Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 33. Rahasia Saga


__ADS_3

"Siapa mereka?" tanya Maldi yang juga tak kenal orang yang berada di foto itu. Tiba-tiba Sierra berdiri dari duduknya, dia pergi keluar kamar. Maldi yang kaget pun langsung mengikutinya dari belakang.


"Bunda! Bunda!" seru Sierra ke ruang tengah.


Savia yang sedang berbicara dengan Rena pun terhenti.


"Kenapa Kak?" tanya Serla yang khawatir melihat wajah Kakaknya yang tegang.


Sierra masih terlalu terkejut, dia langsung mendekati bundanya dan berkata. "Bunda, ini Bang Saga kan? Kenapa Bang Saga ada di panti asuhan?"


Rena menoleh pada Maldi dengan pandangan bertanya, Maldi mengangkat bahunya, dia tidak tahu apapun soal foto itu. Serla ikut mendekat dan memperhatikan foto itu.


"Bang Saga sama siapa Bun?" tanya Serla. Dia tak kenal dengan dua orang itu. Satu pria paruh baya dan satu anak kecil perempuan, mereka berdampingan dengan Kakak pertamanya yang sudah meninggal, Saga.


"Bunda jawab!" seru Sierra yang tahan melihat Bundanya yang hanya terdiam membisu. Foto itu ditaruh di meja. Sierra duduk di sofa dengan tangan yang menarik rambutnya sendiri.


"Kak!" seru Serla yang menghampirinya. Serla menenangkan Sierra agar tak begitu frustasi.


Rena dan Maldi ikut melihatnya foto itu. Rena bahkan memperhatikannya dengan serius. "Bukankah dia bos geng mafia yang ditangkap... Bersama Om Septian?" tanya Rena hati-hati.


Serla langsung mengambil foto itu, dia menatapnya dengan lekat. Ternyata benar apa yang dikatakan Rena, Serla juga melihatnya di dalam siaran tv itu, Serla juga baru ingat bahwa pria tua itulah ketuanya.


"Bunda ingat? Saat Ayah bilang bahwa orang yang menyiksa Kak Sierra adalah orang yang jabatannya lebih tinggi dari Ayah.. Lalu pria ini adalah ketuanya, apa jangan-jangan dia yang telah menyiksa Kak Sierra?"


"Jika itu benar, apa alasan dia menyiksa Sierra?" sahut Rena. Maldi yang berdiri di dekat Rena pun mengangguk, pasti semua ini ada alasannya. Ia juga baru ingat bahwa wajah pria itu sama dengan pria paruh baya yang berkelahi dengan Kevino.

__ADS_1


"Bunda bisa jelaskan?" tanya Sierra. Melihat Bundanya yang terus diam, membuat Sierra curiga bahwa Bundanya menyembunyikan sesuatu.


Serla memegang kepalanya sendiri. Berusaha mencerna. "Tempatnya panti asuhan... Dan pria tua itu menyiksa Kak Sierra tanpa alasan.. Em apa ya, nggak nemu. Panti asuhan itu kan... APA JANGAN-JANGAN BANG SAGA BUKAN ANAK BUNDA?!" seru Serla tidak menyangka dengan pemikirannya sendiri.


"Jangan bercanda!" timpal Rena.


"Ih aku nggak bercanda!" balas Serla kemudian dia menatap Sierra yang sedang memikirkan sesuatu. "Kak, mungkin saja pak tua itu mendengar rumor itu.. Terus dia berniat balas dendam karena terluka dengan kemtian Bang Saga, atau anaknya itu?" Serla tak enak hati jika harus menjelaskan secara gamblang. Rumor yang mengatakan bahwa Sierra membunuh Kakak pertamanya. Walaupun Serla juga tidak tahu kebenarannya, dia percaya jika Sierra tidak mungkin melakukannya.


Sierra menoleh pada Bundanya. "Bunda, Bang Saga anak kandung Bunda kan? Bang Saga nggak mungkin bukan anak Bunda!"


"Tapi Kak--"


"Dia anak kandung Bunda!" seru Sierra dengan cepat. Tidak mungkin bahwa Kakaknya itu bukan anak kandung orang tuanya. Serla diam, dia tahu kenyataan ini terlalu berat, tapi alasan ini cukup memungkinkan. Pria tua itu pasti sangat terpukul dengan kematian Bang Saga, anak kandungnya.


Sierra memegang tangan Bundanya, memohon. "Bunda... "


Pernyataan itu membuat semua orang lega, terlebih dengan Sierra.


Serla menyahut. "Tapi Bun--"


"Dia anak kandung Bunda, Serla! Saga anak kandung Bunda!" teriak Savia dengan air mata yang lolos menghiasi kedua pipi. Sierra dan Serla langsung memeluk Savia. Tak menyangka jika Bundanya diam karena menahan tangis.


"Berengsek ini adalah pelakunya," ungkap Savia sambil menunjuk pria tua yang berdiri di samping Saga.


"Tapi, apa alasannya?" tanya Serla yang masih tak paham apapun.

__ADS_1


"Pria tua ini menyukai sesama jenis!"


Prank!


Rena yang tadinya hendak minum, tak sengaja melepaskan tangannya, sampai membuat gelas itu terjatuh ke lantai. Perempuan itu terlalu kaget.


"Dia menyukai laki-laki?" seru Maldi yang hampir oleng. Maldi langsung duduk di sofa, dia tak kuat jika berdiri, kepala pun rasanya cenat-cenut.


Sierra dan Serla malah diam mematung. Sierra yang tadinya berisik meminta Savia untuk menjawab, dan sekarang malah terdiam saat Bundanya mengatakan jawabannya. Sama dengan Sierra. Serla berpikir bahwa yang tadi pendapatnya sudah gila, ternyata jawaban dari Bundanya malah lebih gila.


Savia tahu bahwa perketaanya ini terlalu tidak masuk akal. Ketika pertama kali melihat foto itu, dirinya langsung kaget dan tidak menyangka, beribu pertanyaan mulai terlintas di pikirannya. Bagaimana Saga bisa bertemu dengan pria itu? Kenapa juga Saga harus bergaul dengannya? Fakta yang terlalu menyakitkan. Savia juga tidak menyangka jika putranya yang terlihat tak memiliki masalah apapun dan selalu terlihat bahagia, ternyata menyembunyikan rahasia sebesar ini.


"Pria tua ini dulunya, adalah tetangga Bunda. Namun dia pindah saat terdengar rumor bahwa dia menyukai sesama jenis, dan mungkin... Dia mengencani Saga?"


Sierra langsung menyenderkan tubuhnya pada dinding sofa. Menutup kedua matanya rapat-rapat. Tubuhnya ini terlalu lemas mendengar fakta ini, bahkan penglihatannya pun terasa buram. Tiba-tiba terdengar tangisan. Sierra langsung membuka matanya, ternyata adiknya lah yang menangis.


"Kenapa Bang Saga bisa menyukai sesama jenis? Aku tidak bisa membayangkannya! Apa jangan-jangan Bang Saga bunuh diri, karena tidak mau kita tahu?"


Semua orang menoleh pada Sierra. Satu-satunya saksi yang ada di tempat terakhir Saga. Sampai saat ini, Sierra tidak pernah cerita soal apapun tentang kematian Saga. Itu sebabnya semua orang dan media berfikir bahwa Sierra membunuh Saga dengan tidak sengaja.


"Jawabannya ada di anak perempuan ini," sahut Savia yang menunjuk foto itu. Di sana ada satu anak perempuan yang berdiri di depan Saga dengan senyuman paling lebar, tak lupa dengan tangan Saga yang ditaruh di pundaknya.


"Dia seperti... Riva?" ungkap Maldi. Sierra yang mendengar nama itu langsung mengambil fotonya, mengamati dengan seksama. Bentuk wajahnya tak sama, tetapi hidungnya, matanya dan bibir kecilnya terlihat mirip.


"Yah dia Riva! Perempuan yang menyelamatkanku dari Kevino!" seru Sierra, lalu menoleh pada Maldi. "Kamu tahu di mana rumahnya?"

__ADS_1


Semua orang menatap Maldi. Berharap jika lelaki itu tahu. Dan yap, Maldi mengangguk. Mereka pun langsung berdiri dari duduknya dan pergi. Namun Sierra kembali lagi, dia melupakan sesuatu. Buku Harian Saga. Sierra mengambilnya dengan cepat dan membawanya pergi bersamanya.


Mereka naik memakai mobil keluarga Sierra. Maldi di depan menjadi sopir. Diikuti dengan Sierra yang berada di samping Maldi. Mobil pun melaju dengan cepat. Di dalam mobil itu, tak ada satu orang pun yang benar-benar tenang, mereka semua merasa gugup dengan fakta yang mungkin akan lebih menyakitkan lagi?


__ADS_2