Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 8. Siapa Dia.??


__ADS_3

Sierra, masuk ke dalam rumah. Sepertinya, semua orang telah tidur, terbukti dengan rumah yang gelap gulita.


Dan tidak seperti biasanya, dia merasa damai, tak ada siapapun yang memarahinya karena pulang malam. Sierra ingin masuk ke dalam kamar, namun suara tangisan menghentikkan langkahnya.


Sierra sudah memikirkan yang tidak-tidak. Namun tangisan itu semakin kencang, perempuan itu semakin takut dan beruasaha mengendalikan diri.


"Ayolah, Sierra! Jangan takut!" lirihnya pelan, menyemangati diri.


Perempuan itu mengedarkan pandangannya, suara utu berasal dari belakang. Kamar Serla! Dengan pelan, Sierra berjalan ke kamar adiknya itu.


"Mungkin, hantunya nangis karena dimarahin Serla?" tanyanya pada diri sendiri.


Seirra mengintip di celah pintu, di sama terlihat seorang perempuan menangis sesenggukkan di dekat ranjang, dia memeluk kakinya erat, dan menenggelamkan wajahnya di tumpuan tangan.


"Serla? Kenapa, dia menangis?" lirihnya pelan."


***


Pagi ini sunyi, tak ada konser Serla yang selalu membuat orang lelah dengan rengekkannya, tak ada yang berbicara di meja makan, dan Sierra yang tidak tahu malunya malah bergabung untuk sarapan bersama mereka.


Sierra menatap Bundanya, yang acuh dan fokus makan sendiri. Saat beralih menatap Serla, adiknya itu terlihat murung, seperti tak nafsu makan. Ingin bertanya, namun rasa gengsinya lebih besar.


Perempuan itu memutuskan untuk tidak peduli, dan tak mau ikut campur. Toh, tak akan ada yang berubah jika ia mengetahui apa yang sedang terjadi.


Sierra ingin bangkit dari duduknya, namun sialnya tangannya malah menyenggol sebuah gelas.


Prank!


Gelas itu pacah, Sierra kaget, bahkan jantungnya berdetak lebih cepat, dengan sigap Sierra berjongkok berniat membersihkan pecahan kaca. Namun, sekelebat adegan muncul di pikirannya.


"Aku, tak mau jadi dokter! Aku tak mau mengikuti semua yang kalian inginkan!" teriak seorang lelaki yang memakai seragam SMA.


"Saga! Kau harus mengikuti perintah Ayah!"


"Aku tak mau! Lebih baik, aku tak pernah ada jika hidupku malah terkekang!"


"Yasudah, mati saja!" sentak pria paruh baya itu.


Lelaki itu mengambil gelas dan membantingnya dengan sengaja, semua orang kaget, bahkan kedua gadis yang masih kecil pun menangis ketakutan.


Saga tak peduli, dia pergi setelah membuat kekacawan.


"Mengapa, kau diam?!"


Sierra tersadar dari lamunannya, kejadian beberapa tahun yang lalu itu, membuatnya sedih dan rindu pada sosok sang kakak.


"Bi! Tolong bersihkan ini!" teriak Serla pada sang pembantu.


"Tak, usah membersihkan jika tidak mau! Dan mengapa, kau malah melamun tak jelas! Kau, ingin tanganganmu terluka?!" bentak Serla.

__ADS_1


Sierra berdiri, dia mematung mendengar kalimat yang Serla lontarkan.


"Jika, darahmu mengenai lantai. Aku takut, kena sial! Aku takut, rumah ini juga akan terkutuk!"


Baru saja merasa terharu, sudah dijatuhkan saja. Baru semalam, ia merasa kasihan pada Serla, namun sekarang gadis itu malah mengatainya. Memang sudah seharusnya, dia tak boleh sedikit simpati pada penyihir itu.


***


"Kevino! Kevino! Dimana Kau!"


Sierra yang baru saja masuk, langsung berteriak memanggil pria itu.


Para pelayan yang lain hanya menganggapnya angin lalu. Sierra berlari ke arah ruangan Kevino. Saat ini dia ingin mentutaskan semuanya, dia akan mencari jawaban yang ingin dia ketahui.


Tentang pekerjaannya.


Tentang kebenaran wanita itu, Sierra penasaran, apakah dia Bela atau Bila, namun entah siapapun dia, Sierra akan tetap sedih karena mereka termasuk orang-orang yang Sierra sayangi.


"Mengapa kau tak menyahut saat aku memanggilmu?!"


Kevino tidak menjawabnya, pria itu malah sibuk mengerjakkan berkas-berkas yang berserakan di atas meja.


"Kali ini, kau harus menjawab pertanyaanku! Kau tak boleh mengelak seperti malam kemarin!"


Sierra masih kesal pada pria itu, bisa-bisanya dia tak mau memberitahu informasi apapun. Sierra tahu, ini adalah pelanggaran, namun jika menyangkut orang-orang terdekatnya, Sierra tak akan segan untuk melanggarnya.


"Ayolah! Kenapa kau, tak mau membantuku! Apa kau tak kasihan dengan para wanita itu? Mereka juga sebenarnya tak mau melakukan itu!"


Sierra menundukkan kepalanya. Benar yang dikatakan Kevino, dia juga pendosa yang selalu melakukan kesalahan.


"Setelah mengetahui ini, apa kau akan terus bekerja sebagai sopir pengantar para wanita itu?"


Sierra menelan salivanya. "Tapi, aku--"


"Kau, juga berperan penting! Kau saksi hidup, yang melihat mereka melakukan kesalahan tetapi diam saja, tak bertindak apapun!"


"Aku--"


"Apa kau juga tak curiga dengan pekerjaanmu yang sebelumnya?"


Deg


Apa-apaan ini! Mengapa, Kevino membahasnya? Bukankah pekerjaannya dulu, hanya menjadi tukang paket?


"Tidak ada yang salah menjadi tukang paket! Aku tak melakukan sebuah dosa!"


Kevino hanya menganggukkan kepalanya. "Ya terserah saja."


Sierra berusaha mengendalikan dirinya sendiri, mengapa sekarang ia resah sendiri? Dirinya hanya takut, tetapi entah takut karena apa, yang jelas reaksi tubuhnya sangat berlebihan.

__ADS_1


"Kau mencoba lari dari pertanyaanku, ya?! Cepat jelaskan semuanya! Tentang para wanita itu dan seseorang yang mirip dengan orang yang kukenal!" seru Sierra yang tak mau kalah.


Kevino hanya tersenyum tipis. "Jika, kau ingin tahu, baiklah. Nanti malam, kau harus ikut denganku!"


"Kemana?" tanya Sierra.


Lelaki itu tidak menjawab. Dia hanya menyeringai.


Sierra terdiam. Dia mulai takut, entah perempuan itu Bela ataupun Bila, Sierra berharap, ia salah melihat.


Beberapa saat kemudian, malam pun tiba, Sierra tidak bekerja seperti biasanya, sekarang perempuan itu sedang menunggu Kevino dalam mobil.


"Mengapa, jantungku berdetak lebih cepat?" ucapnya.


Seseorang yang tak lain adalah Kevino masuk ke dalam mobil, tanpa banyak bicara Kevino melajukkan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata.


Sierra yang belum siap, hampir terbentur.


"APA KAU GILA!" seru Sierra.


"Bukankah, kau ingin mengetahui semuanya? Sebelum itu, kau harus latihan dulu, agar tidak terlalu terkejut!"


"Terkejut, bagaimana? Aku, tahu mereka wanita malam!" jawab Sierra sekenanya.


Kevino seperti biasa tidak menjawab, dia hanya fokus menyetir. Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya mereka sampai.


"Benar, kan? Aku tidak bicara?!"


"Ikut, saja!" Kevino berjalan lebih dulu. Sierra pasrah, dia mengikuti Kevino dari belakang.


Rumah megah ini terlihat mewah, banyak pria berbadan besar yang berkeliaran.


"Apa, para pria juga itu menjual diri?"


Plak!


Sebuah geplakan terjun mengenai kening Sierra.


"Mengapa kau memukulku?! Apa, kau tersinggung!"


Kevino memutar matanya, menghadapi wanita seperti Sierra memang harus sering bersabar. Kevino dengan kesal berjalan cepat meninggalkan Sierra yang masih mengusap keningnya.


"Hei, tunggu aku!" seru Sierra.


"Sierra?"


Sierra yang akan berlari mengurungkan niat, dia menoleh ke arah suara.


"Mengapa, kau ada di sini?!" tanya orang itu.

__ADS_1


Sierra diam mematung, rasanya dunianya berhenti bergerak saat itu juga. Seharusnya, dia yang ingin bertanya mengapa dia ada di tempat seperti ini.


Orang itu tersenyum remeh, dia memandang Sierra dari ujung rambut hingga ujung kaki, memandangnya remeh.


__ADS_2