Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 13. Lembaran Baru


__ADS_3

"Tunggu, apakah dia Bela?" tutur Rena. Perempuan itu langsung menututup mulutnya, ini benar-benar mustahil. Bagaimana bisa mereka berdua bersama di sebuah Cafe setelah dua bulan kematian Seirra.


"Nggak, nggak mungkin! Aku, akan lebih percaya jika itu adalah Bila!" serunya yang tidak mau percaya jika seorang perempuan itu adalah sahabatnya.


"Yap, dia adalah Bila. Lagi pula, Bila memang sepertinya bukan wanita baik-baik, mengingat fotonya ada di ponsel temanku. Wajar bukan, jika dia mengoda Maldi!"


Rena berdiri dari duduknya, hari ini pertanyaan yang selalu ia pertanyaka akan terjawab.


"Sierra kau tenang saja di alam sana. Di sini, aku akan menyeledikinya," lontarnya.


Tanpa mengucapkan apapun, Rena langsung duduk, dirinya tidak peduli! Manusia seperti mereka seharusnya yang malu, bukan dirinya.


"Kenapa, kau ada di sini?!" tanya Maldi yang terkejut melihat kedatangan Rena. Tak ada badai maupun hujan, perempuan itu duduk di sampingnya dengan wajah angkuh.


"Mengapa kau terkejut? Kau kaget melihatku memergokimu yang sedang selingkuh dengan wanita murahan ini?!"


Maldi menaikkan satu alisnya. "Kau serius berkata seperti itu?!"


Rena tidak membalas, perempuan itu sibuk memperhatikan seseorang yang duduk di sebrangnya. Pakaian minim, serta make up yang gelamor, membuatnya tidak bisa berhenti berfikir negatif.


"Kau, memang tidak tahu malu Bila. Dia ini pacar dari teman kakakmu! Dia pacar Sierra, dan dengan santainya kau menggodanya? Asal kau tahu! Dia bukan pria kaya seperti yang kau kira! Dia hanya lelaki yang suka memeras uang pacarnya!"


"Jaga, ucapanmu!" sewot Maldi, pria itu tidak akan diam saja mendengrkan harga dirinya diinjak-injak begitu saja.


"Kenapa?!" teriak Rena, perempuan itu ikut membentak Maldi. "Apa, ucapanku kurang lengkap? Oh. Aku lupa selain brengsek! Kau, juga penipu!"


"CUKUP!"


Tidak! Bukan Maldi yang berteriak, melainkan seseorang yang tadi hanya berdiam diri. Dia tidak mau ini semakin rumit, mengingat sikap Maldi yang keras, dirinya takut jika Rena akan terluka.


Rena diam. Suara itu! Suaranya itu terasa tidak asing di telinganya! Tunggu, apa mungkin?


"K-kau Bela?" ucap Rena sambil terbata-bata. "Tidak! Tidak! Tidak mungkin, kau pasti Bila kan? Kau adalah Bila, adik Bela!"

__ADS_1


"Aku, adalah Bela!"


"CUKUP! Jangan berbohong! Jangan menjual nama kakakmu dengan tingkah bodohmu itu! Aku tidak akan pernah percaya!"


Perempuan itu malah terkekeh kecil, dia menyilangkan tangannya, seraya menatap remeh pada Rena. "Memang kenyataanya, aku adalah Bela. Tidak ada salahnya, aku berpacaran atau bahkan bermain lebih dengan Maldi! Toh, sebelum meninggal mereka sudah putus!"


"JANGAN BERCANDA!" seru Rena yang tidak bisa mengendalikan amarahnya. "Kau, hanya seorang ******! Jangan pernah menyebut dirimu sendiri dengan nama itu! Karena kau dan Bela sangatlah berbeda! Kau--"


"RENA!" teriak perempuan itu dengan mata yang membara, teriakannya bahkan mampu membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka.


"Berani, sekali kau menghina adikku! Dia wanita baik-baik! Jangan pernah samakan aku dengannya! Karena di sini akulah yang ******! Akulah yang kotor!"


"Bela," ungkap Maldi, dia menatap perempuan itu dengan tatapan sayu. Dia tidak mau jika Bela merasa rendah diri, atau membenci dirinya sendiri.


Rena diam. Dia masih mencerna perkataan perempuan yang mengaku adalah sahabatnya. "Aku tidak percaya, jika kau adalah Bela. Karena dengan melihatmu seperti ini, jelas-jelas kau bukan dia! Kau bukan Bela yang kukenal!"


Bela, perempuan itu memutar matanya malas. "Ahk, kau sungguh menyebalkan! Kau ingin, melihatku cupu seperti dulu, agar kau bisa menghinaku seperti dulu?!"


"Jangan pura-pura tidak tahu! Jelas-jelas, dulu kalian selalu menghinaku! Kalian memakiku, bahkan membicarakanku di belakang! Aku memang tidak dendam apapun, tetapi jika mengingatnya, rasanya aku menyesal pernah berteman dengan kalian!"


Bela berdiri, dia menatap tajam pada Rena. "Sejujurnya, sebelum Sierra meninggal, dia sudah tahu semuanya! Dia tidak memberitahumu bukan? Karena dia tidak mempercayaimu! Dia tidak pernah menganggapmu sebagai sahabatnya!"


Setelah mengatakan itu, Maldi dan Bela pergi, meninggalkan Rena yang masih memikirkan kata-kata yang diucapkan Bela.


"Aku tidak percaya, jika dia memanglah Bela."


***


"Bagaimana dengan perempuan itu, kau tidak membuat menderita bukan?" tanya seseorang.


"Kenapa? Kau takut, orang yang paling kau sayangi aku lukai? Seharusnya kau sadar kau adalah luka terbesarnya!"


"Aku kira, kebenciannya tidak akan sebesar dirimu!"

__ADS_1


"Mengapa? Karena dia menganggapmu orang baik? Kau tidak tahu tentang dia! Kau tidak ada disaat dia memerlukan seseorang untuk menjadi tempat bersandarnya! Kau hanya ingin tahu, jika dia tetap hidup aman, padahal kau sendiri yang membuat hidupnya menderita!"


***


"Apa, yang harus aku lakukan?" tanya Sierra kebingungan. Beribu kali kata umpatan keluar dari mulutnya, sampah serapah keluar untuk mengumpati manusia brengsek seperti Kevino.


"Aku, bukan lagi Sierra yang dulu. Aku telah kehilangan semuanya! Tak ada lagi Sierra yang menyebalkan, tak ada lagi Sierra yang selalu mengumpati takdir! Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak memiliki apapun lagi! Semuanya serasa asing, bahkan ketika melihat cermin pun, aku tidak mengenali diriku sendiri!"


Tetesan air mata mulai berhamburan dari kelopak matanya, rasa marah, kecewa bahkan kesal pun tidak bisa ia utarakan, rasanya lelah, rasanya muak. Apakah, semesta memang tidak mau membuatnya bahagia?


Tangannya terangkat, menyingkirkan air mata yang semakin mencair. Tunggu? Apa dirinya akan terus menyedihkan seperti ini?


"Mengapa aku harus sedih seperti mendapatkan musibah besar?! Seharusnya aku bersyukur karena bisa hidup sebagai orang lain! Tak ada lagi ceramah bunda yang menyebalkann! Tidak ada lagi wajah Serla yang selalu membuat mataku sakit! Mereka juga pasti bahagia karena beban yang selalu merepotkan telah tiada!" teriak Sierra yang semangat 45. Dalam sekejap moodnya langsung berubah! Tidak ada lagi penyesalan, bahkan kesedihan pun langsung menghilang.


Sierra berdiri dari duduknya, berjalan pelan ke arah cermin yang begitu besar. Tangannya mengusap rambut, seraya meneliti setiap inci dari wajah barunya. "Dengan wajah ini aku bisa menjadi apapun! Bahkan manusia yang tidak punya bakat sepertiku, akan sukses dengan modal tampang saja!" sanggahnya dengan angkuh.


"Awas saja! Aku akan membalaskan dendamku! Aku akan membuktikkan pada mereka, jika aku juga bisa! Aku bisa sesukses Serla!"


"Maaf, karena menggangu khayalanmu!"


Sierra langsung menoleh, Kevino! Pria itu datang dengan wajah yang menyebalkan, mencium baunya saja sudah membuat perutnya mual. Dia bahagia bisa membuka lembaran baru, namun rasa dendamnya tidak akan pernah pudar pada lelaki itu.


"Mengapa, kau datang?!" cetus Sierra dengan wajah judes.


"Kau lupa? Ini adalah tempatku! Kau, hanya menumpang di sini!"


Oh, baiklah. Sepertinya, dirinya harus melupakan demdam itu untuk saat ini. Sierra sadar, sekarang dia tidak punya apapun! Pakaian, rumah atau bahkan uang kecil saja ia tidak punya.


"Aku ada persyaratan untukmu! Menampungmu juga harus ada keuntungan! Kau, harus bekerja!"


"Bekerja apa? Kau ingin aku menjadi sopir para wanita malam itu? Atau pelayan Cafe?!" jawab Sierra. Sekarang dirinya sudah berbeda! Dia, tidak mau melakukan semua pekerjaan itu lagi!


Kevino menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum. "Tidak, tidak! Pekerjaan ini sangat bagus untukmu. Kau akan sangat, menyukainya!"

__ADS_1


__ADS_2