Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 19. Dunia Serla


__ADS_3

"Kalian memang pasangan yang cocok! Agresif dan agresif! Bunda merestui kalian!"


Sierra mengeratkan tangannya yang memeluk lengan Kevino. Sang empu hanya bisa melotot dan pasrah pada Sierra yang sepertinya sedang kerasukan.


"Em, sepertinya Bunda tak bisa lama di sini,  Bunda masih ada urusan.  Lain kali kita makan malam bersama ya, sayang," terang wanita paruh baya itu, sambil mengelus rambut Sierra.


"Iya, Bun. Aku akan menantikannya. "


Kevini lagi-lagi membulatkan matanya. Apa katanya? Bun? Apa perempuan itu memang kesurupan?


"Baiklah, sampai jumpa!"


Wanita paruh baya itu bergegas pergi. Kevino mengikutinya dari belakang, memastikkan jika ibunya benar-benar sudah pergi.


"Kau gila? Mengapa kau bertindak seperti itu?!" seru Kevino yang sudah kembali.


Sierra menatap tangannya, dia memperhatikan kukunya yang tampak indah. "Bertindak seperti apa? Aku tidak melakukan kesalahan."


Kevino berkacak pinggang. "Jika, kau melakukan sesuatu tanpa kuperintahkan, kau akan dalam masalah besar!"


***


"Kau mencintai Serla?"


Maldi menoleh pada Bela. Diam sejenak lalu menjawab. "Kau tahu, aku hanya mencintai Sierra. Tak ada satu orang pun yang bisa menggeser namanya di dalam hatiku."


Bela terkekeh kecil. "Lalu mengapa, kau mempermainnkan Sierra saat masih hidup?"


Maldi menaruh minumannya sebentar, menatap Bela. "Kau tak tahu apapun tentangku dan Sierra. Hubungan kita hanya sebatas kenalan!"


Yap, benar apa yang dikatakan Maldi. Mereka hanya teman, tak lebih.


Tiba-tiba Bela teringat sesuatu. Alsannya menjadi wanita malam yaitu, untuk menyembuhkan adiknya yang ternyata sakit keras. Dia tidak tahu, jika selama ini adiknya sakit, Bela mengetahuinya saat orangtuanya kecelakaan, adiknya pun terpaksa jujur tentang sakit yang di deritanya.


Dunia Bela rasaanya hancur. Ia pun terpaksa menjadi wanita malam agar adiknya berobat, namun adiknya malah diambil Tuhan. Dirinya pun semakin rapuh, tak ada tempat berkeluh kesah kecuali Maldi, teman kecilnya.


Bela bertemu Maldi setelah bertahun-tahun lamanya. Mereka dipertemukan setelah kabar kematian Sierra.


"Apakah, kau bisa pesankan Sierra untukku?"


Bela tersadar dari lamunan. Dia menoleh pada Maldi yang sepertinya sudah mabuk. "Maksudmu, Sierra bawahan Kevino?"


"Yah, dia! Aku ingin sekali bertemu dengannya!" seru Maldi yang mabuk berat.

__ADS_1


"Untuk apa?! Kau selalu memesan perempuan, tapi hanya untuk dijadikan tempat curhat saja! Lebih baik cerita padaku saja! Gratis tanpa uang sewa!"


"TIDAK!" teriak Maldi. "Kau tak tahu, dia sangat menarik! Aku bisa melihat diri Sierra dalam dirinya!"


"Ya kan nama mereka sama," sahut Bela sambil memutar matanya.


"Pokoknya, aku ingin dia! Aku tak mau mendengarkan alasanmu lagi!"


"Tetapi, sekarang ini kau calon tunangan Serla! Bagaimana bisa kau menyewa perempuan lain?!"


Maldi berjalan sambil kelimpungan. Dia meracau sambil mendekati Bela.


"Sudah kubilang, aku hanya mencintai Sierra!"


"Tetapi mereka orang yang berbeda, bodoh!" seru Bela yang terlanjur kesal.


Maldi memegang kedua pundak Bela. Mengguncangnya dengan keras. "Dia, memang Sierra! Perempuan yang kucintai!"


Bruk


Maldi terjatuh ke lantai, pria itu pingsan.


***


Plak!


''Mengapa bisa, tahun ini kau bahkan tak masuk nominasi!''


''Tapi, aku juga sudah berusaha yang terbaik, aku--'''


Plak!


''Berani sekali kau membalas perkataanku!"


"Ampun Bun, maafkan aku!"


"Jangan harap kau bisa bertemu dengan Maldi!"


Savia pergi setelah membuat Serla menangis. Inilah yang paling dibencinya, ketika ia tidak mendapaatkan prestasi, ibunya akan menamparnya atau memukulnya.


Setelah kejadian yang menimpa Kakaknya, ibunya semakin keras, beliau bahkan tak segan untuk menamparnya, jika melakukan kesalahan sekecil apapun.


Tak ada yang berubah dari diri ibunya, sejak dulu ibunya memang selalu memperlakukannya dengan keras, tak ada yang tahu tentang ini, termasuk kakaknya sendiri, Sierra.

__ADS_1


Satu alasan mengapa ia membenci kakaknya. Sierra bisa hidup semaunya tanpa harus dikekang seperti yang ia alami. Sierra selalu diberi pilihan tentang apa yang ia sukai dan lakukan. Tak ada satu hari pun di mana ia tidak iri pada kakaknya itu.


Memang ini bukan sepenuhnya kesalahan Ibunya, dirinya memang sangat menyukai dunia akting, dunia baru yang mengajarkannya banyak hal. Namun dunia itu tidak sepenuhnya membuatnya bahagia.


Ada masa disaat ia terpuruk dan hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Di saat semua orang mencacinya, mengejeknya, tidak ada yang mengerti! Semua orang malah percaya dengan berita yang tak sesuai dengan kebenarannya.


Hidupnya yang katanya cukup sempurna, tak mampu membuat Serla jauh dari momen paling terendah. Di saat ia ingin meminta kebahagiaan pada semesta, takdir malah tak memihaknya, Maldi yang ia taksir saat masa SMP malah berpacaran dengan kakaknya. Sungguh miris bukan? Seseorang yang ia cintai malah menyukai orang yang selalu menjadi alasan mengapa ia benci pada hidupnya.


Beradu mulut dan bertengkar! Hanya itu yang bisa ia ungkapkan pada Sierra. Kata-kata kejam, bahkan menusuk yang ia keluarkan mampu membuat hatinya sedikit lega.


Namun ketika ia mendengar berita tentang kecelakaan kakaknya, membuat hatinya sakit. Tak ada lagi tempat ia mencurahkan semuanya, tak ada lagi seseorang yang bisa mendengarkan semua kata-kata kejamnya. Mengapa takdir begitu tak adil? Mengapa takdir begitu senang mempermainkan hidupnya?


Hanya ada rasa menyesal yang tersisa. Serla menyesal karena tidak pernah jujur tentang apa yang ia rasakan, karena sejujurnya dirinya tak tahu perbedaan rasa benci dan sayang, yang ia pahami hanyalah rasa sakit yang mendalam di saat dirinya mendengar kabar tentang kematian kakaknya. Akankah, kakaknya memaafkannya di alam sana?


Tring!


Tring!


Deringan ponsel membuat Serla tersadar dari lamunan. Perempuan itu merogoh sakunya. Nomor tak dikenal? Mengapa akhir-akhir ini banyak sekali yang meneleponnya? Apakah mereka tidak bisa membuatnya tenang dalam sekejap saja?


"Halo?" Serla terpaksa mengangkatnya.


"Selamat pagi kami dari stasiun televisi dengan acara 'Abaout celebrity' ingin mengundang anda untuk--"


"Maaf, saya tidak bisa. Terimakasih."


Serla langsung mematikkkan sambungan. Mengapa mereka tak melepon ibunya saja? Atau apakah ibunya sengaja mematikkan ponselnya?


Tok! Tok!


"Masuk!"


"Ini, ada paket untuk Nona Serla."


Serla diam sejenak. Apakah itu teror yang sama yang mereka kirimkan? Berapa lama lagi dirinya harus sabar dengan kebencian mereka yang tak berujung itu?


Serla menerima paket itu,  pembantu itupun keluar dari kamar.


"Mentalku sudah rusak! Teror ini tak akan mampu membuatku takut!"


Walaupun begitu, Serla tetap membuka paket ini. Dia sangat menghargai pada mereka yang sudah berusaha membuat paket untuknya. Namun paket kali ini berbeda, tak ada makian, umpatan atau hinaan, yang ada hanyalah sebuah kalimat 'Sierra masih hidup, dia ada di sekitarmu'


"Lelucon macam apa ini?" serunya yang terlanjur emosi. "Aku tak akan keberatan jika mereka mengirmkanku makian ataupun boneka santet, tapi jika mereka berani menyebut nama kakaku sebagai lelucon, aku tidak akan diam saja!"

__ADS_1


Serla meremas kuat kertas itu. Demi apapun dia tak suka! Kakaknya sudah tenang di alam sana!


__ADS_2