Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 12. Kabar Kematian Seirra


__ADS_3

Sang Satpam yang tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pun langsung menarik Sierra dari hadapan majikannya.


"Maafkan saya Nyonya! Saya akan membawa pergi!"


Sierra berusaha melepaskan diri dari cengkraman Pak Satpam, beraninya beliau mengusirnya dari rumahnya sendiri.


"Lepasin Pak! Lepasin saya! Bunda! Bunda! Ini aku Sierra! Apa, Bunda tidak merindukanku!"


Savia terdiam, matanya kosong menatap seseorang yang mengaku sebagai putrinya. Tanggapan Bundanya membuat Sierra berhenti membrontak, ada rasa sakit melihat Bundanya yang berbeda, gerakannya, tatapannya, semuanya terlihat berbeda.


"Tolong usir dia Pak! Jangan pernah, membiarkan orang asing berkeliaran di sini!" Savia langsung memasuki mobilnya.


Sepertinya, ada yang tidak beres, Sierra berlalih menatap kaca jendela mobil.


"Aaaa!"


Betapa terkejutnya Sierra melihat wajah asing terpampang di sana. Apa-apaan ini! Apa, semua ini lelucon?!


"Kamu, baik baik saja?" tanya Savia yang ikut terkejut mendengar teriakan Sierra.


Sierra mundur beberapa langkah, tangannya terangkat menutup mulutnya sendiri. 


Savia yang penasaran membuka sedikit kaca jendela mobil.


Sierra mundur beberapa langkah, tangannya terangkat menutup mulutnya sendiri. 


"Nggak! Nggak! Ini nggak mungkin!" seru Sierra tidak percaya. Sierra menatap Bundanya dengan tatapan sayu.


"Maafkan saya yang telah membuat keributan. Mungkin, saya kurang makan obat makanya cosplay jadi orang bingung begini. Permisi!" Sierra berbalik badan, meninggalkan dua orang yang menatapnya bingung.


"Ada, apa dengan Nona itu?" tanya Pak Satpam yang kebingungan sendiri.


Lain dengan Savia yang tidak mengucapkan apapun, beliau diam, memperhatikan perempuan itu yang semakin menjauh.


"Dia tidak mirip dengan putriku, tetapi suaranya... Terasa seperti dia," ujar Savia, sebelum akhirnya menutup kaca jendela mobil rapat-rapat.

__ADS_1


***


"Ada, apa dengan wajahku! Mengapa, terlihat berbeda!" seru Sierra pada Kevino yang sedang fokus pada berkas-berkasnya. Pria itu tidak menoleh, ataupun sekedar menyahut.


"Kevino! Apa yang kau lakukan pada wajahku!" teriak Sierra marah, perempuan itu kesal dengan sikap Kevino yang menganggapnya angin lalu.


Karena masih tidak ada respon, Sierra  mengibaskan tangannya pada kertas-kertas yang membuat pria itu tidak mau mendengarkannya.


Plak!


"Mengapa, kau sangat menyusahkan?!"


Sierra menoleh ke samping, memegang pipi yang terasa panas. Bahkan Ac yang dingin pun tidak membuat pipinya merasa lebih baik.


"K-kau, menamparku?" ungkap Sierra terbata-bata.


Kevino menutup rapat kedua matanya, sepertinya perempuan itu perlu disadarkan bukan?


Sierra, menarik kerah baju Kevino. Menatapnya tajam. "Berani sekali kau, menamparku! Kau, pikir kau siapa, ha?!"


Dengan kasar Kevino menghempaskan kedua tangan Sierra,  satu hentakan saja mampu membuat perempuan itu hilang kendali, untung saja tidak sampai terjatuh.


"Seharusnya aku yang bertanya, kau siapa? Kau pikir, kau seorang putri yang bisa memerintahku? Kalau bukan karena Bos besar, aku tidak akan membiarkanmu bernafas satu hari saja!"


Mendengar itu, Sierra semakin ketakutan, perempuan itu semakin mundur, tak ada wajah konyol yang biasa Kevino tampilkan.


"Mengapa kau diam saja! Sejujurnya aku sependapat dengan adikmu! Kau tidak lebih dari seorang pembunuh, bahkan saat usiamu yang sudah tua ini, tidak ada satu hal yang bisa dibanggakan!"


Ingin marah, tetapi tidak bisa. Bagaimana ini? Apa yang harus, dirinya lalukan?


Sierra membulatkan matanya, saat tubuhnya menabrak sesuatu. Sial! Di belakangnya ada sebuah dinding besar, bagaimana ini? Apa, dirinya harus melawan? Tetapi, Sierra tidak percaya dengan kemampuan bela diri yang ia miliki.


Kevino akhirnya berhenti melangkah. Dia malah tersenyum melihat Sierra yang semakin ketakutan, tetapi malah berpura-pura berani. "Sejujurnya, saat pertama kali bertemu denganmu. Ingin sekali aku menjualmu, tetapi bahkan tampangmu itu, tidak pantas untuk dijual pada pria hidung belang, bahkan anjingku pun, akan takut melihatmu!"


Demi apapun, ingin sakali merobek mulut beracun itu! Walaupun tampangnya tidak secantik Serla, tetapi dia tidak terima jika diinjak-injak seperti ini.

__ADS_1


"Dan, kau tahu? Sesuai dugaanku kau memang perempuan bodoh, kau terbuai hanya karena jumlah uang yang kutawarkan, padahal kau sudah melihaku membunuh seseorang!"


Sierra refleks menutup matanya. Dia tidak menyangka. "K-kau bilang, kau hanya saksi!"


Kevino terkekeh kecil. "Kau memang bodoh, sudahlah! Mau seberapa jelaspun aku memberitahumu, otak kecilmu itu tidak akan pernah mengerti!"


Sierra tidak menjawab. Perempuan itu masih tidak percaya, jadi selama ini dirinya diperkerjakan oleh seorang pembunuh? Kenapa, ini bisa terjadi? Mengapa, Kevino membuatnya seperti ini?


Sierra menatap Kevino dengan wajah sedih, ini terlalu mengejutkannya, bahkan rasanya sulit untuk mengatakannya. "Lalu bagaimana dengan wajahku? Mengapa, saat terbangun wajahku berbeda!"


"Aku hanya menyuruh para dokter untuk mengoprasi wajahmu itu, dengan wajah ini, kau akan menghasilkan uang!" sahut Kevino dengan wajah santai.


"KAU!" Sierra menunjuk wajah Kevino dengan penuh amarah. Pria itu tidak punya hati! Dia seperti iblis yang berpura-pura baik!


"Mengapa? Kau ingin mengutukku?!" ujar Kevino. Lelaki melangkah mendekat, dia membiskkan sesuatu.


"Setelah ini, kau akan hidup sebagai orang lain. Kau ingat, betapa bencinya kau pada hidupmu yang dulu? Setelah ini kau tidak akan merasakan penderitaanmu! Kau tidak akan lagi hidup sebagai beban dari keluargamu!"


Sebelum pergi, Kevino menyempatkan diri untuk melihat respon Sierra. Perempuan itu terdiam. Dia tidak mengucapkan satu kata pun.


Setelah kepergian Kevino. Sierra berusaha mengendalikan dirinya sendiri, dirinya tidak boleh menangis! Dia, tidak boleh menangis hanya karena bajingan seperti Kevino.


***


Seorang perempuan yang baru saja datang ke ibu kota, tempat dimana dulu dirinya di lahirkan, tempat yang memiliki sejuta kenangan, bisakah waktu terulang kembali? Bisakah Tuhan, mengembalikkan dia yang sudah lama pergi? Bukannya, tidak mengikhlaskan, hanya saja terlalu berat, dirinya masih belum menerima takdir yang selalu memberi kejutan disetiap cobaan.


"Baru beberapa bulan yang lalu kita bertemu, Ra. Tapi kau malah meninggalkanku, kalau aku tahu itu hari terakhir kita bertemu, aku tidak akan pergi, aku akan menemanimu lebih lama. Tetapi, takdir memang tidak bisa ditebak," ungkapnya pelan. Tetesan air mata pun keluar dari kedua pelupuk matanya, mau seberat apapun usahanya untuk melupakan, nyatanya hatinya berbeda dengan yang ia ucapkan.


"Dulu, aku resah dengan masalah Bela, aku takut jika hidupnya tidak baik-baik saja, namun Tuhan malah mengambilmu, itu sangat tidak terduga."


Yah, benar. Dia Rena Pertmata, perempuan lembut dengan segala tingkah konyolnya, beribu penyesalan di hatinya saat mendengar Sierra yang meninggal karena sesak nafas. Awalnya percaya, tetapi nyatanya memang itulah yang terjadi.


"Aku tidak bisa membayangkan betapa menderitanya, Maldi sekarang. Dia pasti, menyesal karena pernah membuatmu kesusahan," ujarnya dengan wajah mengasihani, namun dua detik kemudian wajahnya berubah.


"A-apa itu Maldi?" tanyanya pada diri sendiri. Rena meneliti orang itu dengan seksama, memeriksa jika pria itu benar-benar Maldi.

__ADS_1


"Aku yakin, pria itu adalah Maldi, namun.. ," Rena tidak mengalihkan pandangan, dia terus memperhatikan pria yang baru masuk Cafe itu.


Pria itu duduk di sebuah meja yang sudah terisi seorang perempuan, tunggu perempuan? Siapa dia?


__ADS_2