Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 23. Kedatangan Septian


__ADS_3

"Serla! Serla! Ini Ayah!"


Tok!


Tok!


Tok!


"Pergi!" Savia berusaha mencekal lengan Septian. Menyeretnya untuk segera pergi dari rumah."Pria bajingan sepertimu tak pantas berada di sini!"


Ceklek


Pintu terbuka sedikit. Septian bisa melihat putrinya yang mengintip di celah pintu. Septian lantas tersenyum, merentangkan kedua tangannya. "Serla, ini Ayah!"


Namun Serla malah menutup pintu kembali. Menyisakan Septian yang diam membisu.


"Sudah kubilang, dia tidak mau bertemu denganmu!" bentak Savia. Wanita paruh baya itu menarik lengan Septian namun tidak berhasil tubuh pria itu terlalu berat untuknya.


Septian menghentakan lengan Savia dengan sekali hentakan. "Serla! Tolonh buka, ini Ayah Nak!"


Septian berusaha membuka pintu itu, namun Serla masih tidak mau membukannya. Septian tidak akan menyerah, pria itu mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu.


Brak!


Satu dobrakan saja mampu membuka pintu itu.


"SERLA!" Savia langsung mendekati putrinya yang tersungkur di lantai. Matanya langsung membola saat Septian dengan santainya menghampiri putrinya. "Sudah kubilang, dia tidak mau bertemu denganmu! Pergi! Jangan mendekati putriku!"


Septian layaknya orang tuli, dia tidak mempedulikan Savia yang marah-marah dan membentaknya. Itu tidak penting. Ada sesuatu yang menarik matanya, membuat hatinya sakit jika terus menatapnya. "Kamu nggak papa?"


Serla merundukkan kepalanya.


Savia semakin tersulut emosi. "Dia, terluka karena kau mendobrak pintu! Sudah kubilang kehadiranmu tidak dibutuhkan di sini! Pergi! Jangan menganggu putriku!"


Septian mengangkat tangannya, menyentuh pundak Serla.


"Ahk!"


Sesuai dugaa Septian, ada sebuah luka di pundak Serla. Terbukti, saat ia menyentuhnya, Serla langsung kesakitan.


"Kau menyakitinya!" sentak Savia menyingkirkan tangan Septian.


"Sayang, kamu kenapa? Luka apa ini? Kenapa kamu bisa terluka, Nak?!"


"Jangan bertindak sok peduli! Dia baik-baik saja!" Savia mendorong Septian agar jauh dari Serla. Ini yang paling Savia takutkan. Septian datang untuk mengambil Serla darinya, tidak akan ia biarkan!

__ADS_1


"LUKA APA ITU!" Septian membentak Savia yang berusaha mendorongnya keluar kamar. "Bagaimana kau mengurusnya, hingga Serla bisa terluka seperti itu, hah?!"


Savia tersenyum sinis. "Kau meremehkan caraku mengasuhnya? Lihat!" Savia menunjuk Serla yang masih terduduk di lantai. "Dengan asuhanku, dia bisa menjadi aktris yang terkenal! Dia memiliki banyak penghargaan bahkan dia bisa membeli wanita murahanmu itu!"


"KAU...!"


"Apa? Kenapa? Jika diabukan murahan, lalu apa? ******?!"


"SAVIA!"


"CUKUP!" serla berteriak kencang untuk menghentikan pertikaian orang tuanya. Bagaimana bisa mereka begitu egois? Bagaimana bisa mereka mengacuhkannya demi emosi masing-masing? Bahkan di saat ia terisak pun, mereka tidak menyadarinya.


"Sayang, kamu nggak papa kan?" Savia mendekatinya, berjongkok sambil mengusap rambutnya.


Sama dengan Savia. Septian juga mendekati Serla. Menatapnya dengan tatapan khawatir. "Sayang, ini Ayah. Ceritakan tentang luka ini ya, Ayah janji tidak akan meninggalkanmu lagi."


"Ayah..." Serla langsung memeluk tubuh Ayahnya, menangis kencang mengeluarkan semua amarah yang selalu ia pendam, persetan dengan ibunya yang akan memarahinya, Serla tak peduli, yang jelas sekarang Serla butuh tempat bersandar.


"Iya, Ayah di sini." Septian mengusap punggung Serla. Mengusapnya dengan sayang. Savia menggigit bibir bawahnya, demi apapun Savia takut jika Serla pergi bersama Septian, Savia tidak mau itu terjadi. Dirinya sudah kehilangan Sierra, ia tidak mau jika harus kehilangan Serla.


"L-luka ini ulah Bunda."


Tangan Septian berhenti bergerak.


"L-luka ini adalah hukuman karena aku gagal menjadi anak yang baik."


Septian beralih menatap Savia, meminta penjelasan lebih tentang apa yang Serla ucapkan. Savia hanya menunduk menghindar.


Septian menghela nafas gusar. Mau marah sekarang pun rasanya sudah terlambat. Dirinya juga tak sepenuhnya benar, luka yang dialami anak-anaknya karena ulahnya juga.


"Sekarang, Ayah ada di sini. Kamu tidak perlu khawatir. Sebenarnya ada yang mau Ayah jelaskan..."


Septian memandang Serla yang tak mau melepaskan pelukannya, dirinya takut jika harus menjelaskan semuanya.


"Sebenarnya... Sierra masuk hidup." Septian langsung menutup matanya, dirinya merasa bersalah.


"Jangan bercanda! Itu sama sekali tidak lucu!" timpal Savia dengan wajah yang penuh emosi. Bahkan wanita itu sampai berdiri menatap mantan suaminya dengan tajam.


"A-ayah... " Serla melepaskan pelukannya. Memandang Ayahnya dengan tatapan sayu. "Ayah, nggak bohong kan?"


"Tidak mungkin! Aku dengan jelas melihat jasad putriku, walaupun wajahnya sudah rusak, aku pasti mengenalnya!"


Septian mengusap wajahnya kasar, jika Sierra tidak di sini, lalu di mana dia?


Savia menatap langit-langit kamar, tertawa sumbang mendengar pernyataan yang tak masuk akal. "Bertahun-tahun kau tak pernah mengunjungi rumah, sekarang tiba-tiba kau datang dan membuat berita bohong seperti ini?"

__ADS_1


"Aku tidak berbohong!" seru Septian tidak terima.


"Sangat jelas, bahwa kau berbohong! Kau melakukan ini karena ingin membawa Serla kan? Iya kan?!"


"Aku memang ingin membawa Serla. Tetapi aku tidak pernah berbohong! Sierra memang masih hidup!" Septian tahu, mereka tidak akan percaya, tetapi inilah kenyataannya.


Savia semakin tersulut emosi. "KAU.."


"Ayah tidak berbohong."


Kedua orang dewasa itu menoleh pada Serla, menatapnya tidak menyangka. Savia menggelengkan kepalanya. "Sayang, jangan percaya! Ingat, saat kita melihat jasad kakakmu yang sudah tiada, dia sudah tenang di alam sana!"


Serla mengangkat kepalanya. "Kak Serla masih hidup, dan aku melihatnya. Dia ada di sekitar kita..." Terang Serla, lalu memandang wajah Septian. "Dan orang yang membuatnya jauh dari kita juga ada di sini."


Wajah Septian memutih seperti mayat. Pria itu gugup setengah mati melihat Serla yang memandangnya dalam. Bagaimana Serla bisa mengetahuinya?


Savia yang tidak mengerti semakin frustrasi. "Apa maksudmu, Bunda sama sekali tidak mengerti!"


Septian memandang putrinya dengan was-was, dia takut jika Serla akan membocorkannya.


Serla terdiam sebentar, memikirkan kata-kata yang bisa dimengerti oleh Bundanya. "Aku tak jelas ingat hari apa, tetapi hari itu, aku bertemu dengan aktris baru, tak lama kemudian aku mengenal namanya yang mirip dengan nama kakak. Sierra, Sierra Rosdiana."


Savia berusaha fokus untuk mendengar. Sedangkan Septian, pria itu sudah dibanjiri dengan keringat dingin.


"Aku mengobrol sedikit dengannya, walaupun pada awalnya aku tidak tahu jika dia duduk di sampingku. Setelah itu dia pergi, aku mengejarnya, hendak meminta maaf karena sudah berbicara melantur. Namun saat aku mencarinya, aku menemukan pria asing sedang berbicara dengan Ayah... "


Septian menelan salivanya dalam-dalam. Berusaha menyiapkan diri jika Serla akan membencinya.


"Mereka berbicara seolah-olah Kak Sierra masih hidup. Waktu itu aku tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Dan melihat wajah Ayah, membuatku bertanya-tanya. Ayahku ada di sekitarku, namun dia tidak pernah mengunjungiku, atau sekedar menyapa... "  Serla terisak, air matanya mulai keluar. "Lalu ketika pria asing itu berbicara tentang 'dikenal sebagai pembunuh' aku paham mereka memang membicarakan Kak Sierra."


Serla malanjutkan. "Lalu, aku mencari apa yang mereka maksud. Pria asing itu menyuruhnya, menjadi aktris. Aku pun mencari aktris baru, tetapi tak ada yang mirip dengan wajah Kak Sierra. Namun aku teringat aktris baru yang pernah mengobrol denganku. Aku sengaja menyuruh Kak Rena, Bunda dan Maldi untuk datang ke lokasi syuting, aku ingin melihat reaksinya. Dan sesuai dugaan, perempuan itu terlihat sedih saat bertemu dengan Kak Rena, tetapi dia juga kesal melihat Maldi ada di sekitarku dan Bunda."


"Tunggu!" potong Savia. "Jadi perempuan itu, adalah Sierra? Namun mengapa kita tidak mengenalinya jika dia ada di sekitar kita?"


"Karena... " Serla melihat Septian yang menundukkan kepalanya. "Wajahnya berbeda. Wajahnya memang terlihat asing. Namun cara bicaranya, tingkahnya, semuanya mirip Kak Sierra."


Savia diam sebentar. Kejadian ini terlalu aneh baginya. "Mungkin itu hanya kebetulan, sayang. Jelas-jelas saat hari dia tiada, kita melihat jasadnya!"


"Tetapi, apa kedatangan Ayah juga kebetulan? Apalagi Ayah bilang jika Kak Sierra masih hidup. Sudah jelas, jika Ayah menyembunyikan sesuatu."


Savia mencoba berfikir keras. Walaupun kejadian ini terlalu aneh baginya, tetapi dia akan bahagia jika putrinya memang masih hidup.


"Cepat jelaskan semuanya! Apa Sierra memang masih hidup?!" seru Savia sambil menggucang tubuh Septian.


Septian diam. Dia terlihat ragu.

__ADS_1


"Aku, mohon Ayah."


__ADS_2