tiba-tiba para bawahan Kevino mengatakan jika Vernon yang mengambilnya, dengan beralasan untuk mencari Sierra. Lalu kemana pria berengsek itu pergi membawa Sierra?
"Sejak awal, aku tak suka dengan pria itu!"
Bra!
Suara dobrkan pintu itu mengalihkan perhatian Kevino. Di sana sudah ada Septian dan Maldi yang memegang pistol.
"DI MANA PUTRIKU?!" seru Septian sambil mengacungkan pistol.
"Dia, dibawa oleh Vernon," sahut Kevino yang berusaha sabar untuk tidak membunuh mereka, apalagi mereka datang dengan tidak sopan.
"Apa aku bisa mempercayaimu?!" teriak Maldi.
Kevino tidak berniat menjawab. Tenaganya sudah terkuras.
"Kami menemukannya!" seru bawahan Kevino, pria itupun bergegas untuk pergi, dia juga membiarkan Septian dan Maldi mengikutinya.
***
Sierra membuka matanya. Ruangan ini terasa asing baginya. Infus yang terhubung pada mulutnya membuat Sierra keheranan, ruangan ini mirip dengan ruang operasi yang selalu ia lihat di televisi, apa sebelumnya dirinya mengalami kecelakaan?
"Kau sudah sadar?"
Seseorang datang, Sierra menajamkan matanya, dia mencoba menerka-nerka siapa yang berbicara.
"Aku Vernon. Kau ingat bukan?"
Lelaki itu berdiri di dekatnya. Sierra bisa melihat wajah pria itu yang terlihat berseri-seri. Oh ingat! Tempat terakhir sebelum ia pingsan adalah rumah Vernon, saat itu Sierra sedang makan bersama, tetapi kenapa bisa dirinya pingsan begini, sedangkan Vernon tidak? Kecuali jika lelaki itu berniat melakukan sesuatu padanya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini. Aku bahkan pernah menganggapmu sahabatku, Sierra. Tetapi ketika aku memberimu informasi, Kevino malah membuat ibuku kecelakaan. Aku tidak tahu harus bagaimana, apalagi pria bajingan itu mengancam akan membunuh ibuku, kalau aku membantumu!"
Sierra bisa melihat air mata yang keluar dari kelopak mata Vernon. Sierra tidak merasa kasihan, ia marah pada dirinya sendiri karena ibu Vernon terluka.
"Kondisi ibuku semakin kritis. Dia harus operasi jantung. Aku sangat terpukul, sampai akhirnya Kevino mulai perhatian padamu, dia melakukan segala cara hanya untuk menemukanku, itu semua membuatku berfikir, jika aku membuatmu terluka, apa Kevino akan merasakan apa yang aku alami selama ini?"
Sierra terdiam. Tetapi percayalah dirinya sangat takut sekarang.
"Apa kau mau mendonorkan jantungmu, untuk ibukku? Bukankah sebelumnya, kau sangat membenci hidupmu itu Sierra?"
Vernon tersenyum melihat Sierra yang tidak menjawab. Lalu, Vernon berjalan keluar, Sierra ingin berteriak, memberitahunya jika masih ada cara lain untuk menyelamatkan ibunya, tetapi Vernon sudah terlanjur keluar.
Kemudian orang-orang yang memakai pakaian serba biru mulai masuk, salah satu dari mereka menyuntikkan selang yang terhubung pada tubuhnya, pandangan Sierra mulai memudar, tetapi ia masih bisa melihat seseorang dengan jas putih masuk, apa itu dokter yang akan mengoprasinya?
Beberapa saat kemudian seseorang terbangun dengan nafas ngos-ngosan. Keringatnya bercucuran, panas dan dingin, orang itu ketakutan. Apa tadi itu adalah mimpi? Kenapa rasanya nyata?
Sierra melihat sekelilingnya. Ini di mana? Mengapa dirinya selalu bangun di tempat yang berbeda?
Teriakan itu mampu membuat jantung hampir copot. Eh tunggu? Sierra langsung meraba di sekitar jantungnya yang berdetak sangat cepat. Mungkin kejadian itu adalah mimpi, buktinya jantungnya masih ada.
"Bunda sangat merindukanmu!" Saking tak fokusnya, Sierra sampai tidak menyadari jika seseorang masuk ke dalam kamar. Sierra mematung di pelukan Savia, apa Bundanya sudah mengetahui jika dirinya masih hidup?
"Kak Sierra!" seru Serla yang datang bersama Maldi. Gadis itu langsung ikut bergabung memeluk Sierra.
"Kenapa Kakak tidak pernah memberitahuku jika masih hidup?" serunya dengan tangisan yang mulai bercucuran.
Sierra tidak menyangka kejadian ini bisa terjadi. Mereka yang memeluknya dengan erat, seolah tak mau kehilangannya, mengapa tak sejak dulu saja dirinya menikmati momen bersama keluarganya? Sierra membalas pelukan mereka, mengeluarkan semua rindu yang ia rasa. Sedangkan Maldi, dia hanya menatap Sierra, ingin langsung memeluknya dan mengucapkan seribu maaf, tetapi apa Sierra akan memanafkannya?
Setelah kepergian Savia dan Serla, barulah Maldi berani untuk mendekati Sierra. Tak diduga, Perempuan itu tersenyum pada Maldi yang sedang menunduk.
"Apa lantai lebih menarik dari pada melihatku?"
Maldi langsung memeluk Sierra dengan erat. "Maafkan aku. Maaf karena selalu membuatmu menderita, bahkan karena aku juga kau harus mencari pekerjaan!"
__ADS_1
Pelukan Maldi yang erat membuat Sierra kehilangan nafas, Maldi pun segera melepaskan pelukannya. "Maafkan aku!"
Sierra tersenyum. "Aku sudah memafkanmu, tetapi apa kau bisa memberiku alasan kenapa selalu meminta uang? Padahal kau dari keluarga kaya." Sierra sangat penasaran dengan itu semua, dulu boleh saja dirinya yang bucin dan selalu menurut, tetapi sekarang berbeda.
"Apa sedari awal, kau mendekatiku hanya karena ingin membuat Serla cemburu?"
Sierra terdiam. Bagaimana bisa Maldi mengetahuinya? Tidak ada yang tahu kecuali Bela. Dulu Sierra memang belum jatuh hari pada Maldi, tetapi seiring berjalannya waktu, Sierra mulai mencintai Maldi dan bahkan pernah berfikir untuk menikahi lelaki itu.
"Kau diam saja. Berarti memang benar. Jika saja aku tidak menguping pembicaraan kau dan Bela, mungkin sampai kapanpun, aku tidak akan tahu jika selama ini hanya aku yang mencintaimu."
"Tapi aku juga mencintaimu, Maldi!" seru Sierra dengan cepat. "Memang awalnya aku mendekatimu karena tidak ingin Serla memilikimu. Tetapi akhirnya, aku juga mencintaimu Maldi, aku berusaha mencari uang agar kau tidak meninggalkanku!"
Maldi terdiam. Jadi selama ini Sierra juga sudah membalas perasaannya? Kenapa ia baru mengetahuinya sekarang? Maldi sangat menyesal karena pernah mempermainkan Sierra dengan meminta uang padanya, Maldi pikir dirinya tidak bisa putus dari Sierra, itu sebabnya dia memilih untuk mempermainkannya. Jika tahu Sierra juga mencintainya, Maldi tidak akan pernah melakukan ini semua.
"Semuanya belum terlambat! Kita bisa memulainya dari awal!" seru Maldi yang memegang kedua tangan Sierra.
"Aku..."
Maldi yang melihat Sierra ragu pun langsung memeluknya erat. "Aku sangat mencintaimu Sierra! Bisakah kita kembali bersama? Aku mohon!"
Sierra tidak membalas pelukannya. Perempuan itu bimbang. Dirinya harus apa? Namun matanya menatap seseorang yang berdiri di depan pintu, dia Kevino. Kevino memandangnya dalam. Di tangannya terdapat sebuah bunga mawar merah yang indah, serta pakaiannya terlihat berbeda, lebih tampan dari biasanya.
"Kau terlambat! Aku sudah meminangnya untuk menjadi istriku!"
Kedua mata Sierra melotot, seperti akan keluar dari tempatnya. Maldi langsung melepaskan pelukannya, dia menatap tajam pada Kevino. "Aku lebih dulu menyatakan cinta! Dan hanya Sierra yang berhak memutuskan!"
Kevino tersenyum kecil, dia berjalan masuk, pandangannya tidak lepas dari Sierra.
"Em... Bagaimana ya cara mengatakannya, aku lebih dulu menanam saham di rahimnya."
"APA?!" seru Maldi dan Sierra bersamaan.
Senyuman Kevino semakin melebar. "Jadi kau boleh mundur secara pelan-pelan, karena ada bayi yang harus kami jaga."
__ADS_1