
"Mengapa, kau memandangku begitu? Seolah-olah, aku adalah mahluk terburuk!" seru Sierra yang tersinggung dengan tatapan yang dia berikan.
"Bagaimana, bisa aku berfikir positif saat melihatmu ada di tempat seperti ini?!" teriak orang itu.
Sierra menutup matanya, dirinya harus sabar, tidak boleh terkendali.
Kevino yang berdiri tak jauh dari sana, hanya mengamati, dia memincingkan matanya menerka-nerka pembicaraan mereka.
"Kau, memang lebih buruk dari dugaanku!"
Sierra menaikkan satu alisnya. "Jadi, selama ini kau memandangku rendah? Kau menilaiku sebagai wanita murahan?!"
"Ya, benar! Dan aku menyesal karena pernah mencintaimu!" balas pria itu.
Sierra tersenyum sinis. "Lalu, bagaimana denganmu! Apa, kau di sini untuk mencari wanita yang ingin menuntaskan keinginanmu?!"
PLAK!
"Jangan, memutar balikkan fakta! Jelas-jelas kau yang bersalah! Jangan mencari kesalahanku untuk menutupi semua keburukanmu!" bentak Maldi dengan wajah penuh amarah.
Sierra menoleh ke samping, tangannya memegang pipi yang memanas. Rasa sakit ini, tidak sebanding dengan hatinya, Sierra tidak menyangka dengan sikap Maldi yang melakukan kekerasan.
"Mulai hari ini, kita putus!" Teriakan itu membuat hati Sierra semakin sakit, apa Maldi semudah ini melepaskannya? Mengapa pria itu mengatakan sesuatu tanpa berfikir panjang?
"Maldi! Jangan berbicara seperti itu, okey? Aku tahu, aku yang salah, tetapi aku mohon, tarik kata-katamu!"
Amarah yang berkobar kini sirna dengan rasa takut, Sierra tidak mau kehilangan Maldi, wanita itu tidak mau kehilangan seseorang yang sangat ia cintai. Sierra menarik lengan Maldi, memintanya untuk tidak memutuskan sepihak. Maldi langsung menghempaskannya dengan kasar.
"Aku tidak akan menarik kembali kata-kataku! Sekali aku mengucapkan kata PUTUS, maka itulah akhirnya!"
Mereka mulai menjadi bahan sorotan, orang-orang yang berlalu lalang menatap mereka layaknya bahan tontonan.
"Aku mohon jangan lakukan itu! Aku masih sangat mencintaimu!"
Maldi langsung menghindar ketika Sierra ingin meraih lengannya. Sierra yang tak mendapat pegangan, langsung terjatuh ke lantai.
"Apa, kau melakukan ini juga pada pria lain?!"
Sierra tak mampu menjawab, wanita itu sesenggukkan sambil duduk di lantai, saat ini Sierra seperti wanita yang menyedihkan.
"Mengapa, kau menangis?!"
Sierra tidak menjawab pada Kevino yang menghampirinya.
__ADS_1
"Kau sangat berani membentak ibumu! Tetapi mengapa kau menangis, disaat orang lain mencacimu?!"
Maldi yang merasa tersindir pun, menatap wajah Kevino lekat-lekat. Maldi, semakin marah saat ingat siapa pria yang beridiri di hadapannya. Dengan penuh, amarah Maldi berteriak pada Sierra. "Apa, yang kubilang memang kenyataan bukan?! Buktinya, kau datang bersama pria ini yang memiliki koneksi dengan Momy Cora! Kau sungguh menjijikkan! Aku benar-benar benci padamu!"
Setelah menyakiti Sierra dengan kata-kata pedasnya, Maldi pergi setelah membuat Sierra menangis.
Sierra semakin mengeraskan suara tangisannya, dia tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang sedang menontonnya.
Kevino mulai jengah, pria itu berjongkok. "Sampai kapan kau akan terus menangis? Kau tidak lihat, para pekerja dan klien keluar hanya untuk menontonmu yang sedang menyedihkan ini?"
Sierra masih terisak, tetapi wanita itu berusaha untuk menahan tangisannya. "Kenapa... Kenapa aku mengalami semua ini... Orangtuaku tidak menyayangiku, lalu sekarang Maldi pun meninggalkanku!"
Kevino tidak menyahut, dia memperhatikkan Sierra.
"Kenapa Tuhan memberiku luka yang begitu sakit? Apa aku terlahir untuk disakiti? Apa, aku tidak berhak untuk bahagia sedetik saja? Mengapa, Vin! Kenapa aku harus mengalami hal ini? KENAPA!"
Kevino tidak bisa membiarkan Sierra semakin membuat dirinya sendiri malu. Dengan sigap, tangan Kevino terangkat pada tangan Sierra. Sierra yang terkena serangan mendadak pun pingsan. Yah, benar! Kevino memang menyuntiknya.
"Maafkan aku. Jika, aku tidak melakukan ini. Kau akan semakin malu. Setelah ini, kau harus berterimakasih padaku."
Maldi mengangkatnya, pria itu membawa Sierra pada salah satu kamar.
***
Teriakan nyaring itu membuat telinga seorang pria kesakitan. "Bisakah, kau mengecilkan suaramu itu?!"
"Bagaimana, aku bisa tenang jika Sierra tahu jika kau ada di rumah ini!"
"Tetapi, dia tidak tahu bagaimana aku bisa di sini!" sahut Maldi dengan keras.
"Mungkin, kali ini kau tidak ketahuan tetapi tidak di lain hari. Sierra mungkin akan memutuskan hubunganmu dengannya!" teriak wanita paruh baya itu.
"Kita, memang sudah putus," sahut Maldi dengan wajah yang lesuh.
"APA? KAU GILA?!"
Bentakkan wanita paruh baya itu membuat Maldi menghela nafas dalam-dalam. "Mengapa, kau terkejut? Bukankah, kau senang jika sekarang tidak ada yang menghalangi keinginanmu?!"
Wanita itu terdiam sejenak. "Mungkin, aku cemburu melihatmu bersamanya, tetapi aku masih belum memanfaatkannya! Dia adalah kunci untuk membalaskan dendamku pada Savia!"
Maldi tidak menjawabnya, dia terdiam, memikirkan sesuatu. "Aku, tidak perduli dengan masalahmu! Tetapi, ada hubungan apa Sierra dengan pria yang bernama Kevino itu?!"
"Apa? Dia datang bersama Kevino? Bagaimana mereka saling mengenal?"
__ADS_1
Mendengarnya, Maldi semakin bingung. "Apa, kau tidak tahu apa-apa?! Aku pikir, Kevino adalah kliennya!"
"Sierra, tidak bekerja denganku! Aku, juga tidak tahu bagaimana dia bisa mengetahui tempat ini!" sentak wanita itu.
"Lalu, untuk apa dia kemari bersama Kevino?" tanya Maldi yang semakin bingung.
***
"Engh." Lenguhan itu berasal dari Sierra. Perempuan itu terbangun setelah mendapatkan suntikkan dari Kevino.
"Sialan! Apa, Kevino menyuntikkan obat tidur padaku?!" serunya yang baru sadar dari pengaruh obat.
"Kau, sudah bangun?!"
Suara berat itu mengalihkan pandangannya, terlihat seorang pria tampan yang tak lain adalah Kevino.
"Mengapa, kau menyuntikku! Apa, kau berniat ingin melukaiku?!" seru Sierra sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
Kevino hanya terkekeh kecil. "Badanmu itu kalah saing dengan para wanita di sini, kau tak ada ada apa-apanya!"
Sierra hanya mendelik tajam, mendengarnya karena itulah kenyataannya.
Kevino menyilangkan tangannya. Menghela nafas, sebelum akhirnya menjelaskan dengan panjang kali lebar. "Kau, memang ditugaskan untuk menjadi sopir para pekerja, madam Cora. Etah karena apa alasannya, hanya Tuan bos yang tahu."
"Di sini, para wanita bekerja sesuai keinginan mereka tanpa paksaan apapun. Madam Cora hanya memberi fasilitas saja!"
"Lalu, mengapa Tuan bos menjadikanku sopir para pekerja madam kura-kura itu! Apa hubungannya!" sela Sierra yang tidak sabar.
"Madam Cora hanya rekan bisnis saja," jawab Kevino.
"APA DIA GILA!" sentak Sierra yang sudah tersulut emosi. "Bagaimana bisa, para wanita itu menjadi sebuah bisnis? Apa, Tuan bos memang tidak punya akal?!"
"Hei! Jaga ucapanmu! Jika dia mendengar ini, kau bisa terkena masalah besar!"
Sierra menahan amarahnya, walaupun tangannya sudah terkepal kuat, dirinya sadar tidak bisa melawan Kevino.
"Lalu, apa bedanya kau dengan dia? Kau bahkan lebih buruk! Kau perempuan, tetapi diam saja dan tidak bertindak apapun! Bahkan saat kau melihat orang yang dikenal pun, kau hanya menonton saja!"
Sierra diam. Benar, apa yang dikatakan Kevino, orang macam apa dirinya saat melihat orang yang dikenalnya terjurumus dalam masalah, Sierra malah mengantarkan dan tidak berusaha mencegahnya.
"Aku memang salah. Tetapi aku mohon pertemukanku dengan dia! Aku sangat ingin menemuinya!"
"Masuk!" teriak Kevino.
__ADS_1
Seseorang membuka pintu, dia berjalan sebentar menghampiri Sierra yang mematung.