
"Apa maksudmu?!" seru Sierra yang marah sekaligus kesal dengan pernyataan Kevino. Bahkan Maldi sudah pergi saking kesalnya.
Kevino duduk di kursi yang berada dk samping Sierra. "Jangan bilang, kau masih mencintainya?"
"Tidak, aku sudah tidak ada perasaan apapun padanya!" seru Sierra dengan cepat. Mendengarnya membuat Kevino tersenyum lebar. Tak ada saingan lagi pikirnya.
"Yasudah terima saja cintaku ini."
Sierra tidak mengerti, ada dengan pria itu. Jika dia bercanda, ini sama sekali tidak lucu.
"Bolehkah, aku menceritakan kisahku?" ungkap Kevino dengan nada yang rendah.
"Terserah," sahut Sierra yang acuh tak acuh. Perempuan itu terlihat tidak peduli.
Kevino yang mendapatkan respon itu tidak marah. Dia hanya tersenyum. "Dulu saat aku berumur 6 tahun, aku mengalami kecelakaan bersama ayahku dan kakekku, namun hanya aku yang selamat, mereka tidak."
Ekspresi Sierra berubah saat itu juga. Wajah yang tadinya tampak tidak peduli, kini berubah menjadi terkejut.
"Semua anggota keluargaku membenciku, kecuali Ibu dan pamanku. Tetapi, aku berbeda dari yang lain, sampai akhirnya aku masuk ke dalam sebuah geng mafia yang sudah merubah hidupku."
Sierra tetap mendengarkan.
"Namun, saat waktu Ibuku berkunjung, itu adalah kali terakhir, aku melihatnya."
Sierra langsung menutup mulutnya. Dia merasa terkejut. Takdir memang tidak bisa ditebak.
Kevino tersenyum getir. "Ibuku mendadak serangan jantung. Sejak saat itu, aku mulai kehilangan arah, rumah sakit milik ibuku pun sudah berpindah tangan. Kau tahu apa yang membuatku masih bertahan?"
Sierra menggelengkan kepalanya.
"Kau."
"Aku?" beo Sierrra.
"Ya, entah kenapa, aku ingin sekali melindungimu. Mungkin karena pertemuan kau dengan ibuku, membuatku ingin sekali melindungimu dari Rico."
Tiba-tiba, kepala Sierra berdenyut. Sierra langsung menutup kedua telinganya seraya berteriak kencang.
"Aaaaaa! Pergi! Pergi!"
"Ada apa? Kau baik-baik saja?" seru Kevino, pria itu langsung berdiri.
"Sierra!" Savia dan adiknya pun langsung berlari masuk ketika mendengar teriakan.
"Apa yang kau lakukan pada putriku!" Septian tiba-tiba masuk dan menarik kerah baju Kevino.
"Aku, tidak melakukan apapun!"
"Dia! Dia!" Sierra tiba-tiba berteriak histeris, perempuan itu menunjuk Septian dengan wajah yang ketakutan.
"Dia Ayah Kak. Ayah kita!" terang Serla yang merasa jika Kakaknya ketakutan saat melihat Ayah mereka.
Savia memeluk Sierra. Dia tidak tahu apa yang terjadi hingga membuat Sierra ketakutan begini.
"Dia mencambukku, Bunda! Dia menyiksaku!"
__ADS_1
Ungkapan Sierra yang tiba-tiba itu sukses membuat semua orang terkejut.
"Apa yang dikatakan Kak Sierra benar, Ayah?"
"Tidak, itu tidak benar!" jawab Septian. Bagaimana pun, Sierra adalah putrinya, bagaimana bisa dirinya bisa tega menyiksa putrinya sendiri?
Sierra tiba-tiba menyerahkan tangannya pada ibunya, sebuah cincin. Savia tentu saja terdiam, Sierra tidak pernah memakai cincin setelah kematian anak sulungnya, bahkan cincin itu pun sudah hilang karena Sierra selalu melepaskannya saat dia masih kecil. Lalu cincin siapa yang dipakai Sierra?
Septian terkejut melihatnya, bagaimana bisa cincinnya ada pada Sierra. "K-kenapa cincin itu ada padamu?"
"Apa Ayah memang pernah menyiksa Kak Sierra?" seru Serla yang tidak menyangka.
"Tidak! Ayah bahkan belum bertemu dengan Sierra saat dia tertembak, ketika Ayah pulang ke mansion, Sierra sudah kabur!"
"Itu benar. Dia bersamaku saat Sierra dibawa ke mansion," sahut Kevino yang mulai mengerti dengan kesalahpahaman ini.
"LALU SIAPA YANG MENYIKSA PUTRIKU!" seru Savia yang marah besar. Ibu mana yang kuat melihat hidup anaknya yang seperti ini?
"Bisa saja sang pelaku masuk ke mansion sebelum Septian tiba. Dia mungkin menyiksa Sierra hingga membuatnya trauma."
"Dan siapa yang bisa masuk ke mansionku disaat penjagaannya yang ketat?"
"Siapa lagi kalau bukan seseorang yang lebih berkuasa dari kita?" terang Kevino.
Septian terdiam. Benar! Siapa lagi kalau bukan orang itu! Orang yang mendorongnya ke lingkaran hitam ini.
"Savia jaga anak-anak! Dan tetap waspada! Jangan biarkan sembarang orang masuk!"
"Kau mau ke mana?"
Septian pun keluar, diikuti dengan Kevino yang mengikutinya dari belakang.
"Bunda, apa semuanya akan baik-baik saja?" Serla terlihat khawatir.
"Semuanya, akan baik-baik saja," sahut Savia.
***
"Keluar! Kau bajingan!" Septian dan Kevino datang dengan membawa pistol. Para bawahan yang kenal dengan dua orang itu hanya terdiam tidak melawan, tak ada pilihan lain selain menunggu perintah dari atasan mereka.
Dor!
Pistol itu berhasil memecahkan lampu besar yang tergantung di sana, alhasil semua penjaga bersiap-siap untuk menyerang balik.
"Ada, apa dengan kekacauan ini?"
Seseorang turun dari tangga. Septian langsung mencondongkan pistol ke arahnya.
"Apa ada pesta?"
"BERANINYA KAU MENYAKITI PUTRIKU, RICO!"
Pria paruh baya yang dipanggil Rico itu tersenyum tipis. "Bukankah, kau dulu membencinya karena dia telah membunuh putra kesayanganmu?"
"Kau bukan siapa-siapa! Tetapi dengan beraninya kau menyentuh putriku?!"
__ADS_1
Rico duduk di sebuah kursi sambil menonton adegan ini dengan senang hati. "Jika bukan karena aku, kau sudah menjadi gembel, Septian!"
"Dan aku menyesal karena pernah bertemu denganmu!"
Dor!
Suara tembakan itu membuat semua orang terkejut, tidak itu bukan ulah Septian, itu ulah Kevino yang sudah mati-matian menahan amarahnya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Sierra, apapun yang terjadi dan siapapun ulahnya, Kevino tidak akan melepakannya begitu saja. Tidak akan ia biarkan tembakan pertama dicuri orang lain.
Rico langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi, agar para anak buahnya tidak menyerbu mereka berdua.
"Keponakan aku satu ini, memang sangat pemberani sekali..."
"Kau harus mati di tanganku," ucap Kevino. Sebelum akhirnya berlari maju untuk menyerang Rico. Para penjaga itu langsung menyerbu.
Dor!
Dor!
Dor!
Septian langsung menembaki para anak buah Rico yang mencoba menghalangi Kevino, dan bahkan Septian menyerang mereka dengan perkelahian satu lawan puluhan orang.
"Lepaskan senjatamu pengecut!" seru Rico yang mulai maju. Kevino langsung membuang pistol itu ke sembarang arah, lalu memukuli Rico dengan membabi buta.
Rico tentu tidak akan kalah. Di sini, dia adalah bos besar alias ketua geng mafia, kalah dengan anggotanya merupakan sesuatu yang tidak mungkin.
Bug!
Bug!
Kevino mendapatkan pukulan pada wajahnya. Rico tentu saja tersenyum melihat pukulannya yang hebat.
"Bajingan!"
Kevino langsung memukuli seribu kali lipat. Tidak akan ia biarkan Rico keluar hidup-hidup dari sini.
Pria paruh baya itu kewalahan. Dia terlalu meremehkan Kevino yang sudah tersulut emosi. Kevino menunduk, bersiap memukul wajah Rico untuk yang terakhir.
Dor!
Dor!
Suara tembakan dari luar membuat perkelahian ini terhenti. Kevino langsung berdiri dan mengangkat kedua tangannya. Septian yang berhenti menyerang dan mengakat tangan.
"Angkat tangan! Kalian ditangkap atas penyerangan, persebaran narkoba, dan kasus memperjualbelikan senjata api secara ilegal!"
Kevino terdiam. Siapa yang telah melaporkannya? Kevino merutuki dirinya sendiri, kenapa tidak sejak tadi saja ia membunuh Rico?
***
"Berita terkini, sebuah geng mafia yang sudah beroperasi selama beberapa tahun terakhir kini tertangkap. Mereka ditangkap atas penjualan narkoba serta memperjualbelikan senjata api secara ilegal, dan yang lebih mengejutkannya lagi, pelaku adalah putra dari mendiang yang pernah menjabat sebagai direktur rumah sakit terkenal. Sekian dari saya terimakasih."
Savia dan kedua anaknya baik yang sedang menonton televisi terkena dengan berita yeng menggeparkan ini, apalagi ketika mereka menunjukkan para pelaku yang terlibat dalam organisasi itu.
"Kevino? Dan... Ayah?" ujar Sierra.
__ADS_1