Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 26. Kevino vs Maldo


__ADS_3

Seorang perempuan dengan wajah lesunya akhirnya mau makan juga. Maldi yang sedari tadi duduk di hadapan Sierra tidak hentinya memandang perempuan itu, bahkan Maldi sampai menopang bahu saking fokusnya.


Sierra tahu itu, tapi dirinya tidak terlalu peduli, sekarang ini perutnya sudah lapar seperti belum pernah makan seumur hidup, padahal baru beberapa hari. Di sela makannya, tidak hentinya Sierra memandang ke sekeliling, walaupun sedang makan Sierra tidak bisa menghilangkan rasa takut ini. Dia takut jika orang itu datang dan kembali menyiksanya.


Namun tiba-tiba suara dobrakan pintu serta tembakan pistol membuat mereka terkejut.


Dor!


Sierra langsung berjongkok di bawah meja, dia sangat ketakutan. Sedangkan Maldi memperhatikan sekitar, berjaga-jaga jika ada yang menyusup ke Apartemennya.


Melihat sekitar yang damai saja membuat Maldi buru-buru mengambil senapan, dia meninggalkan Sierra yang ketakutan. 


Brak!


Brak!


Pintu Apartemen yang didobrak paksa membuat suara keras. Bahkan di bawah meja, Sierra sudah menangis saking takutnya. Sierra ingin berlari sekencang mungkin, tetapi kakinya sudah lemas, untuk berdiri pun rasanya tak mampu.


Brag!


"Aaaaa!" Pintu Apartemen berhasil dibuka, bahkan Sierra langsung berteriak histeris. Seseorang yang mendengar teriakan itu langsung mencari ke sumber suara. Kepalanya menunduk, melihat sesuatu.


Sierra yang melihat sebuah sepatu langsung menutup matanya serta mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Demi apapun Sierra sangat takut, dia tidak berani untuk membuka mata sedikitpun. Namun tiba-tiba, elusan tangan membuatnya terjingkat kaget, dengan cepat Sierra membuka kedua matanya.


Sepasang kedua mata elang nan tajam memandangnya dengan dalam. Sejenak Sierra tersihir dengan tatapannya yang begitu menenangkan. Hingga tidak sadar jika orang itu mulai mendekatkan wajahnya pada Sierra.


Dingin, benda merah itu menempel pada bibirnya dengan sensasi yang dingin. Sierra masih belum tersadar. Bahkan Sierra masih terdiam saat pria itu mulai menciumnya lebih dalam, memangutnya dengan paksa, tidak peduli dengan Sierra yang masih membeku.


Bug!


Ciuman itu berakhir tragis karena sang pelaku di tendang dari samping.


"BAJINGAN!" Maldi yang baru saja datang langsung terkejut melihat seseorang yang dengan santainya mencari kesempatan disaat Sierra sedang tidak sadar dengan keadaan. Maldi langsung membawa Sierra ke belakangnya.

__ADS_1


Seseorang yang baru saja ditendang oleh Maldi langsung terkekeh pelan. Bahkan di sudut bibirnya terluka, mengeluarkan darah. "Aku tidak masalah jika Sierra yang menimbulkan luka ini, tetapi jika itu orang lain, maka tidak akan kubiarkan hidup!"


Suara lantang Kevino membuat keributan besar. Beberapa pria berbadan kekar perlahan masuk, memenuhi Apartemen Maldi. Maldi yang belum siap langsung membulatkan matanya saat geng Kevino mulai menyerangnya, bahkan ikatan tangannya pada Sierra mulai terlepas.


Maldi berusaha menggapainya, tetapi kalah cepat dengan Kevino yang langsung membawa perempuan itu pergi. Maldi mengepalkan tangannya dan langsung menyerang balik para pria besar itu, dirinya harus membasmi orang-orang ini, Maldi harus bisa menyelamatkan Sierra.


Kevini terus saja menarik tangan Sierra, bahkan saat Kevino menyuruhnya masuk ke dalam mobil, perempuan itu menurut dengan wajah yang linglung. Kevino menyuruh sopirnya untuk berangkat dan menyalakan mobil, mobil itu pun berangkat meninggal kawasan Apartemen yang mewah ini.


"Jangan bunuh Maldi." Dari sekiannya banyak kalimat, Sierra hanya mampu mengeluarkan kata-kata itu. Mendengarnya, sukses membuat amarah Kevino terpancing.


Sierra menoleh. Kali ini tidak ada rasa takut, hanya ekspresi datar yang Sierra pasang. "Kau boleh membunuhku, tetapi jangan Maldi. Dia tidak bersalah."


Kevino tersenyum sinis. Dia merasa benci dengan nama yang Sierra lontarkan. "Tadinya aku tidak akan membunuhnya, tetapi karena kau bilang begitu, aku jadi semangat ingin mengambil nyawanya."


Sierra langsung mengambil lengan Kevino, menggenggamnya erat. "Kumohon, jangan lukai Maldi."


Kevino memandang tangannya yang digenggam Sierra. Seutas senyuman manis muncul di wajah seramnya.


Sierra terdiam sebentar. Kedua matanya sedikit membulat mendengar pernyataan itu, ingin menolaknya, tetapi Maldi adalah jaminannya, Sierra tidak mau itu terjadi.


Tiba-tiba tanpa disangka, Kevino memeluknya erat. Membuat Sierra terkejut untuk kesekian kalinya. Sebenarnya ia sedikit sadar jika pria di depannya ini telah merenggut ciumannya, tetapi Sierrea tak mampu membrontak saat pria itu membawa senapan. Lalu sekarang Kevino dengan santainya memeluknya tanpa ijin?


"Mulai sekarang jangan lakukan apapun! Jangan mencari uang atau bekerja, yang kumau tetaplah di sampingku, jangan kabur ataupun mati!"


Sierra tercengang mendengarnya, apakah Kevino mabuk? Mengapa pria itu berbicara aneh? Apa jangan-jangan Kevino mulai menyukainya.


Kevino menyembunyikan wajahnya di pundak Sierra. Memeluknya erat sampai membuat Sierra kesulitan bernafas. Sierra langsung menepuk lengan Kevino, memintanya untuk melepaskan pelukannya. Kevino tidak melepaskan pelukannya, melainkan hanya melonggarkan pelukannya saja. 


Sierra masih tidak mengerti, apakah sekarang hidupnya ini berganti genre? Yang tadinya, menyedihkan sekarang menjadi genre romantis?


***


Brak!

__ADS_1


Pintu Apartemen Maldi kembali dibuka dengan sangat mudah, pintu mewah itu sebelumnya sudah rusak dengan para anak buah Kevino. Ketika masuk hanya tersisa satu orang yang sedang berbaring di sofa dengan barang-barang yang sudah berantakan, saat ini rumahnya seperti sudah dibobol maling.


"Di mana Sierra?!" seru Septian dengan wajah seramnya. Pria paruh baya itu menarik kerah baju Maldi. Sedangkan Maldi, pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia sedikit linglung. Siapa pria yang sedang berbicara di depannya saat ini?


Bug!


Karena kesal dengan Maldi yang tidak mau menjawab, Septian langsung memukulnya dengan membabi buta.


"AYAH!" Serla langsung menghentikan Ayahnya. Septian mundur saat Serla mendekat.


Maldi semakin dibuat bingung dengan kedatangan Serla, apalagi perempuan itu memanggil ayah? Maldi mengerutkan alisnya saat melihat kedatangan Savia.


"Di mana Sierra! Kau menyembunyikannya di mana!?" seru Septian yang masih tersulut emosi.


Maldi mulai berdiri, dia memandang tiga orang yang kini berdiri di hadapannya. Kenapa mereka mencari Sierra? Apa hubungan mereka dengan perempuan itu?


"A-aku tidak mengerti," ungkap Maldi.


Septian mengepalkan tangannya. Ingin maju dan memukul wajah Maldi jika saja Serla tidak memengang lengannya. Savia berusaha mengendalikan diri, walaupun hatinya sudah sakit tak karuan.


"Di mana Sierra? Bukankah selama ini kau menyembunyikan Sierra?" tanya Savia yang berusaha setenang mungkin.


Maldi terdiam sebentar, memang benar, dia menyembunyikan perempuan itu, tetapi hubungannya dengan mereka apa?


"Ya, aku mengurusnya saat dia masuk ke mobilku. Setelah itu aku merawatnya dan memberinya makan, tetapi apa hubungannya dengan kalian?"


Perkataan itu mampu membuat Serla  menggenggam tangan Ayahnya lebih erat. Perempuan itu merasa gugup.


"Sekarang di mana dia? Di mana putriku!" seru Septian yang semakin menggebu-gebu.


"P-putri?" tanya Maldi yang semakin bingung. Tapi tiba-tiba pria itu terkekeh pelan, sepertinya mereka salah paham. "Sepertinya kalian salah paham. Sierra yang aku rawat adalah Sierra Rosdiana, bukan Sierra Rosaline."


"Mereka adalah orang yang sama! Sierra adalah anakku!" teriak Savia.

__ADS_1


__ADS_2