Luka Sierra

Luka Sierra
Bab 17. Serla dan Maldi


__ADS_3

Sierra sudah menunggu terlalu lama. Dia duduk di dekat pohon yang daunnya berguguran di tanah, menunggu seseorang memanggil namanya.


"Apakah, begini rasanya menjadi aktris pemula?! Diacuhkan dan tidak dibutuhkan?!" keluh Sierra yang tidak tahan menunggu gilirannya.


"Mungkin karena aku pemula, jadi ya seperti ini. Jika mereka tahu bakat aktingku, mereka akan menyesali perbuatan mereka karena telah mempermalukan ku seperti ini!" celoteh Sierra yang merasa tidak dihargai oleh para staf yang sibuk.


"Apakah, kau aktris baru?"


Sierra langsung menoleh,   mendapati wajah seseorang itu membuatnya menghela nafas, mengapa perempuan itu ada di sini? Tidak bisakah, dia pergi dari penglihatannya?


Dengan senyuman terpaksa, Sierra menjawab. "Ya, saya baru. Masih pemula," sahutnya dengan menekankan kata pemula.


Serla tersenyum manis, dia menyilangkan kedua tangannya. "Sebagus apakah aktingmu itu? Pemula juga harus sudah pandai dan sepertinya kau lebih cocok disebut amatir saja!"


Tunggu! Apakah perempuan ini mengajaknya untuk berkelahi? Mengapa berbicara begitu buruk saat pertama kali bertemu?


"Oh, maaf apa candaanku membuatmu tersinggung?"


Sierra malah tersenyum sinis, mengapa ia merasa jika permintaan maaf itu terasa tidak tulus, dan malah terlihat mengejek?


"Mungkin kau akan mengira aku takut padamu karena kau sudah lama di dunia entertainment, tetapi kau salah besar! Aku tidak akan bersikap baik-baik saja saat kau merendahkanku!" seru Sierra dengan wajah kesal. Memang ya manusia itu cepat berubah, tadi dia hampir tertipu dengan kata-kata Serla yang terluka karena kematiannya, lalu sekarang? Perempuan itu seperti orang pertama yang bahagia mendengar kabarnya yang telah tiada.


Serla terkekeh kecil. "Hoho, ternyata kau bukan pengecut seperti yang aku kira! Dan seperti katamu, aku ini sudah lama di dunia entertainment, dan sudah sepatutnya kau bersikap sopan padamu! Karena bagaimanapun aku ini bisa dibilang senior! Ya walaupun usiaku sepertinya jauh lebih muda darimu! Tetapi, kau harus bersikap baik dan tidak lancang!"


Sepertinya sikap buruk Serla sudah mendarah daging ya? Ia tidak menyangka perempuan ini akan bersikap kasar seperti ini. "Ya, baiklah sang senior," ucap Sierra yang sedikit mengejek.


Saat ingin menimpali ejekan itu, seseorang lebih dulu berteriak.


"Serla!"


Kedua perempuan itu langsung menoleh, ternyata seseorang perempuan! Orang itu tersenyum manis sambil berjalan ke arah mereka berdua.


Sierra tanpa sadar mundur beberapa langkah, matanya terlihat membulat sempurna dengan mulut yang menganga, mengapa dia di sini? Mengapa dia memanggil nama Serla sambil tersenyum?


"Mengapa, kau ada di sini? Aku sudah mencarimu kemana-mana!"


Serla ikut tersenyum. "Maaf Kak Rena.  Aku tak tahu Kakak akan datang ke sini."


Rena, dialah orang itu.


"Ini siapa, Ser?" tanya Rena yang sadar dengan kehadiran Sierra.


Diam-diam Sierra tertawa di dalam hatinya, mengapa semuanya terasa rumit? Dan apa-apan dengan adegan ini? Sejak kapan Serla dekat dengan sahabatnya?


Serla tersenyum kikuk. "Aku juga nggak tahu namanya Kak, hhe. Yang kutahu dia aktris baru yang ikut berperan dalam film yang kubintangi."


Oh, apa-apaan dengan sikap manis itu? Bertahun-tahun tinggal bersama Serla, tidak pernah perempuan itu menunjukkan sikap baik dan manis padanya, lalu sekarang? Dia benar-benar tidak menyangka.


Rena menggelengkan kepalanya. "Kau, ini keterlaluan sekali!" Rena beralih menatap Sierra, lalu mengulurkan tangannya, dengan wajah ramah. "Perkenalkan, saya Rena. Temannya Serla."

__ADS_1


Sierra menatap sebentar uluran tangan itu, tangan yang dulunya selalu ia genggam kini meminta kenalan? Lucu sekali. Sierra mengulurkan tangannya.


"Saya Sierra Rosdiana, salam kenal."


Jawaban Sierra membuat kedua perempuan itu terkejut, Sierra sudah menduga hal itu, mungkin mereka akan pingsan saat tahu jika dirinya memanglah Sierra yang mereka kenal.


Rena langsung melepaskan tangannya, dia menutup mulutnya yang terbuka. "Namamu, Sierra?"


"Iya, itu namaku."


"Wah, ini kebetulan atau apa?" imbuh Rena dengan wajah syok. Sedangkan Serla, dia tidak mengatakan apa-apa, perempuan itu hanya diam.


"Kau, baik-baik saja?" tanya Sierra yang akan menyentuh pundak Serla.


Serla menjauh, perempuan itu langsung mundur.


"Maafkan Serla. Mungkin karena namamu yang sama dengan mendiang Kakaknya, Membuat Serla sedih, tolong maafkan sikapnya," jelas Rena.


"Baiklah, aku mengerti."


***


Suara langkah kaki membuat Sierra mendongakkan kepalanya. Kedua matanya bisa melihat Kevino dengan seorang pria yang sepertinya Sierra pernah melihatnya.


"Dia, Vernon. Dia yang akan menjadi manjermu!"  Sierra langsung berdiri, dia menatap pria yang dibawa Kevino lekat-lekat.


Kevino memutar matanya malas. "Dia, pria yang pernah bekerja di Cafe. Dia pria yang pernah kau curigai pencuri itu."


"Oh iya! Aku ingat, kau yang masuk ke ruangan privasi itu kan?" seru Sierra.


Vernon menganggukkan kepalanya pelan. Dia tersenyum tipis. "Iya, kau benar."


"Wah jika aku melihatmu setiap hari, mataku akan sehat selalu, beda jika melihat Kevino mataku akan cepat sakit," tutur Sierra dengan santai. Kevino hanya mendelik kesal.


"Tapi, tunggu! Apakah dia tahu semuanya?! Maksudku, apa dia tahu jika aku adalah orang yang sama dengan Sierra yang pernah bekerja di Cafe?"


Kevino menghela nafas gusar. Inilah yang membuatnya tak mau dekat-dekat dengan Sierra, tak hanya heboh, perempuan itu juga selalu banyak bertanya.


"Yah, dia mengetahui semuanya! Jika kau ingin bertanya tentang pekerjaanmu, tanyakan saja padanya!" Setelah mengatakan itu, Kevino bergegas pergi.


"Dih, dasar pemarah," celoteh Sierra pada Kevino yang semakin menjauh.


"Selain pemarah, dia juga sangat peduli padamu," ucap Vernon.


"Benarkah? Kau bercanda kan?"


"Tidak, aku tidak bercanda. Dia memang sangat peduli padamu, kau saja yang tidak menyadarinya."


Sierra diam sebentar. "Oh, baiklah aku percaya."

__ADS_1


"Nona Sierra?" Seorang staf datang, dia memberitaukan jika dirinya harus bersiap.


***


Kini Sierra sudah siap dengan pakaian casualnya, dia membaca naskahnya dan mencoba untuk mengingatnya. Tubuhnya panas dingin, Sierra merasa tertekan karena ini kali pertamanya.


"Oke, kita latihan dulu saja ya!" seru sang sutradara.


Sierra sudah bersiap, pria yang berdiri di depannya, yang berperan sebagai kekasihnya pun sudah siap.


"Oke kamera roll end action!"


"Mengapa, kau selingkuh?! A-apa yang kurang dariku? K-kenapa..."


"CUT!"


Sierra berhenti berbicara.


"Kau harus menghayatinya, Nona! Pakai ekspresi yang sesuai dengan perasaan, okey?"


"Baiklah, aku mengerti!" sahut Sierra yang sedikit gugup. Matanya berhenti pada Vernon yang memberinya semangat sambil mengepalkan tangannya.


"Camera roll end action!"


""Mengapa, kau selingkuh?! Apa yang kurang dariku? Hah! Kenapa kau tega melakukan itu?! Aku... Maaf aku lupa dialognya!"


"CUT!"


Semua orang terlihat menghela nafas.  Lain dengan Sierra yang menyengir merasa tidak berdosa.


"Pak, sepertinya dia kurang cocok! Ekspresinya pun terlalu kaku."


"Kita harus menahannya! Dia dikenalkan oleh putra Presedir YH Company."


"Oh, benarkah? Pantas dia bisa lolos, ternyata memilik koneksi. Apakah aku harus memberitahu wartawan?"


"Tidak, tidak perlu, film kita akan tetap menjual karena pemeran utamanya yang sedang dibicarakan oleh media," jawab sutradara.


"Kita istirahat dulu!"


Mendengar sutradara berbicara seperti itu, membuat Sierra bernafas lega.


"Kau baru ya?" Pria yang berperan sebagai pacarnya itu bertanya. Sierra hanya menganggukkan kepalanya.


"Baikah aku akan memberikan saran sedikit, saat kau membaca dialog ini, anggaplah aku pacarmu yang ketahuan selingkuh, jangan ditahan! Kau harus mengeluarkan semua emosi yang terpendam!"


"Baiklah, aku..."


Sierra berhenti bicara saat matanya menangkap sesuatu. Di sana! Ada yang membuat matanya tertarik untuk terus dilihat! Mengapa Maldi ada di sini bersama ibunya dan Serla? Mereka terlihat asik mengobrol dan bercanda ria. Sierra langsung membulatkan matanya, apakah Serla masih mencintai Maldi?

__ADS_1


__ADS_2