
Mobil itu melaju di tengah-tengah hutan. Di sepanjang perjalanan, Serla terus saja bertanya apakah benar ini jalannya? Karena menurutnya terlalu seram untuk membuat sebuah rumah.
Mobil pun berhenti. Semua orang langsung keluar mengikuti Maldi yang bergegas.
"Kak, ini benar rumahnya?" tanya Serla yang memeluk erat tangan Sierra.
"Jangan takut," ujar Sierra menenangkan. Sierra semakin pusing saat Rena juga memeluk tangan kirinya. Mengapa mereka ini sangat menyebalkan saat ketakutan?
Sedangkan Savia berdiri tepat di belakang Maldi. Pria itu membuka pintu dengan santai. Serla dan Rena sudah ketakutan saat melangkahkan kaki ke rumah ini, rasanya rumah ini seperti berhantu. Walaupun megah, tetapi menakutkan.
"Riva! Riva!" seru Sierra yang sudah tak tahan dengan semua rasa penasarannya.
Tiba-tiba...
Dor!
"Aaaaaaaa!" Serla dan Rena berjongkok untuk berlindung di bawah meja, sedangkan Sierra mematung tanpa ekspresi, dia terkejut saat darah mulai bercucuran. Maldi, Savia dan Sierra menatap ke arah sumber suara, di mana seorang perempuan memegang pistol di tangannya. Lalu orang itu pergi setelah membuat seseorang terluka.
"M-maldi.."
Sierra berucap dengan nada bergetar. Tubuhnya tumbang tak kuat berdiri.
"Sierra! Kamu tidak apa-apa?!"
Sierra menoleh dengan wajah yang pucat pasi. "M-maldi... B-bawa Bunda pergi..."
Maldi yang masih belum sepenuhnya sadar, langsung menguatkan diri. Pria itu bergegas merengkuh tubuh Savia yang sudah mengeluarkan darah. Waktu terasa begitu cepat, sampai mereka tak menyadari dengan peluru yang mengenai tubuh Savia, bahkan untuk menghindarpun, tak sempat.
Serla dan Rena langsung mendongak saat mendengar suara Sierra. Mereka membulatkan mata melihat Maldi yang membawa tubuh Savia yang sudah tak sadarkan diri.
"BUNDA!"
Teriakan Serla yang menggema membuat Sierra semakin menahan tangis. Dia hanya terdiam saat adiknya berlari mengejar Maldi. Sedangkan Rena, dia mendekati sahabatnya yang masih terduduk dengan wajah terpukul. "Sierra..."
Sierra mendongak, dia langsung memegang tangan Rena. "Ren, kejar mereka! Selamatkan Bundaku, aku mohon padamu Rena! Tolong aku!"
Rena menangis melihat sahabatnya yang memohon. "Ayo berdiri! Kita selamatkan Bundamu!"
__ADS_1
Sierra langsung berdiri. "Tidak aku perlu mengejar Revi!"
"Tapi... "
"Tidak ada waktu! Pergi! Susul mereka, selamatkan Bundaku!"
Walaupun berat meninggalkan Sierra sendirian, tetapi Rena tetap menurut. Perempuan itu berlari sekuat tenaga dengan air mata yang tak mau berhenti menetes. Kedua tangan Sierra mengepal kuat, tidak akan ia biarkan Riva lolos dengan mudah. Sierra berlari menaiki tangga, kedua matanya menatap lekat-lekat pada objek apapun. Tadi dia lihat Riva berlari ke sini. Sierra juga harus waspada jika tiba-tiba Riva menembaknya.
Kaki Sierra terhenti. Ada sesuatu di keningnya. Menoleh sebentar ke kanan.
"Jika kau bergerak sedikit saja, aku akan menarik pelatuk ini!"
Sierra menelan ludahnya. Dirinya tak boleh mati, sebelum tahu rahasia yang mungkin saja Riva ketahui.
"Kau boleh menembakku. Tetapi sebelum itu, aku harus tahu hubunganmu dengan Bang Saga. Kakakku."
Riva terperangah mendengarnya, wajahnya tiba-tiba gugup. Hal itu dimanfaatkan Sierra untuk mengambil pistolnya dan langsung memutar lengan Riva. "Cepat beritahu aku, hubungan kalian!"
Sierra menodongkan pistol dengan raut yang tajam. Riva mengangkat kedua tangannya. "Baiklah! Baiklah, aku akan menceritakan semuanya!"
"Jika kau berbohong sedikit saja. Aku tak akan segan membunuh ****** sepertimu," jelas Sierra dengan wajah penuh dendam. Tak akan ia lupakan rintihan Bundanya saat peluru itu menenai seseorang yang telah mengandungnya itu, tidak akan ia lupakan juga saat tetesan darah Bundanya yang mengenai lantai.
"Jelaskan, dengan jelas!"
Riva mulai terisak, tetapi melanjutkan ucapannya. "Sebelum aku, bertemu Ayah dan Kak Saga. Hidupku menderita di panti asuhan. Ibu kandungku selalu datang untuk membiayai pengobatanku, sampai akhirnya... Dia tidak membiayaiku lagi. Aku hampir sekarat karena berhenti berobat, hingga Ayah dan Kak Saga mengadopsiku untuk menjadi anak mereka."
"Kakakku tak memiliki anak! Dia tak pernah menikah atau bahkan menjalin hubungan dengan siapapun!" sentak Sierra dengan wajah yang penuh amarah.
"Itu kenyataannya, Sierra. Mereka saling mencintai."
"DIAM! Hentikan omong kosongmu, atau kau akan mati!" seru Sierra yang tak bisa mengendalikan diri. Dia ingin membunuh Riva saat ini juga, tetapi saat Riva menatapnya dengan pandangan sedih, Sierra terhenti.
"Aku tahu, ini sulit untukmu Sierra. Tapi Kak Saga tak pernah merasa bahagia, dia tertekan saat orang tuamu mengekangnya. Orang tuamu, meminta sesuatu hingga membuatnya tak merasa bebas, sampai akhirnya, dia bertemu dengan Rico, ayah angkatku. Dia memberi semuanya yang Kak Saga inginkan. Dia mulai bahagia bersama kami. Tapi... Kau malah membunuhnya!"
Sierra berjalan mundur, saat Riva mendekatinya dengan kekehan kecil. Wajahnya seperti psychopath. "Kau, merusak segalanya! Kau merusak kehidupanku, ayah dan Kak Saga!"
"M-mundur! Atau aku akan menembakmu!"
__ADS_1
"Tembak aku! Karena kalau aku mati, aku bisa bertemu dengan Kak Saga!"
"Tidak! Mati terlalu mudah bagimu! Kau harus hidup dengan sengsara karena telah menembak Bundaku!"
Riva terkekeh kecil. "Bagaimana? Kau merasa sakit hati saat melihat darah dari tubuh ibumu? ITU TAK SEBANDING DENGANKU!"
Sierra berhenti mundur saat punggungnya mengenai dinding.
"Kau..."
"Aku lebih saku hati, Sierra! Aku telah kehilangan kasih sayang ibuku dan karena kau juga, aku kehilangan Kak Saga yang sudah seperti ibuku!"
"AKU BUKAN PEMBUNUHNYA!" teriak Sierra dengan kencang. "Kau tak tahu rasanya, melihat seorang Kakak yang bunuh diri di depan adiknya sendiri. Wajahnya... Terlihat memohon agar aku diam. Mulutnya berucap agar aku tetap tenang... Sampai akhirnya dia menutup mata, meninggalkanku untuk terakhir kalinya..."
Brak!
Pistol itu terjatuh dari genggaman Sierra. Perempuan itu terduduk dengan wajah tanpa ekspresi. "Sedari kecil, aku mengidolakannya. Aku selalu berfikir untuk menjadi seperti Kakakku yang selalu membanggakan Ayah dan Bunda. Namun aku tidak pernah tahu, bahwa dia terluka, aku tak tahu bahwa kakakku tak pernah benar-benar bahagia.
Dor!
Suara pistol itu terdengar lagi. Sierra membulatkan matanya saat melihat benda merah yang keluar dari tubuhnya. Namun tak ada rintihan yang keluar, hanya seutas senyuman yang merekah. Tiba-tiba kejadian mengerikan itu terputar kembali di pikirannya.
Saat itu, Sierra yang baru datang ke rumah langsung berlari ke kamar kakaknya, dan mengetuk pintu. Namun tak ada sahutan dari dalam, hingga akhirnya, Sierra membuka pintu dan melihat Kakaknya yang terduduk di hadapannya dengan tangan yang memegang pisau. Jangan lupakan dengan darah yang bercucuran di mana-mana.
"Kakak... Sedang apa?"
Saga terkejut melihat kedatangan adiknya, apalagi wajah Sierra yang polos membuatnya tersenyum.
"Ssutt. Jangan berisik. Ahk!" Saga berbicara dengan rintihan. Dia baru sadar jika tusukan pada perutnya ini sudah terlalu banyak.
"Kakak.. Itu darah?" Sierra mulai menghampiri Saga dengan gemetar, bahkan rasa takut pun mulai menyelimutinya.
"J-jangan disentuh... " kata Saga saat Sierra mulai menyentuh pisau yang terancap di perutnya.
"Tapi Kakak kesakitan!"
"Nggak lagi... Habis ini, Kakak nggak akan kesakitan... Dan nggak akan ngerasa bersalah... "
__ADS_1
Malam itu adalah kali pertama Sierra melihat darah. Malam yang selalu membayanginya setiap saat. Dan kini mungkin kali ini juga adalah momen melihat darah untuk terakhir kali. Memikirkannya membuat Sierra terkekeh, sebelum akhirnya terasa gelap, tak terlihat apapun.