Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 31. Keadaan Yang Membaik


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, setelah kejadian penangkapan itu membuat hidup Sierra menjadi lebih baik. Bahkan perempuan itu, berjanji pada diri sendiri untuk belajar tentang sikapnya yang kurang baik menjadi lebih baik lagi. Banyak pelajaran yang ia dapat dari apa yang Sierra alami. Semua orang memiliki deritanya, tak ada manusia yang baik-baik saja di dunia ini, semuanya sedang berjuang dengan masalah masing-masing. Tetapi setiap kehidupan itu penting, semua orang spesial di dunia ini, bukannya Tuhan sudah menciptakan kita dengdan sebaik-baiknya? Jadi untuk apa lagi mengeluh? Mengeluh memang wajar, tetapi ada kalanya kamu berhenti menyalahkan takdir yang tak sesuai dengan apa yang kita inginkan.


Berita tentang penangkapan geng mafia itu membuat keluarganya khawatir tentang keadaan Septian, apalagi pria paruh baya itu dipenjara karena terbukti ikut andil dalam organisasi yang dilakukan geng mafia Qizz. Sierra sedih mendengarnya, dia juga sudah tahu bahwa bukan ayahnya yang menyiksanya saat baru sadar dari tembakan. Sierra sudah melupakannya, ia akan pendam semuanya rapat-rapat seolah tak terjadi apapun, termasuk tentang Kevino.


"Buahnya, Dek!"


Serla memutar matanya malas, walaupun sudah berbaikan, tetapi sifat Kakaknya yang menyebalkan tidak menghilang, seperti sekarang, Sierra dengan santainya menyuruhnya memotong apel, dengan alasan masih trauma melihat pisau.


"Yang ikhlas dong potongnya!" celetuk Sierra yang melihat Serla mendumel dengan wajah yang ditekuk. Serla hanya memutar matanya malas, doakan saja pisau ini tidak refleks ia lempar pada Kakaknya itu.


"Eh, Ser. Kamu kok bisa kenal sama Rena?" tanya Sierra yang tiba-tiba.


"Mungkin karena kematian Kakak, kami jadi dekat," jawab Serla sekenanya.


Mendengar jawaban yang kurang panjang itu tidak membuat jika kepo Sierra meronta-ronta. Lagi pula menurut Sierra pribadi, Rena adalah sosok yang jarang akrab, dia pasti punya alasan bergaul dengan adiknya itu. Jika Serla tidak ingin memberitahunya lebih, tidak apa-apa.


"Sierra, ada Rena!"


Sierra langsung tersenyum mendengarnya, sahabatnya ini memang satu hati dengannya. Hingga suara pintu terbuka membuatnya menoleh. Senyuman Sierra langsung berubah.


"Kenapa? Kamu nunggu orang lain?" Maldi bertanya karena melihat ekspresi Sierra yang sepertinya menunggu orang lain.


"Di ruang tamu ada Rena kah? Aku mau ke sana dulu."


"Nggak usah, biar dia aja yang ke sini." Tanpa diminta, Maldi langsung duduk di seberang Sierra, menatapnya dengan intens. Serla yang paham situasi ini pun langsung keluar kamar, dirinya tidak boleh mengganggu.


Serla datang ke dapur yang ternyata sudah ada ibunya yang sedang menyiapkan minuman. Serla cuek dan mengambil minuman untuk ia minum.


"Bisa bawa ini ke ruang tamu?"


Setelah minum, Serla langsung mengambil nampan yang Savia bawa. Gadis itu pergi tanpa mengucapkan apapun. Sebenarnya semua telah berubah sejak kedatangan Sierra, termasuk rasa kesalnya Serla pada ibunya.


Dirinya tidak mengerti, bagaimana perlakuan keras Ibunya, memaksanya untuk menjadi seperti yang beliau inginkan.

__ADS_1


Savia juga sudah meminta maaf dan berusaha mengambil hati Serla lagi. Savia juga tahu tentang kesalahannya dalam mengurus anak-anaknya, walaupun salah, tetapi dia punya alasan melakukannya.


"Silahkan, Kak!" Serla datang membawa minuman. Rena tentu saja senang dan langsung menyuruh Serla untuk menemaninya.


"Maaf ya Kak. Kak Maldi kayaknya mau ngobrol serius sama Kak Sierra, makannya aku tinggalin mereka. Kakak bisa sabar nunggunya kan?"


"Iya, nggak papa kok. Aku juga datang ke sini mau tanya sesuatu."


"Mau tanya apa, Kak?"


"Katanya akhir-akhir ini, kamu jarang konsultasi ya? Kamu tahu kan, bahwa itu sangat penting, Serla!"


Serla tersenyum tipis. "Nggak papa Kak, aku udah sembuh kok. Kak Sierra juga udah pulang, jadi aku bakal baik-baik saja."


"Tapi Serla, masalah kesehatan mental itu harus ditangani sama yang ahli. Kakak takut, jika kamu kambuh lagi!"


"Kambuh?"


"Bukan apa-apa," sahut Serla dengan wajah yang santai. Savia tidak percaya dengan putrinya, lalu beralih pada Rani. "Kamu bisa jelaskan Rani apa yang kalian bicarakan?"


"Em... Itu..." Rani bingung menjelaskannya, apalagi tatapan memohon yang ditunjukan Serla membuatnya gugup.


"Rani tolong jujur, ada apa sebenarnya?"


Rani berusaha untuk tetap tenang tetapi tidak bisa, rasa gugupnya ini terlalu kentara.


"Bunda nggak perlu tahu, ini bukan urusan Bunda!" seru Serla cepat.


Melihat respon Serla yang aneh membuat Savia semakin curiga. "Rani, kalau kamu menyembunyikan sesuatu dari Tante. Tante bakal kasih tahu ke orang tua kamu!"


Ancaman itu membuat Rani takut. Dia tidak mau orang tuanya sampai marah kerena tidak berkata jujur. "Em.. Se.."


"AKU YANG SAKIT! AKU YANG SAKIT MENTAL, BUNDA PUAS HAH?!"

__ADS_1


Teriakan itu membuat Savia terkejut, apalagi dengan pernyataan Serla. "A-apa maksud kamu?"


"Kenapa Bunda terkejut begitu? Ini bukan kali pertamanya aku sakit!"


"Nggak! Kamu nggak sakit! Kamu sehat, Serla!" Teriakan Savia membuat Serla tersenyum sinis. Dia benci sekali pada situasi ini, situasi yang menunjukan bahwa bundanya tidak tahu apa-apa soal dirinya.


"Bunda pikir, aku gila gini karena siapa? Aku depresi, aku stres ini karena siapa, kalau bukan karena Bunda?"


Savia terdiam, dia masih tidak mengerti.


"Bunda tahu? Mati-matian aku berusaha untuk nggak membenci Bunda sama sekali, sampai hari ini pun aku nggak pernah tahu alasan Bunda ngelakuin itu. Aku tahu, Bunda mau aku sukses kan? Aku juga tahu Bunda pengen aku jadi mandiri biar bisa membanggakan keluarga, tapi kenapa? Kenapa harus pake kekerasan Bun? Nggak cuman Badan yang sakit, hati aku juga sakit!"


"Serla... "


"Bunda nggak pernah mau tahu tentang kemauan aku! Disaat semua orang mengkritikku, Bunda malah marah-marah karena aku nggak menang penghargaan!"


"Serla... " Seirra yang tadi menguping pun keluar dari persembunyiannya, perempuan itu ikut mematung mendengar penjelasan adiknya.


Serla menoleh. "Kakak harus tahu betapa berharganya piala yang sempat Kak Sierra lempar. Aku sayang banget sama piala-piala itu karena dengan piala itu, Bunda jadi sayang sama aku.."


"Aku... "


"Kak Sierra nggak salah! Aku yang salah karena nggak pernah terbiasa dengan perlakuan Bunda."


Savia meneteskan air matanya. Hatinya sakit melihat anaknya sendiri menangis seperti ini karenanya. Savia juga tahu telah melakukan kesalahan besar, tetapi semua itu juga demi kebaikan Serla, namun Savia melupakan satu hal, Serla tidak suka jika terlalu dikekang, dan Savia baru sadar akan hal itu.


"Serla, Bunda.."


Lagi-lagi, Serla memotongnya dengan cepat. "Maaf Bunda. Aku nggak bisa menahannya sendiri, aku takut sendirian, makanya aku pergi ke psikiater temannya Kak Rena. Aku tahu Bunda bakal marah, apalagi jika publik tahu bahwa aku adalah seorang pasien.."


Perkataan Serla berhenti karena Savia memeluknya dengan erat. Bahkan wajah wanita itu sudah memerah menahan tangis. "Maafkan Bunda sayang, maaf."


Sierra juga ikut menangis. Dia merasa gagal menjadi seorang kakak. Rena segera berdiri dan memeluk sahabatnya dari samping.

__ADS_1


__ADS_2