Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 21. Ayah, itukah engkau.?


__ADS_3

"Mengapa kau ada di sini?" seru Sierra dengan nada yang kencang, bahkan tanpa sengaja, Sierra mundur ke belakang Vernon.


"Apakah aku melewatkan sesuatu..." Kevino berjalan mendekat, dengan tatapan menyeramkan. "Sepertinya kalian sangat dekat ya?"


Sierra menelan salivanya kuat-kuat saat matanya bertatapan dengan mata Kevino. Bagaimana ini? Apa Kevino mendengar apa yang dirinya katakan?


"Karena kami se-umuran, makanya cepat akrab," sahut Vernon dengan wajah se-santai mungkin.


Kevino berhenti melangkah, pria itu menyilangkan tangannya,  sambil menatap Sierra. "Benarkah?"


Sierra gelagapan dibuatnya. Ayolah di mana Sierra yang pemberani itu? Di mana Sierra yang selalu mengumpati wajah Kevino?


"Y-ya. Benar."


"Oke, baiklah." Kevino menganggukkan kepalanya beberapa kali. Kevino beralih menatap Vernon, dengan wajah sok misterius, dia berkata . "Aku hanya ingin bilang, bahwa kau dipecat."


"Aku?" beo Sierra.


"Bukan kau, bodoh!"


Wajah Vernon terlihat memucat. "Mengapa aku dipecat, apa aku melakukan kesalahan?"


Kevino menggelengkan kepalanya. "Tidak, hanya saja. Aktris kita ini tak punya bakat. Aku malu jika harus selalu menggunakan koneksiku agar dia mendapatkan peran."


Sierra menoleh ke kanan dan ke kiri. Di mana artis yang Kevino maksud?


Melihatnya, membuat Kevino menghela nafas. Sepertinya ia baru menyadari jika mengunakan Sierra memang tak ada gunanya.


Kevino menatap Vernon sebentar lalu pergi. Vernon yang paham pun langsing berbisik pada Sierra menyuruhnya untuk pulang.


"Tapi, tunggu! Aktris mana yang Kevino maksud?!"


Vernon lebih memilih untuk tidak menjawab, pria itu berjalan lebih dulu, menyusul Kevino.


"Hey, tunggu! Apa aku mengenal aktris itu?!" teriak Sierra yang masih tidak mengerti.


***


Satu kata yang terlintas di pikiran Sierra. Menyeramkan. Itulah kata yang pantas ditujukan untuk rumah Kevino. Pintu yang rusak, serta barang-barang yang berserakan membuat bulu-bulu di pundak Sierra berdiri, sebenarnya setan mana yang berani mengacak-acak rumah Kevino


"ULAH SIAPA INI?!"

__ADS_1


Tuh kan, tanduk Kevino sudah terlihat ke permukaan. Ingin rasanya menghilang saat ini juga, tetapi ketika kakinya melangkah untuk pergi, Vernon langsung mencekal pergelangan tangannya. Apa-apan pria sok lugu ini? Apakah dia tidak tahu jika Kevino sudah bertanduk, harimau pun akan berbalik arah supaya tak bertemu dengan Kevino.


Vernon menggelengkan kepalanya, memberi isyarat jika Sierra harus tetap diam. Sebagai mahluk yang tak berdaya, Sierra mengalah, perempuan itu langsung menghentakkan lengan Vernon.


"KUBILANG SIAPA YANG MELAKUKAN INI!"


suara teriakan Kevino membahana di ruangan tamu. Sierra sudah menutup mata, tak mau melihat wajah Kevino yang sudah seperti seseorang yang nahan berak.


Tap!


Tap!


Tap!


Bagaikan perang, suara langkah kaki terdengar. Sierra yang notabenya manusia kepo, langsung membuka mata. Alangkah terkejutnya ia melihat para bodyguard Kevino yang sudah babak belur, mereka bagaikan badut yang wajahnya dipenuhi kemerah-merahan. Bedanya ini bukan make up, melainkan memar, yang penyebabnya entah karena apa.


Kevino lelah berteriak lagi, pria itu maju, tanpa aba-aba langsung memukul pada salah satu bodyguardnya, menyuruhnya untuk berbicara.


"Geng Vioz menyerang kita bos! Kami kalah jumlah!"


Bug!


"Serba salah," Celetuk Sierra yang merasa ngeri sendiri.


"Kalian, seharusnya sadar diri! Jika tak mampu bertahan kenapa tak meminta bantuan tim A!" seru Kevino sambil menendang perut salah satu bodyguardnya.


"T-tak berhasil bos. Mereka juga tumbang..."


Secepat kilat Kevino langsung berbalik arah, pria itu berdiri dengan tanduk yang masih terpasang. Sedangkan Sierra malah menarik lengan Vernon untuk mengikuti Kevino.


"Mengapa, kau menarikku?!"


"Jangan banyak tanya!" sahutnya. Di dalam hati, Sierra berdoa jika kali ini Tuhan mau membantunya untuk menjawab segala pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang di kepala Sierra.


Saking marahnya, Kevino sampai tak sadar jika Sierra dan Vernon masuk ke dalam mobil lewat belakang. Bahkan perempuan itu tidak bersembunyi saat sudah masuk. Saat ini mereka layaknya penumpang dan Kevino seorang sopir.


'Kevino kalau lagi ngamuk, bisa bodoh juga, 'batin Sierra.


***


Mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, Sierra dan Vernon pun sangat hati-hati, mereka berpegangan pada apa saja asal tidak sampai terbentur. Perjalanan terasa singkat, Sierra bahkan sudah merapal banyak doa di dalam hatinya, dirinya tidak mau mati, jangan sampai berita tentang kecelakaannya benar-benar terjadi.

__ADS_1


Akhirnya mobil berhenti. Kevino menoleh ke belakang. Matanya langsung membola. "Mengapa, kalian ada di sini?!"


Sierra menelan salivanya. "A-aku mengkhawatirkanmu."


Kevino menggigit bibirnya menahan beribu umpatan untuk Sierra.


"Sekarang nyawamulah yang perlu dikhawatirkan!" Kevino segera keluar, mengambil sesuatu di belakang mobil. Pistol? Apakah itu benar-benar pistol, tanya Sierra di dalam hati.


"Apakah, Kevino memang akan berperang?" beo Sierra.


"Aku tak tahu! Yang jelas kita harus segera melarikan diri!" seru Vernon, pria itu langsung keluar mobil untuk berpindah tempat. Melihat Vernon yang akan menyalakan mobil, Sierra langsung menarik telinga pria itu dan bergegas keluar setelah melakukan penyerangan.


"SIERRA!" teriak Vernon yang melihat Sierra berlari menjauh. Bagaimana ini? Apakah ia tinggalkan saja Sierra di sini? Tempat ini sangat berbahaya, tetapi jika ia menyusul Sierra, ia tak tahu apa nanti bisa melihat adiknya lagi.


Di tempat lain, Sierra mengendap-endap layaknya detektif yang sedang melakukan misi. Sierra sudah tak bisa berfikir positif lagi, gedung yang dibangun di tengah-tengah hutan begini pasti ada maksud tersembunyi. Apalagi suara-suara orang yang berkelahi membuat niat untuk masuk langsung menghilang. Bagaimana jika nanti dirinya terkena pukulan? Atau lebih buruknya lagi dijadikan sandera?


"Apa dugaanku selama ini benar? Apa Kevino memang anggota geng mafia yang memang selalu mempunyai niat terselubung. Tetapi kenapa harus aku? Apa karena aku memiliki anggota tubuh yang sehat biar laku dijual?" monolognya frustrasi.


Dor!


Sierra langsung merunduk. Menutup kedua mata dan telinga. Oh ayolah! Sierra paling tak suka jika ada suara pistol segala.


"Tetapi jika aku terus diam di sini. Aku tak akan mendapatkan informasi apapun!" Akhirnya Sierra berani maju, melangkahkan kaki secara perlahan namun pasti, memberi tahu jantungnya agar tak copot jika tiba-tiba ada suara pistol lagi.


"BUG!"


"BUG!


"PRANK!"


Sierra bisa melihat dengan jelas orang-orang yang sedang berkelahi, walaupun ia mengintip di celah pintu, tetapi wajah mereka terpampang jelas. Sierra sepertinya kenal dengan mereka, para pria berbadan kekar dan menyeramkan yang selalu ada di tempat bos besar. Mereka berkelahi dengan lihai tanpa sadar jika sedang ditonton olehnya.


"Kalau saja aku memiliki ponsel, mungkin sudah kurekam." Tapi Sierra baru sadar, jika di ruangan ini mereka fokus berkelahi, lantas di mana suara tembakan itu berasal?


Dor!


Suara tembakan itu lagi! Namun kali ini terasa dekat, bahkan tubuhnya bisa merasakan sebuah benda asing yang menancap di punggungnya. Sierra tumbang, perempuan itu terbaring di tanah dengan darah yang mulai bercucuran.


"Ahk!" Hanya itu yang bisa ia ungkapkan. Di dalam hati, Sierra menjerit-jerit. 'Bunda, Serla maafin aku. Maaf karena telah membuat kalian sengsara, dan Abang, apa sekarang kita bisa bertemu?' Kedua mata Sierra berkedip. Sierra bisa melihat wajah seseorang.


"A-ayah..."

__ADS_1


__ADS_2