
Ketika sampai di tempat tujuan, perempuan itu langsung keluar dari mobil, tak lupa ia mengumpat kecil pada Sierra yang lamban.
Sierra masih diam di tempat, ia memperhatikan perempuan yang sedang berjalan ke arah Hotel. Ketika sudah sedikit menjauh, Sierra keluar dari mobil, mengikutinya dari belakang.
Ada rasa cemas dan khawatir saat mengikutinya, ia takut, takut jika dugaannya memang benar.
Sierra terus mengikutinya, hingga perempuan itu masuk ke dalam lift. Sierra menunggu diluar. Ia memperhatikan nomor di atas lift, dirinya tak boleh kehilangan jejak.
"Lantai 6?" lirihnya pelan. "Baiklah, aku akan ke sana." Sierra masuk ke dalam lift yang baru terbuka. Dia langsung menekan tombol 6.
Lift pun terbuka, ia melihat ke kanan dan kiri, mencari perempuan itu, namun ia tak menemukannya.
"Ah! Aku, lupa. Aku tak tahu nomor kamarnya! Bagaimana, ini? Aku harus apa? Sia-sia aja, aku mengikutinya sampai kemari!"
Tidak! Sierra tidak sia-sia datang kemari, karena dia menemukan sesuatu yang lebih menarik.
"Maldi? Apa yang sedang, ia lakukan di sini?"
Pria yang ia kira Maldi, masuk kembali ke kamar.
Sierra langsung menghampiri kamar itu. Setelah sampai, ia menatap lekat-lekat pada pintu yang dimasuki pacarnya.
Sierra yakin! Pria yang tadi bertelepon di depan pintu adalah Maldi, dirinya tak mungkin salah liat.
Sierra pu memutuskan untuk mengetuk pintu, namun sudah lama ia mengetuk tak ada sahutan dari dalam.
"Oh, apakah dia sedang bermain-main di belakangku? Aku yang bekerja pagi sampai malam hanya untuk memberinya uang dan sekarang dia berani menghianatiku?!"
Sierra semakin keras mengetuk, bahkan itu tidak bisa disebut ketukan melainkan dobrakan.
Brak! Brak!
"Oh, apa ada yang bisa bantu?"
Sierra sedikit terkejut melihat wanita yang membuka pintu tanpa melakukan aba-aba. Wanita yang tadinya memberinya senyuman, kini berubah menjadi tatapan tajam.
"Hey kamu! Berani, sekali mendobrak pintu! Apa, kau tak memiliki tatakrama!"
Bentakkan itu membuatnya sedikit merinding, jujur dia seperti dimarahi sang nenek.
"Maaf kerena telah menggangu waktu anda. Namun, apakah saya boleh melihat ke dalam untuk mengecek sesuatu? Kedengarannya memang tak sopan, tetapi saya mohon, ini sangat penting!" jelas Sierra dengan wajah yang memelas.
Wanita paruh baya yang sepertinya seumuran dengan ibu Sierra itu, hanya tersenyum jengkel, ia merasa tak terima. "Saya tak akan mengijinkannya! Ini privasi! PRIVASI!"
Sierra mengusap pipinya yang terkena air liur wanita paruh baya itu.
Ingin memohon kembali, namun wanita itu lebih dulu masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Sierra hanya bisa menghela nafas, walaupun ia begitu penasaran, namun Sierra tetap pergi dari sana, dia tak punya alasan apapun untuk masuk ke dalam.
Sierra masuk ke dalam mobil, namun tiba-tiba...
"Aaa!"
Sierra teriak kaget, perempuan itu langsung keluar dari mobil.
"Siapa yang menyentuh pundakku?!" lirihnya ketakutan. Namun, tak bertahan lama karena sang pelaku keluar dari mobil.
"Kevino? Mengapa, kau ada di dalam mobilku?!"
Lelaki itu terkekeh. "Kau tak salah bicara? Ini mobil milik bos! Bukan milikmu!"
Sierra menelan salivanya. "Y-ya ini mobil milik bos. Tetapi, kenapa kau bisa ada di dalam?!" sewot perempuan itu.
"Aku memiliki urusan di tempat ini, namun aku melihat sesuatu yang tak seharusnya ada di sini," jawab Kevino dengan santai.
Sierra menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Oh, bagaimana ini? Apa dirinya akan dihukum karena membawa mobil ini ke tempat lain?
Sierra menghembuskan nafasnya gusar. Dirinya harus jujur! Dia tak mau lagi penasaran dengan sesuatu yang sepertinya berkaitan dengan pekerjaannya.
"Kavino. Aku ingin bertanya. Tetapi sebelum itu, aku mohon jangan membunuhku. Jika kau melakukannya, aku akan membunuhmu lebih dulu!"
Kevino diam. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Ini serius? Mengapa wanita ini berlagak galak setelah ketahuan membawa lari mobilnya?
Plak!
Suara tamparan itu begitu keras. Bahkan sang empu yang ditampar melongo saking terkejutnya.
"KAU INGIN MATI?!" seru Kevino yang marah. Berani sekali wanita ini menamparnya! Bahkan puluhan pria yang memiliki wajah seram saja langsung tunduk padanya, lah Sierra! Wanita yang menurutnya lemah, malah berani menamparnya.
"DENGAR DULU! BRENGSEK!" teriak Sierra yang tak kalah keras.
Kevino mundur beberapa langkah, untuk sesaat dia merasa sedikit takut pada betina yang berdiri di depannya.
Sierra pun mulai melanjutkan maksudnya. "Sebenarnya, pekerjaan apa yang kujalani ini?"
Kevino melihat ke arah lain. "Sesuai, perjanjian, kau tak boleh mengetahui apa yang diperintahkan!"
"TAPI AKU INGIN MENGETAHUINYA!"
Dan lagi, Kevino terkejut mendengar bentakkan Sierra.
"Aku mohon, tolong katakan sesuatu. Aku ingin memastikkan hal yang sangat penting!" lanjut Sierra.
"Itu, anu em--"
__ADS_1
"Apa, pekerjaanku ialah mengantar para wanita yang ingin menjual diri?"
"Itu, kau sudah mengetahuinya? Mengapa, bertanya lagi?!"
Sierra terdiam. Ternyata dugaannya memang benar. Dia adalah sopir yang mengatarkan para wanita itu ke mimpi buruk.
"Kau serius? Kau tidak berbohong kan?!" seru Sierra yang tak percaya.
"Ada, apa denganmu! Mengapa bertanya lagi? Kau ingin daftar menjadi seperti mereka? Kau ingin menjadi seorang pelacur?!" sewot Kevino yang tersulut emosi.
Sierra tak menjawabnya, dia terdiam.
Kevino mengerjapkan matanya beberpa kali. Sierra tak menjawabnya apa itu artinya wanita itu memang ingin melakukannya?
"Kau sudah tak waras! Kau ingin mengorbankan hidupmu hanya karena uang?!"
Sierra malah terisak. Dia menangis sesenggukkan.
Kevino yang tak memiliki pengalaman romantis pun bingung, lelaki itu menarik tangan Sierra untuk masuk ke dalam mobil.
"Mengapa kau tiba-tiba menangis? Apa kau frustasi karena uang? Kau membutuhkan banyak uang, ya? Memangnya berapa? Aku akan membantumu. Aku akan mencari mucikari yang pastinya akan memberimu banyak pelanggan!"
"KAU GILA?!"
Sierra menarik kerah baju Kevino yang kebetulan duduk di sebelahnya. Bisa-bisanya lelaki itu mengatakan hal yang membuatnya marah.
Kevino melepaskan tangan Sierra dalam tiga detik saja. "Lalu, kenapa kau menangis dan membuatku terlihat seperti orang gila?!"
Sierra diam sebentar. Lalu mengatakannya. "Apa kau kenal Bila Andrea. Aku baru mengantarnya tadi. Dia masuk ke dalam hotel itu! Apa, dia juga wanita malam? Tolong beritahu aku! Aku ingin bertemu dengannya!"
Kevino malah mengerucutkan alisnya. "Bila Andrea? Siapa dia? Aku tak mengenalnya!"
Sierra langsung berteriak. "Mana mungkin! Aku tadi mengantarnya ke sini! Bahkan, dia masuk ke salah satu kamar yang ada di sana! Itu memang dia! Aku tak mungkin salah melihat!"
"Aku serius! Aku tak mengenal nama itu, namun ada sebuah nama yang mirip dengan nama itu!"
Sierra mematung, apa jangan-jangan--
"Bela Andreas. Yah, namanya hampir sama dengan nama itu."
Sierra hampir pingsan mendengarnya! Ada, apa ini? Mengapa semuanya semakin rumit? Apa jangan-jangan wanita yang fotonya dijadikan wallpaper oleh teman Rena juga adalah Bela?
Sierra menarik rambutnya frustasi. Dia kebingungan. "Sebenarnya yang mana? Dia Bela atau Bila? Aku sungguh tak bisa berfikir jernih!"
"Mengapa bingung? Mereka adalah dua orang yang berbeda. Pasti mudah, membedakannya," ujar Kevino.
"Tidak. Kali ini, aku gagal. Aku gagal mengenali dia. Mereka kembar, sangat sulit mengenali mereka!"
__ADS_1